The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Sama



Aku langsung mengarah menuju ke tempat Nona Eline tanpa berpikir panjang. Kami mulai beradu serangan dengan dagger dan pedang.


Gerakannya sangat cepat, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas. Dia sering mengincar dada dan leherku, polanya sudah terlihat. Ini serangan balasan!


*Ting!


Aku menghalau tusukan pedangnya ke sisi kiri menggunakan dagger. Sisi kanannya terbuka, dia tidak memiliki ruang untuk menyerang bagian vitalku dengan daggernya.


"Selesai sudah!" Aku menebas langsung mengincar pinggulnya.


*Crack!


Lagi-lagi tubuhnya hancur, dia masih menggunakan klon bayangannya.


Sial. Sejak kapan dia menggunakan klon? Dia melakukan itu juga pada saat aku menggunakan Death Vortex.


Puluhan tentakel bayangan keluar dari tanah, keberadaan Nona Eline tetap tidak bisa kurasakan.


Apa yang harus kulakukan?


Tentakel hitam itu melesat secara bersamaan dengan sangat cepat. Ujung tentakel itu berubah seperti tombak yang sangat runcing.


Aku teringat dengan pedang di tanganku.


Saat ini aku sudah bisa menggunakan semua kemampuan sesuai level-ku saat ini. Seharusnya pedang ini meresponku, tak ada salahnya mencoba.


Aku mengalirkan Mana-ku ke Rac Sword. Jumlah Mana-ku meningkat sejak gelar Dark Hero kembali terbuka.


Sensasi yang kurasakan jauh berbeda ketika menggunakan pedang ini sekarang. Dia benar-benar menghisap Mana-ku layaknya makhluk hidup.


"Light Slash!"


*Wush!


Kali ini bukan tebasan putih yang muncul, namun tebasan hitam. Bentuknya juga berbeda, aku memunculkan badai tebasan hitam yang seketika memotong puluhan tentakel itu.


Bagaimana mungkin Light Slash bisa menghasilkan serangan seperti ini?! Potensi pedang ini sangat mengejutkan.


Tentakel hitam terus bermunculan, jumlahnya hampir memenuhi arena seperti sebelumnya. Walau begitu aku dengan mudah menyapu bersih mereka menggunakan serangan yang sama.


Sekarang masalahnya adalah ....


"Seranglah sekuat tenagamu, Pahlawan Zain!" Suara Nona Eline terdengar dari balik-balik tentakel hitam.


Aku tidak yakin mode ini akan bertahan lama, rasanya ada sesuatu yang perlahan menghilang dari tubuhku. Mode ini memiliki batas waktu, benar-benar menyebalkan. Ini pemakaian ke dua setelah sekian lama, aku bisa memakluminya.


Sekarang, bagaimana cara untuk mengalahkan Nona Eline sebelum mode ini habis? Bahkan dia juga belum menggunakan kekuatan penuhnya.


Tentakel hitam ini harus dibasmi dalam sekali serang. Fungsi pedang Rac sudah terbuka, bagaimana memanfaatkannya?


"Time Acceleration."


Serangan tentakel hitam melambat berkat skill baru yang kumiliki. Kini aku hanya perlu mencari posisi Nona Eline sebelum durasinya habis. Aku juga memotong tentakel hitam sembari mencari posisi wanita itu.


Aku yakin dia ada di dalam ratusan tentakel hitam di sini.


Sudah lebih dari tiga puluh detik, aku masih belum menemukannya. Dia tidak ada di dalam sini. Mana-ku sedikit terkuras, jika itu aku yang sebelumnya, mungkin aku sudah mati lemas karena kehabisan Mana.


Aku sudah membasmi tentakel hitam dengan Light Slash. Keberadaannya benar-benar lenyap, akselerasi waktu tidak bisa melihat jejak skill yang dia tinggalkan.


Skill Time Acceleration akhirnya terhenti pada waktu empat puluh lima detik. Ini terhenti dengan sendirinya, sepertinya itu batasan waktu untuk menggunakan skill ini.


"Skill yang menarik." Nona Eline muncul dari dalam tanah, keluar melalui bayangan hitam.


Dia bisa menyadari skill akselerasi waktu? Ini tidak masuk akal.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi, coba lihat ini," lanjut Nona Eline.


Nona Eline dalam sekejap sudah berada tepat di depanku.


Ini bahkan belum satu detik sejak dia berbicara. Tidak mungkin ... dia?!


Aku menggunakan akselerasi waktu untuk memperlebar jarak darinya. Tapi tetap saja dia bergerak dengan kecepatan yang sama denganku.


"Kau terkejut?"


"B-bagaimana mungkin?"


Skill ini baru kudapatkan, secara kebetulan dia memilikinya. Apa dia sudah tahu tentang skill ini sebelum aku menyadarinya?! Dia sudah memiliki skill ini sebelum aku.


