
Chapter 49 : Perang Penghisap Darah
2.5 tahun sejak insiden pemberontakan. Aku sudah di akhir tahun ke 3, Akademi Sihir telah mengalami perubahan besar dalam 2 tahun ini. Masalah perundungan telah diselesaikan, kesenjangan antar penyihir non-tongkat dan bertongkat telah diatasi dengan item tongkat baru yang merupakan bisnis besarku selain senjata-senjata logam.
Dan yang terpenting dari itu, anak-anak dari tingkat Bronze kini memiliki tempat untuk menunjukkan kemampuan mereka. Raut wajah mereka terlihat cerah, berbeda dengan sebelumnya, mereka benar-benar suram.
Ah, saat ini seluruh murid sedang berkumpul di halaman sekolah. Karena ini acara perpisahan untuk kami murid tahun ke 3. Entah kenapa aku merasa sedikit sedih, ini mengingatkanku pada masa-masa sekolah dulu.
Hmmmm ... acara akan segera dimulai.
"Kita sambut Ketua Dewan Murid kita, Liz Endoma!" sambut pembawa acara dengan semangat.
Liz. Aku ingat saat pertama kali menjalani tes bersamanya, gadis pemalu. Sejak awal masuk akademi dia sering membantu Dewan Murid, hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua Dewan Murid saat di tingkat 2 menggantikan Theresia. Aku tidak terlalu sering berbicara dengannya di kelas, dan dia juga sudah berada di tingkat Silver sekarang.
Ini menandakan bahwa orang-orang di sini memahami arti dari kesetaraan.
Liz telah berada di podium. Dia terlihat keren saat mengenakan seragam Dewan Murid yang terlihat seperti pakaian petinggi kerajaan.
Wajah murid-murid dari berbagai tingkat terlihat kagum dengan Liz.
Dari segi kekuatan, dia memang bukan yang terkuat. Namun, Liz memberi perubahan besar dalam aturan-aturan baru yang telah ia buat. Ketegasan Theresia sepertinya telah diwariskan padanya.
Kembali ke Liz!
"Selamat siang untuk para murid di Akademi Sihir." Liz berbicara dengan menggunakan item pengeras suara. "Saya, Liz Endoma. Ingin menyampaikan beberapa kata terakhir sebagai Ketua Dewan Murid untuk para murid sekalian ...."
Liz menyampaikan kata sambutan selama 20 menit. Suasana diwarnai isak tangis dari seluruh murid, dan beberapa dari mereka ingin pergi ke tempat Liz berada. Mereka terlihat seperti fans fanatik.
Dan sekarang, saat-saat yang dinanti ....
"Dan saat yang ditunggu-tunggu ... Kepala Akademi sekaligus Ratu Kerajaan Mystick akan segera naik ke pentas!"
Akhirnya Hela menunjukkan dirinya di hadapan para murid. Saat penyambutan murid angkatanku, dia sama sekali tidak muncul, hanya diwakilkan oleh guru-guru dan Theresia. Dia memang belum pernah menunjukkan dirinya kepada seluruh murid.
Hela dengan jubah kebesarannya berjalan menuju podium. Jubah yang dimaksud ialah jubah kebesarannya sebagai Ratu, banyak hiasan mewah yang terpasang di sepanjang jubah itu.
Trio Guru Elite berada di belakangnya, dan juga trio Tetua Menara yang ada di barisan guru.
"Untuk murid-murid kebanggaanku, setelah kalian keluar dari Akademi Sihir ini, kehidupan baru akan menyambut kalian. Mulai saat itu juga tanggung jawab akan kalian pikul seiring berjalannya waktu. Putuskan dengan bijak ke mana kalian berlabuh, jangan sampai menyesali pilihan kalian." Hela merentangkan tangannya, jubah yang menutupi tubuhnya juga ikut mengembang.
Dia terlihat beribawa dan anggun.
"Kerajaan Mystick akan selalu terbuka jika kalian ingin berkarir di Tiga Menara sebagai penyihir ternama. Ini berlaku untuk kalian dari kerajaan mana pun," lanjut Hela.
Dengan kata lain, kalian hanya membuang-buang waktu jika bergabung sengan organisasi penyihir di kerajaan tempat kalian. Kata-kata Hela sedikit mengandung sindiran keras bagi penyihir kerajaan lain.
---------------------------------------
Satu jam telah berlalu, para murid yang telah lulus bersiap-siap mengemas barang mereka, termasuk aku.
Yah, sepertinya aku bisa keluar dari tempat ini dengan tenang.
Aku berbaring di tempat tidur asrama untuk yang terakhir kalinya.
