The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Bertemu Lagi



Chapter 44 : Ahli Sihir Alam


Para penjahat itu telah memulai aksinya, semua sesuai rencana yang telah kami perkirakan. Jika bukan karena informasi dari 3 Menara, mungkin kami akan mati tanpa persiapan.


Aku dan Erish membereskan para pemberontak yang mencoba menyerang warga kota di bagian utara, aku menyerahkan sisanya pada Dewan Murid lainnya.


Kami terus berlari menyusuri setiap kota, bertarung tanpa henti.


"Theresia, kita kekurangan orang untuk memandu para penduduk," ucap Erish.


Dia benar, kami hanya menyuruh mereka melewati jalan yang telah kami bersihkan. Tidak menutup kemungkinan jika ada sisa pemberontak di sana.


Aku tak bisa berbuat banyak, hanya kami yang bisa melakukan operasi ini, para murid lainnya tidak bisa menangani ini.


"Kita tak punya cara lain, hanya ini sa--"


Sebelum aku melanjutkan perkataanku, beberapa penyihir tiba di tempat kami.


Mereka penyihir gabungan dari 3 Menara. Sepertinya mereka telah memutuskan untuk turun tangan.


"Hei, apa kalian hanya dua orang?"


"Benar. Kami ingin melanjutkan perjalanan, apa kalian bisa memandu para penduduk?"


"Serahkan pada kami. Untuk berjaga-jaga, kami akan mengirim 2 orang untuk menemani kalian,"


"Terima kasih."


Dua orang penyihir yang berasal dari Menara Merah dan Menara Biru bergabung dengan kami.


Kami melanjutlan penyusuran. Beberapa pemberontak telah terkapar, penyihir menara telah memperluas jangkauan mereka.


Tanpa sadar, kami telah keluar dari area kota, kini berada di area kumuh di sudut kota.


"Huwaaaa! Tolong!" Para penduduk berlarian.


Penyerangan lebih intens di area kumuh, para penyelamat lebih memprioritaskan penduduk di daerah kota. Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan.


Ini sangat menjengkelkan.


"Tuan penyihir, apa kalian bisa mengevakuasi mereka? Aku dan rekanku akan melawan pemberontak yang tersisa,"


"Aku serahkan padamu."


Aku dan Erish bersiap menyerang pemberontak itu.


"Nona Guerra, ayo lakukan!"


Erish mengangguk. Ia langsung melompat menuju kerumunan pemberontak itu. Pertarungan tak bisa terhindarkan.


Pedang para pemberontak itu tak bisa menyentuh Erish. Mereka berakhir dengan satu pukulan.


Luar biasa.


Bayangan hitam berada tepat di bawahku.


*Crack!


Erish melempar pedang milik pemberontak tepat menuju atas kepalaku.


Seseorang jatuh karena lemparan pedang itu.


"Theresia, apa yang kau pikirkan?!" teriak Erish.


Aku terlalu fokus memperhatikannya tanpa memperdulikan keadaan di sekitarku.


"Maafkan aku, Nona Guerra!"


Aku tidak akan kalah. Akan kutunjukan bahwa aku seorang putri dari penyihir hebat!


"Stone Needle." Aku membuat ratusan jarum kecil yang terbuat dari tanah.


*Crack!


"Agh!" Jarum tanah itu menembus tubuh para pemberontak.


Ini benar-bena tajam, orang akan berpikir tanah itu akan hancur, tapi, ini merupakan sihir yang bahkan sangat berguna untuk membunuh secara diam-diam.


Kami tak melewatkan satu pun pemberontak. Jika dirata-ratakan, level mereka hanya setara seperti petualang kelas C hingga D.


Para pemberontak mulai berpencar.


"Nona Guerra, tolong lindungi aku!"


Erish mengangguk.


Ini kesempatan bagiku untuk menggunakan sihir alam.


"Nature's Magic: Nature's Scream!"


