
"Sangat tidak sopan datang ke wilayah seseorang tanpa memperkenalkan diri," sindir Hela.
Wanita itu masih melayang sambil melihat ke arah kami.
Bagaimana dia bisa mengetahui lokasi kami? Aku pikir ini bukan sekedar kebetulan. Jika dilihat dengan seksama, aku seperti melihat kembaran Rayna di sana. Walaupun tidak benar-benar mirip, tapi gestur tubuh mereka terlihat sama.
Rupanya juga terlihat berbeda pada saat dia mengejarku terakhir kali. Sebelumnya, warna rambut wanita itu hitam, kini warna putih lebih mendominasi. Dia mengenakan pakaian seperti dress yang berwarna merah gelap.
Wanita itu perlahan turun ke daratan.
"Sejak tadi dia mencoba menembus penghalang telerpotasi milikku. Karena dia tidak memiliki niat untuk buruk, aku memilih membiarkannya masuk," kata Hela.
Perkataan Hela sedikit mengejutkanku. Itu berarti dia dari awal sudah mengetahui posisi kami. Tapi, bagaimana bisa?
Wanita itu telah sampai tepat di hadapan kami. Wajahnya terlihat sedikit kesal, dia mencoba untuk tidak memancarkan aura membunuh. Aku sedikit merasakannya, aura membunuh yang bocor keluar dari tubuhnya.
"Apa maksud tindakan kalian ini?" tanya wanita itu tegas.
Hela berjalan mendekati wanita itu. Ia sejenak menghela napas sebelum berbicara. "Aku sudah bilang tadi, 'kan? Perkenalkan dirimu ketika berada di wilayah milik orang lain."
Aku merasakan samar-samar aura Hela. Di saat yang bersamaan, wanita itu terlihat tertekan oleh sesuatu. Sepertinya Hela melepaskan auranya ke wanita itu.
"Kau bersikap layaknya korban di sini. Apa kau lupa apa yang sudah kalian lakukan pada kami waktu itu?" tanya Hela dengan nada kesal.
Dia benar.
"Kalian menculik pendudukku, aku bahkan harus berpikir selama 2 tahun lebih hanya untuk menentukan hukuman apa yang harus kuberikan pada kalian," lanjut Hela.
"Apa kau yakin bisa mengalahkan ribuan True Vampire di sana seorang diri?" Wanita itu menyeringai, terlihat sangat meremehkan kami.
Hela terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan wanita itu.
Ribuan True Vampire. Bahkan aku tak yakin bisa melawan mereka sekaligus. Kecuali jika ada gear dan item tingkat mitos yang telah menempel di tubuhku, aku pasti bisa melawan mereka.
"Aku mengatakan soal hukuman untuk kalian bukan tanpa alasan." Api keluar dari tubuh Hela, api berwarna kemerahan, namun juga memancarkan cahaya keemasan.
Api ini ... apa mungkin?
Api di tubuh Hela membesar, kemudian mengambil bentuk menjadi sesuatu yang mirip seperti burung raksasa yang terbang di atas kepalanya. Namun api itu masih terhubung ke tubuh Hela.
Api Phoenix.
Wanita True Vampire perlahan mundur menjauh dari Hela sambil menutupi wajahnya.
Tunggu, Rayna!
Aku langsung menarik Rayna yang berada di depanku.
Rayna tak terkena efek apa pun.
"Tenang, aku tidak berniat menyerang putrimu," ucap Hela.
Dia bisa mengontrol layaknya zona friendly fire. Itu luar biasa.
"A-api apa itu?!" True Vampire itu terus mencoba menahan panas api itu dengan sihir pelindung miliknya.
"Ini hanya sebagian kecil kekuatan dari Api Phoenix. Jika aku mau, aku bisa saja langsung membakar kalian semua di waktu yang sama." Wajah Hela terlihat menakutkan saat mengatakan hal itu.
Api yang sangat kuat. Mungkin berada di atas tingkat 15.
"Hentikan itu!" True Vampir tak sanggup menahan panas dari Api Phoenix.
Hela perlahan menarik Api Phoenix masuk ke tubuhnya. True Vampire itu langsung terduduk lemas akibat panas dari Api Phoenix. Beberapa bagian tubuhnya melepuh, rambutnya rusak karena panas.
Sepertinya dia tidak bisa meregenerasi luka-lukanya. Menurut cerita Hela, Phoenix berasal dari Dunia Kayangan. Maka kekuatan suci menjadi atribut utama bagi orang-orang di sana, hal itu menjawab kenapa True Vampire ini bisa terluka terkena panas Api Phoenix.
"Daripada melakukan pertarungan yang tidak berguna, bagaimana jika kita berbincang-bincang sebentar?" tanya Hela sembari menjulurkan tangannya pada True Vampire itu. Bukan sekedar menjulurkan, Hela menggunakan sihir penyembuh untuk memulihkan kondisi True Vampire itu.
