The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Invasi Para Vampir



Hampir 10 menit Rayna menangis di pelukanku, sekarang kondisinya sudah mulai membaik. Aku terus menepuk pundaknya agar dia tenang.


Tapi, kenapa ...?


"Hiks. Ibu ...."


Kenapa Delila juga ikut menangis?!


Aku terlihat seperti orang tua yang sedang menenangkan anaknya menangis di tempat umum.


"Rayna, ceritakan semua yang kau lihat di Kerajaan Nagad."


Rayna melepas pelukanku sambil menghapus air matanya.


"Ak-- Saya mengawasi Kerajaan Nagad selama 10 hari."


Padahal tidak masalah bagiku jika mereka berbicara santai padaku. Aku sedikit terganggu saat mereka memilih berbicara formal, secara teknis aku Ibu mereka, sudah seharusnya mereka berbicara santai pada Ibu sendiri, 'kan?


"Ibu, sepertinya kita terlambat," lanjut Rayna dengan wajah penuh penyesalan.


"Apa maksudmu?"


"Seharusnya 2 tahun lalu Saya menyadari ini, namun semua telah terlambat."


Selama 2 tahun terakhir, Rayna sibuk melatih pasukan vampir miliknya yang didapat saat menaklukkan Cura.


"Seluruh penduduknya telah berubah menjadi vampir. Namun, mereka hidup layaknya manusia. Hanya saja, dalam waktu tertentu ada ratusan vampir yang dibiarkan bebas keluar dari wilayah Kerajaan Nagad. Saya telah meninggalkan Body Blood untuk memantau situasi di sana."


Body Blood, sebuah skill yang bisa membuat salinan tubuh yang dibuat dari darah. Bisa dipakai untuk bertarung, namun tidak bisa menggunakan sihir.


Ini memang kesalahanku. Karena selama 2 tahun Kerajaan Nagad tidak melakukan pergerakan, aku jadi mengabaikan mereka dan sibuk dengan bisnis tongkat sihir.


"Menurutmu, apa yang mereka rencanakan saat ini?" tanyaku.


"Setelah melihat ratusan vampir yang dibiarkan bebas keluar, besar kemungkinan Raja Vampir berencana melakukan invasi tanpa mengotori tangannya. Menambah jumlah pasukan dengan cara menginvasi kerajaan kecil, lalu penduduknya diubah menjadi vampir,"


"Membuat ribuan familiar baru, tidak, ratusan ribu. Itu setara menggunakan sihir tingkat 15 sebanyak ratusan kali,"


"Ibu benar. Namun, ini menyangkut Satan. Pasti mereka memiliki metode aneh."


Metode aneh, ya? Memang terdengar masuk akal jika mereka menggunakan pecahan tubuh Satan untuk melakukan hal segila itu.


"Rayna, apa kau menemukan tanda-tanda True Vampire di tempat itu?"


"Tidak ada, Ibu."


Menurut cerita dari Cura, mereka tinggal di dunia bawah. Tapi, ini masih belum jelas. Apa mereka tinggal di bawah tanah, atau itu hanya pengalihan semata agar persembunyian asli mereka tidak diketahui.


Tanda-tanda penyerangan vampir belum terdengar dari wilayah barat maupun timur. Apa mereka ingin menguasai wilayah selatan terlebih dahulu?


"Ibu, izinkan Saya untuk kembali ke sana. Jika hanya mengawasi melalui Body Blood, itu masih kurang, Ibu, " pinta Rayna.


"Tidak." tegasku.


Sudah seharusnya aku bersikap tegas.


Rayna bukanlah seorang Assassin. Sebuah keberuntungan baginya bisa tidak terdeteksi musuh selama 10 hari. Mungkin saja mereka sudah mengetahuinya dan memilih diam sambil mengawasi Rayna dari tempat lain. Ini pekerjaan yang cocok untuk Selene, tapi aku tak ingin membiarkan salah satu anak-anakku pergi keluar sendirian.


Apa aku minta bantuan saja pada Hela? Kerajaan kami sudah memiliki hubungan diplomatik, 'kan? Kemungkinan dia menolak adalah 50:50.


"Ayo kita temui Hela."


Lebih baik langsung menemuinya sekarang juga.


Kami bergegas pergi menuju istana untuk menemui Hela, namun ....


"Ratu sedang tidak ada di istana." Salah satu penjaga ruang kerja Hela memberi tahu kami.


"Pergi ke mana Beliau?" tanyaku.


Ketika aku sedang membutuhkannya, Hela selalu tidak pernah ada. Apa dia tahu aku sedang mencarinya?! Bahkan aku tidak bisa menghubunginya melalui telepati, sesuatu seperti memblokir koneksiku dengannya.


"Beliau pergi ke makam di perbatasan wilayah kerajaan. Tepatnya di Hutan Magis Besar,"


"Makam?"


Sepertinya aku tahu.


"Aku sarankan kalian tidak ke sana ketika Beliau masih di sana."


Kami langsung pergi menuju Hutan Magis Besar yang berada di perbatasan Kerajaan Mystick.


--------------------------


Jaraknya sangat jauh dari kota. Kerajaan ini memiliki wilayah yang cukup luas, karena di utara sangat sedikit pemukiman, bisa saja Hela mengambil tanah-tanah kosong ini kalau dia menginginkannya.


Kami terbang dengan kecepatan maksimal, namun tetap saja ini sangatlah lambat. Kami bukan tipe penyihir yang mengandalkan kecepatan di udara. Jika menggunakan familiar Irene, sudah pasti kami akan tiba dalam beberapa menit.


"Ibu, sepertinya kita telah sampai." Rayna menunjuk ke arah hutan di depan kami.


Kami mendarat di sebuah bukit kecil.


Ada hutan yang diselimuti energi sihir tepat di depan kami. Energi sihir itu terlihat tidak bersahabat, seperti dibuat untuk melindungi hutan itu.


Hela ada di dalam hutan itu. Jika kami masuk, ada kemungkinan energi sihir yang menyelimuti hutan akan menyerang kami, entah dengan cara seperti apa serangannya.


"Kita tunggi di sini."


Lebih baik tidak menganggu Hela.


 ----------------------------


Sudah 2 jam kami bertiga menunggu Hela, namun dia sama sekali tidak muncul.


Apa memang selama ini?


"Ibu! Saya akan membakar hutan ini!" Rayna bersiap dengan sihir api di tangannya.


*Plak!


Delila memukul kepala Rayna dari belakang.


"Dasar bodoh! Apa kau ingin merusak rencana yang Ibu buat selama bertahun-tahun?"


"M-maaf."


Yah, memang menyebalkan menunggu dalam waktu lama, tapi, aku paham kenapa Hela sangat lama. Ini mengenai dua orang yang paling penting dalam hidupnya. Naura dan Legarde.


"Sedang apa kalian di sini?" Terdengar suara wanita tepat di belakang kami.


Kami bertiga menoleh ke belakang secara bersamaan.


Orang yang ada di belakang kami adalah Hela.


Sejak kapan?! Bahkan Rayna dan Delila juga tidak menyadarinya.


"Aku bertanya pada kalian." Raut wajah Hela terlihat sedikit kesal.


Ah, sial! Aku tidak boleh merusak momentum ini.


"Salam, Yang Mulia. Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Anda. Para penjaga bilang Anda ada di sini, dan kami langsung bergegas kesini kemudian menunggu Anda,"


"Apa ini tentang tongkat sihir lagi?"


"Tidak, Yang Mulia. Ini hal yang lebih penting dari itu,"


"Aku tidak tahu ada yang lebih penting dari uang."


Dia menyindirku.


Hela melihat ke arah Rayna dengan tatapan tajam.


"Apa ini salah satu vampir yang waktu itu?"


"Tidak, Yang Mulia. Dia Rayna, anakku."


Hela seketika diam dengan ekspresi kosong di wajahnya.


Kenapa dia?


Aku sudah memerintahkan Rayna untuk tidak banyak berbicara ketika bertemu dengan Hela. Akan merepotkan jika Hela kesal karena perkataannya.


"Manusia aneh, elf, dan sekarang seorang vampir. Apa-apaan itu?" gumam Hela.


Wajah Hela terlihat sangat kesal.


Apa aku melakukan kesalahan? Sial! Harusnya aku mendengar larangan para penjaga tadi.


"Yang Mulia, apa Anda masih ingat tentang komplotan vampir itu?"


"Ya. Aku sudah mengetahui hal itu."


"Maaf?"


"Mereka mulai menginvasi beberapa wilayah di selatan, 'kan?"


"Bagaimana Anda mengetahuinya?"


"Kalian kira aku hanya diam sejak kalian memberitahu informasi itu? Aku langsung mengutus Ghad untuk mengawasi Kerajaan Nagad saat itu juga."


Dia bergerak lebih cepat dariku. Tidak, dia jauh lebih cepat dariku. Jika seperti itu, harusnya dia sudah memiliki beberapa rencana, 'kan?


"Yang Mulia, apa Anda berniat menyerang Kerajaan Nagad?"


"Aku sempat berpikir seperti itu. Namun, aku telah berubah pikiran,"


"Apa maksud Anda?"


"Kenapa kita tidak membawa mereka ke Gereja Suci?"


Aku terdiam sejenak setelah mendengar usulannya.


Itu ide yang sangat bagus, namun ....


"Bagaimana cara kita memancing mereka, Yang Mulia?"


"Ayo kita berpindah ke ruanganku. Sangat tidak nyaman berbicara di sini." Hela melirik ke arah hutan.


Bersambung ....


GUYS, KASIH RATE BINTANG 5, YA :(