
Chapter 58 : Ujian
Aku sudah berlatih selama empat tahun, namun aku masih belum bisa menggunakan kekuatan sejatiku.
"Zain, kau sudah melakukan yang terbaik," ucap Master Glenn.
"Iya, Master."
"Sudah kukatakan padamu, aku sudah tidak ingin dipanggil Master."
"Aku tidak bisa mengabaikan hal itu, Master."
Saat ini aku sedang latihan dengan Master Glenn, di kamp. militer ibukota Maphas. Seperti biasana, aku tidak bisa memberikan perlawanan yang signifikan.
Nama : Zain Aither
Ras : Manusia
Level : 912
Job : Swordmaster
Gelar : Dark Hero
Aku hanya naik sepuluh level sejak perang waktu itu, tak ada cara agar mempercepat naik level. Bahkan raid dungeon bersama penduduk Liche tidak memberi pengaruh besar. Kabar baiknya, aku berhasil mencapai tahap Swordmaster, ditambah aku bisa menggunakan skill Assassin berkat gelar "Dark Hero" milikku. Tapi, level-ku tidak sepadan dengan statistikku, lebih tepatnya aku bisa kalah dengan orang yang memiliki level di bawahku seperti Master Glenn. Masalahnya adalah pengalamanku yang masih kurang.
"Aku sedikit bingung dengan exp yang kau butuhkan untuk naik level, seharusnya kau sudah lebih dari level-mu saat ini," ucap Master Glenn.
"Mungkin karena aku mantan pahlawan."
"Itu terdengar masuk akal."
Jika diperhatikan, Master Glenn terlihat lebih berbeda saat ini. Auranya lebih terasa halus, bahkan saat bertarung dengannya pun aku merasa bahwa segala seranganku sepertinya telah terbaca olehnya.
"Ayo kembali ke tempat para prajurit."
Kami pergi ke tempat latihan prajurit. Terletak di hutan pinggiran kota, ada lapangan yang lumayan luas di sana. Empat puluh kadet sedang berlatih tarung satu sama lain, kebanyak dari mereka seorang warrior dan swordman. Untuk prajurit resmi, saat ini mereka ditugaskan untuk menjaga daerah perbatasan, ada juga yang menjadi pasukan khusus di bawah perintah keenam wanita itu.
Tugas kami berdua hanyalah melatih para kadet, setelah kemampuan mereka mumpuni, kami memberi mereka pilihan untuk bergabung dengan divisi mana. Sebenarnya Master Glenn memiliki divisi khusus yang disebut Black Crow, merupakan assassin khusus di bawah perintah langsung Nona Selene.
Kami tidak membuka rekrutan secara terbuka, anggota baru dicari dengan cara mengawasi kadet yang memiliki bakat saja. Keuntungan menjadi anggota Black Crow ialah kebebasan dalam menggunakan senjata api, kami bebas menggunakan senjata api tipe apa pun. Menurutku senjata api yang kami miliki merusak keseimbangan kekuatan antar negara.
Aku dan Master Glenn berdiri di podium kayu untuk menyapa para kadet. Melihat hal itu, para kadet langsung berbaris di hadapan kami.
"Para kadet! Kalian akan segera lulus dari pelatihan ini. Sebagai seorang prajurit, jangan biarkan musuh menggoyahkan mental kalian! Mulailah memilih divisi yang akan kalian tuju!" Master Glenn memberi pidato penyemangat singkatnya.
Rasanya benar-benar seperti melihat seorang prajurit dari dalam diri Master Glenn, lebih tepatnya seperti prajurit di duniaku dulu. Aku tidak akan terkejut, karena Master Glenn sudah memberitahu identitasnya yang sebenarnya padaku. Hanya saja aku tidak tahu orang seperti apa dia di kehidupannya dulu.
"Bubarkan barisan!"
"Siap!" Para kadet membubarkan diri dan kembali ke asrama militer.
Cahaya senja mulai terlihat, tanda untuk orang-orang mengakhiri aktivitasnya hari ini.
"Zain, kau sudah mendengar beritanya, 'kan?"
"Sudah, Master."
Ratu Daisy Maphas telah bangkit kembali. Ini juga merupakan deklarasi terhadap musuh untuk mulai waspada mulai sekarang. Tapi yang menarik perhatianku adalah ... Nona Hart. Dia juga muncul bersamaan dengan kembalinya Ratu Daisy.
"Beritanya sudah tersebar luas, acara akan diadakan dua hari lagi. Persiapkan dirimu."
