The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Steak



Aku membawa mereka ke sebuah restoran mewah. Makanan di sini sangat enak, aku pernah mencobanya sekali. Sayangnya aku tak mendapatkan kesempatan lagi untuk makan di restoran ini karena harganya sangat mahal. Beruntung saat itu kantor sedang mengadakan pesta dengan menyewa satu restoran penuh.


"Ibu, tempat ini sangat mewah. Tempat yang cocok untuk Ibu."


Kami berjalan menuju meja tepat di sebelah dinding kaca. Erish sangat senang melihat kendaraan yang berlalu-lalang.


Seorang pelayan menghampiri kami. Pelayan itu memberikan sebuah papan menu.


Ah, ini dia. Ada makanan yang dari dulu ingin sekali kucoba.


"Tiga Tenderloin Steak Premium dan Red Wine terbaik,"


"Baik, mohon ditunggu." Pelayan itu pergi.


Eh, tunggu ... bagaimana cara kami membayarnya? Yah, terserah, akan kupikirkan itu nanti.


 -----------------------


Beberapa saat kemudian.


Pelayan datang sambil mendorong sesuatu. Aroma makanan itu tercium walau masih dalam keadaan tertutup. Pelayan pun menghidangkan makanan di meja kami.


"Silahkan, selamat menikmati."


Huwaaa ... dari dulu aku ingin mencoba steak ini! Saat itu aku benar-benar sudah kekenyangan dan tak bisa mencobanya. Dan juga, steak ini semakin populer beberapa hari sejak aku makan di restoran ini, hal itu semakin menambah penyesalanku.


"Steak?" Erish melihat dengan wajah kebingungan.


Aku sengaja memilih steak karena Erish. Orang Desa Liche kuat karena memakan daging dari beast yang mereka olah menjadi steak. Steak sepertinya cukup populer di dunia sana. Namun, aku ingin dia merasakan perbedaan rasa antara steak dari duniaku dan dunianya.


Aku memotong steak dengan pisau. Dengan cepat daging langsung terpotong.


Pisaunya yang tajam atau dagingnya yang sangat berkualitas aku pun tak tahu. Aku memang sengaja memilih daging bagian tengah yang terkenal sangat lembut dan gurih.


Secara bersamaan kami bertiga mencoba satu suapan pertama.


Aku mengunyah pelan-pelan potongan steak itu.


Benar-benar lembut. Setiap kunyahannya membuat lidahku tak berhenti bergeliat.


Kedua wanita di depanku mengunyah sambil membuka matanya lebar-lebar.


Aku mengambil segelas anggur merah.


Anggur merah itu masuk dan mengalir melewati tenggorokanku, bersamaan dengan minyak di mulutku yang ikut terbawa olehnya.


Sensasi yang menyenangkan.


"Y-yang Mulia, ini sangat luar biasa! Bagaimana bisa ada daging selembut dan seenak ini?!"


"Dia benar, Ibu, tempat apa ini sebenarnya?"


Ini dari duniaku dulu. Tidak mungkin aku menjawab seperti itu, 'kan?!


"Ini berasal dari Alam Dewa,"


"Jika dari Alam Dewa, itu masuk akal, benda-benda di sini tidak normal,"


Maaf, aku sudah membohongi kalian!


"Aah ... anggur ini benar-benar menyegarkan,"


Erish terlihat sangat menikmati makanannya. Wajah remajanya yang polos membuatnya terlihat semakin imut.


Aku ingin menikmati momen-momen ini lebih lama lagi. Ngomong-ngomong, aku ingin mengecek kondisi rumahku, ada sesuatu yang ingin kupastikan.


Tanpa sadar aku telah menghabiskan makananku.


Keinginanku sudah terpenuhi, jika aku masih memiliki banyak waktu, mungkin aku ingin berlibur ke luar negeri.


"Delila, ada tempat yang ingin kukunjungi,"


Delila meraih tanganku. "Bayangkan tempat itu, Ibu."


Aku memejamkan mataku dan membayangkan kondisi rumah yang terakhir kali kuingat.


"Kita sudah sampai, Ibu,"


"S-steak milikku ... hilang."


Aku membuka mataku secara perlahan. Terlihat sebuah rumah tepat di depanku. Rumah itu terletak di sebuah lapangan rumput yang kecil.


Ini rumahku. Aku sengaja membeli tanah lebih untuk menjaga jarak dengan tetangga di sebelahku.


"Delila, Erish, tunggu di luar."


Ketika aku ingin berjalan masuk, Delila menahan tanganku.


"Ada apa, Delila?"


"Ibu, rumah ini di luar kendali Saya,"


"Apa maksudmu?"


"Banyak energi aneh yang menyelimuti rumah ini, Saya menyarankan Ibu untuk tidak masuk ke rumah itu."


Energi aneh? Aku tak merasakannya sedikit pun. Dunia ini Delila yang menciptakannya melalui ingatanku, tapi kenana rumah ini berada di luar kendalinya?


"Ibu, urungkan niat Anda, Saya sangat khawatir." Delila memohon dengan wajah yang begitu menyedihkan.


Jika dia sampai khawatir seperti itu, aku tak bisa berbuat banyak.


"Baiklah, aku akan kembali saat kekuatanku telah pulih,"


"Syukurlah. Dan, Ibu, kita hampir sampai,"


Hampir sampai? Secepat apa portal dimensi ini bergerak?!


"Baiklah, kita akan keluar dari sini."


Delila membuka sebuah portal dimensi yang terhubung dengan dunia baru. Kami keluar dari ruang dimensi.


Kami berada di sebuah bukit kecil. Di hadapan kami ada sebuah kota yang terbentang luas. Banyak menara tinggi yang terlihat dari sini.


Kami sudah berada di Kerajaan Mystick.


