
Apa yang dilakukan iblis di sini? Apa dia mata-mata? Sepertinya bukan, ini berbeda dengan turnamen di Kekaisaran waktu itu. Para iblis kali ini bersekutu dengan kami. Mungkin dia dikirim dari Wilayah Iblis untuk meramaikan saja.
Penampilan orang ini layaknya manusia, dia menggunakan item atau sihir penyamaran tingkat tinggi. Terlebih lagi data pribadinya yang asli sudah tercatat di daftar peserta, seharusnya pihak kerajaan tahu ada iblis yang mengikuti turnamen ini.
Apa yang kutakutkan? Aku sudah mengalahkan salah satu panglima iblis, Abbadon. Kenapa aku harus takut melawan orang ini?
"Benar. Aku berpikir kita bisa saling beradu pedang dengan bebas," jawabku.
Orang itu mengulurkan tangannya. "Namaku Reno."
Nama palsu, ya?
Aku meraih tangannya. "Namaku Wither, mohon kerja samanya, Reno."
Karena dia iblis, kekuatannya pasti lebih kuat dari level seharusnya. Tapi aku justru kebalikannya, sangat menyedihkan.
Huh?
Seluruh peserta yang ada di ruang tunggu merasakan aura menyeramkan, termasuk aku. Tanpa kusadari, seseorang melayang di depan kami, tempat kami bisa melihat arena dari bawah. Orang itu adalah Ratu Daisy
Seketika tubuhku tidak bisa bergerak, aura miliknya sangat kuat. Bahkan Reno yang merupakan iblis juga sulit bergerak, dia mencoba melawan tekanannya itu, namun terlihat kesusahan.
Ratu Daisy masuk ke ruang tunggu peserta. "Kalian berdua, waktunya bertarung." Dia memindahkan dua peserta lain ke arena.
Secara teknis ini memang giliran mereka, tapi mereka berdua bahkan belum memilih lawannya.
Ratu Diasy menghampiri Nona Eline yang terlihat sudah mencapai batasnya karena kehabisan Mana. Dia mencoba menahan darah yang hendak ia muntahkan, entah karena ketakutannya terhadap Ratu Daisy atau mencoba menjaga harga dirinya di hadapan kami.
Chandra ada di sebelah Nona Eline karena mereka sempat berbincang sebelumnya. Wajahnya sedikit tegang ketika Ratu Daisy melewatinya.
Ratu Daisy baru-baru ini kembali setelah menghilang sekian lama, itu juga alasan kenapa Nona Hart tidak terlihat.
"Minum ini." Ratu Daisy memberi Nona Eline sebuah potion berwarna merah terang seperti darah.
Jika ingin memulihkannya, seharusnya Nona Sylvia sudah cukup untuk melakukannya, 'kan?
Nona Eline terlihat ragu mengambil potion itu, tapi dia tetap memaksakan diri untuk mengambilnya. Sampai pada akhirnya dia meminum potion itu.
Apa yang akan terjadi?
"Mana-ku pulih?" tanya Nona Eline dengan wajah bingung.
"Sepertinya itu berhasil," ucap Ratu Diasy. Setelah itu Ratu Diasy menghilang dan kembali ke tempat duduk paling atas.
Nona Eline terlihat semakin membaik, wajahnya juga sudah tidak pucat seperti sebelumnya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Nona Eline padaku.
"A-ah, bukan apa-apa."
Sial, itu hampir saja.
"Aku kira ini adalah hari terakhirku ketika undead itu memancarkan aura mengerikannya," ucap Reno.
"Aku tak menyangka ada sosok seperti itu di dunia ini," balasku.
Jika dibandingkan Raja Iblis, mungkin Ratu Daisy sedikit lebih unggul.
Aku melihat Chandra yang bersandar di dinding arena sambil menghela napasnya.
Dia bahkan tidak mengatakan apa pun setelah kedatangan Ratu Daisy. Kesombongannya telah menghilang, itu ganjaran yang sesuai untuknya.
