
Chapter 41 : Kesunyian
Joah sangat terkejut dengan apa yang ia dengar dari mulut Iblis itu. Joah hanya mengira bahwa Iblis itu hanyalah setingkat ksatria yang mana itu merupakan tingkat pejuang Iblis kuat. Keraguan terlihat di matanya ketika mengetahui bahwa Panglima Iblis yang menjadi lawannya.
Ini buruk, aku tidak yakin bisa mengalahkannya. Bajingan ini, dia berhasil mengecohku.
Joah melirik ke arah Hela dan Naura di belakangnya.
Aku juga tidak bisa meninggalkan mereka.
"Ke mana kau melihat?" Coros berada tepat di depannya. Tangan kanannya bersiap untuk mengayunkan cakar besi yang sangat tajam.
Sialan!
*Bugh!
Bukannya menyerang dengan cakar besi, Coros menendang Joah ke sisi kiri. Tendangan itu sangat kuat, cukup untuk menghempaskan Joah dan mematahkan beberapa tulang rusuk kanannya.
Mulut Joah mengeluarkan darah.
Sial, aku tidak memperhatikannya!
"Hoi, aku tahu kau menyembunyikan kekuatanmu. Apa kau ingin bermain-main denganku?"
Perkataan Iblis itu tidak salah, aku harus mengeluarkan seluruh kekuatanku.
Joah memperhatikan Coros yang memiliki postur tubuh sama besar dengannya.
Jika aku melanjutkan ini dengan pertarungan fisik biasaku, aku akan kalah telak. Tidak ada cari lain lagi.
Joah perlahan bangkit.
"Kuk ... kau benar, aku akan menggunakan kekuatan penuhku. Semoga kau terhibur,"
Coros tersenyum. "Jangan mengecewakanku, Beastman!"
Joah yang mendengar itu pun tersenyum. Dirinya belum pernah bertarung dengan kekuatan penuhnya. Kenangan lama mulai teringat pada saat Joah sparing dengan Beastman lainnya.
"Ini menggelikan," ucap Joah.
"Apa maksudmu?"
"Tidak, hiraukan saja."
Joah mengambil kuda-kuda. Otot-otot di tubuhnya perlahan membesar.
"Hoh ... jadi ini yang namanya Berserk, ya?" Melihat Joah, Coros semakin bersemangat.
Joah berteriak keras dengan diiringi aura besar yang keluar dari tubuhnya.
*Bum
Langkah kakinya bergema di penjuru gua. Tubuhnya tidak bertambah tinggi, namun otot-otot serta posturnya lebih besar dari sebelumnya.
"Sungguh kekuatan yang luar biasa." Coros menyeringai, suasana hatinya membaik setelah melihat lawan yang tangguh berada di hadapannya.
*Bum!
Coros tak mau kalah, ia mengeluarkan aura penuhnya.
Hela yang merasakan tekanan aura itu hanya bisa diam membatu. Ia hanya mengelus-elus punggung tangan Naura yang masih menahan sakit.
Tekanan dari Coros lebih mendominasi. Namun, Joah tak gentar.
Hela menyadari hal itu, ia langsung merapalkan sihir pada Joah.
"Physical Boost."
Perhatian Coros tertuju pada Hela yang berada tepat di depannya.
Aku merasakan sesuatu yang tidak asing pada anak kecil ini.
"Hei ... kau--"
*Bruk!
Belum menyelesaikan perkataannya, Coros menerima serangan kejut dari Joah. Ia terhempas menjauh dari Hela.
Joah merasa kekuatannya bertambah dua kali lipat. Joah melihat Hela dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
Gadis kecil, siapa dirimu sebenarnya?
Sihir pendukung dari Hela telah meningkatkan kekuatannya sebanyak dua kali lipat.
"Gadis kecil, terima kasih,"
"S-sama-sama."
"Aaaagh!" Naura teriak kesakitan.
Hela kembali memfokuskan dirinya pada Naura.
Joah langsung paham dengan situasi yang sedang dia hadapi.
Aku harus segera menyelesaikan ini.
Coros bangkit dari reruntuhan batu.
"Jadi begitu. Bocah nakal itu yang sudah menyerap Batu Keabadian, akan merepotkan jika bocah itu dibiarkan hidup."
Joah dan Coros bersiap dengan kuda-kuda mereka. Cakar bersi di tangan Coros diselimuti oleh api, sedangkan pedang besar milik Joah diselimuti oleh energi dari tubuhnya.
*Bush!
Hempasan udara mengiringi pergerakan mereka berdua. Keduanya saling jual beli serangan. Suara gesekan antar logam terdengar nyaring. Coros dengan kecepatan yang luar biasa terus menyerang Joah. Namun, Joah mampu mengimbangi kecepatan Coros berkat sihir penguat dari Hela. Pedang besar di tangannya menjadi seringan kertas, dengan mudah menangkis serangan Coros dari segala arah.
Coros sedikit kesal karena serangannya bisa diimbangi oleh Joah.
Ini semua karena ulah bocah nakal itu. Batu Keabadian seharusnya digunakan untuk menghancurkan Wilayah Menara, tapi malah diserap olehnya.
