The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Kebenaran Yang Menyakitkan



Namun, dia tidak seperti Malaikat pada umumnya. Sayapnya terlalu panjang dan lebar. Aku lupa informasi tentang Malaikat seperti ini di Magic infinity.


Aku berusaha mengingat-ingat nama ras Malaikat yang sama persis seperti Hela.


Sial, aku benar-benar lupa.


"M-malaikat?!" Orang-orang Gereja semakin gaduh.


"Ini tidak mungkin. Bahkan Dewi tidak memberiku informasi tentang ini." Uskup Agung mundur perlahan, dia terlihat tertekan karena wujud Hela. "Great Angel ...?"


Ah, benar! Great Angel. Jika Human, Elf, Demon memilik "High" untuk evolusi terkuat mereka, maka malaikat memiliki "Great" untuk terkuat mereka. Aku tidak tahu apakah deskripsi di Magic Infinity sama atau tidak dengan dunia ini.


Ada sebuah deskripsi singkat yang menyebut para Great Angel sebagai kaum Bangsawannya para Malaikat.


Aku tidak menyangka Hela memiliki ras Great Angel.


"Bagaimana, Uskup Agung? Apa kau tertarik dengan persyaratanku?" tanya Hela.


Ini merupakan persyatatan mutlak, mereka tidak bisa menggunakan para Malaikat. Jika dia bijak, pasti dia akan meno--


"Kami tidak akan menerima persyaratan itu."


Heh?!


"Kau yakin?"


Uskup Agung mengacungkan kelima jarinya ke depan. "Beri kami waktu 5 tahun,"


"Apa maksudmu?"


"Beri kami waktu untuk mempersiapkan segalanya dalam 5 tahun. Kami tidak akan menyentuh sekutu dari Kerajaan Penyihir Maphas dalam rentan waktu 5 tahun."


Itu bukan tawaran yang buruk. Memperkuat orang-orang mereka dalam 5 tahun. Jika perperangan dilakukan sekarang, Hela dengan mudah mengalahkan mereka. Yah, aku yakin 5 tahun ke depan pun Hela juga bisa melakukan hal yang sama.


"Hmmm ...." Hela memegang dagunya.


Apa dia mengkhawatirkan sesuatu?


"Tunggu sebentar, Yang Mulia. Saya menerima pesan dari Dewi. Beliau ingin berbicara dengan Anda,"


"Sang majikan akhirnya turun tangan, aku menerimanya."


Dewi? Dia sampai ikut campur dengan masalah ini. Ini jadi semakin rumit, aku tidak menyukainya!


Tubuh Uskup Agung bercahaya. Penutup matanya terangkat, tidak terlihat seperti apa warna matanya, karena matanya sepenuhnya memutih.


Semua orang dari Gereja Suci bersujud mengarah ke Uskup Agung.


Jadi Dewi mengambil alih tubuhnya, ya?


"Sepertinya ini pertemuan pertama kita, Hela." Suara Dewi bergema memenuhi ruangan.


"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu itu, Dewi--- ah, tidak ... adiknya Master, Kar Na." Hela tersenyum licik.


Perkataan Hela langsung membuatku syok. Dadaku terasa sakit setelah mendengarnya.


Adiknya ... Keres?


Semua orang yang ada di dalam ruangan terkejut, sekali lagi kegaduhan terjadi.


"Dari mana kau mendengar itu?"


Keberadaan Dewi serta tekanan aura dari Hela membuat suasana menjadi tegang.


Hela menjentikkan jarinya. Sebuah penghalang muncul menutupi mereka berdua.


Penghalang suara, ya.


"Ibu, apa Ibu ingin mendengar percakapan mereka?" tanya Delila.


"Tidak, jangan lakukan itu."


Perasaanku sedikit gundah, itu karena perkataan Hela tadi.


Apa yang sebenarnya terjadi? Keres adalah kakak dari Dewi? Tapi, kenapa mereka bermusuhan seperti ini? Misteri semakin bertambah, semua puzzle yang kususun tiba-tiba hancur.


Orang-orang dari Gereja Suci terus melihatku dengan tatapan marah sambil bersujud.


Dasar orang-orang aneh!


Percakapan Hela dan Dewi terlihat intens. Hela berbicara dengan serius, sedangkan Dewa dengan tubuh Uskup Agung tak menunjukan ekspresi apa pun. Hela yang berbicara di dalam sana berbeda dengan yang tadi, aku sangat penasaran, tapi mereka akan tahu jika seseorang menyadap pembicaraan mereka.


 -------------------------------


Sudah lebih dari 20 menit percakapan itu berlangsung. Sepertinya belum ada titik terang, itu bisa dilihat dari ekspresi Hela yang sangat bersikukuh ketika berbicara. Sepertinya mereka sampai pada tahap perundingan.


"Ibu, apa benar Dewi--"


"Tidak." Aku memotong pertanyaan Elina.


"B-begitu, ya."


Penghalang suara menghilang. Ekspresi Hela berubah menjadi seperti biasanya.


Dewi menolehkan wajahnya ke arahku.


Aku tidak yakin, karena tak melihat ke mana matanya melihat, tapi wajahnya benar-benar mengarah padaku.


"Jadi kau, ya," ucapnya.


Apa yang dia maksud?


Lingkaran sihir muncul di bawah kaki orang-orang dari Gereja Suci. Terlihat seperti sihir teleportasi.


