
"Lanjutkan, Justin."
Suara Red Own kembali menyadarkan Justin dari perhatian yang tertuju pada petir di temgah kota. Justin kembali fokus mengalirkan Mana ke bubuk caoy di dalam kantong.
Tanpa sadar keningnya berkeringat, ia masih bimbang, namun hasrat dan emosinya terus menelannya secara perlahan.
Ada tiga tahapan dalam mengekstrak caoy. Berbeda dari biasanya yang selalu dihisap, pengesktrakkan ini memiliki efek yang berbeda. Justin hanya mendengarnya dari Red Own, tapi belum pernah merasakannya secara langsung.
Tahap ke dua sudah selesai, kini aku harus melakulan rapalan itu.
Justin perlahan membuka mulutnya, ia hendak merapal, namun mulutnya terasa berat.
"Aku, Justin de Moriento ... mempersembahkan ... jiwa ... dan tubuhku ...."
Saat-saat itu akhirnya tiba untuk rapalan terakhir.
"Sloth."
*Crack!
Sebuah tombak masuk memecahkan kaca jendela. Tak lama kemudian, seorang wanita muncul bersamaan dengan kilat di tombak itu.
Mata Justin terbuka lebar ketika melihat siapa yang berada di hadapannya. Emosinya seketika membakar habis jiwanya.
Kak Saraya.
"Hentikan itu, Justin!" Saraya terkejut melihat Justin, karena pria itu melihatnya dengan tatapan penuh amarah, namun di saat yang sama air matanya keluar, terlihat seperti meminta pertolongan.
Red Own sudah berada tepat di depan Saraya, wanita itu tak menyadarinya sampai Red Own mulai berbicara.
"Ke mana kau melihat?" tanya Red Own.
*Bugh!
Red Own memberikan tendangan telak ke perut Saraya. Wanita itu terhempas hingga menembus ke beberapa ruangan di belakangnya.
Kulit Justin perlahan memerah, air matanya berubah menjadi darah. "Huaaaaaaaaaa!" Justin berteriak kesakitan. Tangan dan kakinya membesar dan terus merobek kulitnya hingga daging di balik kulitnya terlihat.
Di sisi lain, Saraya tertimbun runtuhan dinding yang ditabraknya. Ia kembali bangkit, membuang satu per satu puing bangunan yang menimpanya.
"Tch!" Saraya terlihat kesal sembari memegang perutnya.
Aku sudah mengenakan zirah tempur, tapi aku masih bisa merasakan sakit dari tendangan bajingan itu. Siapa dia sebenarnya?!
"Eh?" Saraya merasakan aura kuat dari tempat kedua orang itu berada. Ia mendengar teriakan Justin dari tempat itu.
"Justin!"
*Crack!
Lantai dan dinding mulai retak dan terus merambat ke ruangan lainnya.
Ini gawat!
Tampak dari luar, bangunan utama roboh oleh hempasan angin yang sangat kuat, bahkan hujan sempat terhenti karenanya.
"HUAAAAAAAAHH!" Seseorang berteriak, suaranya terdengar sangat berat sehingga bergema ke penjuru arah, bahkan suara hujan tak mampu menyamarkannya.
Saraya berdiri di atas atap bangunan tak jauh dari bangunan utama. Sebelum bangunan hancur, Saraya melempar tombaknya keluar menembus dinding, ia segera berteleportasi bebeberapa saat sebelum bangunan roboh.
Hancur tak tersisa, begitulah kondisi bangunan utama saat ini. Tak sampai di situ, napas Saraya terasa berat, sesuatu membuatnya syok.
Mayat-mayat maid terlihat dari balik puing bangunan. Sebagian besar dari mereka mati tertimpa dinding bangunan. Saraya tak bisa berkata-kata lagi, tubuhnya terasa berat.
Mereka tidak bersalah, kenapa mereka harus mati seperti ini?
"Aku tak menyangka melihat ekspresi seperti itu dari pimpinan prajurit bayaran." Suara Red Own terdengar dari arah atas.
Saraya langsung menoleh ke atas, ia melihat Red Own yang melayang di udara.
Dia bisa terbang?
"Sepertinya kau sudah tahu identitasku," ucap Saraya.
"Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan pimpinan prajurit bayaran Bad Blood, Queen of Thunder. Tak ada yang tahu siapa kau sebenarnya, namun julukan itu seolah menandakan bencana bagi siapa pun yang mendengarnya."
Saraya mulai berkelana sejak umur delapan belas tahun. Status dan keluarga, ia meninggalkan segalanya demi kekuatan. Namun, Edd de Moriento tak bisa berbuat banyak dengan keputusan Saraya, dirinya sudah melarangnya dan ingin menikahkan gadis itu. Edd akhirnya tak bisa memaksa kehendaknya.
"Tapi, aku benar-benar terkejut melihatmu berekspresi seperti itu. Bukannya ini pemandangan biasa bagimu?" tanya Red Own lagi.
Memang benar, aku sudah merenggut banyak nyawa, tapi ....
