
Kami sekarang berada di desa misterius. Desa yang dikelilingi penghalang Mana dan dijaga oleh Golem yang kuat. Siapa orang-orang yang ada di desa ini?
"Apa kita akan masuk?" tanyaku.
"Kita akan masuk." Nona Licia mengarahkan tangannya ke penghalang.
*Swib
Tangannya menembus penghalang itu.
"Nona Licia, apa kau tidak apa-apa?"
"Ini aman, ayo masuk,"
Apa tujuan mereka memasang penghalang ini? Penghalang ini sangat cocok untuk bersembunyi dari musuh yang mengejarmu. Tapi, jika musuhmu Nona Emina, itu tidak akan bekerja.
Kami secara bersamaan memasuki penghalang itu.
Apa yang ada di dalam?
*Swing
Sebuah senjata tajam diarahkan ke arah kami.
Ada beberapa orang yang berdiri tepat di depan kami. Sepertinya mereka bisa melihat ke luar dan sengaja menunggu kami masuk.
"Siapa kalian?"
"Uh, ka-"
"Kami adalah Petualang, sepertinya ada beberapa tanaman obat yang bisa kami dapatkan di hutan ini, kami juga penasaran dengan apa yang ada di balik pelindung, maafkan ketidaksopanan kami." Nona Licia langsung memotong perkataanku.
"Angkat kepalamu, Nona, sepertinya kalian datang dengan niat baik," ucap salah satu warga desa.
"Niat baik?" Nona Licia memiringkan kepalanya.
"Patung Suci tidak menyerang kalian, itu menunjukan bahwa kalian tidak memiliki niat jahat terhadap desa kami."
Patung Suci? Golem itu?
"Jika kalian ingin menemukan beberapa tanaman obat, kami menjualnya, apa kalian tertarik?"
"Kami akan membelinya, sebelum itu, apa kami boleh bertemu Kepala Desa?"
Nona Licia benar-benar luar biasa, dia bisa memperkirakan tindakan apa yang akan diambil tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun.
Para warga desa mengizinkan kami untuk menemui Kepala Desa mereka. Mereka tidak mencurigai kami. Apa mereka benar-benar memuja Golem-golem itu?
Desa ini tidak jauh berbeda dengan desa-desa lainnya. Semua penduduknya melakukan aktivitas mereka seperti pada umumnya.
"Huuh ...?"
Aku melihat ke arah lapangan yang cukup luas. Ada banyak pemuda yang mengayunkan pedang kayu. Apa mereka sedang latihan? Itu sangat luar biasa. Sangat jarang ada desa yang memiliki pejuang. Tidak seperti desa lainnya yang selalu menyalahkan Tuan Tanah jika terjadi sesuatu pada mereka.
"Kita telah sampai di rumah Kepala Desa,"
Kami berada tepat di sebuah rumah yang cukup besar.
Orang yang menuntun kami pun membuka pintu rumah Kepala Desa.
"Aria, kau memiliki beberapa tamu,"
Seorang gadis duduk di sudut ruangan sambil memegang beberapa catatan kertas di tangannya.
"Oh, siapkan tempat duduk untuk mereka,"
Hah?! Gadis itu Kepala Desa?
Kami duduk di kursi yang telah disediakan.
Apa rumah ini tidak memiliki ruang tamu? Rumah jenis apa ini?
Gadis itu pindah ke tempat kami. Dia meletakan kursinya di depan kami.
"Maaf, tidak bisa menyediakan apapun untuk kalian, aku baru saja menata ulang bagian dalam rumah ini,"
"Tidak masalah," ucap Nona Licia.
"Namaku Aria Hartz, seperti yang kalian tahu, aku Kepala Desa di sini,"
Dia benar-benar seorang Kepala Desa. Bagaimana gadis seumuran denganku bisa memimpin sebuah desa?
"Kalian pasti tidak mempercayainya, ada beberapa kejadian yang membuatku menjadi Kepala Desa,"
"Begitu, ya? Tidak masalah, Nona Aria. Namaku Licia Corwell, dan ini adikku Emina Corwell,"
"Namaku Zain Aither, senang bertemu denganmu, Nona Aria,"
"Jadi, apa yang membuat orang penting dari Kerajaan Rexist datang ke sini?"
"...." Kami bertiga terkejut dengan perkataan Nona Aria.
Dia tahu siapa kami? Tapi, bagaimana bisa?
"K-kau mengetahuinya?"
"Hanya aku yang tahu, setidaknya warga desa percaya bahwa kalian adalah Petualang,"
Bagaimana dia bisa mengetahuinya?!
"Jangan khawatirkan itu, apa tujuan kalian datang ke Kekaisaran?"
"Huh ... baiklah, walaupun aku masih penasaran bagaimana kau bisa mengetahui identitas kami, aku tidak akan mempertanyakan hal itu lagi,"
Nona Licia menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Kerajaan Rexist.
"Jadi begitu, aku turut berduka atas apa yang terjadi dengan Kerajaan Rexist. Jadi, kalian ingin mencari beberapa Petualang kuat rank S dari Kekaisaran?"
"Sebenarnya kami hanya ingin mencari seseorang,"
"...." Wajah Nona Aria terlihat kebingungan.
Itu masuk akal, kenapa kami hanya mencari seseorang untuk menyelamatkan Kerajaan? Mungkin itu yang ada di pikiran Nona Aria.