"Aku dan Hela telah memutuskan, kedua belah pihak akan melakukan gencatan selama 7 tahun. Tidak ada pembunuhan, tidak ada penyerangan. Jika salah satu dari kedua belah pihak melanggar, itu akan dianggap sebagai ajakan perang. Dan aku, Dewi Kar Na juga akan ikut melawan kalian jika hal itu terjadi."


7 tahun, bukannya itu menguntungkan mereka? Ditambah dengan konsekuensi pelanggaran yang Dewi bilang. Ini sepenuhnya menguntungkan mereka! Para bajingan itu pasti akan melakukan berbagai cara untuk memancing orang-orang kami untuk menyerang.


"Bagaimana tanggapanmu, Alissa Hart?" tanya Dewi.


"Hmmmm ... bagaimana kau mengatasi orang-orangmu yang mencoba berbuat licik dengan memantik api di tengah-tengah masa gencatan?"


"Hei! Sikapmu sangat tidak sopan!" teriak salah satu Saint di barisan belakang.


Bajingan berisik, bisa-bisanya kau berteriak sambil bersujud seperti itu!


Cahaya di tubuh Uskup Agung menghilang, kain penutup langsung menutupi matanya.


Dia sudah kembali.


Satu-persatu orang-orang dari Gereja Suci menghilang.


Sepertinya ini sudah selesai.


 ------------------------------------


Suasana menjadi hening sejak orang-orang dari Gereja Suci pergi. Hela hanya diam dengan wajah lesu menatap ke arah depan.


Sial! Aku sudah lelah! Tolong biarkan aku tidur di tempat tidur yang nyaman itu!


"Alissa Hart." Hela memanggilku.


Aku gugup.


"Apa Anda memerlukan sesuatu, Yang Mulia?" Aku berusaha menjaga ekspresiku agar tidak gugup.


"Hubungan seperti apa yang kau inginkan antara Kerajaan Mystick dan Kerajaan Penyihir Maphas?"


Ini pertanyaan yang sederhana namun berdampak besar untuk ke depannya. Aku sama sekali tidak berpikir sampai seperti ini. Semua ini karena orang gila yang mengendalikan tubuhku!


"Sesuai dengan apa yang Saya katakan sebelumnya, Yang Mulia,"


"Aku paham."


*Prok!


Hela menepuk tangannya.


"Kita sudah menghabiskan banyak waktu di sini, bagaimana kalau sekarang kalian mempersiapkan diri kalian untuk pesta nanti malam?"


Aku melupakan pesta itu, sial.


Kami kembali ke kamar masing-masing.


Seperti biasa, aku berbaring di tempat tidur super nyaman.


Aku masih kepikiran dengan perkataan Hela tentang Dewi yang merupakan adik dari Keres.


Dadaku tiba-tiba terasa sesak.


Terlalu berat untuk dipikirkan. Mari alihkan perhatian.


"Delila, Elina, bagaimana tanggapan kalian tentang hubungan ini?"


Aku butuh jawaban dari sudut pandang mereka tentang hubungan dengan Hela.


"Bukankah ini cukup bagus? Jika Hela berada di sisi kita, mungkin kejadian buruk seperti yang menimpa Rayna tidak akan terulang lagi." Elina memberi masukannya.


Apa?


"Kalian tidak percaya diri dengan kemampuan kalian?"


"B-bukan seperti itu, Ibu. Kami hanya senang bisa bekerja sama dengan murid Ibu."


Pendiriannya lemah. Aku tak percaya kata-kata itu diucapkan oleh Elina.


"Ibu, Saya rasa kita bisa memanfaatkan Hela." Delila memberikan masukannya.


"Hoo ... jelaskan,"


"Ini terkait masalah bisnis yang sedang Ibu jalani. Kita bisa menjadikan Hela sebagai suksesor untuk penjualan kita,"


Kenapa anak ini berbicara tentang penjualan?


"Tongkat sihir masih dipandang rendah oleh penyihir di dunia ini. Seperti yang kita tahu, Ibu memiliki tongkat sihir yang bisa melepas sihir tingkat lanjut. Untuk menaikkan pamor tongkat sihir, kita bisa memproduksinya dengan bantuan para Dwarf dan para alkemis yang bisa menempah dan memodifikasi tongkat sihir, dan kita bisa mengembangkan tongkat sihir melalui bisnis ini,"


Aku tidak percaya ini. Delila ... dia jenius!


"Hela akan menjadi pelopor untuk meningkatkan pamor tongkat sihir, Ibu."


Maksudnya, Hela akan menjadi brand ambrassador!


Putriku yang menggemaskan ini ....


Aku memeluk Delila.


"I-ibu ...?"


"Itu ide yang luar biasa,"


"T-terima kasih, Ibu."


Delila berhasil menemukan peluang dari kesenjangan yang terjadi di tempat ini. Dia benar-benar jenius.


"Kau benar-benar Putriku yang pintar."


"Hiks." Terdengar suara tangisan.


Itu berasal dari Elina.


Ah, ini gawat.


Elina berlari menuju pintu keluar kamar.


"Elina ...?"


Ketika pintu kamar di buka, ada seseorang yang berdiri di sana. Tangannya menunjukkan posisi yang hendak mengetuk pintu.


Dia, 'kan ...?


"Maaf mengganggu waktumu, Nona Alissa, bisakah kita berbicara sebentar?"


Guru Elite, Tiffany.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!