The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Eline Miore



ADA INFO DI AKHIR!


Chapter 60 : Eline Miore


"Ah, aku tidak sabar menunggu siapa yang akan menang di pertandingan selanjutnya." Ekspresi Chandra seketika kembali seperti semula.


Dia benar-benar sulit ditebak. Apa dia menyadari bahwa aku bukan utusan yang dikirim oleh Gereja Suci?


Chandra mengangkat tangan kanannya sebahu dan berkata, "Semoga beruntung." Sambil berjalan menuju pintu keluar.


Sepertinya masih aman.


Aku hendak kembali ke balkon peserta, namun aku mengurungkan niatku karena merasakan aura membunuh yang sangat kuat.


Dia sudah di sini.


Nona Eline sudah berada di arena dengan aura membunuh yang ditunjukkan padaku.


Dia sangat marah karena aku menggunakan teknik assassin di pertarungan sebelumnya. Terlebih lagi dia pasti sangat familiar dengan teknik yang digunakan Master Glenn, secara teknis teknik itu menurun padaku. Dia ingin menghabisiku sebagai gantinya karena tak bisa menyentuh Master Glenn.


[Zain, berhati-hatilah.] Master Glenn menghubungiku melalui telepati.


[Baik.]


Aku sudah mendapat izin untuk menggunakan seluruh teknik assassin yang kupelajari dari Master Glenn, tapi pertama-tama ....


Patient Skill aktif.


Aku menarik pedangku.


Akan kuberi dia perlawanan dengan teknik swordmanship milikku.


Nona Eline menarik pedang dari pinggangnya. Hal itu juga mengejutkanku.


Untuk sesaat aku lupa tentang status Nona Eline yang sebenarnya. Benar, dia seorang double job, Swordmaster/Assassin. Dia berpikiran sama denganku. Skill berpedangnya belum kuketahui, aku harus mewaspadainya.


"Kedua peserta sudah tidak sabar untuk memulai pertarungan! Tapi, kami harus menahannya terlebih dahulu untuk memperbaiki kondisi arena," ucap pembawa acara.


Kondisi arena sudah tidak rata lagi, sangat tidak menguntungkan bagiku.


Mereka hanya memperbaiki struktur tanah arena menjadi seperti semula menggunakan sihir bumi, tidak dengan lantainya. Aku lebih suka seperti ini, tanahnya tidak lembab ataupun terlalu kering.


Sudah selesai.


"Pertarungan ...."


Aku bersiap-siap dalam posisi bertarung.


"Dimulai!"


*Wush!


Nona Eline melesat ke arahku dengan bayangan di sekitarnya.


Dia masih menggunakan skill assassin?!


Nona Eline menghunuskan pedangnya ke arah perutku, namun aku menghindarinya ke sisi kanan.


Aku masih bisa melihat gerakannya berkat Patience Skill. Tapi sepertinya situasi akan semakin merepotkan.


Nona Eline terlihat melambat dalam posisi masih menusukkan pedang ke arahku.


Apa ini? Dia melambat? Ini kesempatan! Tidak, aku bingung ingin menyerangnya atau melumpuhkannya.


"Eh?"


*Bugh!


Nona Eline menendang dadaku dengan kaki kanannya tepat saat aku sedang memikirkan cara untuk menyerangnya.


Aku terhempas cukup kuat karena tendangannya, itu mengakibatkan tulang rusukku bermasalah, kemungkinan retak.


Karena hal itu aku menyadari bahwa kekuatan akselerasi waktu ini memiliki batas waktu. Terlebih lagi ini terlalu banyak mengosumsi banyak Mana. Aku tidak akan menggunakannya lagi kalau tidak dalam kondisi mendesak.


Nona Eline mengeluarkan aura pedang berwarna biru muda. Terlihat jernih, seperti air di pesisir pantai, tapi cukup untuk memotong seekor orc dalam sekali tebas.


Aku juga mengaktifkan pedang aura milikku.


Berbeda denganku, warna biru milikku lebih terang daripada miliknya. Terlebih lagi aku belum bisa menggunakan kekuatan Rac sepenuhnya.


"Aku punya satu pertanyaan sebelum benar-benar membuatmu tidak bisa berbicara lagi," ucap Nona Eline.


"Katakanlah."


"Kau ...."


Aku melihat gerak mulutnya yang tersiratkan sebuah kata. Hal itu langsung membuatku terkejut.


"B-bagaimana mungkin ...?"


"Ke mana kau melihat?" Terdengar suara Nona Eline tepat di belakangku.


Dia masih berada di seberangku, tapi suaranya terdengar dari belakangku.