Dengan ini, aku bisa fokus mengurus Kerajaan Maphas. Hmmm ... sebelum itu, aku harus membuat kesepakatan baru mengenai kenaikan harga senjata pada Asosiasi Perdagangan Luxtier. Aku masih perlu lebih banyak emas!
Ngomong-ngomong, Erish tidak terlalu banyak bicara akhir-akhir ini. Mereka berdua, Erish dan Delila sedang berada di kamarku. Delila berbaring di sebelahku, sedangkan Erish melihat kota dari jendela kamar. Aku tidak ingin menganggunya.
"Ibu, ada hal penting yang ingin Rayna sampaikan,"
"Kenapa dia tidak ke sini?"
"Maaf sudah merahasiakan ini dari Ibu. Rayna sedang berada di wilayah Kerajaan Nagad,"
"Apa?!" Aku sontak bangkit dari tempat tidurku.
"Kerajaan Nagad?" Erish berbalik melihat ke arah kami.
"Apa kau tahu sesuatu tentang Kerajaan Nagad, Erish?"
"Sedikit, Yang Mulia. Kerajaan Nagad termasuk kerajaan makmur di wilayah selatan, karena mereka mengandalkan hasil laut yang melimpah. Namun, ada rumor buruk tentang Raja mereka, yaitu rumor mengenai Raja asli yang sudah mati, dan diganti dengan sosok lain."
Jadi memang benar bahwa Raja mereka adalah Vampir yang memimpin Sekte Satan. Namun, tidak ada alasan bagi Rayna untuk ke sana, mau bagaimanapun di sana adalah markas utama musuh. Ada kemungkinan Satan bangkit dari pecahan tubuh yang lebih kuat, mengingat tempat itu adalah markas utama.
"Delila, perintahkan Rayna untuk kembali sekarang juga,"
"Baik, Ibu."
Dan sekarang ....
"Erish, kemarilah, ceritakan lebih detail tentang Kerajaan Nagad."
Erish mengangguk dan segera menghampiriku.
Kerajaan Nagad, salah satu kerajaan yang memiliki kekuasaan lebih besar dibandingkan kerajaan lain di wilayah selatan. Itu karena mereka terkenal dengan julukan "Pasukan Tanpa Lelah". Karena beberapa tahun sebelumnya, Kerajaan Nagad pernah berperang tanpa istirahat selama berhari-hari. Itu karena mereka menggunakan pasukan Vampir, mereka sama sekali tidak menggunakan skill maupun sihir Vampir, mereka bertarung layaknya manusia biasa. Itu adalah sebuah penyamaran yang bagus.
"Dan satu hal lagi, Yang Mulia. Ada sebuah kota yang dijuluki 'Kota Bebas' yang terletak tepat di perbatasan Kerajaan Nagad. Seperti julukannya, kota itu tidak tersentuh hukum sama sekali, segala kejahatan legal di sana. Kota itu merupakan pintu masuk menuju Kerajaan Nagad jika berjalan lewat jalur darat, karena di pinggiran Kerajaan Nagad merupakan lembah dan sisi lain merupakan lautan yang tidak mungkin bisa dilewati tanpa izin mereka."
Kota Bebas, ya? Kedengarannya menarik. Pasti banyak buron kelas atas di sana. Sesekali mungkin aku harus memeriksa daftar buron dengan nilai kepala yang tinggi. Sebuah ladang uang di Kota Bebas, kukuku.
Setengah jam sudah Erish bercerita mengenai Kerajaan Nagad. Banyak informasi menarik tentang kerajaan itu.
Tapi, aku masih belum bisa mengukur kekuatan mereka jika hanya berdasarkan cerita saja. Akan sangat beresiko untuk melakukan kontak langsung dengan mereka sekarang.
Hmmm ...?
Sebuah Gate muncul di kamarku. Itu bukan milik Delila, melainkan ....
"Ibu, Saya kembali."
Rayna.
Aku bergegas menarik Rayna keluar dari Gate dan segera memeluknya.
"I-ibu ...?"
"Dasar bodoh! Kenapa kau ke sana sendirian?!"
Benar, aku sangat khawatir jika Rayna melakulan hal seperti itu. Terlebih lagi ini mengenai Satan yang hampir merenggut nyawanya dulu.
Aku memeluknya dengan erat.
Perasaan ini, aku tidak bisa kehilangan salah satu dari mereka.
"Ibuuuuu! Maafkan akuuuu!" Tangis Rayna akhirnya pecah.
Ternyata Keres benar, aku sekarang benar-benar terlihat seperti Orang Tua sekarang.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE, YA :(