
Bagaimana mungkin Erish berubah menjadi wanita dewasa? Siapa sebenarnya dia?
"Uhuk! Uhuk!" Aku batuk mengeluarkan darah.
Kesadaranku hampir menghilang.
"Tidak peduli seperti apa wujudmu, kau masih berada di ba--"
Erish menghilang.
"Kau ingin menggunakan tipuan, ya?" Rayden melihat ke sekelilingnya.
Sesuatu menyentuh tubuhku, tak lama kemudian aku seperti diangkat oleh seseorang.
"Warp." Suara seseorang yang sedang merapal.
"Di belakangku!" Rayden langsung mendaratkan pukulannya di tempatku berbaring.
*Brak!
Terjadi guncangan yang sangat besar. Namun anehnya, aku sama sekali tak terluka, justru suara itu berasal dari kejauhan.
"Theresia."
Perlahan bayangan wanita itu terlihat, dia adalah Erish.
Erish menurunkanku. Tangannya memegang benda yang terlihat seperti potion. Tanpa ragu-ragu, dia menuangkan potion itu ke dalam mulutku.
Hanya sekilas, warna potion itu seperti emas. Ini pertama kali aku melihatnya. Ada sebuah legenda yang menyebutkan tentang potion penyembuh yang bisa menyembuhkan hingga 100% luka berat, bahkan memulihkan sebagian besar Mana pengguna. Itu hanya legenda, dan tertulis bahwa potion itu memiliki warna seperti emas. Mungkin ini hanya mirip, aku tak mau berekspetasi tinggi.
"Aki tidak berpikir untuk menggunakan barang berharga seperti ini. Seperti biasanya, Beliau sudah memperkirakan ini semua."
Rasa sakit di tubuhku perlahan menghilang. Kesadaranku mulai kembali.
"M-mustahil."
Manaku ... pulih? Potion itu benar-benar nyata!
"Nona Guerr--"
"Bajingan!" Teriakan Rayden memotong perkataanku.
Dia sudah menyadari keberadaan kami.
"Theresia, apa kau bisa bertarung?"
Semua luka dalam, luka luar telah sembuh, bahkan kondisiku lebih baik dari sebelumnya.
"Aku siap kapan saja, Nona Guerra,"
"Perhatikan, aku akan membuka celah untukmu,"
"Baik."
Dia ingin aku yang membunuh Rayden.
Erish dan Rayden berlari ke depan. Tak ada senjata apa pun di tangan mereka.
Walau Erish memiliki fisik dewasa, namun ukurannya masih jauh lebih kecil. Tapi, kita berbicara tentang Erish, bahkan saat menggunakan wujud remajanya, dia bisa memukul Rayden hingga terhempas cukup jauh.
Aku harus menemukan celah dan kelemahan Rayden.
*Bruk! Bruk!
Rayden melayangkan pukulannya ke arah Erish. Erish menghindari semua pukulannya dengan gerakan yang sangat halus. Rayden terlihat seperti sebuah mesin yang hanya memukul tanah.
"Mau sampai kapan kau menghindar?!" Rayden merentangkan tangannya.
Gerakan itu ....
"Burning!"
Api keluar dari telapak tangannya. Rayden berputar dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Putaran itu menimbulkan tornado api seukuran rumah berukuran sedang.
"Mana Shield : Core Strengthening!" Aku membuat sihir pelindung untuk mencegah api menjalar ke tempatku.
Aku juga mempertebal lapisan pelindung hingga ke titik terkuatku. Akan merepotkan jika kejadian tadi terulang lagi.
Penglihatanku terbatas. Seluruh tempat ini terbakar.
*Dum!
"Agh!" Sesuatu menghantamku.
Walau sudah menggunakan sihir pelindung terkuat, aku masih bisa merasakan sakit dari hantaman itu.
Sosok besar berada tepat di depanku, bayangannya terlihat jelas, tubuhnya berada di dalam kepulan asap itu.
"Ternyata gadis Elf. Aku akan mengurusmu nanti."
Perkataannya benar-benar membuatku kesal.
Di waktu yang bersamaan, aku merasakan sesuatu melalui skill deteksiku.
"Huhuhu." Tanpa sadar, aku tertawa kecil.
Jadi begitu.
"Kau menertawakanku?" Rayden yang marah langsung mengepalkan tangan kanannya, dia akan memukulku.
"Exhale!" Aku merapalkan sihir angin.
*Bush!
Kepulan asap yang tebal seketika hilang akibat hembusan dari sihir angin milikku.
Rayden menghiraukan hal itu, perhatiannya tetap tertuju padaku. Namun .... Erish melayang tepat di belakangnya dengan sikap tubuh serupa.
Beberapa detik Rayden menyadari kehadiran Erish, ia menoleh dan ....
*Bugh!
Pukulan keras tepat mengenai wajahnya.
Rayden terhempas sangat jauh, tak terhitung berapa banyak bangunan yang hancur akibat pukulan keras itu.
Rasanya terlihat berbeda dengan Erish yang memukulnya menggunakan wujud remaja. Suara pukulannya tersengar sangat nyaring. Jika kuasumsikan, kepala Rayden harusnya sudah hancur berkeping-keping akibat pukulan itu.
"Dia belum mati," ucap Erish.
Jika terus seperti ini, kami akan menang. Hanya perlu melakukan taktik seperti tadi. Eh?