Aku menoleh ke belakang dan mendapati sebuah bayangan berbentuk manusia yang berdiri tepat di belakangku. Bayangan itu menghunuskan pedang bayangannya ke leherku.


Dia menggunakan skill Shadow Dance untuk memunculkan bayangan hitam ini. Aku tak boleh gegabah, sangat sedikit ruang di sini. Terutama bayangan hitam yang berputar mengelilingiku dari bawah.


Hanya ada satu cara.


"Light Slash : Burst!"


Ini adalah Light Slash hasil eksperimenku sendiri. Dengan sekali tebasan pedang, aku mempu menghasilkan enam tebasan. Tapi tebasan yang dihasilkan jauh lebih besar, seperti tebasan dari pedang besar.


Aku melakukan dua belas tebasan cahaya ke seluruh bayangan hitam di sekitarku, dan itu berhasil melenyapkan mereka.


Sangat disayangkan, karena aku menggunakan skill ini terlalu cepat. Kabar baiknya adalah aku tidak benar-benar menggunakan ini sepenuhnya. Dia mungkin akan beranggapan aku menggunakan versi biasa.


"Tunjukkan padaku, sudah sejauh mana kau berkembang sekarang ... Zain Aither." Nona Eline menarik dagger-nya dan kini menggunakan dua senjata.


Dia benar-benar tahu identitasku. Dia pasti tahu karena pedang Rac ini. Bahkan sudah kusamarkan warnanya, tapi dia tetap bisa mengetahuinya.


"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus kusembunyikan." Aku menundukkan kepalaku. "Maaf sudah berbohong padamu."


"Aku cukup terkejut melihat fakta bahwa kau masih hidup. Mereka bilang bahwa kau sudah mati dan memanggil orang lain."


Pahlawan baru ... ya?


"Aku tidak peduli tentang keberadaanmu sekarang. Tujuanku sekarang adalah keluar dari penjara ini," lanjut Nona Eline.


Benar, dia bukan bagian dari Gereja Suci. Tidak ada keuntungan untuknya jika memberitahu keberadaanku pada mereka. Jika dia benar-benar berpikit demikian, sudah pasti dia mengetahui betapa buruknya Gereja Suci. Mereka tak akan memberinya sesuatu yang bagus sebagai imbalan.


"Sebelum itu, aku ingin bertanya padamu, Nona Eline."


"Tanyakanlah."


"Apa tujuanmu datang ke sini?"


"Sudah jelas, 'kan? Aku mengincar orang yang mengajari teknik assassin padamu itu."


"Kenapa kau masih terus menyimpan dendam padanya? Apa kau ingin terus terjebak dalam masa lalumu itu?!" Aku mengulurkan tangan padanya. "Kau sudah berada di sini, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan."


*Bum!


Aura membunuh dari Nona Elina semakin besar dan terus membesar tanpa henti.


Niat membunuh yang sangat mengerikan. Seberapa banyak dendam yang dia pendam selama ini?


"Kau benar-benar menyebalkan, ya. Sangat mudah bagimu untuk berbicara seperti itu." Tatapan Nona Eline sangat tajam disertai niat membunuh yang ditujukan padaku. "Akan kutunjukkan padamu sebarapa banyak kebencian yang kumiliki saat ini."


Tanah bergetar.


Apa ini?


Ribuan bayangan mirip tentakel keluar dari dalam tanah, seketika arena dipenuhi warna hitam.


Aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Hanya ada bayangan hitam yang menjulang tinggi di seluruh sisiku.


Skill apa ini sebenarnya? Tentakel ini bisa menyerangku kapan saja.


"Jika aku membunuhmu, dia pasti akan merasakan apa yang sudah kurasakan selama ini."


*Swing!


Aku menghindari tebasan pedang yang muncul di hadapanku.


Walau sebentar, aku bisa merasakan sesaat sebelum serangan itu datang. Sekarang ... belakangku!


Aku menunduk dan langsung berputar ke belakang sembari menebaskan pedangku.


Tak ada sesuatu yang mengenai tebasanku, dia menghilang. Apa ini ilusi?


"Huh?"


Celaka!


*Crack!


Aku terkana tebasan pedang lainnya yang mengarah ke lengan kiriku. Aku masih sempat menghindarinya, namun tebasan itu sudah menggores lengan kiriku cukup dalam.


Sial! Ini skill ini sangat merepotkan!


Bersambung ....


Gaes, ada judul baru, nih! Judulnya Demigod System, tapi masih prolog. Kalau tertarik bisa langsung baca, cek profilku, ya!