
Hela bermimpi berbaring di padang rumput. Ia memandangi langit malam yang dipenuhi oleh bintang. Pemandangannya begitu indah, Hela merasakan kehangatan di tubuhnya, angin-angin di malam itu berubah menjadi hangat.
Sebuah bintang jatuh mengalihkan perhatian Hela, ia bangkit dan duduk di sebuah batu kecil.
"Di mana aku?"
Itu kata pertama yang keluar dari mulutnya.
Ingatan dari kejadian sebelumnya langsung menghantam kepalanya.
"Agh!" Hela merasakan sakit yang luar biasa.
Aku ... sudah mati? Benar, perutku ditusuk. Dan ... Naura?
Air mata Hela mengucur deras ketika mengingat Naura.
"Naura!" Teriakkan Hela terdengar sangat menyedihkan, hatinya hancur ketika mengingat kenyataan yang telah dilihatnya.
Seketika udara yang sebelumnya hangat, kini berubah menjadi sangat dingin. Udara dingin menusuk-nusuk tubuh Hela, namun rasa putus asanya mengalahkan rasa dingin yang diterima.
"Naura ...."
Ini semua karena aku lemah!
Hela terus mengumpat pada dirinya sendiri.
Di saat Hela masih tenggelam dalam kesedihan, sesuatu datang dan menyentuh kepala Hela yang tertunduk.
Hela merasa kepalanya seperti sedang dielus-elus.
Tangan?
Ketika Hela hendak mengangkat kepalanya, ia tebangun.
Hela membuka matanya. Ia melihat dinding dan langit yang terbuat dari batu.
"Kau sudah sadar?" Terdengar suara berat dari sebelah kirinya.
Hela menoleh ke sumber suara tersebut.
"...." Ia tak bisa membuka mulutnya.
"Jangan paksakan dirimu, tubuhmu benar-benar sangat lemah sekarang."
Mendengar hal itu, Hela langsung memejamkan matanya. Ia bermaksud ingin menggunakan sihir penyembuhan pada dirinya sendiri.
Gagal?!
Sihir Hela tak bekerja, itu semua karena Hela hanya bisa merasakan energi sihir yang sangat tipis. Kepekaannya menurun drastis.
"Kau mengalami kondisi kritis selama sebulan,"
Sebulan?!
"Selama sebulan itu pula aku terus mengalirkan energiku padamu sebagai pengganti makanan. Ini hanya metode yang dilakukan para Beastman,"
Hela ingin mengucapkan terima kasih, namun sangat sulit baginya untuk berbicara. Ia hanya membalasnya dengan senyum kecil.
"Aku tak tahu seberapa besar ruang yang kau miliki, rasanya kau bahkan bisa menyerap seluruh energi yang kupunya. Aku hanya memberimu beberapa persen per-hari, mungkin itu yang membuat kondisi tubuhmu melemah,"
Tidak, mendengar kau sudah berjuang menyelamatkanku saja sudah lebih dari cukup.
Hela tak bisa mengekspresikan rasa terima kasihnya pada Joah. Hal yang ia terima terlalu besar dan berarti.
"Karena kau sudah sadar, kau sudah bisa makan sekarang, kondisimu perlahan akan pulih."
Suasana mendadak hening, karena Hela yang belum bisa berkomunikasi.
Di keheningan itu, Hela teringat sesuatu.
"Hmmmmmmmm!" Ia mengeluarkan suara yang cukup keras dalam keadaan mulut tertutup.
Joah yang mendengar itu langsung panik.
"Ada apa, gadis kecil?!"
Bola mata Hela bergerak seperti sedang mencari sesuatu. Joah memahami apa yang dimaksud oleh Hela.
"Kau mencari bayi kecil?" Joah bergegas menuju ke suatu tempat di dalam gua.
Air mata Hela menetes ketika melihat apa yang dibawa Joah. Bukan kesedihan, namun kebahagian yang amat besar.
Joah menggendong bayi kecil yang terlihat sehat dan kuat.
"Aku merawat bayi kecil, sediki merepotkan, terutama makanannya."
Joah membawa bayi kecil mendekat pada Hela.
Seorang bayi tampan berambut hitam berada tepat di sebelahnya.
Garis wajah yang mengikuti Legarde, bentuk mata yang mengikuti Naura.
Hela kembali tersentuh.
Naura, Legarde ... anak ini benar-benar sangat mirip dengan kalian. Kali ini ... aku ... akan melin--
Hela belum menyelesaikan perkataannya. Ia merenung sejenak.
Tidak.
"Baiklah, gadis kecil, aku akan mengurus kalian sampai kondisimu benar-benar sudah pulih."
----------------------------
4 bulan kemudian.
Hela duduk di sebuah batu kecil. Ia menggendong bayi kecil sambil menikmati suasana lapangan rumput. Hembusan angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin nyaman.
