
Aku ingin memberi sedikit pelajaran untuk mereka agar tidak meremehkan ras lainnya. Sebenarnya aku tidak berniat untuk menjatuhkan bola matahari ini, sih.
Dwarf yang berbicara padaku sebelumnya sedang memegang sebuah item. Item itu sebesar bola tennis, sangat kecil. Tunggu ... itu, 'kan?!
"Keluarlah, wahai senjata pamungkas kami!"
Apa mereka menyembah senjata?
Item itu mengeluarkan sorot cahaya. Cahaya itu membentuk sebuah alat yang cukup besar.
"Huaa! Akhirnya!" Para Dwarf bersorak ria melihat hal tersebut.
Sebuah meriam? Apa ini senjata terkuat mereka? Meriam ini sedikit berbeda dari perkiraanku. Ujung lubangnya terlihat sedikit lancip, sudah pasti benda itu tidak mengeluarkan bola meriam.
"H-hey, Nona! Apa yang harus kita lakukan?!" Demihuman di sebelahku terlihat panik.
Aku melupakan orang ini.
"Siapa namamu?"
"R-roy, panggil saja, Roy!"
Huh?
"Apa kau bisa menghabisi mereka semua?"
"I-itu mustahil, senjata itu sangat mengerikan!"
Kenapa bajingan ini terus berteriak padaku?!
Aku menatapnya dengan tajam.
"M-maafkan aku, Nona!"
Dasar pengecut.
Aku melihat ke atas, tepatnya ke arah bola matahari yang sedang kutahan.
Apa aku hancurkan saja Kerajaan ini? Tidak, tidak! Huuh ... baiklah, akan kuhibur mereka sedikit.
Aku membatalkan sihirku.
"Hahaha! Lihat! Dia takut melihat senjata pamungkas kita!" Para Dwarf itu tertawa. "Hey! Sebaiknya kau menyerahkan dirimu! Jangan membuat kami menggunakan senjata ini!"
"Fufufufu ... kalian sangat ahli dalam membuat lelucon, ya?"
"A-apa kau bilang?!" Para Dwarf sangat marah mendengar perkaaanku.
"H-hei, Nona, sebaiknya jangan memancing emosi mereka,"
Mereka mulai mengaktifkan senjata itu.
Terlihat seperti senjata yang pernah kutonton di film fiksi ilmiah. Bukankah itu terlalu modern? Dari mana mereka mendapatkan ide itu?!
"Tembak!"
Sebuah laser bewarna biru ditembakan ke arahku.
*Buuzz!
Laser?!
"Mana Shield." Aku mengaktifkan sihir pelindung tingkat 4.
Sihir kami saling beradu. Laser itu terus mencoba mendorong perisai Mana-ku, aku tidak yakin bisa menahannya dengan ini.
"Hahaha! Menahannya dengan sihir rendahan seperti itu? Dasar bodoh, naikan tingkat Mana-nya ke titik maksimum!"
"T-tapi, Tuan,"
*Plak!
Dwarf itu memukul bawahannya.
"Lakukan saja!"
Semakin besar.
*Crack!
Perisai Mana-ku sepertinya tidak sanggup menahannya.
"Matilah!"
*Duaar!
Serangan itu menimbulkan ledakan yang cukup besar.
"Nona!"
"Dia mati! Wanita gila itu mati!"
Laser itu setara sihir tingkat 10. Kelihatannya stat defence-ku berkurang. Ini pertama kalinya aku menerima damage dari senjata di dunia ini.
Situasi masih terlihat kacau. Mereka masih belum melihatku karena asap tebal ini. Serangan itu bahkan menembus sampai ke atas, karena ini di bawah tanah. Dilihat dari cara kerjanya, senjata itu diisi dengan Mana. Untuk mencapai serangan dengan tingkat 10, mereka pasti sudah lama tidak menggunakannya, aku rasa mereka akan menggunakannya saat perang. Yah, aku minta maaf karena kalian harus menggunakannya padaku.
Kabutnya sudah mulai menghilang.
Aku terbang melewati kabut.
"Fufufufu ... apa kalian pikir senjata lemah seperti itu bisa melukai Ratu ini?"
"M-mustahil ...."
"N-nona, bagaimana bisa?"
Aku turun ke bawah.
"Cepat, serang Ratu ini dengan seluruh kemampuan kalian,"
"B-bajingan! Kalian, serang dia secara bersamaan dengan sihir dan senjata kalian!"
"Hoh,"
Mereka menyerangku secara bersamaan.
"Wind Blow,"
*Bush!
Aku menghempaskan serangan mereka.
"S-siapa kau?!"
"Ratu ini ingin menemui Raja kalian, cepat bawa dia ke sini segera,"
"Jangan harap!"
*Bum!
Aku mengaktifkan Despair Aura.
"Aura yang sangat mengerikan, s-siapa kau sebenarnya?!"
Dwarf ini terlalu banyak bicara.
*Crack!
