The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Berharap Perdamaian



Edward tak merasakan apa pun, matanya masih dalam posisi terpejam.


"Huh, masih sempat." Terdengar suara seseorang yang tampak kelelahan.


Apa yang terjadi?


Edward membuka matanya secara perlahan. Terlihat samar, energi sihir melindungi dirinya, pria bertopeng tertahan oleh energi sihir itu.


"Giliranmu, A Four!" teriak A Three yang bersiap menggunakan serangan lainnya.


A Four melompat menuju ke arah pria bertopeng dengan cakar besi di kedua tangannya.


*Ting!


Serangan berhasil diarahkan pada pria bertopeng, namun pria itu menangkisnya dengan mudah, terlebih lagi ia hanya menggunakan tangan kosong.


Sesuai dugaan.


A Four mengayunkan kaki kanannya ke atas, sebuah serangan yang tertuju pada dada pria itu.


*Bush!


Pria bertopeng itu menghempaskan A Four hanya dengan auranya yang menghasilkan hembusan angin kencang.


Edward tersadar dan langsung meraih bowgun yang berada di meja kerja.


Di saat yang sama, A Three berlari sembari melempar delapan belati secara bersamaan mengarah ke pria bertopeng. Delapan belati itu dialiri aura yang tajam.


Pria bertopeng dengan mudah menghindarinya, namun belati kembali mengarah padanya mengincar bagian belakang tubuhnya.


*Crack!


Belati berhasil menancap di bagian belakng tubuhnya, namun ada yang aneh. Dalam sekejap, pria bertopeng itu menghilang. A Three berlari lurus tanpa tujuan dan berhenti tepat di hadapan Edward.


"Ke mana dia?" tanya A Three yang kebingungan. Belati yang menancap di tubuh pria itu juga ikut menghilang, bahkan ia tak bisa merasakan Mana yang ada di belati itu.


A Four bangkit dan segera bergegas menuju ke tempat mereka berdua.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Edward yang sedang berusaha bangkit berdiri.


"Tentu saja, kami ingin menyelamatkanmu!" jawab A Three lantang.


Edward terdiam sejenak, ia seakan tak percaya dengan tindakan kedua orang ini.


"Bukankah kalian membenciku?" tanya Edward lagi.


"Benar, kami sangat membencimu. Kau terlalu beruntung bisa menjadi orang yang dicintai olehnya, tapi ...." A Three berhenti melanjutkan perkataannya.


Suasana menjadi hening, kedua orang itu masih memasang ekspresi kesal.


"Walau begitu, kami tak ingin membuat Nona Saraya semakin hancur dengan kematianmu di sini," potong A Four.


"Kalian ...." Edward tampak terharu, mendengar perkataan yang mungkin mustahil terucap dari mulut mereka.


"Diamlah, setidaknya kau tidak mati." A Three masih memasang raut wajah kesal.


"B-baiklah. Tapi, apa Nona Saraya mengetahui hal ini?"


"Tidak, kami bergegas kembali ketika belati yang kutanam di tempat ini mendeteksi sesuatu. Ketika kami kembali ke sini, ternyata sesuai dugaan, assassin yang melindungimu sudah mati." jawab A Three.


A Three bisa menggunakan belatinya sebagai pendeteksi jika ada individu tak dikenal masuk ke suatu wilayah. Mana di belati akan menghilang dan memberikan kode sinyal untuk A Three.


"Siapa pria bertopeng itu?"


"Aku tak tahu, tapi dia mungkin orang di balik penyebaran caoy."


A Three tampak kesal sekaligus penasaran.


Belatiku sudah dialiri Mana, seharusnya aku bisa mendeteksinya, dan juga dia pasti terluka. Bahkan Nona Saraya saja kesulitan bergerak karena belatiku yang tertancap di tubuhnya.


"Kita harus mencarinya," ucap A Three.


"Tidak, prioritas kita sekarang adalah menyelamatkan para pelayan yang bersembunyi di ruang bawah tanah," potong Edward.


A Three terlihat kesal, tapi ia tak bisa membantah karena perkataan Edward memang benar. Keselamatan para pelayan lebih diutamakan.


