
Beberapa hari kemudian.
*Duar!
Sebuah ledakan terjadi di tengah hutan. Ledakan itu berasal dari sihir milik Hela.
Hela terus berlari. Banyak monster mengejarnya. Keberadaan manusia membuat para monster menjadi agresif, karena manusia merupakan makanan kesukaan mereka.
Napas Hela mulai terengah-engah. Ia terus mengumpat pada dirinya sendiri.
Sial! Mereka semua tak ada habisnya!
Sebuah kata yang tidak pantas diucapkan oleh bocah berumur 9 tahun.
Aku harus mencari dataran tinggi. Tidak, tak ada tempat yang aman lagi sekarang!
Hela terus bergerak mengikuti arah yang ditunjuk oleh Joah, arah barat. Hanya itu satu-satunya petunjuk yang ia miliki.
Sepertinya aku berhasil kabur.
*Crack
Hela menginjak sebuah serpihan kayu yang telah terbakar.
Ia mulai menyadari bahwa area di sekitarnya berbeda.
Pohon, tanah, semuanya terlihat habis terbakar hebat. Huh?
Hela merasakan hembusan angin kencang dari arah depan. Rasa penasarannya bertambah untuk melihat tempat itu.
Apa ada lapangan di sana?
Hela pun melanjutkan penyelidikannya.
Udaranya semakin dingin. Huh?!
Mata Hela terbuka lebar setelah melihat apa yang ada di hadapannya saat itu.
Lubang raksasa, dan banyak puing bangunan yang berserakan. Terlebih lagi, ada banyak mayat manusia bertebaran di mana-mana.
Apa yang sudah terjadi pada tempat ini?
Hela masih berada di tepi lubang, ia sedikit ragu untuk turun ke bawah, karena bisa saja lubang ini merupakan sebuah perangkap.
Mayat-mayat itu sungguhan, aku bisa mencium bau busuk dan darah dari sini.
Hela melihat bekas pepohonan yang rusak di sekitar bibir lubang, tak jauh dari tempatnya.
Sepertinya ada seseorang yang terhempas merusak pepohonan.
Tubuh Hela bergerak tak terkendali membawanya pergi menuju ke bekas pepohonan yang rusak itu.
Apa ini? Kenapa aku begitu gelisah?
Semakin Hela mendekati tempat itu, perasaannya semakin terganggu.
Hela berada tepat di jalur pepohonan yang rusak. Ia mengikuti jalur itu hingga ujung.
Bau busuk mulai menyengat, terlihat ada satu mayat tergeletak di ujung jalur. Hela terus menutup hidungnya karena sudah tidak tahan degan baunya, namun ....
"Heh?"
Suasana seketika hening.
T-tidak mungkin.
----------------------------
6 jam kemudian.
Hela mengubur seluruh mayat di lubang besar dalam satu lubang yang sama.
"Semoga jiwa kalian tenang di sana."
Hela mengambil sebuah kesimpulan, kelompok ini adalah korban kekejaman dari Iblis yang ia dan Joah lawan sebelumnya.
Hela berdiri di sebuah makam di ujung jalur pepohonan yang rusak.
"Jadi, ini yang kau pilih, Legarde? Apa yang ada di pikiranmu?! Saat itu ...." Hela tak kuat menahan tangisnya. "Saat itu, Naura ... dia ...."
Hela duduk tak berdaya di depan makan Legarde.
"Kau tahu ... anakmu lahir dengan sehat, dia seorang laki-laki tampan sepertimu, tapi, dia sangat kuat seperti Naura. Aku menamainya Liche. Naura pernah bercerita tentang pendekar pedang yang pernah melawan Raja Iblis, ia ingin anaknya menjadi sosok seperti pendekar itu."
Hela terus bercerita sembari air matanya yang terus mengucur deras membasahi makam.
"Aku harap, kalian bertiga terus mengawasi kami berdua dari sana." Hela bangkit berdiri dan mengusap air matanya.
Sorot matanya menjadi sangat tajam.
"Aku pasti akan membalaskan dendam kalian. Para Iblis, mereka semua akan binasa. Ini sumpahku!" Teriakan Hela bergema ke seluruh penjuru hutan.
Sebuah sumpah telah terucap, Sang Penyihir Terkuat akan menjalani hidup bagaikan di neraka.
---------------------------------
3 tahun kemudian.
Ia kini telah menginjak usia 12 tahun. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya, dan Hela juga memotong pendek rambut putihnya.
Hela masih dalam perjalanan menuju wilayah barat. Walaupun dirinya sendiri pun tak tahu sudah sampai mana saat ini. Ia hanya mengikuti petunjuk Joah. Selama 3 tahun, Hela telah banyak membunuh monster, bahkan di saat-saat tertentu ia bertemu dengan beberapa prajurit Iblis. Sihirnya terus meningkat setiap kali melawan monster.
