
Chapter 45 : Percobaan Mengembalikan Kekuatan
*Duaar!
Kamar tempat kami ditahan meledak.
Delila memasukanku ke dalam sebuah pelindung berbentuk seperti bola.
Siapa yang melakukan ini?
Hanya kamar kami yang mengalami kerusakan, ledakan itu dirancang hanya untuk meledakan kamar ini. Tak ada efek yang diterima oleh kamar lainnya.
Ini sedikit mengejutkanku, Delila baru menyadari sesaat sebelum kamar ini meledak. Orang itu sepertinya kuat.
"Ibu baik-baik saja?"
"Iya. Ngomong-ngomong, siapa orang yang menyerang kita?"
Kami turun keluar dari kamar. Ledakan itu meninggalkan lubang besar di lantai 2, akan sangat merepotkan bertarung di dalam.
Perhatianku tertuju pada bayangan seseorang di tanah. Aku dan Delila pun sontak melihat ke atas.
Seseorang melayang di udara sambil melihat kami. Dia memiliki penampilan seperti manusia, namun tangan kanannya menyerupai dragonewt, sebagian tubuhnya memiliki sisik.
"Aku berhasil menemukan para penguntit," ucapnya.
Orang ini, sepertinya dia Ghad, familiar milik Kepala Akademi. Dia menyadari portal-portal penyadap itu dan mengikuti aliran sihirnya hingga ke sini.
"Kami bukan musuhmu."
Delila pasti bisa meluruskan kesalahpahaman ini.
Ghad turun dengan mengepakkan sayapnya.
Dia mengingatkanku dengan Raymond.
"Tak perlu penjelasan, kalian pasti pemimpin para serangga itu. Gerak-gerik yang kalian tunjukan sangat mencurigakan,"
Kami tidak bisa menepis hal itu, tak ada alasan bagi kami untuk tidak melihat situasi di luar. Tak ada alasan yang bisa kugunakan untuk meyakinkannya.
"Serahkan diri kalian, tak ada gunanya melawan, kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku," lanjutnya.
Ghad mengarahkan aura membunuhnya pada kami berdua. Bahkan menembus pelindungku.
Delila sepertinya tidak terpengaruh, dia hanya akting seolah-olah aura itu menekan tubuhnya. Sebelumnya, aku menyuruhnya untuk tidak bersikap ceroboh pasca kejadian adu aura dengan Kepala Akademi waktu itu.
"Aku tidak tahu apa motif kalian sebenarnya, tapi, kalian sudah melakukan kesalahan besar dengan membuat keributan di Kerajaan Mystick."
Ghad meraih bajuku dan menarikku ke dekapannya. Wajah kami saling berhadapan. Tangannya tembus melewati pelindung yang menutupiku.
Penuh sisik, sepertinya dia belum bisa berubah dengan wujud manusia sepenuhnya.
Di sisi lain, aku melirik Delila yang wajahnya begitu menakutkan. Matanya terbuka lebar, urat-urat di dahinya terlihat jelas.
Aku memberinya tanda untuk tidak bertindak gegabah.
"Dasar lemah."
*Bruk!
Ghad mendorongku.
Aku terus menenangkan Delila untuk tidak bertindak berlebihan.
"Hei! Kami tidak ada hubungannya dengan kejadian ini!" teriak Delila.
"Kami dalam perlindungan Ratu Kerajaan Mystick, Hela Naura Legarde," sambungku.
"Omong kosong. Aku tidak bisa merasakan kehadirannya di mana pun, apa yang sebenarnya kalian rencanakan?"
Bajingan ini, dia semakin salah paham dengan kami.
"Terserah katamu, kau akan menyesali tindakan gegabahmu ini."
---------------------------
Setengah jam telah berlalu, tidak ada tanda-tanda para pemberontak akan datang ke sini.
Wajah Ghad terlihat cemas, dia terus mempertahankan harga dirinya seperti naga pada umumnya.
"A-aku akan memeriksa istana!" Ghad langsung pergi sambil menutup wajah malunya.
Dasar kadal sialan. Siapa yang akan mengganti biaya perbaikan kamar?!
"Delila, aku menyuruhmu untuk menahan diri, 'kan?"
"M-maaf, Ibu. Tapi, siapa yang tidak marah jika Ibunya diperlakukan seperti itu?"
Ah ... dia benar. Aku jadi malu setelah mendengar perkataan gadis kecil ini.
"Eheem ... yah, tapi, dilarang berlebihan, oke?"
"Baik, Ibu."
Sepertinya kami tidak bisa memata-matai mereka, aku harus melihat kondisi istana secara langsung. Aku tak tahu kabar yang lainnya, aku harap mereka baik-baik saja.
Sebelum kami melangkahkan kaki, kami merasakan dua aura yang saling bertabrakan. Aura itu berasal dari tempat tujuan Ghad, istana. Salah satu aura memang sama seperti aura Ghad. Namun, aku tak tahu siapa pemilik aura yang satunya lagi.
"Gate." Delila menggunakan sihir Gate untuk pergi menuju istana.
