
Ketiga bakal calon kepala keluarga itu menuntun jalan. Melewati lorong panjang dengan penerangan minim, tak ada jendela sama sekali karena lorong berada di bagian tengah.
Rose terus bersiap siaga dengan segala kemungkinan yang terjadi. Perhatiannya tertuju pada Danny Hart. Rose tahu betul dengan orang-orang yang memiliki senyuman palsu, dan orang ini adalah salah satunya. Verena dan Maximus masih menunjukkan rasa hormat mereka pada Alissa.
Setelah berjalan beberapa saat, terlihat sebuah pintu besar di ujung lorong.
Itu pasti tempatnya, Duke Karman Hart ada di sana.
Rose merasakan aura kuat yang membuatnya merinding. Aura yang tak mungkin dimiliki manusia biasa, lebih tepatnya aura dari monster buas.
Sebelum itu, semakin mendekati pintu, ada beberapa lukisan tokoh-tokoh yang tergantung di dinding. Sebuah lukisan yang terlihat nyata, karena tak terlihat seperti lukisan. Detail kulit, serta bagian tubuh lainnya sangat jelas.
Apa ini dibuat dari sihir? Aku pernah mendengar sihir yang bisa melihat ingatan seseorang. Tapi aku masih bingung dengan cara yang mereka gunakan untuk mengaplikasikannya seperti ini.
"Mereka adalah kepala keluarga sebelumnya, dan beberapa orang berpengaruh di Keluarga Hart." Verena menjelaskan karena melihat Rose yang sedari tadi memperhatikan lukisan.
Pria dan wanita, warna mata dan warna rambut yang sama. Jika keluarga ini sudah terbentuk sebelum Kekaisaran, seharusnya ada perubahan besar pada keturunan mereka. Namun, wajah Nona Verena benar-benar mirip seperti para wanita di lukisan. Namun, para pria memiliki wajah yang berbeda-beda.
Rose masih belum mengerti dengan kondisi sebenarnya. Ia memilih untuk tidak memikirkannya terlalu dalam yang bisa mengganggu tugasnya saat ini.
Akhirnya mereka sampai di ujung lorong. Maximus mendorong pintu besar itu dengan kedua tangannya. Jika diperhatikan lagi, pintu itu terlihat terbuat dari logam, namun warna dan desainnya seperti pintu kayu.
Sebuah ruangan yang cukup luas dan mewah. Desainnya berbanding terbalik dengan yang ada di bagian lain rumah ini. Di tengah ruangan itu terlihat ada meja panjang rertutup kain putih dan warna kuning di bagian pinggirannya.
Ini ruang tamu? Atau mungkin ruang makan?
Karena cukup luas, ruangan ini terlihat seperti ruangan serba guna.
"Silahkan masuk, Nona Alissa." Danny menuntun jalan ke tempak duduk di ujung meja.
Meja itu cukup panjang, sekitar enam meter di tengah ruangan. Dengan masing-masing satu kursi di setiap ujungnya. Dan juga, di meja itu sudah tersaji makanan yang terlihat mewah, dengan minuman menggunakan cawan emas.
Begitu mereka memasuki ruangan, atmosfer di ruangan itu berubah. Rose merasakan tekanan yang sangat kuat, jauh dari ketiga Hart di belakangnya.
Semua orang berhenti melangkah.
Perlahan Rose melihat ke arah sisi kanannya, seketika keringat perlahan bercucuran dari keningnya.
Seorang pria sudah berada di bagian ujung ruangan sembari menatap sebuah lukisan berukuran besar yang tergantung di dinding. Lukisan seorang wanita yang memiliki karakteristik seperti wanita Hart pada umumnya. Tapi, terlihat bahwa posisi orang di lukisan itu lebih tinggi dari yang lainnya. Mengingat mereka meletakkannya di tempat khusus.
Di sisi lain, wajah pria itu tak terlihat karena ia membelakangi semua orang. Namun, Rose mengambil kesimpulan bahwa dia adalah ....
Karman Hart.
Orang terkuat di Kekaisaran. Informasi kekuatannya hanya menyebutkan bahwa orang ini pengguna pedang aura yang sudah mencapai tahap swordmaster, bahkan lebih tinggi. Ini pertama kali Rose melihatnya, namun ia menemui hal ganjal.
Pria itu berbalik ke arah mereka, terlihat jelas wajahnya saat ini. Mata merah, rambut pendek dengan warna kuning yang mulai memudar, dengan sedikit kerutan di wajahnya.
"Selamat datang di kediamanku, Nona Alissa," ucap pria itu dengan suara yang sedikit berat. "Ini pertemuan pertama kita, bukan? Namaku adalah Karman Hart."
"Suatu kehormatan bagi Saya bisa melihat sosok Duke Karman Hart yang terkenal di seluruh benua. Saya Alissa Hart, Perdana Menteri Kerajaan Penyihir Maphas." Alissa menundukkan sedikit kepalanya.
"Tak perlu bicara formal padaku. Aku merasa malu jika orang kuat melakukan hal itu," ujar Karman dengan senyum menyeringai.
Ketiga anaknya terkejut, namun masih menjaga ekspresinya.
"Baiklah, jika itu keinginanmu, aku tak keberatan."
"Khuahahaha! Baiklah, mari kita ke acara utamanya." Karman sudah berada di kursinya.
Alissa berjalan menuju kursi di sisi lainnya, dan duduk tak lama kemudian. Rose berdiri di sisinya, begitu juga dengan tiga anak Karman, karena tak ada kursi yang disediakan di sekitar meja.