Aku menggunakan sihir yang bisa menghasilkan suara dengungan. Mereka yang telah kutentukan akan merasakan sakit pada gendang telinga mereka.


"Agh! Telingaku! Ini menyakitkan!"


Gerakan mereka terhenti.


"Nona Guerra, sekarang!"


Erish berlari dengan sangat cepat, memukul mereka satu demi satu. Hanya dalam beberapa detik, seluruh pemberontak jatuh tak berdaya.


Sepertinya kombinasi kami lebih singkron dari sebelumnya.


"Semua telah dibereskan." Erish berbicara sambil melangkahi tubuh para pemberontak itu.


"Kedua penyihir dari menara juga sudah mengevakuasi penduduk di sekitar sini."


Sekarang kami harus memeriksa beberapa bagian di sudut kota.


"Aaaaaaaaaaaaaagh!" Terdengar suara teriakan dari kejauhan.


Posisinya tidak jauh, apa yang terjadi?


Kami berdua langsung pergi menuju ke sumber teriakan.


Suara itu menuntun kami kembali ke kota.


Bukannya ini jalan yang sudah kami lewati sebelumnya? Kemungkinan kedua penyihir itu menggunakan jalan ini untuk mengevakuasi penduduk.


"Sial, kita harus segera ke sana!"


Jalanan sangat kosong, memudahkan kami untuk berlari, walau aku tertinggal dari Erish.


Untuk berjaga-jaga, aku mengaktifkan skill deteksi dengan radius 30 meter.


"Apa ini?"


Sesuatu bergerak dengan cepat, sesuatu itu mengelilingi kami.


Erish memperlambat lajunya sehingga aku bisa menyusulnya.


Dia juga menyadarinya.


Sesuatu itu semakin dekat dengan kami, dia berada di bangunan-bangunan sekitar.


Semakin cepat, tidak terdeteksi. Di mana dia?!


"Huh?"


Erish menarikku ke sisinya. Tangan kanannya mengepal seperti bersiap-siap memukul.


"Hiyaak!"


*Bugh!


Pukulannya mengenai seseorang yang sebelumnya di belakangku. Orang itu terhempas hingga menembus bengunan di belakangnya.


Benar-benar reflek yang luar biasa.


"Sudah lama, ya, setengah kadal," ucap Erish.


Orang itu keluar dari reruntuhan. "Kukuku ... sudah kuduga, pasti akan sulit jika ada kau di sisinya. Incaranku adalah gadis Elf itu, dan kau ... kau yang harus kuwaspadai."


Rayden. Dia setengah naga yang kami lawan waktu itu.


"Sepertinya kau telah bersiap-siap sebelum bertemu kami,"


"Kukuku ... kau benar lagi." Rayden keluar dari reruntuhan sepenuhnya.


"A-apa itu?" Aku sangat terkejut melihat wujudnya.


Berbeda dengan sebelumnya, bentuk fisik Rayden saat ini jauh lebih besar dari sebelumnya. Aura yang sangat kuat menyelimuti tubuhnya. Ada garis kecil seperti sebuah tato, garis itu menyala kemerahan.


"Wah, kau ganti kulit, ya?"


"Hahaha! Bajingan! Itu adalah kata-kata terakhirmu sekarang!"


Rayden merentangkan tangannya.


"Theresia, bersiaplah," bisik Erish.


"Mana Shield." Aku mempersiapkan pelindung sihir.


"Abyss of Death!" Rayden menepuk tangannya.


Suara tepukannya sangat nyaring, bahkan langsung berdengung di telingaku.


*Bush!


Sebuah api hitam meluncur dari ujung tangannya.


Sangat cepat! Aku tak sempat memperkuat pelindungku!


Erish menyentuh tanganku sesaat sebelum api itu sampai ke sini.


"Warp!" Erish merapalkan sesuatu.


Area di sekitarku tiba-tiba berubah. Angin yang berhembus sangat kuat.