Kami telah sampai di istana, lebih tepatnya di salah satu bangunan besar yang tidak jauh dari istana. Akan beresiko jika kami langsung pergi ke sana tanpa mengetahui siapa sebenarnya musuh yang kami lawan.
Di halam istana. Ghad sedang mencekik seseorang. Ada beberapa kerusakan di tempat itu, menandakan bahwa telah terjadi pertarungan singkat antara Ghad dengan orang yang ia cekik.
"Pria itu, dia Vampir," ucap Delila.
"Berapa levelnya?"
"898."
Itu level yang cukup tinggi, hampir setara dengan Shishaa. Tapi, aneh rasanya jika dia kalah dengan mudah oleh Ghad. Dilihat dari levelnya, seharusnya dia bisa memberikan perlawanan. Ghad hidup sejak zaman Kepala Akademi masih kecil, pengalaman memang tidak pernah bohong.
Tidak, tunggu sebentar. Sepertinya Vampir itu masih belum menyerah.
Halaman kosong itu secara tiba-tiba dipenuhi oleh darah. Ini merupakan teknik pengendalian darah milik ras Vampir.
Ghad melempar Vampir itu ke pilar istana. Tangannya terkena bercak darah dari Vampir itu.
Gumpalan darah itu berkumpul membentuk sebuah benda seperti tombak besar.
Itu Blood Spear. Tombak darah yang akan terus menyerang targetnya. Merupakan sihir tingkat 8. Ini mengejutkan, sangat jarang melihatnya.
Tombak itu melayang, menyerang Ghad dengan cara menusuk-nusuk secara membabi buta. Tentu Ghad menghindari serangan itu dengan mudah, namun, tombak itu akan mencipratkan darah pada Ghad.
Ghad tidak nyaman dengan bercak darah di tubuhnya.
Menurut pengetahuanku, darah itu akan menghabiskan HP milik Ghad secara perlahan. Itu bisa disebut serangan tak kasat mata, karena Ghad tidak sadar jika darah itu menyebabkan HP-nya berkurang. Dan ada efek lain setelahnya.
Pertarungan masih berlanjut, orang itu bangkit dan menyerang Ghad dari sisi lain.
Aku tak bisa mendengar suara mereka dari sini. Jika menggunakan CCTV berjalan, mungkin Ghad akan menyerang kami lagi.
Genangan darah memutari Ghad seperti sebuah angin tornado.
Darah-darah itu, dia pasti mendapatkannya dari mayat-mayat di seluruh kota.
Ghad melompat keluar menembus tornado darah itu.
Lumuran darah menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Dia ke sini."
Ghad mendarat di atap bangunan yang sama dengan kami.
Huuh ... dia seperti baru selesai mandi darah. Perutku mual.
"Kalian?" Ghad menyadari keberadaan kami.
"Sepertinya kau sedang menebus kesalahanmu, ya?"
"K-kau ...." Ghad memalingkan wajahnya karena malu.
Kukuku ... bahkan kau tidak meminta maaf pada kami. Akan kujadikan alasan ini untuk menjatuhkan harga dirimu, Ghad!
"Eheem ... ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan di sini?" Ghad berjalan ke arah kami.
Delila ingin menghalangi, tapi aku menahannya dan aku juga mendekat pada Ghad.
"Kami hanya penasaran kenapa banyak darah yang menuju ke istana."
Tentu saja itu bohong. Aku tidak bisa bilang bahwa kami merasakan aura kalian. Jika tebakanku benar, aura itu tidak ditunjukan untuk orang lain, kami terlalu peka sampai bisa merasakan aura mereka. Kepekaanku perlahan mulai kembali.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini, aku tak mau kalian menghalangku,"
"Jangan khawatirkan ka--"
Darah di tubuh Ghad bersinar.
Sial!
*Duar!
Ledakan besar terjadi.
"Ibu!"
Aku mendengar teriakan Delila walau samar-samar.
Huh? Aku tak bisa merasakan tubuhku, apa Delila melindungiku dengan sihirnya?
Tidak, aku merasakan rasa sakit setelahnya. Ledakan itu, aku terkena ledakan itu.
Delila menangkapku dan membawaku turun.
Tubuhku sangat sakit, aku tak tahu seperti apa kondisi tubuhku sekarang. Aku hanya bisa melihat wajah Delila yang dipenuhi amarah.
"Hei! Aku sudah bilang, untuk segera pergi dari tempat ini!" teriak Ghad samar-samar.
"Hahahaha! Ternyata kau membawa orang lemah di sisimu!"
Sepertinya itu suara dari Vampir.
"Akan kubunuh kalian berdua."
Kesadaranku, aku harus mempertahankan kesadaranku. Delila lepas kendali. Aku bisa melihat cahaya biru bersinar terang di matanya.
"Agh!"
Sepertinya dia melepaskan aura intimidasi, karena aku mendengar kedua orang itu merintih.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Sial, kepalaku sangat pusing.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE, YA! JANGAN CUMA KOMEN DOANG :(