The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Mencekam



Di waktu yang sama, di dalam gua bawah tanah.


Suara gemuruh petir membangunkan Naura. Udara dingin masuk melalui lubang kecil di langit gua. Hal itu membuat Naura risih, perasaannya tiba-tiba berubah, ia sangat cemas.


Cemas? Apa aku mencemaskan sesuatu?


Bayangan Legarde muncul di pikirannya. Air mata Naura tiba-tiba keluar.


"Hah ...."


Kenapa aku menangis?


Sesuatu menarik pakaiannya, itu adalah Hela. Mereka tertidur karena menunggu Legarde hingga larut malam.


Hela tertidur di sebelahnya. Tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Naura.


"Hela ...." Ia mengelus kepala Hela dengan tangan kirinya.


Aku yakin Legarde baik-baik saja, semoga dia tidak berurusan dengan para bandit itu.


Ia terus berpikir positif, namun rasa cemasnya semakin menjadi. Perutnya perlahan mulai sakit karena rasa cemas yang berlebihan.


Hela terbangun karena merasakan aura tak beraturan. Ia mengangkat kepala dan membuka matanya secara perlahan.


"Huh?" Hela terkejut ketika melihat ekspresi wajah yang ditunjukan Naura.


Wajah Naura begitu tegang, aura yang dikeluarkannya bergerak tidak beraturan.


"Naura!"


Teriakan Hela menyadarkan Naura.


"Huh?"


Sial! Lagi-lagi aku memikirkan hal lain!


Naura menepuk pipinya.


"Naura ... apa kau bermimpi buruk?"


Wajah polos Hela membuat Naura tersentuh, ini sekian kalinya ia tak bisa berbohong karena Hela sering membuat wajah polos ketika bertanya.


"A-aku mengkhawatirkan Legarde,"


"Aku juga mengkhawatirkannya. Apa aku perlu mencarinya sekarang?"


"Iy--"


Hah? Apa yang kupikirkan? Aku tidak tahu keberadaan Legarde, dan sekarang aku membiarkan Hela pergi?


Keegoisan hampir saja menguasai Naura, ia mengambil keputusan yang tergesa-gesa.


"Tidak, Hela, kita akan menunggunya di sini."


Aku tak ingin kehilangan Hela.


Hela diam dan menundukan kepala. Hal itu membuat Naura bingung.


"Hel--"


Hela mengangkat tangannya ke depan sebagai tanda diam untuk Naura.


Sorot mata Hela terlihat walau ia sedang menunduk. Sorot mata yang sangat tajam, Naura bahkan langsung mengalihkan pandangannya ketika melihat sorot mata itu, ia merasa tak nyaman.


"Ada gerombolan bandit yang sedang dalam perjanalanan ke sini, tidak, melewati tempat ini. Sepertinya tujuan mereka Wilayah Menara,"


"Bandit?!"


Gua bawah tanah telah dilapisi oleh sihir penghalang, sihir penyamaran. Hela mengatakan hal itu karena sangat percaya dengan kemampuan sihir yang dimilikinya.


"Kita berdua harus tenang, jangan bersuara atau membuat suara yang tidak perlu."


Naura mengangguk, mereka pindah, dan bersandar di dinding gua. Langkah kaki mereka terdengar ketika telinga Naura menempel ke dinding.


Mereka sangat banyak, apa Guild telah dihabisi? Tunggu, bagaimana dengan Legarde? Apa dia bergabung dengan Guild Bebas?!


Pikiran Naura semakin kacau.


Hela tak ambil diam, ia langsung menyalurkan sihir ke tubuh Naura, itu bertujuan untuk menenangkannya.


Getaran semakin kencang, para bandit berlari tepat di atas mereka. Keadaan semakin mencekam ketika aura dari monster-monster mengerikan berhasil menembus penghalang yang Hela buat.


Para monster berhenti tepat di atas mereka.


Hela menutup mulut Naura, tangan kanannya bersiap menembakkan sihir jika sesuatu muncul dari lubang gua.


"Kenapa makhluk ini berhenti?!"


"Dia merasakan tanda-tanda kehidupan di sekitar sini,"


"Lanjutkan perjalanan kalian! Sisanya berpencar dan bunuh siapa pun di sekitar sini!"


Para bandit berpencar, namun para monster masih berdiri tepat di atas gua bawah tanah.


Monster itu sangat kuat, aku akan mati jika melawan mereka sekarang.


Hela kehabisan akal, kematian bisa saja datang jika ia melakukan hal ceroboh.


*Crack!


Naura mengigit tangan Hela yang menutup mulutnya.


"Ack!" Hela spontan berteriak kecil.


Para monster mulai memeriksa bagian bawah, hampir dekat dengan pintu masuk gua yang berada di sela pohon raksasa. Hela membuat pintu masuk baru agar lubang gua secara alami berkamuflase.


