
Malam harinya. Rose tak bisa beristirahat karena gugup untuk melakukan pekerjaan besok. Ia tak takut dengan hukuman dari Ratu Daisy, tapi Rose yang sudah bertekad untuk dekat dengan wanita itu takut, takut jika dia menerima penolakan darinya.
Rose berada di taman belakang istana yang tak terlalu besar, namun banyak bunga indah berkilau terkena sinar bulan.
Beberapa maid lainnya juga masih ada yang terjaga, di malam seperti ini pasti kemampuan mereka sangat dibutuhkan, ini alasan seluruh maid bisa bertarung.
Begitulah yang Rose pikirkan untuk mengalihkan kegelisahannya akan hari esok.
Rose melihat bulan, pikirannya kembali sejuk. Di sisi lain, ia terpikirkan satu hal. Walau sudah mendapatkan kehidupan yang layak, Rose masih merasa dia tak pantas mendapatkan ini semua, terlepas tentangnya yang seorang pembunuh, Rose masih memiliki hati nurani yang menyadarkan akan perbuatannya.
Kenapa aku masih ragu?! Ini keputusanku, demia Rubia!
Rose hendak kembali ke kamarnya, namun, sebelum dia melangkahkan kakinya, seseorang sudah berada di sana. Seorang maid berambut panjang mengenakan kacamata.
Maid itu tersenyum padanya, dan berkata, "Maaf menganggu waktumu."
Rose menatap tajam maid itu.
Sejak kapan dia di sana? Aku tak menyadari keberadaannya sama sekali. Ini pasti karena inderaku yang mulai menumpul, efek perubahan waktu itu masih memberikan dampak pada tubuhku.
"Tak perlu tegang, kita ini rekan kerja." Maid itu menundukkan kepalanya dengan elegan, dan memperkenalkan dirinya. "Namaku Rista, salah satu pengawal Nyonya Besar."
Rose menurunkan kewaspadaannya pada wanita itu. Jikalau dia berniat menyerangnya, harusnya Rose sudah mati sejak tadi. Terlebih, ini istana kerajaan, tak mungkin menodai istana ini dengan darah. Namun, Rose sepertinya masih bersiap dengan satu rencana jika terjadi sesuatu.
"Senang bertemu denganmu, Rista. Namaku Rose V-- Rose saja."
Rose hampir melupakan sesuatu yang penting. Para pekerja yang ada di istana harus membuang nama keluarga mereka, kini yang tersisa hanyalah nama depan.
Ekspresi Rose terlihat terkesima dengan wajah Rista, wanita itu terlihat cantik. Dia tak menunjukkan ekspresi itu secara terang-terangan.
Rista berjalan menuju taman dan berkata, "Apa boleh ...?" Sembari melirik Rose.
Rose pun berjalan bersama dengan Rista mengelilingi taman.
Udara terasa sangat dingin, keduanya menutupi pundak dengan kain yang dibawa Rista. Belum ada yang membuka percakapan, suasana terlihat canggung bagi Rose, tidak untuk Rista. Wanita itu berjalan sambil melihat bunga di taman.
"Apa kamu melihat bunga itu, Rose?" tanya Rista.
Rose mengangguk.
Sebuah bunga cantik berwarna putih yang bentuknya melengkung ke bawah seperti terompet, namun kelopak putih di ujungnya sangat menawan, dan terlihat bercahaya.
Aroma bunga itu sangat harum, sehingga membuat pikiran Rose tenang.
"Nama bunga itu adalah Queen of the Night," jelas Rista.
"Queen of the Night?"
"Bunga itu hanya mekar di malam hari, sebenarnya bukan hanya bunga itu yang mekar di malam hari. Salah satu alasan mengapa bunga yang mekar di malam hari lebih aromatik adalah karena mereka perlu menarik penyerbuk nokturnal yang harus menemukannya dalam kegelapan. Tapi, Queen of the Night berbeda."
"Berbeda?"
"Paling harum di antara lainnya dan juga menerima berkah dari cahaya bulan, sehingga siapa pun ingin memilikinya untuk menaikkan tingkat kepadatan Mana mereka."
Rose baru pertama kali mendengar cerita seperti itu.
Mungkin hanya tebakanku, apa mereka memanfaatkan sinar bulan yang terserap di dalam kelopak bunga itu?
"Tebakanmu benar, Rose." Rista berbicara seolah tahu isi pikiran Rose. "Sebenarnya, ini metode satu-satunya dari keluargaku, beberapa orang luar mungkin sudah mengetahuinya, namun tetap saja mereka tak akan mudah untuk menemukannya."
Rose kembali menaruh perhatiannya pada bunga putih itu. Jumlah bunga itu memang sedikit, bahkan mereka hidup berjauhan satu sama lain.
"Namun, keindahan itu hanya terjadi di malam hari dan mati beberapa hari setelahnya. Orang-orang tak akan memperdulikannya pada waktu siang, karena ia hanya akan terlihat sebagai bunga layu yang malang." Ekspresi Rista terlihat sedih.
"...." Rose hendak menenangkan Rista, namun ia menghentikan niatnya.
"Bunga itu sama seperti Beliau," lanjut Rista. "Beliau terlihat menawan, berpikiran luas, bahkan tak menunjukkan kekurangannya sama sekali. Di balik wajah dingin yang Beliau tunjukkan, entah kenapa aku merasa Beliau terlihat kesepian."
