The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Hidup Sebagai Mangsa



Pertandingan pun dimulai.


Kevin Silver berdiri dengan gagah, tangan berototnya menggenggam pedang sekuat tenaga.


"Tanpa nama, aku menghormatimu karena kau tak mundur berhadapan denganku," ucap Kevin dengan mengarahkan auranya pada pria tanpa nama. "Aku tidak akan meminta maaf, karena aku akan bertarung dengan sungguh-sungguh."


Pria tanpa nama hanya diam sembari mengangguk. Ia bersiap dengan kuda-kuda tak seimbang, kaki kanannya maju selangkah ke depan.


Kevin langsung mengeluarkan kekuatan penuhnya untuk menghabisi pria itu. Ia bermaksud untuk membunuh pria dengan sorot mata yang terlihat kosong tersebut.


Aura putih berkumpul di pedangnya dengan sempurna, penampilan itu menunjukkan bahwa ia sudah mencapai tahap sworsmaster.


"Oho, pria yang sangat menjanjikan." Karman mengangkat jarinya, seorang pengawal dengan jubah hitam muncul, terlihat seperti seorang assassin. "Jelaskan secara singkat."


"Nama pria itu Kevin Silver, seoeang tentara bayaran lepas yang terkenal akan julukan sesuai namanya, Sharp Silver," jawab pengawal itu.


Tentara bayaran lepas, sama seperti pekerja lepas, namun Kevin hanya mengambil pekerjaan yang ditawarkan organisasi tentara mana pun.


"Bagaimana menurutmu, Nona Alissa? Kupikir kau harus memikirkan kembali soal taruhan ini? Kita melihat seekor predator yang sedang bermain-main dengan mangsanya." Karman melirik Alissa dengan senyum percaya diri.


"Dari sudut pandangmu, mungkin dia terlihat lemah dan tak bisa melepaskan diri. Namun, terkadang mangsa bisa menjadi predator," ucap Alissa yang pandangannya masih tertuju ke arena.


Karman terlihat penasaran dengan perkataan Alissa.


"Sang mangsa yang berulang kali lolos dari kematian akan terus mendapatkan pengalaman baru. Kekurangannya mungkin saja adalah senjata utamanya," lanjut Alissa.


Karman menyeringai. "Pemikiran yang menarik, namun, inilah kenyataan."


Rose terlihat khawatir, apa Nyonya-nya membuat pilihan yang salah? Karman berpikir secara logis berdasarkan apa yang dilihatnya saat ini. Orang-orang mungkin berpikir demikian.


Kembali ke pertarungan.


Kevin berlari menuju pria tanpa nama, matanya terfokus pada gerak tubuh lawannya. Tak ada pergerakkan, Kevin menyerang menargetkan dada.


Aura di pedangnya seketika melebar sebelum menyentuh tubuh pria itu. Kevin dengan percayakan diri menganggap ini serangan terakhirnya, namun ....


Pria itu menghindar dengan memiringkan tubuhnya tanpa beban sedikit pun, pedangnya menahan pedang aura Kevin sehingga menimbulkan gesekan keras.


Bagaimana mungkin?!


Kevin langsung menendang tubuh pria itu


*Brak!


Pria itu terhempas ke sisi kanan arena.


Kevin merasa tak senang, terlihat jelas raut wajah penuh kekesalan walau sudah menghempaskan pria itu dengan sepenuh tenaga. Satu hal yang membuatnya terkejut.


Di sisi lain, Rose juga terkejut bukan main, karena ....


Siapa pun bisa melihatnya, serangan itu sudah seratus persen menembus dadanya, namun reflek gerakan memiringkan tubuhnya sangat luar biasa. Namun, satu hal yang membuatku kehabisan kata-kata.


Kembali ke Kevin.


Ia kembali berlari mengarah ke arah pria itu walau kondisinya belum diketahui.


Aku harus memastikannya sekali lagi!


Kepulan asap menghilang, terlihat pria tanpa nama itu mencoba bangkit berdiri, namun itu sudah terlambat, Kevin berada tepat di hadapannya bersiap menebas dengan pedang auranya.


Akan kupastikan dengan serangan pamungkasku!


"Silver X!" Sebuah tebasan bilah putih berbentuk huruf X langsung mengukir tubuh pria tanpa nama itu.


Kevin merasa senang karena serangan itu mengenai lawannya, ia bersiap melanjutkan serangan lain, namun Kevin terkejut setelah memastikan sekali lagi.


Tepat di matanya hanya terlihat ukiran huruf X raksasa di dinding arena.


"Apa kau ingin mati? Atau memohon untuk tidak mati?" Terdemgar suara pelan dari arah belakang.


Seluruh penonton termasuk Kevin menoleh ke sumber suara. Sumber suara itu berasal dari sosok pria yang merupakan lawan Kevin.


Kevin terkejut melihat hal itu, ia kembali melihat bekas tebasan sempurna di depannya.


Bagaimana mungkin?! Dia menghindari serangan pamungkasku tanpa goresan sedikit pun!


Perhatian Kevin tertuju pada kaki kanan lawannya yang menekuk.


Dia pincang, apa dia berencana melompat untuk mencapaiku?


Kevin langsung bersiap dalam posisi bertahan, mengangkat pedangnya ke depan dengan aura pedang menyebar menyelimuti tubuhnya.


