The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Kesulitan Sang Ratu



Kerajaan Mystick Legarde. Sebuah Kerajaan besar non-aliansi. Kerajaan ini terkenal dengan Akademi Penyihir yang telah mencetak penyihir-penyihir kuat. Kerajaan tertua yang berusia lebih dari 500 tahun. Terletak di utara, berdekatan dengan Wilayah Iblis. Kerajaan Mystick menerima murid dari seluruh dunia, termasuk ras Iblis.


Pemimpin mereka seorang penyihir abadi yang sangat kuat. Namun, ia menerima sebuah kutukan yang membuat kekuatannya melemah. Untuk memulihkan kondisi pemimpin, mereka mengembangkan sebuah item. Item itu berfungsi untuk mengembalikan kekuatan seseorang yang menghilang. Bisa digunakan pada orang lain, namun item itu tak berpengaruh pada kutukan sang pemimpin. Sampai saat ini, hanya orang-orang tertentu yang diizinkan menggunakan item itu.


"Jadi begitu. Mungkin item yang mereka kembangkan bisa berguna,"


"Apa Anda ingin pergi ke sana, Nyonyaku?"


Aku sedikit tertarik, sih. Tapi, bagaimana jika item itu tak bekerja padaku?


"Hei, kadal, bagaimana agar Ibu bisa mendapatkan izin untuk menggunakan item itu?"


"Namaku Raymond, camkan itu baik-baik, Nona Elf. Maaf, Nyonyaku, aku tak tahu cara agar mendapatkan izin tersebut,"


"Menjadi murid dan mendapatkan nilai tertinggi." Raja Iblis memotong pembicaraan kami. "Murid Maryna pernah belajar di sana,"


Murid Maryna? Ah, Iblis kecil itu.


"Mustahil dengan kondisiku yang seperti ini,"


"Yang Mulia, Anda bisa membawa Saya," ucap Abigail.


"Tidak, tidak, biar kami yang menemani Ibu." Elina menggenggam erat tanganku.


Tangannya sangat dingin.


"Jika kami berhasil mendapatkan nilai tertinggi, maka keinginan kami adalah untuk mendapatkan izin mereka untuk menggunakan item itu,"


Menjadi murid akademi, sangat tidak relevan. Aku yakin di sana akan terbagi menjadi beberapa golongan murid. Ngomong-ngomong, apa aku masih cocok menjadi murid dengan fisik di usia 25 tahunan ini?


"Ibu, tenang saja, kami tak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Ibu,"


"Aku belum memutuskan apa pun, dan kalian dengan berani memutuskan apakah aku pergi atau tidak,"


Keenam bersaudari menundukan kepalanya. "M-maafkan kami, Ibu!"


"Kita akan membahas itu nanti. Erish, bagaimana kerjasama kita dengan Asosiasi Perdagangan Luxtier?"


Erish terkejut. "A-ah ... kerja sama dengan mereka masih berjalan dengan baik. Karena kebenaran tentang kita sebagai produsen belum diketahui oleh pihak mana pun. Mereka tetap merahasiakannya dan tetap menjadi distributor kita,"


Huh ... keuangan kami masih aman.


"Sepertinya kita harus menambahkan biaya produksi. Raja Dwarf ...."


"Iya, Yang Mulia?"


"Kau bilang kemampuan para Blacksmith telah berkembang, berapa rune yang bisa kalian buat?"


Raja Dwarf memegang dagunya sambil berpikir. "Enam rune dengan pola rumit, delapan rune dengan pola biasa,"


"Hmmm ...."


Ini sedikit mengejutkanku. Mereka sudah banyak berkembang sejak aku memberikan contoh senjata rune milikku.


"Kita saat ini memproduksi senjata dengan tiga rune biasa dan satu rune pola rumit, Yang Mulia," ucap Erish.


Tiga rune. Untuk standar dunia ini, itu sudah sangat tinggi. Aku sedikit khawatir jika menjual senjata rune pada mereka.


"Tambahkan rune pola rumit satu, rune biasa dua. Segera beritahu mereka tentang hal ini,"


"Baik, Yang Mulia."


Walau sekuat apa pun senjata mereka, tetap saja mereka bukan tandingan kami. Dengan menaikan kualitas, maka harga yang ditawarkan akan semakin tinggi. Rencanaku sekarang adalah membuat Kerajaan Maphas berbeda dari yang lainnya. Aku berencana membawa berbagai macam teknologi yang ada di duniaku ke dalam Kerajaan Maphas. Tentu ini akan sangat rumit, mengingat perkembangan teknologi terbilang rendah, dan akan sangat sulit untuk mencari orang yang bisa membantuku dalam hal ini.


 -------------------------------


Pertemuan telah kububarkan. Jika aku terus melanjutkannya, ada kemungkinan Raja Iblis akan melakukan tindakan nekat lainnya.


Saat ini aku bersama Abigail, Delila dan Rayna. Elina saat ini sedang bersama Putri Sharah. Elina sangat tertarik dengan sihir kuno, dan Putri Sharah tampak kagum dengan Elina yang merupakan High Elf.


Aku memerintahkan Irene dan dua lainnya untuk bersosialisasi dengan warga Desa Liche.


Sedangkan Abigail, ia terus mengikutiku. Tampaknya Abigail masih keras kepala ingin membawaku ke Sekte Hitam. Abigail terlihat sangat waspada terhadap Delila, sepertinya itu karena sihir ruang yang dilihatnya tadi. Delila benar-benar sangat kuat, aku mungkin akan kesulitan melawannya jika Delila menggunakan sihir ruang dan waktu secara bersamaan.