Rose mendekat ke arah Rista. Melihat wajah mereka yang berdekatan, Rista terlihat malu sembari menaikkan kacamatanya.
"Rista, tolong beritahu semua hal tentang Nyonya Besar!" seru Rose.
Melihat ekspresi Rose yang bersungguh-sungguh, Rista tak punya pilihan lain.
"Baiklah."
"Kesepian, ya?" Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya sebelum menghilang dari tempat itu.
Sampai di hari berikutnya. Pada pagi hari itu, Rose berjalan dengan elegan di lorong istana, menuju kamar orang yang akan dilayaninya. Sikap tubuh Rose sangat bagus, bahkan maid yang melihatnya tampak terpesona, terlebih lagi penampilan Rose tampak seperti seorang wanita yang berpengalaman dalam artian membangun keluarga dan mengurus anak. Karena para maid di istana itu semuanya belum pernah menikah.
Sembari mempertahankan sikap elegannya, Rose terpikirkan oleh pembicaraannya dengan Rista tadi malam.
"Rista, siapa sebenarnya Nyonya Besar? Walau tak melihat mereka bersama, tapi aku yakin Ratu Daisy pasti menaruh hormat padanya, karena para Nona Muda terlihat sejajar dengannya."
Rista tersenyum kecil. "Bukan sekedar menaruh hormat, kami semua bahkan bersujud di hadapan Beliau tanpa terkecuali."
Mendengar jawaban itu, Rose mulai mendapatkan pencerahan.
"Beliau adalah yang paling sempurna di dunia ini!" Rista terlihat tidak seperti biasanya. "Namun, kami para maid tak tahu identitas asli Nyonya Besar."
"Begitu, ya." Rose tampak sedikit kecewa mendengar itu.
"Tapi, orang-orang mengenal Beliau sebagai ...."
Kembali ke masa sekarang. Rose hampir sampai di depan kamar, ia sedikit tegang, namun hal itu tak terlihat pada penampilannya. Ia berusaha sebaik mungkin menutupinya.
Sekarang, ia telah sampai tepat di depan pintu kamar.
Ini dia, kamar orang yang akan kulayani ... Alissa Hart.
*Tok Tok Tok
Rose mengetuk pintu kamar.
"Nyonya, apa Anda sudah bangun?" tanya Rose dari balik pintu.
Tak lama setelah itu, Rose mendengar jawaban dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Suara lemas dari seorang wanita dari dalam pintu, mendengar suaranya, Rose sedikit merinding karena terlalu lembut.
Rose perlahan mendorong pintu. Cahaya matahari menyilaukan matanya, ternyata jendela di kamar itu sudah terbuka.
Tak lama kemudian, mata Rose langsung tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk di ranjang sembari melihat ke arah jendela.
Rambut kuning keemasan yang terlihat berantakan, Rose berpikir wanita itu seperti habis bangun dari tidur panjang. Tubuhnya terlihat lemah, bahkan terlihat rapuh hingga bisa terhempas oleh angin.
Tak lama kemudian, wanita itu menoleh ke arahnya. Rose langsung terkesima ketika melihat mata merah yang berkilau milik wanita itu. Ia tak menunjukkan ekspresinya secara langsung, namun hatinya benar-benar tersentuh dengan rupa Nyonya itu.
Jadi dia ... Alissa Hart?
Rose sedikit menunduk untuk memberi salam. "Nama Saya Rose. Terima kasih, karena Anda sudah mengizinkan Saya untuk bekerja di tempat yang mulia ini."
Wanita itu hanya mengangguk sembari menatap Rose tanpa henti. Rose sedikit tertekan hanya dengan tatapan wanita itu.
Alissa Hart.
Rose terus mengucap nama wanita itu di dalam hatinya. Rasa candu ingin terus menyebut namanya.
Kemudian, Rose menyisir rambut wanita itu dengan hati-hati.
Lembut, halus, dan harum. Rose benar-benar menyukai rambut wanita itu. Ia terus memuji Nyonya yang dilayaninya itu, sampai ia mendapat perhatian darinya.
Rose bisa merasakan pundak wanita itu lemas. Sesekali Rose menyentuhnya, memang terasa sedikit lunak karena kelelahan.
"Anda pasti sangat lelah. Mengurus masalah kerajaan, sekaligus berperan sebagai orang tua dari putri-putri yang luar biasa," ucap Rose.
"Karena aku adalah Ibu mereka, sekaligus Perdana Menteri kerajaan ini. Aku harus bisa melakukan kedua peran itu dengan baik."
Mendengar jawabannya, Rose sedikit kasihan padanya. Bukan tanpa alasan.
Kau tak bisa selamanya berlagak kuat!
Begitulah yang Rose pikirkan tentangnya. Itu bukan termasuk teguran, justru rasa prihatin yang Rose tunjukkan. Terlebih, ia merasa bahwa mereka itu mirip.
"Mencintai anak tidaklah cukup, yang terpenting adalah anak-anak menyadari bahwa mereka dicintai orang tuanya," ujar Rose.
Alissa Hart, aku pasti tak akan membuatmu kecewa.
Awal mula dari hubungan unik antar Nyonya dan pelayan pun dimulai.
Bersambung ....