"Baiklah, aku akan bersiaga jika ada serangan." A Four bersiap dengan cakar bersinya.


Mereka bertiga berjalan menuju ruang bawah tanah. Edward masih dalam kondisi sempoyongan dengan dibantu oleh A Three untuk berjalan.


Mayat prajurit tergeletak di sepanjang jalan, sangat gelap, suara petir yang menggelegar membuat suasana semakin mencekam.


Pria bertopeng itu membunuh mereka semua tanpa ampun, senyap, dan tak terdeteksi sama sekali. Keraguan muncul di benak Edward.


Petir kembali menggelegar, cahaya kilat menunjukkan sesuatu di lorong. Bayangan seseorang yang berdiri tepat di depan ketiga orang itu.


Mereka bertiga berhenti seketika. Lebih tepatnya langkah kaki mereka terasa berat, aura intimidasi yang dipancarkan membuat mereka tak mampu untuk bergerak.


Aku tidak bisa bergerak? Jika bukan karena kilatan petir, kami tak akan menyadari kehadirannya.


A Three berusaha melawan tekanan yang menahan tubuhnya.


Petir sekali lagi menggelegar, kilatan cahaya memperlihatkan sosok yang berdiri di hadapan mereka.


"Kau ...?"


Orang itu adalah pria bertopeng. Namun, sosoknya terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Larilah, dan selamatkan para pelayan. Aku akan menahannya," bisik A Four.


"Omong kosong apa yang kau katakan?! Kita akan mengalahkannya bersa--"


Pria bertopeng itu sudah berada tepat di depan A Four dalam posisi siap memukulnya.


Dengan reflek luar biasa, Edward langsung menembak dengan bowgun miliknya. A Three bahkan tak sempat melakukan persiapan karena kecepatan reflek Edward.


Pria bertopeng memiringkan kepalanya lebih cepat dari reflek tembakkan Edward.


*Bugh!


A Four terkena pukulannya hingga tangan pria bertopeng menembus perutnya.


"A Four!" A Three menusuk ke arah dada pria bertopeng dengan sisa belati miliknya.


*Crack!


Tak ada yang menduga, kedua tangan A Three terpotong dalam sekejap. Pria bertopeng bahkan tak bergerak sedikit pun.


"Huwaaaaa!" A Three berteriak keras karena syok melihat kedua tangannya yang terpotong.


Kedua orang itu jatuh sembari menahan rasa sakit, terutama A Three yang terus mengerang kesakitan. Sedangkan A Four hanya mencoba menutup lubang di perutnya sembari menahan sakit yang luar biasa karena kehilangan banyak darah.


Pria bertopeng berjalan menghampiri Edward, di saat yang sama Edward terus menembak ke arahnya, namun semua sia-sia, pria bertopeng seolah tahu ke mana Edward akan membidik.


Apa-apaan dia?! Apa dia bisa melihat masa depan?


"Apa yang kau inginkan?!" tanya Edward dengan penuh amarah.


Pria bertopeng menghentihkan langkahnya, ia mengangkat kepalanya memandangi langit-langit ruangan.


"Keinginan, ya? Hmmm ... tujuanku sangat mulia, sehingga kalian tak pantas untuk mendengarnya. Tapi, jawab pertanyaanku ini, maka aku akan menjawab sedikit rasa penasaranmu," jawab pria bertopeng dengan suara beratnya.


Edward sempat berpikir ingin menembaknya segera, tapi ia mengurungkan niatnya. Kekuatan musuhnya saat ini belum terukur karena dia dengan mudah mengalahkan dua dari delapan bawahan terkuat Saraya.


"Menurutmu, apakah manusia bisa mengalahkan Dewa?"


"Dewa?" Edward terlihat kebingungan. Ia tak mengerti apa yang pria bertopeng itu katakan. "Bukan Dewi?"


"Hmmm ... tak masalah."


Edward bukanlah penganut ajaran Gereja Suci, ia sama sekali tak percaya dengan keadilan yang mereka tawarkan.


"Daripada mengalahkannya, aku berharap bisa bertemu dengannya dan bertanya satu hal padanya. Kenapa dia tak menciptakan dunia yang damai tanpa perperangan?"


