The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Ingin Menyerah



Aku sama sekali tidak bisa melihatnya, dia terus melancarkan serangan bertubi-tubi padaku. Karena inderaku tajam, serangannya hanya menggores bagian tubuhku, dan aku masih bisa merasakannya.


Serangan ini terlalu mudah walau diarahkan dengan jumlah yang banyak. Dia bisa dengan mudah menghabisiku jika menyerang dengan serangan penuh dalam kondisi seperti ini.


"Apa kau sudah menyadari sesuatu? Selama kau masih sanggup berdiri, aku akan terus melakukan hal ini," ucap Nona Eline yang suaranya terdengar dari segala arah.


Ternyata dia memang sengaja melakukan trik ini. Sial! Tusukkan pedang ini saja sudah merepotkan, bagaimana bila tentakel bayangan ini menyerangku?


"Ice Sword!" Aku menancapkan pedang ke tanah dan memunculkan dinding es yang mengelilingiku.


Pedang-pedang itu masih menusuk dinding es ini, aku tak bisa berdiam diri terus, cari celahnya!


"Kau melewatkan sesuatu."


*Crack!


Tentakel bayangan lainnya muncul dari bawah tanah tempatku berdiri.


Aku langsung menarik pedangku dan melompat keluar dari kubah es.


Serangan pedang langsung terdeteksi olehku, serangan itu berasal dari belakang dan sangat cepat. Aku menghindarinya, namun lagi-lagi aku kalah cepat dengan serangannya sehingga membuat punggungku tergores.


Gerakanku sedikit terganggu karena rusukku bermasalah akibat tendangan sebelumnya.


Salah satu tentakel bayangan melilit kakiku.


Sial!


*Brak!


Tentakel itu langsung membantingku ke tanah dengan sangat kuat. Tulang rusukku benar-benar patah kali ini.


Nona Eline menarik tentakel hitam kembali.


Dia bisa dengan mudah mengalahkanku sekarang, tapi kenapa dia tidak melakukannya?


"Rasanya sangat disayangkan jika kau kuhabisi dengan cepat. Berdirilah, hibur aku lagi."


Aku berdiri dalam kondisi tertatih-tatih, memegang dadaku yang terasa sangat sakit.


Ada potion di sakuku, ini waktu yang tepat untuk meminumnya.


Luka luar di tubuhku perlahan sembuh, namun tidak dengan tulang rusukku yang patah. Potion yang kuminum tidak bisa menyembuhkan luka dalam.


Nona Eline sengaja membiarkanku meminum potion ini. Dia sangat menikmati saat mengayunkan pedang itu ke arahku. Mungkin aku tahu kenapa Chandra menghindari pertarungan dengannya. Nona Eline masih banyak menyimpan skill assassin tingkat tinggi, tak ada cara untukku menang.


Seketika aku teringat dengan perkataan Nona Hart saat di hutan beberapa hari sebelum turnamen.


Tidak, tidak. Dia memang memberitahuku rahasia tentang turnamen ini yang mungkin bisa membawaku menang. Tapi, aku tidak berniat menggunakannya, dan memilih bertarung sengan kemampuanku.


Ah, teknik itu! Semoga ini berhasil.


"Nona Eline, persiapkan dirimu."


Aku mengangkat pedangku ke depan, memejamkan mata, dan berusaha mengalirkan seluruh aura di kakiku.


Butuh beberapa kali percobaan untukku bisa menggunakan skill ini. Aku harus fokus.


Aku sudah mulai merasakan perubahan di kakiku.


Tak perlu terburu-buru, beruntung Nona Eline membiarkanku memulai persiapan dan tidak menyerangku.


*Wush!


Aku langsung berlari mengitari arena dengan sangat cepat, membiarkan dagger-ku melayang di posisiku sebelumnya. Aku berhasil mengitarinya.


Ini teknik yang dia ajarkan padaku, namanya ....


"Death Vortex."


Nona Eline mengeluarkan bayangannya untuk menyerangku dari segala arah, sedangkan tubuh aslinya terlihat sedang menganalisa gerakanku.


Walau tidak secepat Nona Hart, aku masih bisa mengatasi bayangan yang mencoba menyerangku. Bayangan akan lenyap karena aku menggunakan pedang yang posisikan di sisiku.


Dia sama sekali tidak terpancing oleh dagger yang kutinggalkan di sana. Ini membuatku kesulitan mencari celah untuk menyerangnya. Aku tak bisa mengitarinya terlalu lama.


"Sneaking Shadow." Aku meluarkan bayangan hitam panjang ke seberang, tidak hanya satu, tapi lima.