Api di cakar milik Coros semakin solid dan panas. Joah merasa tak nyaman dengan panas yang mulai membakar bulu di tubuhnya.
Fokus Joah terbagi karena api yang mulai menyambar tubuhnya. Coros menemukan celah dan segera menendang Joah ke atas.
*Bruk!
Joah terhempas keluar hingga menghancurkan langit
gua.
Saat ini, hanya ada Coros, Hela, dan Naura.
Coros dengan aura membunuhnya bergegas menuju ke tempat Hela.
Coros berada tepat di belakangnya. Hela ingin berteriak dan menangis saat itu juga.
"Bocah nakal, kau telah melakukan kesalah besar," ucap Coros.
Coros bersiap menusuk Hela dengan cakar yang dipenuhi api.
Hela tak tahu apa yang harus ia lakukan, akan sangat sulit untuk kabur sambil membawa Naura. Ia hanya bisa menggunakan sihir-sihir dasar, tak mungkin bisa melukai Iblis di belakangnya.
"Selamat tinggal, bocah nakal.".
Sebelum Coros melancarkan tusukannya, Joah datang.
"Triple Slash!"
Tiga bilah tebasan muncul dan mengarah ke arah Coros.
"Dasar Beastman bodoh, kau ingin melukai manusia ini?"
Bilah tebasan itu menghilang sebelum menyentuh Coros.
"Huh?" Coros heran karena Joah tidak ada di tempatnya.
Pengalihan?!
Coros kembali mengalihkan pandangannya pada Hela.
Hela dan Naura menghilang.
Jadi begitu, serangannya barusan hanya sebuah pengalihan. Karena cahaya dari serangan itu,
pandanganku terbatas.
"Kuku ... dia benar-benar Beastman yang pintar. Mustahil bahwa dia hanyalah prajurit biasa."
Posisi mereka tidak jauh, apa aku harus mengejarnya? Aku sedikit penasaran akan menjadi apa bocah nakal itu di masa depan jika aku membiarkannya hidup. Tapi ....
Di hutan.
Joah membawa Hela dan Naura. Ia terus berlari dengan kecepatan penuh menjauh dari gua. Selama mode Berserk masih aktif, tak ada yang bisa menghalangi mereka di jalan.
Sepertinya dia tidak mengejar kami.
Mereka berhenti. Naura terus meringik kesakitan.
"Joah ... tolong selamatkan Naura!" teriak Hela yang panik.
Tubuh Joah kembali normal. Sebagian besar energinya habis karena perubahan mode Berserk.
"Uhuk, uhuk!" Joah batuk mengeluarkan darah. Efek Berserk mulai ia rasakan.
"Naura, bertahanlah." Hela hanya bisa menangis melihat Naura.
Joah berusaha bangkit dan mulai melakukan persalinan kedua untuk Naura.
Tangisan bayi pertama membuat suasana semakin tegang. Hela tak tahu siapa yang harus ia khawatirkan saat ini.
Hela merasakan sesuatu mendekat.
Energi ini ...?
"Joah, Iblis itu da--"
*Crack!
Cakar menembus perut Hela dari belakang.
Eh?
Hela terkejut dengan apa yang muncul dari perutnya. Darah keluar dari mulutnya.
"Gadis kecil!" teriak Joah.
*Bugh!
Coros menendang Joah hingga terhempas menghancurkan pepohonan.
Hela langsung jatuh tersungkur dengan bayi kecil yang masih berada di dekapannya.
Perhatian Coros tertuju pada Naura.
"Kau pasti sangat menderita, Nona." Coros tertunduk. "Aku menghormati para Ibu. Bagi kami para Iblis, Ibu adalah yang tertinggi, bahkan Raja Iblis sekali pun sangat menghormati Ibunya."
Naura hanya tersenyum kecil sambil menahan rasa sakit. Ia sedikit terkejut dan bangga dengan pendirian para Iblis.
"Aku akan mengakhiri penderitaanmu sebagai seorang Ibu."
Hela, Legarde ....
Naura memejamkan matanya.
*Crack!
Coros menusuk perut Naura hingga menembus tanah. Api muncul dari cakarnya dan membakar Naura beserta janin di kandungannya.
Naura merasakan ketenangan yang luar biasa. Rasa yang belum pernah ia rasakn.
Jadi, seperti ini, ya, rasanya mati?
Muncul bayangan Legarde di pikirannya.
Ah, Legarde ... ternyata kau juga ....
Hela hanya melihat kejadian itu dengan samar-samar.
"Semoga kau tenang bersama para Ibu di sana."
Coros kembali memperhatikan Hela yang sudah tidak berdaya.
"Sepertinya kau akan segera mati." Coros mendekati Hela. "Aku akan beritahu sebuah rahasia padamu. Batu Keabadian yang kau serap itu bisa membuatmu abadi. Yah, kau akan tetap mati jika dibunuh." Coros berjalan meninggalkan Hela dan yang lainnya. "Nikmatilah saat-saat terakhirmu, bocah nakal."
Coros pergi.
Pandangan Hela terus tertuju pada Naura. Air matanya terus menetes, pandangannya semakin buram.
"N ... a ... ura."
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA! BIAR SAYA SEMAKIN GIAT UPDATE-NYA. ☺️