Jika aku tidak salah, itu adalah menara sihir. Ada banyak menara sihir di Magic Infinity. Masing-masing dijaga oleh penyihir kuat. Menara sihir merupakan tempat para penyihir berekspresimen.


"Kita akan masuk." Delila memegang tanganku dan tangan Erish. "Perfect Move."


Kami langsung bepindah tepat beberapa meter di sebelah gerbang masuk.


Itu sengaja dilakukan agar tidak membuat orang-orang di gerbang masuk terkejut, karena itu kami mencari tempat sepi yang berada sedikit jauh.


Aku sedikit merasakan sihir yang melindungi tempat ini.


Kami berjalan menuju berbang masuk. Seperti biasa, para penjaga korup meminta biaya lebih untuk masuk ke kota.


"Wah, kota ini sangat megah." Ekspresi kagum Erish sama seperti melihat kota di ruang dimensi.


Itu memang benar, kota ini lebih mirip kota zaman dulu di eropa. Jalanan yang terbuat dari bata, serta bangunan-bangunan yang tertata rapih.


Sebuah kendaraan seperti mobil melintas di jalanan.


"Y-yang Mulia, kendaraan itu mirip seperti kendaraan yang ada di tempat kita tadi, 'kan?!"


"Itu benar. Erish, panggil aku Alissia mulai sekarang,"


"Baik."


Mobil itu sama persis dengan mobil tempo dulu, terbuat dari kayu dan ditenagai dengan uap. Ini aneh, tempat ini sangat jauh berkembang dari yang lainnya, aku yakin ada campur tangan dari orang dunia lain di sini. Aku tidak akan kalah! Kerajaan Maphas harus lebih maju!


"Ib-- Alissia, kita harus mencari penginapan sementara sampai kita diterima di Akademi Sihir,"


"Kau benar, ayo kita pergi."


Aku merasakan energi sihir.


Huh? Ada energi sihir di dekat sini.


Aku mengikuti jejak sihir itu.


Sebuah lorong kecil? Apa terjadi sesuatu di sana?


A. Putri Keluarga Ternama


Gawat, mereka mengejarku! Teman sekelasku, mereka mengkhianatiku!


"Bajingan!"


Aku terus berlari dari lorong ke lorong di Ibukota. Mereka terbang mengejarku dengan sapu terbang.


Sial, aku harus mencari tempat yang sempit.


Aku berlari dari jalan raya menuju ke sebuah lorong sempit.


Mereka tidak akan bisa terbang ke sini.


*Brak!


Aku menabrak sesuatu dengan cukup keras.


Dinding?! Ini jalan buntu!


"Akhirnya kami mendapatkanmu, dasar perunggu sialan!"


Jantungku berdegup kencang.


Orang-orang ini berasal dari murid tingkat Gold. Mereka terkenal suka merundung tingkat Perunggu.


"Diam di tempatmu, aku akan membunuhmu secara perlahan." Salah satu dari mereka mengarahkan tangannya padaku.


"Mana Arrow!"


Sebuah panah sihir dilesatkan ke arahku.


*Jleb!


Serangan itu dengan cepat menusuk perutku.


"Agh!"


"Hei, aku bilang jangan bergerak, apa kau ingin mati kesakitan?"


Tidak, aku tidak boleh mati di sini.


"Aku ... tidak akan ... menyerah. Karena aku ... seorang ...."


Hart.


"Apa yang murid rendahan ini ucapkan?"


"Bunuh dia, Kiel!"


Aku tidak ingin mati.


"Baiklah, akan kuakhiri penderitaanmu! Fire Ball!"


*Bush


Energi sihir di tangannya lenyap.


"Apa yang terjadi, Kiel?"


Dia terus berteriak merapalkan manteranya, namun sihir di tangannya tak muncul.


"Kekuatan kalian digunakan bukan untuk menyakiti orang lemah." Terdengar suara seorang wanita dari arah pintu masuk lorong.


"Siapa kau?!"


Perlahan sosok tersebut terlihat.


Tiga orang wanita.


"Apa kalian tidak malu?" tanya wanita berambut kuning di tengah.


Dia menggunakan tongkat, apa dia murid perunggu?


"Hah? Ada satu lagi penyihir tongkat rendahan di sini. Hei, apa kau ingin mati?"


*Bugh!


Wanita berkulit coklat di sebelahnya dengan cepat melompat dan memukul orang-orang itu.


"Huwaa! Apa-apaan gadis gila ini?! Hei, gunakan sihir kalian!"


"Kami sama sekali tidak bisa menggunakan sihir!"


Wanita itu terus menghajar habis yang lainnya dengan brutal.


Apa dia seorang Warrior?


"M-maafkan kami!"


"Lepaskan mereka, Erish."


Mereka langsung melarikan diri meninggalkan kami.


"Akan kubalas kalian!"


Huh ... aku selamat.


"Hei, apa kau baik-baik saja?" tanya wanita berambut kuning.


Aku menganggukan kepala.


Wanita yang menghajar para murid Gold itu mendekatiku.


Apa dia ingin membunuhku juga?


"Heal."


Heal? Dia seorang Support?


Perlahan luka di tubuhku menutup.


"Agh!"


Ini menyakitkan!


"Di mana kau tinggal?"


"Aku tinggal di asrama,"


"Maksudmu, Asrama Akademi Sihir?"


"Benar."


"Ya-- Alissia, apa kita bawa saja dia ke penginapan?"


"Ya, bawa dia. Dan, buat dia tidur,"


"Baik."


*Bugh


Sesuatu menepuk belakang leherku.


Kesadaranku menghilang.


Ah ... setidaknya aku tak mati. Aku akan melampaui dia ....


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!


Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :


https://saweria.co/hzran22


Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.


Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.


Terima kasih!