
Pelindung yang menyelimuti Kerajaan Mystick selama ratusan tahun lenyap. Ini karena Kepala Akademi yang tak sadarkan diri. Semua sihir yang ia tanamkan pasti sudah hilang.
"Huh?"
Muncul pelindung sihir baru yang hampir menutupi seluruh Akademi Sihir. Ternyata seluruh Guru menyatukan kekuatan mereka untuk membuat penghalang sihir.
Sama seperti beberapa waktu yang lalu, mereka menggiring para murid masuk ke arena bawah tanah. Namun, walau puluhan Guru sudah menyatukan kekuatan, penghalang yang dihasilkan benar-benar lemah.
Tunggu ....
"Delila, di mana para Guru Elit berada?"
Delila memeriksa setiap portal. "Mereka masih bersiaga di depan ruang kantor."
Ini aneh. Kenapa tidak memanggil pasukan dari istana? Kepala Akademi itu Ratu, 'kan? Setidaknya penyihir menara ikut membantu. Benar-benar aneh.
"Delila, segera periksa Istana Kerajaan Mystick, sekarang!"
Hela Naura Legarde, apa yang ada di kepalamu itu?!
Pemberontak mulai menyerang penduduk sipil. Darah berceceran di mana-mana, dan beberapa dari mereka menculik para gadis.
Beberapa saat lagi sebelum mereka menembus penghalang akademi.
Dari yang kulihat melalui portal ini, kelompok mereka didominasi oleh petarung, hanya ada beberapa puluh penyihir yang terlihat.
"Hmmmm ...."
"Ada apa, Delila?"
"Para pemberontak itu tidak hanya masuk melalui gerbang depan, namun dari seluruh penjuru kota."
Aneh. Setelah Kepala Akademi tak sadarkan diri, penghalang tidak menghilang begitu saja. Hanya kami yang mengetahui bahwa dia tak sadarkan diri. Di sisi lain, para pemberontak telah mengepung Ibukota Kerajaan Mystick dari segala arah, seperti sudah dipersiapkan sebelumnya. Jika benar, mungkin ada mata-mata di Akademi Sihir.
"Tapi, Ibu, pasukan pemberontak ini berbeda dengan mereka yang ada di barisan depan,"
"Apa maksudmu?"
"Dari tingkat kekuatan, pemberontak yang menyerang area istana jauh lebih kuat."
Kami belum pernah mendengar tentang kelompok ini sebelumnya. Atau ... apa mungkin merekalah pemimpin para kroco di depan?
"Haha ...." Aku tanpa sadar tertawa.
Ini mirip dengan trik yang pernah kugunakan pada saat menyerang Kerajaan Rexist dulu. Hanya saja, mereka memiliki banyak pion untuk dikorbankan, sampai tiba saat mereka yang sesungguhnya muncul ke permukaan.
"Ini jadi semakin menarik,"
"I-ibu ... apa Anda baik-baik saja?"
"Delila, apa kau bisa menangkap salah satu dari mereka?"
"Apa yang ingin Anda lakukan dengan makhluk rendahan itu, Ibu?"
"Aku penasaran dari mana mereka berasal,"
"Baik, Ibu."
Sekarang, aku ingin melihat beberapa pertarungan.
Huh?
Beberapa murid menyebar. Dan aku mengenal beberapa dari mereka. Mereka menuju ke sisi barat, utara, dan tenggara.
Di sisi barat, terlihat Livia yang kelihatannya terjebak dan ikut terbawa oleh beberapa murid lainnya. Dia bersama laki-laki dari tingkat Diamond. Kalau tidak salah, dia kakaknya, Theo Hart.
Ah, ini kesempatan bagus untuk melihat perkembangan Livia. Yah, dia masih belum menyadari bahwa kekuatannya sudah kembali.
Mereka berdua terpisah dari rombongan.