Aku menebas kepalanya dengan tanganku.
"Cepat bawa Raja kalian sekarang,"
"B-baik!"
-------------------------
"N-nona, siapa sebenarnya dirimu?" tanya Roy.
"Apa itu penting bagimu?"
"Jelas itu sangat penting! Ras Iblis tidak berani menyentuh Kerajaan Dwarf karena ada senjata aneh itu!"
Huh? Aku pikir bukan seperti itu. Ras Iblis yang kutemui terakhir kalinya bahkan bisa mengalahkan senjata kecil itu, mungkin.
"Kau akan mengetahuinya nanti,"
Kalau sudah seperti ini, aku terpaksa harus menundukan Kerajaan Dwarf.
Para Dwarf datang.
Di tengahnya, ada Dwarf yang sedikit lebih besar dan menggunakan mahkota.
Dia Rajanya, ya?
Wajahnya terlihat ketakutan.
Huuh ... apa ini akan berhasil?
"Kalian sudah membuat kesalahan besar," ucapku.
Raja Dwarf tertunduk lemas.
"M-maafkan ketidaksopanan kami, Nyonya!"
"Permohonan maaf saja tidak cukup untuk memuaskan Ratu ini, bersyukurlah karena Kerajaan ini tidak kuhancurkan,"
"K-kami akan melakukan apa pun, Nyonya!"
Bagus.
"Baiklah, Ratu ini sudah memutuskan apa yang harus kalian lakukan,"
-------------------------------
Besoknya.
Huh ... ini memang tidak terduga, tapi ini lebih baik. Menjadikan mereka Kerajaan bawahan, tidak, maksudku menjadikan mereka sebagai pekerja gratis untukku merupakan sebuah keuntungan besar. Sayangnya, mereka tidak bisa membuat senjata rune kelas atas, jadi aku memberikan sample rune yang kualitasnya jauh di bawahnya. Aku rasa item kelas rendah sangat berharga di sini.
Aku membangun Gate yang menghubungkan Kerajaan Dwarf dengan Kerajaan Maphas, tepatnya di Desa Liche. Aku rasa mereka akan sangat cocok jika bekerja sama. Aku tidak ingin mempublikasikan keberadaan Dwarf agar aku bisa memonopoli harga perlengkapan senjata dengan mudah, dan juga menghindari Kerajaan yang bisa saja mempengaruhi Dwarf. Aku juga belum mengungkap identitasku di hadapan mereka, mereka menganggapku Ratu dari Kerajaan Maphas, itu lebih baik.
Ngomong-ngomong, aku masih menahan Roy di sini, karena aku tersadar akan sesuatu. Dan dia bisa menjadi kekuatan tambahan bagi Kerajaan Maphas. Dan juga, aku ingin dia mengajari para Pejuang bagaimana cara mendapatkan skill Berserk, itu mungkin bisa dilakukan oleh manusia, mengingat Rony juga memiliki skill Berserk.
Aku masih berada di Kerajan Dwarf, lebih tepatnya di atas permukaan. Dengan Undead kelas atas milik Daisy, itu sudah sangat cukup untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Terkadang akan muncul orang yang memprovokasi mereka agar menentang perintahku.
Huh? Dia datang.
*Bush!
Suara kepakan sayap menyapu bersih hutan ini.
"Nyonyaku,"
"Ray,"
"Tenang, Ray, tidak ada yang bisa melukai Ratu ini,"
Aku menarik keluar Roy dari Gate.
*Bruk
"D-dia?!" Roy sangat terkejut.
"Yo, apa kabarmu?"
"M-mengapa Tuan Raymond ada di sini?"
"Mengapa katamu? Tentu saja untuk melayani Nyonya di sebelahku ini!"
Kadal ini membuatku malu!
"Beliau adalah sosok yang sangat kuat! Bahkan Dewi bukanlah tandingannya,"
Hentikan!
"Ray,"
"Iya, Nyonyaku,"
"Berhenti berbicara omong kosong,"
"B-baik,"
"Jadi, Roy, apa kau ingin menetap di Wilayah Iblis, atau ikut ke Kerajaan Maphas?" tanyaku.
Roy berlutut di hadapanku. "Aku ingin melayani Anda, sosok yang dilayani oleh Tuan Raymond,"
"Baik, Ratu ini akan memperkenalkan dirinya padamu,"
Wajah Roy terlihat kebingungan.
Aku suka wajah kadal itu, fufufu.
"Namaku adalah Keres Vasilissa, pastikan kau mengingatnya, Roy,"
"...." Tatapannya kosong.
"Kenapa dia, Ray?"
"Aku tidak tahu, Nyonyaku,"
"M-maafkan ketidaksopananku, Nyonya. Mulai hari ini, aku akan menyerahkan hidupku kepada Anda,"
"Kau diterima," ucap Ray.
"Ray, bagaimana kondisi Dungeon rank SS saat ini?"
