
Saraya bersiap dalam posisinya. Pedang hitam yang merupakan bentuk perubahan dari cincinnya itu memunculkan percikan listrik.
"Kukuku." Terdengar suara tawa dari balik kelima depress itu.
Bukan suara Red Own, kali ini suaranya tak seberat sebelumnya.
Begitulah yang dipikirkan Saraya. Namun, tebakannya salah.
Seseorang yang masih mengenakan jubah hitam, dengan tinggi, serta postur yang mirip dengan Red Own. Hanya saja, tak ada topeng yang menutupi wajahnya kali ini.
Wajahnya terlihat jelas. Seorang pria berusia tiga puluhan, memiliki bekas sayatan di dahi dan dagunya. Wajah itu terlihat asing, terlebih rambut hitam pekat yang ia miliki.
Apa dia berasal dari selatan?
"Tak kusangka kalian bisa menemukan kelemahanku, ini benar-benar kekalahan telak bagiku. Mungkin pertama kalinya," ucap Red Own.
Saraya mengarahkan pedangnya kembali ke depan dan berkata, "Menyerahlah, Red Own."
Sorot mata Red Own terlihat tegas dan penuh kepercayaan diri. Walaupun Saraya dan rekannya sudah tahu kelemahannya, itu tetap tak menggoyahkan dirinya. Sikap tenangnya menunjukkan bahwa ia memiliki sesuatu yang belum diperlihatkan.
"Melihat seseorang yang baru saja berhasil memetik buah dari dahan terendah, ia melupakan buah yang lebih berharga di dahan lainnya. Kau merayakan pencapaian itu? Sangat menggelikan."
Saraya menyadari perkataan Red Own.
Apa masih ada lagi kartu truf yang dia sembunyikan?
"Berhati-hatilah, aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan," ucap Rista.
"Aku tahu, tapi aku tak bisa hanya diam melihat mereka!"
*Wush!
Saraya berlari dengan cepat menuju ke arah Red Own. Rista gagal menahan Saraya karena terkejut dengan langkah yang diambil wanita itu.
Kelima depress maju secara bersamaan menyerang Saraya.
Saraya melihat Red Own yang seolah meremehkan kemampuannya. Wanita itu tersenyum dan bergumam kecil, "Dasar bodoh."
"Last Sword Technique." Saraya memejamkan matanya. Inderanya semakin peka akan keadaan sekitar, termasuk lima depress di hadapannya.
Aliran listrik menyengat kaki kelima depress itu, seketika gerakan mereka terhambat.
*Crack!
Dengan kecepatan kilat, Saraya menebas kelima depress di waktu yang bersamaan, sehingga meninggalkan jejak garis cahaya yang berliku-liku.
"Laws of Lightning."
*Duar!
Petir menyambar tubuh kelima depress itu setelahnya.
Last Sword Technique : Laws of Lightning adalah teknik lanjutan dan Thunder Slash. Hanya bisa digunakan dengan pedang, karena itu Saraya jarang menggunakannya, terlebih teknik ini juga menguras banyak Mana-nya. Itu sebanding dengan kerja kerasnya, karena Saraya telah menciptakan lima teknik pedang lainnya.
Rista terkesan melihat kemampuan Saraya dari kejauhan. Depress abnormal seperti itu sangat merepotkan, namun Saraya berhasil melenyapkan lima depress abnormal sekaligus. Di sisi lain, Rista merasa iri, ia menunduk melihat kedua tangannya yang menggenggam nucle.
Selain kekuatan fisik, tak ada yang bisa kubanggakan.
Kembali ke pertarungan.
Saraya sudah sampai tepat di hadapan Red Own dalam posisi siap menebasnya.
Perasaanku tidak enak.
Ia mengatakan itu karena melihat Red Own yang tak panik sama sekali. Justru pria itu tersenyum seolah menyuruh Saraya untuk segera menebasnya.
Sesuatu mendekat, lebih tepatnya sudah berada tepat di atas mereka.
Saraya langsung melompat ke belakang dengan bantuan hempasan kilat di kakinya.
"Huh?" Mata Saraya terbuka lebar setelah melihat sosok yang menginterupsi pertarungannya.
Depress abnormal lainnya. Memiliki bentuk tubuh berantakan, secara harfiah mereka masih terlihat seperti manusia, namun dengan beberapa yang tumbuh di bagian tubuh tertentu. Satu depress, memilik enam lengan dan delapan kepala yang tersebar di sekujur tubuhnya.
*Bruk!
Saraya jatuh hingga hantaman lututnya terdengar cukup keras. Tubuhnya begetar, bahkan keringat dingin keluar dari kulitnya.
Di sisi lain, Rista juga terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Tidak salah lagi, itu pasti mereka," ucap Rista dengan menahan ekspresi jijik melihat sosok itu.
Red Own terlihat puas melihat ekspresi putus asa yang Saraya perlihatkan. Ia berjalan mendekat pada Saraya untuk melihat dengan jelas ekspresi wanita itu.
"Tak masalah jika kau membunuh lima produk gagal itu, karena aku sudah menyiapkan sebuah mahakarya yang sangat luar biasa."
Mereka tidak mengetahuinya. Delapan bawahan Saraya tak tahu cara mengalahkan depress abnormal. Hal itu meninggalkan penyesalan terdalam di hatinya.