Livia terlihat seperti terus mengejar anak laki-laki itu. Ini mungkin masalah keluarga, karena mereka sama-sama dari Keluarga Hart.
"Delila, aku tidak bisa mendengar suara mereka,"
"M-maafkan Saya, Ibu!"
Ah, aku hanya mengeluh! Ini karena cuaca yang sangat mendung. Gemuruh membuat suara mereka tidak terdengar.
Delila terus mendekatkan portal di sekitar mereka untuk mendapatkan suara yang jelas.
"Kakak! Kau mau pergi ke mana?!"
"Jangan ikuti aku! Ini bahaya!"
"Tidak mau!"
Huaah ... benar-benar masalah keluarga, ya.
Mereka melanjutkan aksi kejar-kejaran itu. Melewati lorong kecil kota untuk menghindari serangan dari para pemberontak.
Ini menakjubkan, kemampuan laki-laki itu dalam menghindar dari para pemberontak sangat luar biasa. Dia berhasil menjauh dari Akademi Sihir yang telah dikepung oleh para pemberontak. Apa dia juga belajar tentang Assasin?
Mereka semakin menjauh dari pusat kota, menuju ke pinggiran kota yang didominasi lahan pertanian.
Tunggu ... ada sesuatu di sana.
"Delila, tambah satu CCTV di tempat itu,"
"CCTV?"
Ah, apa yang kupikirkan?! Sensasi menonton ini benar-benar mengingatkanku dengan CCTV.
"M-maksudku portal dimensi,"
"Wah, Anda menyebutnya sebagai CCTV? Itu benar-benar nama yang keren, Ibu!"
Huwaaah ... apa yang sudah kulakukan pada anak polos ini!
Satu portal tembus pandang sedang menuju ke ladang gandum.
Ada beberapa orang yang sedang berkumpul. Itu menjadi tempat persembunyian yang bagus, tumbuhan gandum sangat lebat sehingga menutupi mereka. Hanya saja, mereka melupakan pengintai dari udara.
"Huh?"
Penampilan mereka berbeda dari para pemberontak.
"Mereka komplotan yang sama dengan yang ada di istana, kelompok ini jauh lebih lemah dari mereka," ucap Delila.
Jadi begitu.
Seperti tidak asing.
Kedua kakak-beradik telah berada di sekitar ladang gandum itu.
Livia bersiap dengan tongkatnya, mengikuti sang kakak yang berada di depan.
Ada hal yang mengangguku. Bagaimana dia bisa mengetahui ada musuh di sana? Apa para Dewan Murid telah menyelidiki mereka?
Aku belum tahu sekuat apa Theo, jika dia tingkat Diamond, seharusnya komplotan itu bukan hal sulit baginya.
"Kakak, apa yang kita lakukan di sini?"
"Diamlah. Tetap di belakangku."
Para komplotan tidak menyadari bahwa kedua kakak-beradik itu sedang mendekati mereka melalui celah-celah.
Jumlah mereka ada lima. Ini sedikit membingungkan, para bajingan itu hanya diam berkumpul di satu titik seperti sedang mengelilingi sesuatu.
Aku tidak bisa melihat wajah mereka. Ngomong-ngomong, apa Theo ingin menghabisi mereka dalam sekali serang? Melihat dia mencoba mendekati mereka, semua akan masuk akal. Karena semakin dekat jarak dengan target, maka akan semakin besar damage yang akan diterima, itu menurut Magic Infinity.
Tangan kanan Theo mengeluarkan percikan listrik. Air hujan perlahan turun disertai gemuruh.
"Electric Strike!" Theo merapalkan sihirnya.
Gemuruh seketika menyambar tubuh Theo.
Livia melindungi dirinya dengan pelindung sihir. Namun, tubuhnya tetap terhempas akibat dorongan petir dari Theo.
Apa yang dia lakukan?! Bukannya memanfaatkan petir itu, justru dia menggunakan tubuhnya sebagai wadah!