"Heh?! Aaaaaaaahh!" Tubuhku tiba-tiba lepas kendali, seperti jatuh dari ketinggian.


Aku menenangkan pikiranku.


Langit di sekitarku, dataran terlihat berada di bawah.


"Aku berpindah ke atas--- sepertinya Erish memindahkanku ke atas."


*Duaar!


Terjadi ledakan hebat dari bawah. Api hitam memenuhi area kota yang kemungkinan besar tempat pertarungan kami.


"Fly." Aku merapalkan sihir terbang.


Ledakan begitu besar, sampai meninggalkan bekas parit beberapa ratus meter dari pusat ledakan.


Setidaknya, itu sihir atau teknik bela diri tingkat tinggi.


"Bagaimana dengan Erish?!"


Aku langsung meluncur ke bawah.


Erish mengorbankan dirinya, walau dia kuat, aku tidak yakin dia bisa menahan serangan seperti itu.


Sesuatu keluar dari kepulan asap hitam. Itu mengarah padaku.


"D-dia?!"


"Kudapatkan kau!"


Rayden dengan cepat meluncur ke arahku. Aku terbang menghindarinya.


Dia hanya melompat dengan kuat sampai ke sini, sangat mudah menghindarinya karena dia hanya meluncur lurus ke arahku. Dengan kata lain, dia harus melompat lagi dari bawah.


Rayden terjun bebas ke bawah. Dia memutar posisi tubuhnya ke arahku.


Sesuatu muncul di telapak kaki Rayden. Bentuknya persegi empat, tembus pandang seperti kaca.


Sebuah pijakan?!


"Kau kira aku tidak mempersiapkannya, hah?!"


Aku harus menjauh!


*Bush!


Rayden meluncur cepat ke arahku.


Aku menghindarinya, namun ....


"Kena kau." Beberapa saat setelah aku menghindarinya, Rayden membuat pijakan baru. Jarak kami hanya selisih 2 meter.


Aku mencoba menjauh, tapi semuanya sia-sia. Rayden berhasil menangkapku dengan tangan besarnya.


"Sialan! Lepaskan aku!"


"Lihatlah gadis Elf ini, masih bisa angkuh walau sudah di ambang kematian."


*Crack!


Rayden memperkuat genggamannya.


"Agh!"


Tulang-tulangku sepertinya telah remuk.


"Aku akan memberimu pelajaran agar kau tunduk padaku."


Rayden melemparku ke bawah. Aku tak sempat menggunakan Fly.


*Braak!


Dia melemparku dengan sangat kuat, hingga menghancurkan sebuah bangunan.


Aku masih bisa mempertahankan kesadaranku.


Rayden bediri di depanku. Aku terbaring lemah dengan luka fatal di sekujur tubuhku.


"Tenang, kau akan sembuh dengan darah Tuanku. Aku hanya ingin memberimu pelajaran."


Tuan?


Rayden kembali mengangkat tangan kanannya ke atas.


"H-hentikan ...," pintaku dengan nada terbata-bata.


"Kau bilang apa? Elf tidak pernah memohon, kau tahu itu, 'kan?"


Tolong aku ... Ibu.


"Huuuh ...." Terdengar suara seseorang yang menghela napas. "Maaf, Theresia, aku butuh waktu untuk memikirkan ini. Dan sekarang, sepertinya aku memang tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, kadal itu benar-benar menyebalkan."


Seorang wanita berjalan dari arah belakang Rayden. Aku bisa melihatnya karena kepalaku tersandar di bebatuan.


Wanita berkulit kecokelatan, aku bisa melihat warna matanya dari kejauhan. Warna biru cerah, seperti warna air di pesisir pantai yang pernah kukunjungi dulu. Tampak tidak asing.


"Siapa kau?" tanya Rayden.


"Kau melupakanku, kadal?"


"Kau ... mungkinkah, si gadis kecil itu?"


Tidak mungkin, wanita itu ....


"Erish."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!