Wajahnya terlihat ragu, tapi True Vampire itu tidak menunjukkan sikap penolakan.
Hela memang cerdik. Dia membuat wanita itu merasa tidak memiliki pilihan selain menuruti perkataannya.
Mengingat banyaknya ruangan di istana ini, aku tidak terlalu terkejut.
Kami duduk di sebuah sofa berwarna putih. Ketika aku duduk, rasa nyaman langsung menelanku.
Sial, ini sangat nyaman! Seperti berada di awan-awan.
Terdapat dua sofa panjang yang saling berhadapan dengan meja di tengahnya. Aku dan Rayna duduk di sofa yang sama, sedangkan True Vampire berada di depan kami. Hela duduk di bagian ujung dengan sofa kecil.
"Dari mana aku harus memulainya? Hmm, ah, perkenalkan dirimu terlebih dahulu." Hela telah membuka percakapan.
Wanita itu terdiam, beberapa kali mencuri pandang ke arahku dan Rayna.
"Namaku Lilith Drusilla," jawabnya dengan sedikit keraguan di wajahnya.
Hei, tenanglah! Kami tidak akan memakanmu.
"Aku adalah seorang True Vampire yang merupakan penghuni asli dunia ini," lanjutnya.
Pembicaraan ini sepertinya terdengar menarik.
"Penghuni asli, ya? Sejak aku hidup 600 tahun lalu, aku tidak pernah mendengar tentang kalian, bahkan dari Master sekali pun. Aku mendengar rumor tentang True Vampire, apakah rumor itu benar?"
"Seperti yang sudah kukatakan tadi, kami penduduk asli dunia ini, sebelum para bajingan dari dunia lain itu datang merusak semuanya."
Sepertinya dia sedang menyinggung para Dewa dan Dewi. Penyebutan dunia lain sedikit membuatku penasaran, apa itu hanya kata pengganti saja?
"Ribuan tahun lalu, True Vampire, manusia, iblis, dan ras lainnya hidup dengan damai. Kami tak menyerang manusia maupun ras lainnya, ada sebuah perjanjian antar pemimpin ras. Tapi, semua sirna ketika makhluk-makhluk jahat itu datang."
Ekspresi wajah Lilith benar-benar terlihat buruk. Menceritakan kejadian buruk, siapa yang tidak murka akan hal itu? Namun, Lilith terlihat tidak sungkan untuk menceritakan hal ini, kesampingkan tentang ancaman Hela, Lilith sepertinya memang ingin bercerita tentang kejadian itu.
"Perjanjian seperti apa itu?"
"Perjanjian untuk tidak berperang. Kami saling membantu sesama ras, kami membantu para manusia yang kesulitan melakukan aktivitas dengan mengirim vampir, dan juga membantu mereka melawan monster liar. Sedangkan manusia menyediakan darah setiap bulannya untuk kami. Hal itu juga berlaku untuk ras lainnya."
Hanya medengar ceritanya saja aku sudah terbayang sedamai apa kehidupan masa lalu mereka. Konsep itu yang ingin kuterapkan pada Kerajaan Maphas. Yah, Kerajaan Karibian sudah menerapkannya terlebih dahulu, namun aku ingin skala yang lebih luas daripada mereka.
"Para orang-orang jahat itu turun dari langit dengan jutaan pasukan mereka. Kami yang merupakan ras terkuat dengan mudah dikalahkan dengan sihir suci mereka."
True Vampire menjadi ras superior sebelum kedatangan mereka. Jika sebelumnya mereka adalah orang jahat, itu jelas kabar baik. Tapi, masalahnya mereka tidak melakukannya, dan itu merupakan kabar buruk!
"True Vampire dan High Elf tidak mampu melawan mereka--"
Heh?
"A-apa kau tadi bilang High Elf?" tanyaku
"Benar. Kami memiliki hubungan baik dengan mereka, bisa dibilang High Elf sama kuatnya dengan True Vampire. Namun mereka tidak tertarik akan hal itu."
Jadi High Elf benar-benar ada, ya?
"Kami terpaksa mundur dan mengisolasi diri dari dunia luar hingga sekarang. Kami buta akan informasi tentang dunia luar, sampai beberapa puluh tahun yang lalu, kami melepas beberapa vampir liar untuk melihat situasi di luar."
Vampir liar pada dasarnya hanyalah vampir tanpa akal. Mereka melihat melalui perantara vampir liar.
"Raja Nagad salah satu dari mereka. Siapa sangka, dia menjadi salah satu dari pemuja Satan. Kami memiliki kesempatan untuk melawan orang jahat itu dengan menggunakan Satan."
"Tunggu, seberapa banyak yang kau ketahui tentang Satan?" tanya Hela.
"Tak banyak informasi yang kami ketahui. Namun, para pemujanya berkata bahwa Satan adalah Pahlawan yang mencoba melawan para Dewa itu."
Heh?
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!
Bulan depan saya usahakan up setiap hari.