Mengetahui ada orang yang tersambar petir di dekat mereka, kelima komplotan itu langsung bersiap pada posisi mereka.
Tidak ada dari mereka yang terlihat seperti penyihir. Ah, tidak, ada satu orang. Aku melihat seragam Akademi Sihir dari jubahnya yang tertiup angin. Namun, ada yang aneh. Gerakan, pose, bahkan persiapan yang ia tunjukkan tak terlihat seperti penyihir. Dan tangan kirinya terlihat membengkak, itu karena jubah bagian kirinya menonjol.
Theo langsung berlari melewati sela-sela pohon gandum dengan arus listrik yang menyelimuti tubuhnya.
Arus listrik terlihat berdiri tegak, hal itu membuat para komplotan mengetahui posisi Theo.
Apa yang akan dia lakukan dengan listrik sebanyak itu?
"Itu dia! Serang bajingan itu!" Empat orang komplotan menyerang Theo secara bersamaan dengan pedang dan kapak.
"Electric Strike!" Theo kembali merapal sihirnya.
Kilatan listrik merambat keluar dari tubuhnya, menuju ke para komplotan itu.
"Buat pertahanan!"
Keempat komplotan itu menggunakan sebuah item yang bisa membuat pelindung sihir. Kilatan itu berhasil dihalau.
Theo tersenyum.
Aku paham sekarang.
"Hueaaaakk!"
Arus listrik merambat melalui genangan air di kaki mereka.
Dia memanfaatkan hujan ini. Tapi aku masih tidak paham kenapa dia menjadikan tubuhnya sebagai kondu-- huh?
"Jadi begitu, ya ...."
Sial, aku tak terpikirkan hal ini, haha.
"Ibu?"
"Jangan hiraukan aku, Delila."
Mendapatkan energi langsung dari alam, dia tak perlu menghabiskan banyak Mana. Hanya saja, cara itu sangat beresiko, dia bisa saja mati. Tapi, itu pengecualian jika Theo menjadi spesialis sihir elemen tertentu. Dalam kasus ini, dia spesialis sihir listrik. Akan ada perbedaan besar antara penyihir yang menguasai semua elemen dengan penyihir spesialis.
Para komplotan itu langsung tidak berdaya.
Dilihat dari efek serangan yang mereka terima, kemungkinan itu sihir tingkat 5.
"Di mana yang satu lagi?" tanya Theo pada salah satu komplotan yang masih sadar.
"A-aku tidak tahu!"
Theo mengarahkan jari telunjuknya ke kening orang itu. "Lightning."
"Aaaaaghh!" Listrik langsung menyetrum tubuh orang itu.
Bajingan kecil ini benar-benar brutal. Apa seperti itu cara Keluarga Hart mendidik keturunan mereka? Lupakan itu, aku kehilangan jejak Livia!
"De--" Aku berencana ingin memanggil Delila. Namun ia terlihat fokus melihat portal di area istana. Matanya sangat tajam, seperti melihat sesuatu yang menarik di dalam portal itu.
Aku kembali melihat pertarungan di ladang gandum.
Theo telah meninggalkan mayat para komplotan.
"Kakak!" Terdengar suara teriakkan Livia dari kejauhan.
Portal dimensi langsung menuju ke sumber suara itu.
Terlihat Livia sedang didekap oleh seseorang. Ia murid dari Akademi Sihir yang memiliki tangan aneh sebelumnya.
"K-kakak ...."
"Haha ... ternyata kau dari Keluarga Hart, ya? Tapi kenapa kau sangat lemah?!"
Theo tiba di tempat Livia yang disekap.
"Hoho, akhirnya pahlawan tiba. Jangan bergerak, atau nyawa adikmu akan melayang."
Sial, aku tidak bisa berbuat banyak!
"Jangan bergerak, Livia." Theo mengangkat tangannya ke depan.
"K-kakak ...?"
"Lightning."
Apa yang bajingan ini lakukan?!
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!