"Namanya Alissa Hart, mungkin kau tidak mengenalinya karena dia Petualang baru dari Ibukota Kekaisar-"
"Aku kenal,"
"Heh?" Mataku seketika melebar mendengar perkataannya. "Tunggu ... kau mengenalinya?"
"Tentu saja, karena dia yang menyelamatkan desa kami dari serangan para Ogre,"
Serangan Ogre? Tunggu ... ada rumor mengatakan bahwa ada desa yang membuat kepercayaan baru. Desa tersebut diserang oleh kawanan Ogre sebelumnya.
Aku membuka mulutku secara perlahan. "A-apa ini Desa Sige?"
"Benar." Nona Aria menjawabnya dengan senyuman.
"Lupakan itu, bisakah kau memberitahu kami di mana Petualang bernama Alissa Hart itu?" Nona Licia langsung memotong pembicaraan kami.
Nona Aria melihatnya dengan sangat sinis.
"Tenanglah, Nona Licia,"
Aku sangat panik melihat kondisi ini. Bahkan Nona Emina hanya diam saja sejak memasuki desa ini.
"Maafkan ketidaksopananku." Nona Licia kembali tenang.
Aku paham dengan sikap Nona Licia. Kami tidak mempunyai banyak waktu sekarang. Tapi, setidaknya jangan sampai membuat kekacauan di desa ini.
"Tidak apa-apa, orang yang kalian cari akan datang ke desa ini,"
"Dia datang setiap akhir pekan untuk membawa beberapa tanaman kami,"
Akhir pekan? Jadi, hari ini.
"Baiklah, kami akan menunggunya, terima kasih, Nona Aria," Ucapku.
-----------------------------
Sembari menunggu Nona Hart, aku pergi menuju tempat pelatihan yang ada di desa. Aku sedikit penasaran dengan kekuatan orang-orang di sini.
Aku melihat ke lapangan tempat para Pejuang berlatih.
Lapangan yang sangat cocok untuk berlatih. Rumput yang dipotong dengan sangat pendek juga mempermudah pergerakan mereka. Baiklah, aku akan ke sana.
"Hiyaaaak!"
*Tuk! Tuk!
Rata-rata job yang mereka miliki adalah Warrior. Tidak ada Swordman. Sangat disayangkan.
"Hey, pria yang di sana, bergabunglah!" Salah satu dari mereka memanggilku.
"Baiklah!"
Tubuhku terasa sedikit kaku.
Aku mengambil pedang kayu dari kotak penyimpanan milik mereka.
Sangat nyaman untuk digenggam.
"Aku mulai." Dia mengayunkan pedangnya.
Siapapun lawanku, tidak akan kuberi keringanan.
*Tuk!
Aku menangkisnya dengan kuat hingga pedang miliknya terlempar.
"Khuuk!"
"Wooah, pria itu sangat hebat." "Benar, apa Lux bisa mengalahkannya?" Beberapa orang membicarakan pertarungan kami.
Lux? Apa dia yang terkuat di sini?
Seseorang datang menghampiri kami.
Dia terlihat kuat.
Nama : Lux Cassago
Umur : 28
Ras : Manusia
Job : Warrior
Tittle : -
Level : 144
Jadi dia yang bernama Lux. Levelnya lebih tinggi dari orang-orang di sini.
"Perkenalkan, namaku Lux Cassago. Apa kau mau berlatih tanding denganku?"
Niatnya mudah ditebak.
"Baiklah,"
Kami berdua dalam posisi bersiap.
Sikap tegak yang dia tunjukan sangat bagus.
Dia maju!
*Tuk! Tuk!
Kami saling beradu pedang.
"Huft." Dia melompat mundur.
Menganalisa pertarungan, ya?
Dia kembali mengayunkan pedangnya padaku. Dia mengincar leherku? Sangat brutal!
Aku menghindarinya dengan cara menurunkan posisi tubuhku ke bawah.
Ada celah di bagian bawah.
Aku mengayunkan pedangku ke atas, mengincar dagunya.
*Tuk!
Dia menangkisnya dengan gagang pedang. Dia memindahkan tangannya ke atas gagang pedang itu.
Respon yang sangat cepat.
"Huh?"
Dia mengayunkan pedangnya ke arah bawah menuju pungguku.
Sial!
*Swush!
*Tuk!
"...." Wajahnya terlihat terkejut.
Aku menahan serangannya dengan pedang yang sebelumnya kuarahkan padanya. Lebih tepatnya, aku menggunakan ujung pedang milikku untuk menahannya, karena sudah tidak sempat untuk menghindar. Kayu ini benar-benar kuat.
"Huuh, bahkan bisa menangkis serangan seperti itu, jika dilanjutkan mungkin aku akan kalah,"
Dia bukan orang yang sombong ternyata.
"Itu hanya keberuntunganku, Tuan Lux,"
Kami saling berjabat tangan.
"Namaku Zain Aither, senang bertemu denganmu,"
Dia tersenyum.
*Prok Prok Prok
Suara tepuk tangan mengalihkan perhatianku.
Aku melihat ada seseorang di bawah pohon.
Orang itu yang bertepuk tangan?
Aku memfokuskan pandanganku ke arah orang itu.
Tunggu ... itu?!
"N-nona Hart?!"
Bersambung ....