Kami sedang berjalan menuju permukaan.


Tak ada pintu masuk yang menghubungkan kota bawah tanah dan permukaan. Maka Gate menjadi satu-satunya cara untuk keluar masuk tempat ini. Putri Sharah memberitahuku beberapa waktu lalu bahwa Erish telah berhasil menguasai sihir teleportasi dan Gate. Dengan ini pekerjaan Putri Sharah telah berkurang.


"Hmmm ...?"


Raja Iblis menungguku di Gate.


Apa dia ingin memulai keributan lagi?


Abigail menatapnya dengan penuh amarah.


Sepertinya Raja Iblis ingin berbicara denganku secara empat mata.


"Delila, Rayna, Abigail, tinggalkan kami berdua,"


"Baik, Ibu." Kedua bersaudari menjawab secara bersamaan.


"Tapi, Yang Mulia ...?!"


"Tenanglah, Abigail,"


Mereka bertiga pergi terlebih dahulu ke pemukaan.


Kini hanya tinggal kami berdua.


Raja Iblis menundukan kepalanya. "Ratu Keres, Saya minta maaf atas prilaku Saya tadi,"


Apa kepalanya terbentur?


"Bisa kau jelaskan tentang tindakanmu tadi, Raja Iblis?"


Raja Iblis menjentikkan jarinya.


Sebuah penghalang suara muncul.


"Tindakan Saya bertujuan untuk mengetahui siapa yang akan benar-benar meninggalkan Anda. Jika pelopor utamanya Saya, Raja Iblis, pasti beberapa orang akan tertarik dan beralih menjadi sekutu Iblis,"


Dia benar-benar di luar ekspetasiku. Hal yang dia lakukan terlalu beresiko, bagaimana jika ada yang tertarik?!


"Dan juga ... ini tentang Sekte Hitam, Yang Mulia,"


"Sekte Hitam?"


"Anda masih ingat dua bawahan Saya yang berkhianat? Setelah menginterogasi mereka, nama Sekte Hitam keluar dari mulut mereka berdua. Kami masih belum mendapatkan informasi dari hasil interogasi tersebut karena keduanya mengalami gangguan jiwa,"


"Jadi, kau ingin memperingatkanku untuk berhati-hati pada Sekte Hitam?"


"Lebih tepatnya pada Malaikat itu dan rekannya yang satu lagi,"


Putri Sharah dan Putri Anna tak menunjukan pergerakan yang mencurigakan, sepertinya mereka masih bisa kupercaya.


"Baiklah, Saya permisi, Ratu."


Raja Iblis pun pergi.


Aku tidak tahu siapa yang berbohong di sini. Sejak kekuatanku hilang, beberapa orang sedikit mencurigakan.


 -------------------------------


Aku pergi ke permukaan.


"Apa Ibu baik-baik saja?"


"Sepertinya aku harus memikirkan waktu untuk pergi ke Kerajaan Mystick,"


Kedua bersaudari itu tersenyum bahagia. "Itu artinya ...?"


"Delila, ikutlah bersamaku ke Kerajaan Mystick,"


"Baik, Ibu!"


"K-kenapa Saya tidak diajak?" Raut wajah Rayna tampak sedih.


"Kau masih memiliki tugas di sini, Rayna. Tugas itu jauh lebih penting,"


Dengan wajah kecewa Rayna menuruti perkataanku. "Baik, Ibu."


Masih sangat beresiko membawa Rayna saat ini, aku takut kejadian seperti sebelumnya terulang kembali. Delila satu-satunya orang yang bisa melindungiku di sana. Ia juga bisa menggunakan sihir elemen dasar, mamun efeknya lebih kuat karena level 1000 miliknya.


Aku harus segera mengembalikan kekuatanku. Sangat tidak nyaman melihat para bawahan dengan kondisi seperti ini.


A. Guru


"Tiffany, bagaimana perkembangan kasus ini?"


"Kami masih belum memiliki banyak informasi karena mereka bunuh diri saat diinterogasi, Nyonya Kepala,"


"Begitu, ya, aku serahkan masalah ini pada kalian,"


"Baik."


*Kreek


Aku keluar dari ruangan panas itu.


Sungguh saat-saat yang mengerikan bagi siapa pun yang memasuki ruang Kepala Akademi.


Saatnya bertemu orang-orang menyebalkan.


"Nona Tiffany, apa kata Kepala Akademi?"


"Lanjutkan penyelidikan,"


Syukurlah mereka tidak ada di si--


"Wah, wah, lihat siapa ini ... seorang Guru yang gagal di turnamen Kekaisaran dan turun posisi menjadi pengajar para murid yang mengenakan tongkat, alias tingkat perunggu, fufufufu,"


Aku berjalan tanpa menghiraukan mereka.


*Clap


Salah satu dari mereka menahan pundakku.


"Apa mau kalian?"


"Kau berani mengabaikan kami para Guru tingkat Emas?!"


"Aku tidak peduli, nyatanya kalian tetaplah orang lemah yang akan mati jika dibawa ke medan perang,"


"K-kau! Akan kuingat penghinaan ini!"


Waktunya jam mengajarku.


 -------------------------------


"Selamat pagi, murid-muridku,"


Wajah mereka lagi-lagi suram. Sepertinya murid-murid itu merundung mereka lagi.


"Beberapa hari lagi kita akan membuka pendaftaran murid baru, aku harap kalian bisa menjadi senior yang baik, ya!"


Waktunya untuk melindungi murid-muridku.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!


Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :


https://saweria.co/hzran22


Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.