"Sebenarnya, aku ingin berkunjung ke Kerajaan Penyihir Maphas. Tapi, karena ada kesempatan seperti ini, aku pikir menyambutmu adalah yang terbaik."
"Sangat disayangkan, aku pasti akan melakukan penyambutan spesial untukmu, Tuan Karman," balas Alissa sembari melihat makanan di mejanya.
Sepiring daging dengan warna kematangan yang sesuai. Aromanya tercium hingga membuat siapa pun tergoda dan penasaran akan rasanya, tak terkecuali Rose.
"Izinkan Saya." Rose meraih pisau dan garpu untuk memotong daging di meja. Sekaligus menganalisanya.
"Huh?" Rose terkejut dengan daging yang sangat lembut. Ini kedua kalinya ia menemukan daging dengan kualitas terbaik selain di Kerajaan Penyihir Maphas.
Alissa mulai menusuk sepotong daging yang sudah Rose potong, ia memasukan daging itu ke dalam mulutnya, dan ....
Ekspresi wanita itu berubah, ia terlihat menikmati daging itu dan mengunyahnya perlahan-lahan.
Ketiga anak Karman tersenyum remeh melihat Alissa Hart yang menikmati makanannya.
Tentu saja, kualitas pertanian serta peternakan wilayah Hart adalah yang terbaik. Semua ini tak akan kau temui di kerajaanmu.
Danny sangat menjunjung tinggi keunggulan Keluarga Hart dari segala aspek. Seperti yang tertulis, orang-orang di Keluarga Hart memiliki banyak kemampuan dan bertalenta, hal seperti ini bukanlah halangan bagi jenius seperti mereka.
Beberapa waktu berselang, keduanya telah menghabiskan makanan mereka. Di sisi lain, Karman sedikit terkejut dengan selera makan Alissa.
Ini pertama kalinya aku melihat wanita menghabiskan makanan itu, etika makannya tak ada yang salah, dia menghabiskannya tanpa menghiraukan orang lain. Satu hal yang membuatku penasaran.
Karman sedari tadi terus mencoba melihat energi sihir dari Alissa, tapi kemampuannya tak bisa ditembus. Pria itu sama sekali tak bisa merasakan apa pun dari wanita itu.
Ini semakin menarik.
Setelah menghabiskan makanannya, ekspresi Alissa kembali seperti semula, ekspresi datar, ekspresi yang sulit ditebak.
"Tuan Karman, aku ingin langsung ke intinya, apa tujuanmu yang sebenarnya?" tanya Alissa.
Ketiga anak Karman langsung mengarahkan intimidasi mereka pada Alissa, bahkan Rose tak luput dari sasaran. Pada akhirnya hanya Rose yang berusaha keras melawan aura kuat dari ketiganya.
"Khuahahaha! Kau sama sepertiku! Baiklah, aku terus terang ingin mengajakmu bergabung dengan faksi kami," jawab Karman dengan santainya.
Jawaban itu membuat kedua wanita itu terkejut.
Akhirnya dia menunjukkan niatnya.
Dugaan Rose soal keberadaan oposisi yang mengancam Kekaisaran ternyata benar.
"Boleh kutahu apa alasannya?"
"Seperti yang kau lihat, kami memiliki sumber daya melimpah dibanding Kekaisaran yang sama sekali tak bisa mengolah sumber daya mereka dengan baik."
"Itu memang benar."
Rose seketika terkejut mendengar jawaban Alissa, tangannya spontan ingin menyentuh pundak wanita itu, namun terhenti karena Alissa melanjutkan perkataannya.
"Aku lebih tertarik pada pemimpin yang bisa bangkit dengan kemampuannya sendiri. Dalam artian, ia tak menggunakan cara kotor yang mencolok untuk meraih tujuannya, walau untuk negerinya sekali pun."
Karman Hart menyipitkan matanya. "Maksudmu, kami melakukan cara kotor untuk kesuksesan yang telah kami raih?"
Alissa hanya diam tak menanggapi.
"Memang benar, pasti harus ada tindakan kotor untuk mencapai tujuan yang ingin diraih, aku tak bisa membantahnya. Melihat Kaisar muda yang masih polos itu berlagak menjadi Kaisar sempurna di mata rakyatnya, sampai pada kenyataan pahit yang akan dia terima di masa depan," lanjut Karman.
"Itulah bagian menariknya. Karena kepolosannya, mereka akan bergantung pada kami. Namun, kami tak sepenuhnya membantunya. Seperti yang kau bilang, aku lebih suka melihat proses dari sebuah bunga sampai memekarkan kelopak yang indah. Impiannya bukan omong kosong."
Rose tersenyum haru mendengar ucapan Alissa. Sebuah pernyataan yang melebihi ekspetasinya.
Karman menghela napas. "Kau sangat sulit dibujuk. Sembari menjernihkan pikiran, apa kau mau menyaksikan pertunjukan di arena yang kami miliki?"
"Arena?"
Rose teringat sesuatu.
Keluarga Hart punya cara unik dalam merekrut prajurit mereka. Yaitu dengan mengadakan pertandingan yang dibuka sebulan sekali. Sebuah kontes pertarungan yang mempertemukan para pejuang dari segala jenis kemampuan. Nantinya mereka akan menyaring orang-orang berpotensi dan menjadikannya prajurit resmi Hart.
Alissa mengangguk setuju.
"Bagus, mungkin kita bisa mendiskusikannya dengan santai kali ini."
Lagi-lagi, firasat buruk Rose kembali muncul.
Bersambung ....