"Nyonyaku, apa Anda ingin menaklukan Dungeon itu?"
"Benar,"
"Kondisinya tidak berubah, banyak Petualang yang mencoba menaklukan Dungeon itu, namun mereka mati beberapa saat setelah memasuki Dungeon,"
Wah, bukankah itu sudah sangat membahayakan? Bahkan aku mustahil bisa menaklukannya dulu.
"Begitu, ya. Kau boleh melanjutkan tugasmu, Ray. Bawalah Roy ke Kerajaan Maphas,"
"Baik, Nyonyaku,"
--------------------------
Aku kembali masuk ke Kerajaan Dwarf. Ada hal yang ingin aku coba.
"N-nyonya, kami sudah memperbaiki senjata ini,"
"Hoh, segera masukan ke Gate,"
"Baik!"
Aku ingin mencoba meriam laser ini. Tidak ada tempat yang cocok selain hutan di Wilayah Iblis.
Mereka sudah meletakan meriamnya.
Raja Dwarf ada di sebelahku.
"N-nyonya, apa yang ingin Anda lakukan?" tanya Raja Dwarf ragu.
"Tentu saja, mencoba senjata ini,"
Aku penasaran bagaimana jika meriam ini diisi dengan Mana-ku.
"Arahkan meriamnya ke arah gunung itu." Aku menunjuk ke arah gunung besar jauh di depan kami.
Itu target yang cocok. Karena bekasnya tidak akan menghancurkan gunung itu.
Aku menyentuh meriam dan mulai mengalirkan Mana.
Harus diisi sampai penuh, ya? Baiklah. Mungkin akan membutuhkan sedikit wak-
"Nyonya! Meriamnya sudah penuh!"
Cepat sekali!
"Lepaskan tembakan dengan kekuatan maksimal,"
"B-baik!"
Ujung lubang meriam perlahan membentuk bola energi.
"Tembak!"
*Buush!
Woooah!
Semua orang terhempas kecuali aku.
Ini lebih kuat dari yang tadi.
*Duuuuuuuuaaaaaaar!
Heh?
A. Keributan Di Wilayah Iblis
Yang Mulia Arys memarahi kami habis-habisan. Ini semua karena monster yang keluar dari hutan dan menyerang kota-kota di sekitar Hutan Forts. Sepertinya mereka takut akan sesuatu di sana, aku sudah mengirim tim untuk memeriksa kondisi hutan.
"Nona Maryna ...." Seseorang memanggilku.
Dia?
"Tuan Burimo,"
Perdana Menteri sekaligus tangan kanan Yang Mulia Arys. Hubungan kami sedikit kurang bagus. Kenapa dia tiba-tiba memanggilku?
"Nona, apa boleh kita berbicara sebentar?"
"Katakan di sini saja, Tuan,"
Aku membuat dinding penghalang agar percakapan kami tidak didengar.
"Baiklah, Nona, aku sudah mendengar tentang Panglima Pertama,"
"Apa maksudmu?"
"Dia sedang merencanakan kudeta,"
Kudeta?!
"B-bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
Aku tahu betul kekuatan Panglima Pertama, dia yang terkuat dari 12 Panglima Iblis. Tapi, apa dia sudah yakin dengan kekuatannya untuk melawan Yang Mulia Arys?
"Berita ini sudah mulai menyebar ke seluruh faksi pemberontak, Nona,"
"Jadi, apa pilihanmu, Tuan?"
"Tentu saja aku akan tetap berada di pihak Yang Mulia,"
Orang licik ini akan terus bersembunyi di balik tubuh Yang Mulia. Bukan hanya aku yang tidak menyukainya, hampir semua orang di Istana tidak menyukainya.
"Aku-"
*Duuuuuuuuuuuaaaaaaar!
Sebuah ledakan besar terdengar.
Apa itu?!
*Bush!
Hempasan angin menghancurkan kaca di Istana.
Aku segera keluar dari Istana dan melihat apa yang terjadi.
"A-apa itu?"
Sebuah kepulan asap hitam besar menjulang tinggi dari kejauhan.
Itu Hutan Forts, 'kan? Apa yang terjadi?
"Maryna," Seseorang memanggilku.
Suara ini?
"Yang Mulia." Aku menundukan kepalaku.
Wajah Yang Mulia terlihat sangat marah. Apa yang membuatnya seperti itu?
"Itu adalah senjata milik Dwarf, tapi aku sama sekali tidak mengetahui jika kekuatannya seperti itu," ucap Yang Mulia.
"Maksud Anda?"
"Benar, mereka sudah sangat percaya diri menantang kita. Aku membiarkan Kerajaan Dwarf karena mereka bukanlah ancaman, tapi sepertinya aku salah,"
Wajahnya semakin memerah.
"Maryna! Ayo kita pergi ke sana!"
"B-baik!"
Kami pun terbang menuju Hutan Forst dengan membawa beberapa Prajurit terkuat yang menyusul dari belakang.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA! 🤙