"Baik."
Sebuah turnamen besar, Ratu Daisy mengumumkan bahwa siapa yang bisa mengalahkan Perdana Menterinya, Alissa Hart, maka akan diberikan hadiah besar dan berhak memiliki Alissa Hart.
"Sangat konyol."
Apa tujuan mereka mengadakan turnamen ini? Apa Nona Hart akan baik-baik saja.
"Aku akan pergi." Master Glenn pergi dengan bayangan hitam yang menelan tubuhnya.
Ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Di mana orang yang disebut Ibu oleh keenam wanita itu? Dia pastilah orang tertinggi di kerajaan ini, Keres Vasilissa. Sebelumnya aku curiga bahwa Alissa Hart dan Keres Vasilissa adalah orang yang sama, tapi semua itu ditepis oleh perbedaan kekuatan mereka berdua. Aku sama sekali tidak merasakan kekuatan pada Keres, namun berbeda dengan Nona Hart, auranya selalu kuat.
Aku pergi sedikit masuk ke dalam hutan, pinggiran kota sudah mulai tidak terlihat. Suhu semakin dingin ketika masuk semakin dalam, namun hutan ini tidak gelap, karena cahaya matahari masih bisa masuk bebas dari sela-sela dedaunan.
Ini tempat yang cocok untuk menjernihkan pikiran.
Aku berdiri sambil bersandar di sebuah pohon, melipat tanganku, dan bersiul. Udara yang berhembus begitu pelan sampai membuatku terbawa oleh kenyamanan ini.
"Huh?" Aku merasakan hembusan angin yang semakin kencang.
*Wush!
Suara kencang seperti pedang yang ditebaskan ke angin.
Ada seseorang di sini.
Aku mengikuti asal suara itu dengan menyembunyikan hawa keberadaanku menggunakan Stealth.
Ada tempat yang banyak disinari matahari, pohon-pohon di tempat itu sepertinya berjarak renggang. Aku perlahan mendekat ke tempat itu untuk memeriksa siapa yang membuat sumber suara.
"Apa yang dia lakukan di sini?"
Tampak seorang wanita sedang mengayunkan pedangnya di tempat itu. Ayunan pedangnya terlihat halus dan sangat indah, jejak aura di setiap ayunannya membentuk seperti sebuah simbol.
Nona Hart. Dia berlatih di tempat ini? Terlebih lagi, penampilannya terlihat berbeda dari sebelumnya, terutama rambut dan pakaiannya. Pedang yang dia gunakan, bukankah itu katana?
"Keluarlah," ucap Nona Hart sambil mengayunkan pedangnya.
Sudah kuduga, skill seperti ini tidak akan bisa mengelabuinya.
Aku keluar dari persembunyianku dan menghampiri Nona Hart.
"Seperti yang diharapkan, Nona Hart, kau bisa mengetahui keberadaanku."
"Tuan Pahlawan, ya?"
"Kau bisa memanggilku Zain, Nona Hart. Aku bukanlah Pahlawan lagi."
"Begitu, ya." Nona Hart menghentikan ayunan pedangnya dan sepenuhnya melihat ke arahku. Sebuah pedang tanpa pegangan menancap di depannya.
Dia benar-benar berbeda seperti wanita lain. Entah kenapa jantungku berdegup kencang.
"Jadi, apa yang membawamu ke tempat ini, Zain?"
"Ah, aku baru selesai berlatih di kamp. pelatihan. Saat ini aku hanya ingin menikmati suasana sore di hutan ini."
"Hmmmm ...." Nona Hart melirik ke perlengkapanku. "Pedang dan dagger, ya? Sepertinya kau sudah bekerja keras."
"Terima kasih, Nona Hart. Aku berusaha untuk lebih kuat lagi."
"Lebih kuat untuk apa?"
Pertanyaan Nona Hart seketika membuatku terdiam.
Aku tak bisa menjawabnya, aku akan mati karena malu jika menjawab pertanyaannya.
"Tidak ada, ya? Pendirianmu ternyata masih kurang, sepertinya Glenn tidak becus melatihmu--"
"Tidak!" potongku.
"Huh?"
"Aku ingin menjadi kuat untuk mendapat pengakuanmu!"
Nona Hart seketika terdiam, matanya menatap tajam diriku. Tapi ekspresinya terlihat seperti biasanya, dingin.
Omong kosong apa yang sudah kukatakan?!
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA! GIFT NONTON IKLAN JUGA DARI HADIAH!