A One, A Two, A Three, A Four, A Five, A Six, A Seven, dan terakhir ... A Eight. Mereka semua adalah korban kekejaman perang, kehilangan arah dan tujuan untuk hidup. Sampai di mana Saraya menerima mereka. Merubah gaya hidup, bahkan latihan bagaikan neraka telah mereka lalui bersama.
Beberapa tahun lalu, ketika Saraya memulai pekerjaannya sebagai pemimpin kota.
Saraya sedang menyisihkan dokumen di ruang kerjanya. Itu adalah dokumen tentang jumlah imigran yang masuk ke wilayahnya, semuanya ditulis dengan rinci sehingga jumlah lembaran kertas di mejanya sangat banyak. Ia ditemani oleh A One yang mengecek ulang dokumen yang masuk ke kantor.
Suasana sangat hening, hanya suara kertas dokumen yang menjadi peramai. Beberapa saat berlalu, A One menemukan dokumen mencurigakan dan melaporkannya pada Saraya.
"Sepertinya mereka ingin berbuat curang lagi," ujar A One.
"Lagi?" tanya Saraya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas dokumen.
Ini masalah tentang bahan makanan. Jumlah imigran terus bertambah, Saraya kekurangan pekerja yang bisa mencatat data dari setiap imigran. Karena itu ia menggunakan beberapa perwakilan imigran untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Hanya saja, mereka tak melakukan pembagian secara merata. Hanya kelompok mereka yang mendapatkan bahan paling hanyak, sedangkan kelompok lainnya yang tidak memiliki perwakilan hanya mendapat sedikit.
Hanya memikirkan kelompoknya, padahal mereka sama-sama imigran.
A One sedikit kesal karena kejadian ini bukanlah yang pertama. Lagi dan lagi, tak akan ada yang berubah jika mengganti perwakilan, kejadian serupa akan terulang.
"Nona, sudah saatnya mereka mandiri. Saya sudah menyiapkan beberapa slot kosong untuk mereka bekerja di pertanian."
Saraya seketika menghentikan kegiatannya, ia langsung melihat ke arah A One dengan sedikit menegaskan ekspresinya.
A One sedikit tertekan melihat ekspresi Saraya.
Saraya pun mengajukan satu pertanyaan pada A One. "Untuk siapa kau menyediakan slot itu?"
"Tentu saja, untuk mereka," jawab A One dengan sangat yakin.
"Mereka yang mana?"
Mendengar pertanyaan beruntun Saraya, A One terdiam sejenak. Itu pertanyaan yang sulit dijawab dalam kondisi saat ini, satu-satunya cara adalah yakin dengan keputusan.
Karena jumlah pengungsi semakin banyak, itu tak akan menunjukkan perbedaan, justru mereka masih kekurangan slot pekerjaan di kota. Begitu yang A One pikirkan.
"Jalankan saja terlebih dahulu skema ini, kita masih memiliki banyak persediaan maupun uang. Tak perlu membebani dirimu, biar aku sebagai pemimpin kalian yang akan menyelesaikan masalah ini," lanjut Saraya.
"Tidak, Nona!" A One meninggikan suaranya saat itu, bahkan ekspresinya terlihat kesal.
"Huh?" Saraya terkejut melihat A One membantahnya.
"Nona, Anda pernah berkata bahwa kita akan menanggalkan nama Bad Blood secara perlahan untuk memulai ini semua. Ini bukan medan pertempuran, tapi misi kemanusiaan. Kami pernah merasakannya sebelum bertemu dengan Anda."
"A One ...." Saraya tak ingin memotong perkataan bawahannya itu.
"Ketika kami kewalahan melawan musuh kuat, Anda datang membereskannya sendiri. Kami merasa tidak berguna di momen itu. Maka dari itu, Nona ... jangan pikul beban lebih dari ini, serahkan pada kami, percayalah."
"Percaya, ya?"
Saraya sedikit menundukkan kepalanya, merenungkan perkataan A One barusan.
Sejujurnya, mereka memang sudah jauh lebih kuat saat ini. Saat-saat seperti ini akhirnya datang juga, ya.
A One berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke hadapan Saraya dan berlutut. Ketujuh orang lainnya tiba-tiba muncul entah dari mana dan melakukan pose serupa.
"Serahkan pada kami, Nona!" seru mereka bersamaan.
"Baiklah." Saraya sudah tidak bisa lagi membantah mereka. Ia akhirnya sadar bahwa tak hanya kekuatan, sifat keras kepala mereka juga menurun darinya.
Tapi, kenyataannya saat ini.
Inilah hasil yang kudapat karena mempercayakan semuanya pada kalian.
*Bruk!
Justin datang ke tempat Saraya, ia kabur dari kejaran Rasta.
Di sisi lain, Rasta hanya berdiri dengan Shadow Amor yang masih menutupi tubuhnya. Ia terlihat sengaja melepaskan Justin.
"Justin, jangan bunuh dia," ucap Red Own.
"KUKUKU, BAIKLAH."
Saraya masih terus menundukkan kepalanya, semangat bertarungnya benar-benar sudah hilang saat ini.
Apa yang harus kulakukan sekarang, Ayah?
Bersambung ....