Insiden penyerangan Red Heart ke Wilayah Menara telah usai, dan dimenangkan oleh Wilayah Menara. Tak ada yang diuntungkan, Pemimpin Menara menyadari bahwa ada Iblis yang menyuci otak para pemberontak, itu termasuk Coros yang dilawan Hela dan Joah sebelumnya.
Kembali pada suasana tenang di padang rumput.
"Huhu ... Liche, kau mengantuk, ya?"
Nama bayi itu adalah Liche. Hela memberinya nama di saat ia bisa berbicara. Butuh waktu lebih dari 3 bulan untuk Hela kembali pulih. Itu dikarenakan Hela kehilangan banyak energi sihir, seperti yang telah diketahui bahwa Hela memiliki ruang penyimpanan Mana yang sangat besar, jauh dari manusia normal.
Joah selesai latihan dan bergegas menuju ke arah Hela.
"Hela, Liche,"
"Selamat datang, Tuan Joah."
Joah duduk di rerumputan, ia berada di sebelah Hela. Suasana begitu canggung, mereka hanya sesekali berada di situasi seperti ini.
Di bawah rimbunnya pepohonan, suara daun yang bergesekan menambah keheningan itu. Mereka berdua melamun.
Hela mengelus-ngelus kepala Liche sambil memikirkan rencana masa depannya kelak.
Aku ... belum bisa melindungi siapa pun dengan kekuatanku yang sekarang. Tak ada yang bisa mengajariku tentang sihir. Aku tak ingin kembali ke sana.
Hela melihat Liche yang telah tertidur pulas.
"...."
Air mata menetes di kening Liche. Hela tak kuasa menahan air matanya.
"Tuan Joah." Hela masih tertunduk, wajahnya tertutupi oleh rambut putihnya.
Joah tak tahu ekspresi apa yang sedang ditunjukan Hela saat ini.
"Tuan Joah, kau pernah bilang bahwa kau berasal dari wilayah timur, 'kan?"
"Benar,"
"Apa tujuan kita adalah wilayah timur?"
"Iya. Aku berencana ingin membawa kalian ke tempat tinggalku."
Mendengar hal itu, Hela yakin dengan keputusannya. Sebuah keputusan yang akan membuat dunia gempar di masa depan.
"Tuan Joah, apa aku bisa bertambah kuat?"
Joah memegang dagunya, kemudian menjawab, "Bisa, tapi aku tak menjamin kau selamat."
Seperti ada sesuatu tersirat dari jawaban Joah.
"Apa maksudmu, Tuan?"
Joah terdiam dan memikirkan cara untuk menjelaskan hal yang ia ketahui.
Aku harus mengatakannya pada gadis kecil ini.
"Eheem ... ada satu tempat yang beberapa tahun terakhir diselimuti oleh energi sihir yang kuat. Seluruh makhluk yang datang ke tempat itu dengan niat buruk pasti akan mati beberapa hari kemudian. Para Iblis pun sangat menghindari tempat itu,"
"Apa ada makhluk kuat di sana?"
"Aku tidak yakin, jika ada makhluk yang mengerikan, mungkin makhluk itu akan keluar dan menghabisi semua orang di luar. Aku pikir makhluk itu memiliki akal,"
"Apa hubungannya denganku?"
"Banyak orang yang mencoba menyerap energi sihir di tempat itu, namun mereka semua mati,"
"K-kau ingin menjadikanku kelinci percobaan?!"
"Aku tidak memaksamu, semua terserah padamu, Hela."
Hela memikirkan tentang Liche. Ini merupakan kesempatan satu-satunya untuk ia bertambah kuat.
Dengan wajah yang sangat yakin Hela memutuskan pilihannya.
"Aku ... akan pergi ke sana."
--------------------------------
1 minggu kemudian.
Di pagi hari yang cerah, Hela bersiap pergi untuk menuju ke tempat yang diceritakan Joah.
Mereka berhenti di tengah hutan.
Hela melihat Liche yang berada di dekapan Joah dengan tatapan sedih.
"Liche, aku akan kembali membawamu nanti, untuk saat ini, tinggalah dengan Tuan Joah, jangan merepotkannya."
Joah sedikit tersentuh dengan kegigihan Hela.
Gadis kecil ini, aku penasaran akan menjadi seperti apa dia di masa depan.
Joah membawa Liche ke wilayah timur. Sementara Hela akan pergi ke wilayah barat untuk pergi ke tempat misterius itu.
"Kami akan menunggumu, Hela."
Joah pun pergi meninggalkan Hela.
Hela berbalik, matanya penuh dengan api yang membara.
Aku ... akan menjadi kuat!
Begitulah yang dipikirkannya, sampai tiba hari di mana Hela menyesali keputusannya ini.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!