Sekilas Edward membayangkan dunia impiannya, tempat yang damai dan indah. Tiupan angin segar berhembus melewatinya, tangannya menggenggam tangan seorang wanita. Mata wanita itu menatapnya bahagia.


Kehidupan yang indah, jika hal itu terjadi, aku tak akan membiarkan Saraya menderita.


"Manusia terus berperang demi menjaga martabatnya, membunuh satu sama lain. Mereka kehilangan tempat tinggal, mereka berharap ada uluran tangan dari seseorang. Seseorang yang akan memandu mereka untuk mengetahui makna dari hidup yang sebenarnya. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, semua dibangun dengan kepercayaan. Kepercayaan itu membuat kami semakin kuat," lanjut Edward.


Edward teringat saat-saat di mana ia dan Saraya membantu orang-orang terlantar. Dengan kepemimpinan Saraya, serta kepintaran Edward, mereka menyatukan mereka semua dan terciptalah tempat yang disebut kota di Tanah Terbengkalai.


"Menarik, aku menghargai jawabanmu. Akan tetapi, semua itu hanya angan-angan saja. Dewi tak peduli dengan itu semua, kita hanyalah boneka yang terus menghiburnya dari kursi penonton." Pria bertopeng mengacungkan telunjuknya ke atas. "Namun, aku akan tunjukan padanya cara memainkan boneka dengan benar. Akan kurusak alur cerita yang telah ia buat."


Edward benar-benar tidak mengerti dengan perkataan pria itu. Pandangannya masih terlalu sempit karena ia selama ini hanya peduli dengan hal di sekitarnya, menutup mata pada dunia luar.


"Sepertinya aku terlalu banyak berbicara. Akan kuakhiri ini." Pria bertopeng berbalik dan berjalan meninggalkan ketiganya.


"Huwaaa!" A Four berlari sekuat tenaga menyerang pria bertopeng dengan cakar besinya. Darahnya mengucur deras membanjiri tempat itu.


*Brak!


Sesuatu masuk ke tempat itu dengan menghancurkan dinding ruangan. Terlihat A Four berbaring tak berdaya dengan sesuatu yang menimpa tubuhnya.


"Aku sedikit terburu-buru, akan kubiarkan makhluk ini mengirim kalian ke alam kematian. Ah, jangan khawatir, enam orang lainnya juga akan menyusul kalian." Pria bertopeng menghilang tanpa suara.


Sesosok makhluk besar berada di tempat itu. Tubuhnya terlihat gemuk dan bulat, lendir-lendir aneh keluar dari lipatan kulitnya. Kaki makhluk itu juga yang menginjak A Four saat ini.


"Makhluk apa ... itu?"


Makhluk itu membuka mulutnya, pemandangan mengerikan terjadi. Mulut penuh cairan aneh itu terbuka selebar dua meter. Tangannya meraih A Four yang terbaring lemas.


"Jangan sentuh dia!" Edward menembak dengan seluruh Mana yang menyelimuti peluru.


*Clap!


Peluru dari bowgun hanya memantul ketika menyentuh kulit makhluk itu.


Edward tak bisa berkata-kata lagi ketika melihat A Four sudah berada di dalam mulut makhluk itu, hanya menghitung waktu hingga mulutnya mulai menggigitnya.


"Tidaaaaak!" Edward terus menembak ke arah makhluk itu, namun semuanya sia-sia.


*Crack!


Suara daging yang tercabik-cabik terdengar jelas di telinganya.


"RASANYA SANGAT ENAK. SAMA SEPERTI PARA PELAYAN DI BAWAH SANA." Makhluk itu tiba-tiba berbicara dengan suara sedikit bergema.


Suara itu terdengar familiar di telinga Edward.


Tunggu ... tubuh gemuk itu ...?


"K-kau?"


"HAHAHAHA! AKHIRNYA KAU SADAR!" Makhluk itu langsung melompat ke arah Edward.


Edward sudah pasrah dengan hidupnya, pikirannya seketika kosong, tak peduli apa yang terjadi di sekitarnya, ia hanya ingin mengakhiri semuanya.


Bersambung ....


Selamat Hari Raya Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin.