The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Hutang Budi



Kami masuk ke sebuah kota kecil. Kota ini jauh lebih baik dari tempat-tempat sebelumnya yang kami lewati. Ketika hendak memasuki gerbang, para penjaga langsung meminta biaya masuk untuk para pendatang. Biayanya lumayan besar, tapi, itu tidak masalah denganku sekarang.


Mengingat para penjaga melakukan pemerasan, sudah dipastikan sistem pemerintahan di Kerajaan Karibian tidak berjalan dengan baik.


Wooah!


Setelah memasuki kota, pandanganku terfokus pada orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan. Para Demihuman, Beastman, Elf, dan berbagai macam ras lainnya hidup berdampingan.


Pemandangan ini terlihat sangat luar biasa. Seperti inilah Kerajaan ideal yang aku inginkan. Tapi, para penjaga tadi, mereka manusia. Apa manusia juga mengisi bagian struktur pemerintahan? Aku akan mencari jawabannya nanti.


"Pertama-tama, kita harus mencari penginapan," ucapku.


Raja Iblis dan Maryna meresponku dengan menganggukan kepalanya.


Aku ingin mencari penginapan yang memiliki bar. Karena di sanalah sumber informasi berada.


Kami berjalan menelusuri kota kecil ini.


Tak tampak keanehan satu pun. Ini terlalu damai untuk kota yang diisi banyak ras. Padahal mereka sedang diinvasi oleh penghuni Dungeon.


"Ra- eheem, Alissa, sepertinya ini penginapan yang bagus." Raja Iblis menunjuk ke sebuah bangunan.


Papan di atas pintu bertuliskan "Penginapan Dua Kelinci". Memiliki tiga tingkat.


Uwah, ini sepertinya mahal.


Kami bertiga melangkah masuk ke penginapan itu.


"Khuahaaha! Kau baru saja melihat kehebatanku!"


"Bajingan ini hanya membual!"


Suara dari orang-orang yang mabuk langsung menyambut kami.


Kutarik ucapanku tentang kota yang damai.


Di lantai 1 ternyata bar, sama seperti di penginapan Kekaisaran. Huuh ... untuk sekarang, sepertinya kami harus istirahat, karena sudah hampir tengah malam.


Kami bertiga berjalan menuju meja resepsionis.


"Halo, ada yang bisa kubantu?" Seorang Beastman menyambut kami di meja resepsionis.


Seorang wanita, memiliki telinga panjang menjulang ke atas. Ini tampak tak asing bagiku. Perasaanku saat pertama kali melihatnya adalah ....


"Lucunyaaa ...." Tanganku secara spontan mengarah ke telinganya.


"M-maaf, apa kau ingin memesan kamar?" Resepsionis menghindariku.


Celaka! Aku terbawa suasana! Huuh ... Aku suka kelinci.


"Eheem ... maafkan aku. Benar, kami ingin memesan kamar." Aku melirik ke Raja Iblis dan Maryna.


Mereka menatapku aneh.


Hei! Tolong lupakan itu!


"Kalian butuh berapa kamar?"


Akan lebih bagus jika kami berada di kamar yang sama.


"Satu, untuk dua hari ke depan,"


Wanita kelinci mulai menulis sesuatu di kertas.


"Namamu?"


"Alissa Hart,"


"Baiklah! Biayanya 5 koin silver. Aku akan menuntun kalian,"


Kami mulai berjalan menuju tangga.


Aku merasakan hawa membunuh di antara meja-meja bar di sana. Tapi aku tidak bisa melihat siapa orang yang mengarahkan hawa membunuh itu.


"Alissa." Raja Iblis memegang pundakku.


"Aku tahu, jangan sampai terpancing,"


 ------------------------


"Ini kamar kalian." Wanita kelinci menatap kami bertiga. "Apa kalian bertiga akan tinggal dalam satu kamar?"


"Iya,"


*Clap!


Wanita kelinci menepuk tangannya. "Baiklah! Semoga kalian nyaman!"


"Terima kasih, Nona ...."


"Melissa!"


"Eheem ... terima kasih, Nona Melissa." Aku menundukkan kepalaku.


*Brak


Kami masuk ke kamar.


Huh, lumayan. Desainnya jauh lebih bagus dari penginapan di Kekaisaran. Untuk orang awam, mungkin dekorasi tulang di dinding kamar terasa sangat menyeramkan. Dan tempat tidurnya sangat luas. Mungkin karena para Demihuman dan Beastman memiliki postur tubuh yang besar.


Aku berbaring di kasur.


Fuuuh ... nyaman! Aku ingin meregangkan badanku, tapi ....


"Alissa." Raja Iblis berdiri menatapku.


Huaah ... aku benar-benar tak bisa mengontrol diri.


"Eheem ... beristirahatlah, kita akan mencari informasi besok,"


"Tidak." Maryna menolak saranku. "Nona Alissa, di saat seperti ini seharusnya banyak informasi yang bisa didapat. Mengingat semua kalangan berkumpul di bar,"


Dia benar. Aku tak terpikirkan hal itu.


"Alissa, serahkan ini pada kami, beristitahatlah." Raja Iblis berjalan menuju pintu.


Waaah, perasaanku tidak enak.


"Baiklah,"


*Brak


Aku kembali berbaring di tempat tidur.


Raja Iblis dan Maryna sepertinya bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Sekarang yang jadi masalahnya, siapa bajingan yang berani mengarahkan hawa membunuhnya itu padaku? Seharusnya aku melepaskan familiar kecilku agar bisa mengawasi orang-orang di sana.


Aku meregangkan badanku.


Bunyi-bunyi dari otot yang tertarik, rasanya sangat memuaskan.


Huuh ... Dungeon rank SS, ya? Dungeon bawah tanah dan para 12 orang yang menjuluki diri mereka sebagai Guardian Mother Ruler. Itu memang suatu kebetulan yang gila.


Aku memejamkan mataku, dan mematikan skill yang meniadakan rasa kantuk.


 ----------------------------


"Kakak, berjanjilah padaku, kita harus selalu bersama,"


"Baiklah, aku berjanji,"


Kedua kakak beradik itu saling mengaitkan kelingkingnya.


Aku membuka mataku.


Mimpi itu lagi. Siapa mereka? Aku hanya bisa mendengar percakapan mereka. Dan dua gadis kecil yang sama seperti sebelumnya.


*Krak


Seseorang membuka jendela. Cahaya terang sangat menyilaukan.


Ah, ini sudah pagi. Aku bisa tidur nyenyak ketika mematikan skill-ku.


Aku melihat Raja Iblis di samping jendela yang menatap ke luar jendela.


Dia terlihat sangat elegan.


Raja Iblis menatapku. "Alissa, kami mendapatkan informasi yang menarik,"


"Oho, katakanlah,"


Raja Iblis duduk di kasur, dan berada tepat di sebelahku.


Ngomong-ngomong, di mana Maryna?


"Alissa, informasi tentang Dungeon sangat minim, sepertinya pihak Kerajaan tidak pernah memberitahu kepada warganya tentang perkembangan Dungeon,"


Hah, jadi informasi apa yang kau dapat?


"Begitu, ya. Itu mungkin metode agar warga Kerajaan tidak panik, dan sepertinya mereka tidak menyadari bahwa wilayah mereka dipasangkan pelindung oleh pihak Kerajaan,"


"Itu benar,"


"Lalu, informasi apa yang kau temukan?"


"Aku menemukan cara agar kita bisa bertemu dengan Raja Kerajaan ini dengan cepat,"


Apa yang dia bicarakan? Apa itu hal yang penting sekarang?


"Hmmm ... teruskan,"


"Kota kecil ini dikelola oleh Bangsawan bergelar Baron. Banyak rumor yang menyebut bahwa Baron itu melakukan perdagangan ilegal, dia juga menjual budak. Raja sangat menentang perdagangan budak, namun, karena keributan yang disebankan Dungeon, hal itu membuat Raja tak memperhatikan para Bangsawannya,"


Menarik. Seorang Baron berani melakukan kejahatan seperti itu. Kerajaan Karibian benar-benar kacau.


Raja Iblis terus melanjutkan perkataannya. "Masih banyak kejahatan-kejahatan yang dia lakukan, bahkan dia juga bekerjasama dengan Bangsawan lain, terutama dengan Bangsawan bergelar Marques di Ibukota,"


"Oho, Baron memiliki orang besar di belakangnya. Mereka memanfaatkan kekacauan ini, ya. Jadi, maksudmu jika kita membongkar kebusukan para Bangsawan, maka Raja akan memperhatikan kita?"


"Kita harus membuat Kerajaan Karibian benar-benar tunduk dengan yang namanya 'Hutang Budi',"


Huh ... dia benar-benar Iblis. Tunggu, informasi ini terlalu terperinci, bagaimana mereka mendapatkannya?


"Aku serahkan padamu,"


Ini memang rencana yang bagus. Karena seorang Warrior, apalagi Raja sepertinya pasti memiliki harga diri yang sangat tinggi dan menjunjung tinggi keadilan. Yah, hanya saja warganya sendiri sedang menuntut keadilan itu.


Seseorang masuk ke kamar.


Ternyata itu Maryna. Apa yang dia lakukan di luar? Tunggu, apa mereka tidak tidur?!


"Saya kembali,"


"Maryna, bagaimana?"


"Orang yang mengarahkan hawa membunuh tadi malam adalah bawahan dari Baron,"


"Baron? Apa kita sudah melakukan kesalahan?" tanyaku.


"Tidak, sepertinya dia tertarik dengan kita bertiga,"


"Walaupun dia tahu bahwa kita seorang Petualang?"


Maryna mengangguk.


Ah, ini benar-benar merepotkan. Sepertinya rencana kami akan dimulai lebih awal.


Raja Iblis bediri dan berjalan menuju pintu keluar.


"Alissa, Maryna, lebih baik kita membersihkan tubuh terlebih dahulu,"


Eh? Permisi ... maksudmu mandi?


"Baik, Ya- Arys." Maryna berjalan mengikutinya.


Aku tidak memerlukan hal itu! Tapi, aku ingin melakukannya.


Mataku tertuju pada bagian yang paling menonjol dari tubuhku.


"Baiklah,"


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA! TERIMA KASIH!


Kalian bisa support Author juga di sini :


https://saweria.co/hzran22