"Itu tidak penting. Sekarang kita bisa saling beradu serangan penuh, tanpa perlu takut orang lain mengetahui teknik kita masing-masing, 'kan?"


Jika dia memiliki skill ini sebelum aku, harusnya dia bisa menang mudah di pertarungan sebelumnya, 'kan? Pasti telah terjadi sesuatu sesaat sebelum pertandingan ini.


Pandanganku secara tidak sengaja mengarah ke tempat duduk Ratu.


Benar saja, Ratu Daisy dan Nona Hart melihat tepat ke mana pun aku bergerak tanpa terpengaruh dengan akselerasi waktu. Seharusnya kami berdua terlihat seperti sebuah kilatan yang saling beradu, tapi dua orang di atas sana tidak melihat kami seperti itu.


Tatapan Nona Hart terlihat tidak biasa. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya, tapi aku merasa ada sesuatu di balik tatapan itu.


"Perhatikan pandanganmu!"


*Ting!


Kami saling beradu serangan dengan menggunakan pedang dan menyimpan dagger masing-masing.


Gerakan kami seperti manusia biasa pada umumnya, dalam kondisi masih di dalam pengaruh akselerasi waktu, kami tidak bisa menggunakan sihir atau skill lainnya.


"Ini menjadi semakin menarik," ucap Nona Elina sembari menyeringai.


Walau begitu, serangan wanita ini masih kuat, berbeda dengan manusia pada umumnya. Sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya sebagai assassin, dia melampaui limiter tubuhnya sendiri.


Aku sedikit tertekan olehnya, teknik pedangnya lebih bagus dariku. Tapi, untuk beberapa saat aku bisa melihat celah walau dia langsung menutupnya setelah itu.


Nona Eline menebas secara vertikal menebas ke arahku. Aku menangkisnya menggunaka pedang Rac dengan cara memegang dari kedua sisi pedang.


*Ting!


Serangan itu berhasil tertahan, bahkan tidak menggores pedangku.


"Pedang apa itu sebenarnya?!" tanya Nona Eline yang terkejut.


Bahan pembuatan pedang Rac? Bahkan aku saja tidak tahu. Ini kesempatan yang bagus! Terlebih lagi, sepertinya dia tak tahu bahwa kita tidak bisa menggunakan skill lain saat akselerasi waktu berlangsung.


Aku mendorong kuat ke depan sampai pedang di tangannya terlepas melayang di udara.


Nona Eline kehilangan keseimbangan karena dorongan itu. Dia menurunkan pertahanannya saat bertanya soal pedangku sebelumnya.


Sekarang!


Aku menancapkan pedang Rac ke tanah, langsung mengepalkan tangan untuk memukul perutnya. Tanganku hampir mencapai perutnya, hanya beberapa detik sampai efek skill akselerasi waktu ini habis.


Sedikit lagi!


*Bugh!


Aku merasa tanganku berhasil memukulnya.


Kena? Sepertinya tidak. Aku memukulnya tepat saat efek skill akselerasi waktu telah habis. Dia menahan pu--


*Bruk!


Nona Eline secara mengejutkan terjatuh.


Apa yang terjadi?


Tubuhnya terlihat tidak berdaya, seperti orang yang kehabisan daya hidupnya.


"Nona Eline!" Aku bergegas ingin meraih tangannya.


"Berhenti." Nona Eline menahanku. Suaranya terdengar serak.


Terlihat sesuatu di perutnya, tepat di mana aku melayangkan tinjuku. Sesuatu terlihat seperti luka bakar yang sangat parah.


Pukulan yang kulayangkan tak bermaksud membuatnya seperti ini, aku ingin melumpuhkannya saja.


Aku melihat ke tangan kananku yang kugunakan untuk memukulnya.


Apa ini?


Sesuatu terlihat seperti aura hitam menyelimuti tangan kananku. Dibanding dengan aura hitam, ini lebih terlihat seperti api hitam.


Aku tak ingat memiliki kemampuan ini, dari mana kekuatan ini berasal? Apa karena segel kekuatanku yang telah terbuka?


"Nona Eline! Kenapa kau tidak menangkisnya dengan skill milikmu?!"


Nona Eline menggelengkan kepalanya, kemudian tak sadarkan diri.


"Medis! Tolong rawat dia!" teriakku.


Dengan sigap para healer datang dan membawa Nona Eline keluar dari arena.


Aku menundukkan kepala sembari melihat api hitam di tangan kananku.


Ini sangat mengejutkan.


"Pemenangnya adalah Wither!"


Sorak penonton terdengar dari arena. Hal itu tak mengalihkan pandanganku dari tangan ini.


Kenapa perasaanku sangat berbeda hari ini, ya? Tidak, ini seperti aku sangat menikmati saat-saat melayangkan pukulan tadi.


"Benar."


Aku hanya perlu menghilangkan perasaan ini dengan cara yang sama.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA! DAN JANGAN LUPA MAMPIR DI KARYAKU SATU LAGI.