*Bum!
Hela merasakan aura mengerikan disekitarnya.
Aura sangat familir baginya. Insting tajamnya langsung menyuruhnya untuk bersembunyi.
"Naga."
Itu adalah seekor Naga Hitam raksasa yang sering terbang melewati hutan. Namun, ukuran Naga Hitam yang Hela temui sangat tidak normal, mungkin yang terbesar baginya.
Anehnya, hanya Naga Hitam ini yang selalui Hela lihat, ia tak menemukan spesies Naga lain selain ini.
Hela berusaha untuk bersembunyi, dan menghilangkan hawa keberadaannya.
*Bruk!
Naga itu mendarat tepat di dekatnya. Pepohonan hancur karena menjadi pijakannya.
Hela hanya bisa takjub melihat Naga yang sangat gagah itu. Tingginya hampir menyamai bukit, dengan ukuran sebesar itu, Naga Hitam benar-benar terlihat luar biasa.
Tidak, ini bukan saatnya untuk takjub! Aku harus segera pergi menjauh darinya.
Hela menggunakan Stealth untuk menyembunyikan dirinya. Ia berjalan menjauh dari Naga itu.
Seperti biasa, dengan cara ini aku selalu berhasil mengelabuinya.
Kabur dari Naga itu merupakan sebuah kebanggaan besar baginya.
Aku semakin jauh. Huh?
Hela melihat bayangannya di tanah semakin pekat. Ada sesuatu yang bersinar tepat di belakangnya. Cahaya semakin terang, Hela memberanikan diri untuk melihat asal sumber cahaya itu.
"S-sial." Hela terlihat putus asa.
Cahaya itu berasal dari mulut Naga Hitam yang mengarah tepat ke arahnya.
Dia menyadari keberadaanku.
Cahaya itu adalah Atomic Breath yang merupakan sihir serangan terkuat milik para Naga. Namun, beda halnya dengan Naga Hitam raksasa itu, ukurannya jauh lebih besar.
Hutan ini akan habis jika Naga itu menyemburkannya. Tidak ada cara lain, aku harus menyerangnya sebelum seluruh sihir terkumpul di mulutnya.
Hela mengangkat kedua tangannya mengarah ke Naga Hitam.
"Fire Ball : Destroying Meteor!"
Batu raksasa muncul di hadapan Hela. Perlahan api membakar batu itu. Suhu semakin tinggi, bebatuan mulai terbakar sepenuhnya.
"Tembak!"
*Bush!
Batu api itu melesat cepat menuju ke mulut Naga Hitam.
*Duuaar!
Ledakan dahsyat tak terhindarkan. Atomic Breath yang belum siap ditembakkan meledak di mulutnya, ditambah serangan sihir tingkat tinggi milik Hela, dataran ditutupi oleh asap hitam pekat akibat ledakan dari dua sihir tingkat tinggi.
Selama perjalanannya, Hela berhasil mengembangkan beberapa sihir tingkat tinggi. Ia berkesperimen dengan cara menggabungkan beberapa elemen sihir.
Sepertinya Naga itu akan terdiam untuk sementara, ini saatnya aku untuk ka--
Sebelum Hela menyelesaikan niatnya, sebuah kepalan tangan raksasa muncul di hadapannya.
*Bugh!
Kepalan tangan itu menghantam tubuh kecilnya hingga terhempas cukup jauh.
Naga Hitam muncul dengan kondisi wajah yang terluka parah.
"DASAR BAJINGAN KECIL! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriak Naga itu.
Hela terhempas hingga berkilo-kilo meter hingga tubuhnya menghantam bukit batu besar.
Naga Hitam terus mengejarnya, namun ia tersadar akan sesuatu.
"T-TIDAK MUNGKIN ... TEMPAT INI."
Sebuah hutan yang diselimuti energi gelap berada di hadapannya.
"CIH! DIA PASTI SUDAH MATI."
Naga Hitam pergi meninggalkan tempat itu.
Di sisi lain, Hela tergeletak tak berdaya dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Ia masih bisa melihat walau dengan pandangan yang samar.
Aku ... akan mati? Tidak. Aku harus menjadi kuat
Liche ... aku akan ....
Kesadaran Hela mulai menghilang. Dalam penglihatan terakhirnya, muncul seseorang di hadapannya. Tak terlihat jelas, namun sekilas Hela melihat mata orang itu bersinar kemerahan.
"To ... long." Itu adalah kata terakhir dari Hela pada orang di hadapannya.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!