"Itu semua pantas untuk mereka yang mati di tanganku, mereka akan membunuh banyak orang lagi jika dibiarkan. Aku melalukan itu juga demi rakyat-rakyatku."
Kota di Tanah Terbengkalai. Pada dasarnya itu adalah kota mati, namun Saraya membawa orang-orang korban perang untuk tinggal di kota itu. Mereka sangat mempercayai Saraya, bahkan rela berkorban jika Saraya terancam seperti pertarungan beberapa waktu lalu dengan Alissa Hart.
Karena itu ... aku tak akan membiarkan mereka merasakan kekejaman perang untuk kedua kalinya.
Red Own tertawa kecil, sikap tubuhnya terlihat merendahkan Saraya. "Membandingkan dua hal buruk tak akan membuatmu terlihat baik, Saraya de Moriento!"
Percikan listrik muncul dari tubuh Saraya. Ia melihat Red Own dengan penuh amarah dan berkata, "Kau juga ... kau tidak pantas menasehatiku jika kau juga seorang pembunuh!"
*Wush!
Dalam sekejap tombak Saraya sudah berada tepat di depan wajah Red Own. Tak ada yang tahu kapan dia melemparkan tombaknya itu, namun hanya ada satu jawaban untuk menjawab itu semua.
Saraya sudah berpindah tepat di hadapan Red Own, tangannya bersiap menusuk topeng merah di wajah pria itu.
"Percuma." Red Own tak melakukan gerakan apa pun.
Saraya merasakan sesuatu mendekat dari sisi kanannya.
Gawat!
Saraya menarik tombaknya dan melemparnya ke belakang. Dalam sekejap ia berpindah ke belakang, namun ....
Sangat beresiko jika aku melanjutkan gerakan tadi.
Ia melihat ke arah Red Own yang masih tak menunjukkan gerakan apa pun, justru pria itu terus melihat ke arahnya.
Bayangan hitam terlihat mendekat menuju Saraya, tapi wanita itu tak menyadarinya dan terus melihat Red Own dalam posisi waspada.
"Huh?" Saraya baru menyadarinya ketika sosok itu mengarahkan aura membunuh padanya.
*Bugh!
Pukulan keras menghantam tubuh Saraya, ia melesat jatuh ke bawah dengan sangat cepat dan meninggalkan bekas kerusakan yang cukup parah di tempat itu.
Saraya dalam posisi berlutut sambil menggenggam erat tombak dengan kedua tangannya. Sesaat sebelum menerima pukulan itu, Saraya meberhasil menahannya dengan tombaknya. Ia memanfaatkan arus listrik yang merangsang otot tubuhnya untuk melakukan reflek secepat kilat.
Cara itu sedikit memberikan shock teraphy pada otot-otot tubuhnya, ia akan kesulitan bergerak dengan normal untuk sementara waktu sampai otot-otot tubuhnya mulai terbiasa dengan gerakan cepat seperti itu.
Ini kedua kalinya aku memaksa tubuhku untuk menggunakan cara itu, aku ceroboh karena terus memperhatikan pria itu.
"Lihatlah, Saraya! Lihatlah mahakaryaku yang akan segera menghancurkan dunia ini!" Suara teriakan Red Own terdengar di tengah derasnya hujan.
Sesuatu mendarat dengan kuat hingga menimbulkan getaran di sekitarnya.
Seketika Saraya membatu setelah melihat siapa sosok tersebut. Matanya terbuka lebar, ekspresi wajahnya terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sosok makhluk menyerupai manusia setinggi dua meter dengan tubuh berotot, namun sebagian besar tubuhnya tak tertutupi oleh kulit, melainkan daging. Mata makhluk itu merah dengan air mata darah yang mengucur deras. Hampir seluruh wajahnya penuh dengan daging, namun Saraya masih mengenali sosok tersebut.
"J-justin?"
"KEKUATAN YANG SANGAT LUAR BIASA!" Justin berbicara dengan nada berat, namun suaranya tetap terdengar lantang.
Saraya benar-benar kacau malam itu, adik yang ingin ia lindungi telah terjebak dalam tipuan Red Own.
"Jika kau ingin menyelamatkan rakyatmu, bisakah kau melawan adikmu saat ini juga, Saraya?!" tanya Red Own dengan teriakan yang cukup keras.
"KAKAK, LIHATLAH AKU! KAU TERLIHAT SANGAT KECIL DARI SINI!"
"Justin." Saraya terus memanggil Justin, kali ini wajahnya tampak sedih dengan air mata yang tersamarkan oleh air hujan.
Emosi Justin semakin membara. "SEJAK KAPAN KAU BEREKSPRESI SEPERTI ITU, KAKAK? BERHENTILAH MELIHATKU SEPERTI ITU! AKU TAK BUTUH BELAS KASIHMU!" Justin berteriak keras hingga suara yang ditimbulkan menghempaskan apa pun di hadapannya.
Saraya terdorong akibat teriakan itu.
Apa yang harus kulakukan?
Ia teringat kembali dengan perkataan Red Own sebelumnya, tentang apa yang akan dia pilih antara menyalamatkan orang-orang atau membunuh adiknya saat ini juga.
Bersambung ....