Taktik? Taktik apa yang kumaksud?
"Nona Guerra, kenapa kau selalu berada di belakangnya?"
"Ada sesuatu yang dia jaga di belakang tubuhnya,"
"B-bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
Hampir seluruh kulit di tubuh Rayden keras seperti logam mithril. Jika ingin mencari bagian terlemahnya, sudah pasti kau harus mengincar ruang terbuka di tubuhnya. Seperti bagian sendi. Penglihatanku tidak melewatkan satu pun, bahkan kelemahannya seolah tertutupi dengan kecepatan dan pertahanannya.
"Kau tidak menyadarinya? Itu ada di tengkuknya,"
Tengkuk?
"Walau hanya sekilas, dia selalu menghindari serangan dari belakang, terutama tengkuknya. Beberapa kali aku mencoba menargetkan tengkuknya, dia langsung reflek untuk memiringkan kepala, atau menutup tengkuknya dengan tangan, namun sikap itu tak dilakukan ketika aku menyerang bagian lain. Seperti saat aku memukul wajahnya barusan," lanjutnya.
"Apa kau yakin akan hal itu?"
"Iya. Jika kau perhatikan lagi, ada semacam kristal kecil di tengkuknya. Aku tak tahu, mungkin itu sumber kekuatannya. Tak peduli bagian mana yang kupukup, dia hanya terus melindungi tengkuknya,"
Jika seperti itu, aku tak akan ragu lagi untuk menyerang. Sudah waktunya menggunakan sihir utamaku.
"Nona Guerra, tolong tahan dia beberapa waktu,"
"Baiklah."
*Bruk!
Rayden mendarat di tempat kami. Dia melompat dari jarak ratusan meter ke sini.
"Dasar wanita j*l*ng! Aku akan membunuh kalian berdua!"
Aura di tubuh Rayden semakin kuat. Jika orang biasa yang merasakan ini, mungkin mereka akan pingsan.
Erish maju menghadapi Rayden.
Aku harus memulai persiapan. Sihir ini memakan banyak Mana, jika aku salah sedikit saja, akibatnya akan sangat fatal.
Ini sihir alam, esensi tubuhku akan menyebar ke seluruh tempat dalam radius 30 meter, bisa dibilang tubuhku adalah alam di dalam radius 30 meter tersebut.
Fokus.
Aku memejamkan mataku, mempercayakan keselamatanku pada Erish.
"Offerings To Nature." Aku merapalkan sihir alam.
Seketika kepekaanku terhadap apa pun meningkat. Aku tak merasakan tubuhku lagi.
Tanah, bangunan-bangunan besar, api yang masih berkobar, kemudan Erish dan Rayden yang sedang bertarung. Aku melihat semuanya. Mereka seperti menari di atasku.
Erish dan Rayden belum menyadari keberadaanku. Pertama-tama, aku akan memberi tanda pada Erish.
*Brak!
Aku menghancurkan tanah tempat Rayden berpijak.
Keseimbangan Rayden terganggu. Erish langsung menekannya ke bawah.
Aku juga menggunakan beberapa akar pohon untuk melilit leher Rayden.
"Kugh! Apa-apaan ini?!" Rayden kesulitan bernapas.
Akar pohon yang kugunakan sebelumnya adalah gabungan dari ribuan jenis akar pohon. Ketebalan, daya ikatnya jauh lebih kuat.
"Theresia ... apa itu kau?" Erish menyadari keberadaanku. "Jadi begitu, ya. Serahkan padaku dan kemudian kau akhiri dia."
Erish berdiri tepat di atas dada Rayden. "Aku pernah dibuat malu oleh seonggok Orc King karena gagal menggunakan sihir ini. Namun, aku yang sekarang jauh berbeda dengan waktu itu."
Apa yang dia katakan?
"Abyss Magic ...."
Abyss Magic?!
"Black Cannon!" Muncul lingkaran sihir di depan Erish. Sesuatu akan keluar dari lingkaran sihir itu.
Tunggu, Erish bilang ada kristal di tengkuk Rayden, 'kan?
Aku segera meraba bagian tengkuk Rayden dengan akar kecil.
Ketemu!
*Crack!
Terdengar seperti sesuatu yang pecah. Tanpa sadar aku menghancurkan kristal itu.
Kristal itu benar-benar rapuh.
Seketika Rayden berhenti meronta.
*Bum!
Abyss Magic telah ditembakan, namun bukan ke arah Rayden.
Sihir mengerikan itu mengarah ke atap bangunan di depan.
Sangat mengerikan, sihir itu mirip semburan milik para Naga.
Tidak hanya Warrior, Erish juga sangat ahli dalam menggunakan sihir. Aku sangat penasaran dengannya.
Tapi, siapa yang dia serang?
"Aku tahu kau menghindari itu, tunjukan dirimu," ucap Erish dengan sedikit meninggikan suaranya.
*Clap
Seseorang baru saja mendarat.
"Maafkan aku yang telah menganggu kesenanganmu. Perkenalkan, aku Olivier, salah satu bayangan. Aku hanya ingin mengambil Rayden kembali." Orang itu terlihat seperti manusia biasa. Tubuhnya tidak terlihat jelas, seperti ada sihir yang mencoba menyamarkan penampilannya.
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Yah, kita akan bertarung sampai mati."
Satu hal yang pasti, orang ini jauh lebih kuat dari Rayden.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!