"Naura, apa yang kau lakukan?!" bisik Hela dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Perutku sakit!"


"A-aku ... a-akan melahirkan."


Naura terbaring sambil menahan sakit yang luar biasa.


Hela benar-benar panik, ia terlihat seperti orang bodoh. Ini pertama kali baginya mengalami hal seperti ini.


"Hela, bantu aku!"


"B-baik!"


Mereka terus berbisik keras.


Hela melihat bagian bawah tubuh Naura. Wajahnya masam, ia tak tahu harus melakukan apa.


"Tahan kakiku dan perhatikan!"


Hela hanya mengangguk.


*Brak!


Tangan seekor monster berhasil menembus masuk ke lubang gua bawah tanah. Hanya satu tangan, namun tangan itu seukuran batang pohon. Kulitnya dipenuhi sisik berwarna hijau.


"Mereka menemukan sesuatu!" Para bandit berseru, mereka langsung menuju ke tempat para monster.


Hela sangat gelisah, ia tak bisa mengabaikan Naura yang berjuang melawan maut, namun di sisi lain mereka berdua sedang menantang maut.


"Fire Burst!" Hela merapalkan sihirnya.


Tangan monster itu terbakar oleh api yang menyala-nyala. Sihir ini berbeda dengan Fire biasa, level api yang dikeluarkan hampir menyamai api abadi. Namun, Hela hanya bisa menggunakan sihir ini di tingkat terendahnya.


Tangan monster itu menarik diri, namun lubang yang ditinggalkan semakin membesar.


Tidak ada cara lain, aku harus melawan mereka!


Hela berencana melawan mereka sendirian, ia sadar bahwa kematian adalah jawaban mutlak jika melawan mereka sekarang.


"Shield!" Hela menutup lubang dengan sihir perisai.


Itu bisa menahan mereka untuk sementara. Sekarang, aku harus fokus pada Naura.


Tubuh Hela gemetar ketika melihat sesuatu di depannya. Usianya hampir menginjak 10 tahun, ia terus menyerap informasi yang dilihat, tentang pengalaman pertama melihat wanita dewasa melahirkan.


Ia hanya bisa membantu dengan menyentuh bagian sensitif Naura, yang mana itu malah memperburuk situasi. Naura tak tahan ingin berteriak.


*Brak!


Perisai sihir Hela hancur.


*Bush!


Semburan api menyebar memenuhi gua bawah tanah.


"Earth Wall!" Hela membuat dinding tanah yang sangat tinggi hingga menyentuh langit gua, ia menutup segala sisi.


Api mulai menghantam dinding tanah. Suhu semakin panas.


Pelindung sihir sangat rentan terhadap api, Hela belum memiliki sihir yang bisa tahan terhadap api. Pelindung tanah merupakan pilihan satu-satunya bagi Hela.


Hela terus berfokus pada Naura sambil menahan dinding tanah dengan menguatkan mentalnya. Jika itu manusia biasa, sudah pasti tubuhnya akan meledak karena Mana yang berkumpul di pusat tubuhnya.


Kepalanya terlihat!


Bayi pertama Naura sedang berjuang untuk keluar.


"Huwaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Naura berteriak sekeras-kerasnya sambil meremas tangannya sendiri hingga berdarah.


*Dum!


Suara hantaman terdengar cukup keras. Seekor monster berhasil menerobos masuk ke bawah tanah.


Hela menyadari hal itu berkat sihir deteksi.


Apa yang harus kulakukan sekarang?


Hela tak tahu monster seperti apa yang berada di balik dinding tanah, karena sihir deteksinya masih rendah, maka Hela belum bisa melihat wujud dari monster itu.


Suara dentuman itu semakin keras, monster itu berjalan menuju ke arahnya.


Hela membulatkan tekadnya untuk melawan monster itu. Ia berbalik dan mempersiapkan sihir serangan terkuatnya.


Dia semakin dekat. Aku hanya perlu membatalkan dinding tanah dan langsung menyerangnya.


Perlahan tanda-tanda kehidupan di luar yang dirasakan Hela melalui sihir deteksi menghilang.


Ada apa ini?


*Crack!


Sesuatu seperti sedang ditusuk terdengar tepat di balik dinding tanah. Tanda-tanda kehidupan di luar sepenuhnya menghilang.


Namun, Hela merasakan satu tanda kehidupan tepat di balik dinding tanah.


Siapa dia? Tak ada niat membunuh yang kurasakan darinya.


Hela masih ragu melihat siapa yang menghabisi semua orang di luar.


Tak ada cara lain, ia pun membatalkan dinding tanah.


Seseorang berjalan mendekatinya.


Dia?!


Hela terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!