Nona Eline terlihat seperti sudah terikat oleh bayangan yang kulemparkan di sisi lain. Aku masih terus mengitarinya dengan kecepatan maksimal, seharusnya dia tidak bisa melihatku.


Ini waktunya!


*Wush!


Menusuk seperti biasa tidak akan cukup, aku akan ....


"Light Slash!" Dengan cepat aku menebaskan bilah cahaya ke arah Nona Eline.


Empat tebasan mengikuti setelahnya.


*Crack!


Aku telah sampai di seberang, dan juga berhasil melancarkan seluruh seranganku pada Nona Eline.


Serangan tadi tidak bermaksud membunuhnya. Seharusnya dia lumpuh karena seranganku, 'kan?


Aku berbalik untuk melihat kondisi Nona Eline. Sesuatu mengejutkan terjadi, Nona Eline yang sebelumnya berdiri di tempat itu tiba-tiba menghilang.


Apa yang terjadi?! Dia seharusnya tidak bisa keluar dari sini. Bahkan jika melompat pun rasanya tidak mungkin karena aku bisa segera menghalaunya. Jadi, di mana dia?


Aktifkan skill deteksi!


Semua hal di sekitarku terlihat jelas, hembusan angin yang mengarah ke timur, suara penonton di tribun. Tapi, ada satu sisi yang tidak bisa terbaca oleh skill deteksi.


Dari seluruh tempat, kenapa harus ....


"Light Slash!" Aku mengayunkan bilah cahaya dengan spontan ke arah belakang.


Seranganku melewati angin begitu saja tanpa mengenai apa pun di belakangku. Dia menghilang sebelum aku melancarkan serangan.


Aku merasakan bahwa ada seseorang yang sedang meremas kepalaku dari atas. Dia sudah berada di atas bahkan sebelum skill mendeteksinya.


Sial, aku terlambat!


*Brak!


Sebuah hantaman lutut menghantam wajahku dan langsung menekanku ke bawah. Aku masih memiliki kesadaran, lututnya mengenai tepat di keningku.


Penglihatanku sedikit kabur, bayangan Nona Eline berada tepat di atasku.


Aku gagal?


"Aku sangat kecewa, Pahlawan Zain," ucap Nona Eline.


Perkataannya langsung menusuk hatiku. Rasa kesal, sedih, semuanya menjadi satu.


Dia tidak salah. Aku tidak terlalu banyak berkembang selama ini, bahkan tidak bisa mengembangkan gelar yang kumiliki. Aku tak punya wajah untuk melihat Nona Hart nanti.


"Tidak ada cara lain, orang lemah sepertimu tidak memiliki potensi." Nona Elina menarik dagger miliknya, bersiap menusuknya ke arahku.


Apa aku akan mati?


Pandanganku tiba-tiba teralihkan ke sebuah tribun penonton, tepat di bagian atas tempat para petinggi berada. Patient Skill milikku masih aktif, penglihatanku masih tajam dan bisa melihat tempat itu dari jarak jauh.


Seorang wanita, entah itu hanya kebetulan atau tidak sedang menatap tepat ke arahku, dia adalah ....


Nona Hart?


Cahaya merah di matanya terlihat sangat jelas, aku pernah melihat sorot mata seperti itu senelumnya. Hanya merujuk pada satu orang.


Aku baru menyadarinya, mereka benar-benar mirip, apa mungkin ...?


*Bum!


Seketika tubuhku mengeluarkan aura yang sangat berbeda dari biasanya. Nona Eline melompat ke belakang membatalkan niatnya untuk menyerangku.


Apa ini? Seluruh tubuhku dipenuhi kekuatan, seluruh luka yang kuterima telah pulih. Perasaan ini sama seperti saat melawan Abbadon beberapa tahun lalu, mungkin, kah?


<>


Benar, ini efek gelar Dark Hero yang kumiliki. Rasanya benar-benar sama dengan waktu aku memiliki gelar ini untuk pertama kalinya.


Kekuatan ini terlalu kuat, sepertinya sebanding dengan level-ku saat ini. Senoga tidak ada efek samping yang kuterima.


"Menarik. Kau menyembunyikan kekuatan seperti ini, berpura-pura lemah, ternyata karakter utama." Nona Eline telah bersiap dengan kedua senjata di tangannya.


Aku juga menyiapkan pedang dan dagger untuk menghadapinya.


"Aku juga terkejut, ayo kita selesaikan ini," ucapku.


Pertarungan hidup mati pun dimulai.


Bersambung ....


Gaes, ada judul baru, nih! Judulnya Demigod System, tapi masih prolog. Kalau tertarik bisa langsung baca, cek profilku, ya!