Aku masih tidak tahu bagaimana dia menghindari seranganku tadi. Sekarang dia mencoba menyerang, aku punya firasat buruk jika menganggap enteng serangan ini.


"Jika itu pilihanmu, maka bersiaplah," ucap pria tanpa nama itu.


Muncul percikan listrik di kaki kanannya, di saat bersamaan kaki kanannya juga semakin menekuk, menunggu beberapa saat sebelum melompat menuju Kevin.


Karman melihat kejadian itu dari tempatnya. Wajahnya terlihat puas dengan senyuman takjub.


Umur : 35


Ras : Manusia


Job : Warrior


Level : 442


Karman semakin kegirangan, di saat yang sama ia langsung tersadar akan sesuatu. Jika dia mengakuinya, maka dia harus rela kehilangan martabatnya karena kalah dalam taruhan ini.


*Wush!


Juan melompat lurus ke arah Kevin dengan kecepatan maksimalnya, dalam waktu sesingkat itu ia membuang pedangnya dan beralih ke tinju tangan.


Di saat itu juga Kevin langsung menebas dengan kekuatan penuh untuk melawan tinju yang dilayangkan Juan.


*Ting!


Benturan keras tak terhindarkan. Secara mengejutkan bilah aura tajam di pedang Kevin menyentuh langsung kulit tangan Juan tanpa tergores.


Mustahil! Pria berpenampilan seperti pengemis ini bisa menahan pedang auraku dengan tangan kosong.


"Jangan bercanda kau, orang cacat!" Kevin menarik pedangnya dan kembali menebas dengan sangat cepat.


Di sisi lain, Juan juga memblokade serangan Kevin dengan tinjunya. Kecepatan serangan mereka seimbang, namun Juan terlihat menguasai tempo pertarungan karena ia terlihat tenang, sedangkan Kevin menyerang dengan emosi yang meluap-luap.


Juan melihat celah, tepat di perut Kevin, ia langsung mengarahkan tinjunya ke target tersebut.


Kevin yang melihat itu pun tersenyum.


"Silver Body Peak." Perubahan terlihat di kulit Kevin. Kulitnya berubah menjadi warna yang melambangkan namanya, silver.


*Dum!


Di saat yang sama tubuh Kevin terhempas ke sisi arena karena pukulan dari Juan.


Rose terkejut dengan kemampuan Juan.


Walau dia pincang, dia tetap menggunakan kekurangannya itu dengan sangat baik. Terlebih lagi kekuatan fisiknya tidak normal.


Juan berjalan dengan menyeret kaki kirinya yang pincang. Ia bermaksud memastikan kondisi Kevin, tak terlihat jelas kondisi Kevin di dalam kepulan asap.


Tak lama kemudian, langkah Juan terhenti. Dengan mengejutkan Kevin keluar dari kepulan asap dengan perubahan pada tubuhnya.


"Sial, tak kusangka aku akan menggunakan wujud tertinggiku." Tubuh berwarna silver, berkilau terkena sinar matahari.


"A-apa itu?" tanya Rose yang terkejut melihat perubahan fisik Kevin.


"Kemampuan unik bawaan lahir," jawab Karman yang mendengar pertanyaan Rose.


Rose mengingat sedikit informasi tentang itu. Sebuah kemampuan bawaan yang sudah ada sejak manusia lahir. Momen ini sangat langka, sepuluh banding seribu untuk menemui orang dengan bakat bawaan seperti ini.


Kevin menyeringai, ia terlihat puas dengan kekuatan yang meluap-luap dari tubuhnya.


"Menyerahlah sekarang!" teriak Kevin yang membuat pose tangan kanan layaknya pedang.


Kemampuan Kevin dapat merubah warna kulitnya menjadi silver, dan juga massa tubuhnya akan meningkat drastis. Semuanya mengeras, layaknya Logam.


Kevin berlari ke arah Juan sembari menyiapkan pose menebas dengan tangan kanannya.


"Matilah!"


Juan menekuk kaki kanannya, percikan listrik terlihat menyambar. Dengan ekspresi kosong, ia mengaktifkan skill-nya.


"Melepaskan batasan."


Lompatan Juan sangat cepat, ia jauh lebih cepat dari Kevin. Sehingga ia memenangkan momentum siapa dulu yang berhasil mendaratkan serangan.


*Dum!


Sebelum pukulan Juan mencapai Kevin. Juan menerima sebuah tekanan super dahsyat yang datangnya entah dari mana. Tubuhnya berhenti bergerak untuk sesaat.


Namun, mata Juan tertuju pada satu tempat. Seorang pria berkacamata yang duduk sendiri di tribun penonton, ciri-ciri itu mengacu pada Danny Hart.


Juan tersenyum, seolah menerima semua hasil yang diterima. Sementara Kevin sudah melancarkan tebasan dengan tangannya.


Rose yang sedang menonton pertandingan itu tiba-tiba merasakan keberadaan Nyonya-nya yang menjauh. Ia langsung melihat ke arah tempat duduk, namun Alissa tak ada di sana.


*Brakk!


Seseorang menendang tangan Kevin ke bawah, alhasil tangan Kevin terhempas ke lantai arena dan merusaknya.


Rose langsung menoleh ke arena, ia terkejut dan berteriak, "Nyonya!"


Orang yang menendang tangan Kevin adalah Alissa Hart.


Bersambung ....