"Tapi, dia tetap seorang undead, mustahil baginya bisa memenangkan perang melawan Gereja Suci." Reno melanjutkan pembicaraan sebelumnya.
Andai dia tahu bahwa ada enam orang yang lebih mengerikan dari Ratu Daisy di sini.
"Selama semuanya bersatu, pasti tidak akan mustahil untuk mengalahkan mereka," ucapku.
"Kau memang bisa merubah suasana dengan cepat, ya. Aku jadi tertarik padamu."
"Kita tidak boleh terlalu terhanyut oleh keadaan."
"Kau benar."
Dia tipe orang yang hanya berbicara jika tertarik dengan topiknya. Orang ini sebelumnya sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun. Hal yang terpenting sekarang adalah situasi di sini sekarang sudah stabil, aku bisa kembali menonton per--
"Pemenangnya adalah Usolo!" Pembawa acara telah mengumumkan pemenang.
Apa?! Ini terlalu cepat!
Orang yang memenangkan pertarungan merupakan seorang petarung tangan kosong dengan postur tubuh besar.
Dia mengalahkan lawannya yang merupakan seorang pengguna pedang. Sebarapa kuat dia?
Ras : Beastman
Level : 676
Job : Warrior
Seorang beastman?! Penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti beastman. Tunggu dulu, jika jenisnya kera, mungkin itu masuk akal. Wajahnya masih tertutupi oleh tudung abu-abu. Tangan dan kakinya tak ada bulu, benar-benar mirip seperti manusia.
Beastman itu langsung melompat dari arena ke ruang tunggu.
*Brak!
Karena ukuran tubuhnya yang besar, lubang tempat kami melihat pertarungan rusak dan semakin melebar.
Dia kembali ke posisinya.
Tak ada yang memperhatikan dia sebelumnya, tapi setelah pertarungan tadi, seketika semua orang menaruh perhatiannya kepada beastman itu.
Usolo membuka tudung yang menutupi kepalanya.
Dugaanku selama ini memang benar, dia seorang beastman jenis kera, namun tidak memiliki bulu sama sekali layaknya manusia. Wajahnya terlihat mirip seperti kera, tidak sepenuhnya seperti primata itu.
Apa maksudnya ini? Apa dia ras campuran?
"Aku belum memperkenalkan diriku, ya? Namaku Usolo. Beastman pengelana," ucap Usolo.
"Kerja bagus, saudara! Kuharap kita bisa bertemu di final." Chandra meraih tangan Usolo dan mereka pun berjabat tangan.
"Aku akan menunggumu, saudaraku!"
Bertambah satu orang yang harus kuwaspadai. Usolo mengalahkan lawannya tanpa membuka tudung, jika tadi aku melihat gaya bertarungnya, mungkin aku bisa memikirkan cara untuk melawan balik. Tapi, karena perhatian kami tertuju pada Ratu Daisy, kemampuan Usolo masih tidak diketahui.
Sekarang giliranku, ya?
Aku hendak berbicara dengan Reno, tapi dia sudah tidak ada di ruang tunggu.
Di mana dia?
"Lawanmu sudah berada di arena," ucap Nona Eline.
Aku langsung melihat ke bawah. Benar saja, Reno sudah berada di arena pertarungan.
"Bahkan kau tidak bisa menyadarinya. Apa pedang itu tercabut karena rusak?" tanya Nona Eline dengan tatapan tajam.
Aku ingin membantah perkataannya, tapi aku tak bisa. Dia bukan Nona Eline yang bertarung bersamaku saat perang, melainkan seorang wanita yang haus darah, tidak segan-segan membunuh siapa pun agar tujuannya tercapai. Aku tidak bisa sembarangan mengajaknya berbicara.
"Baik, terima kasih sudah memberitahu, Nona." Aku berjalan menuju anak tangga.
"Tunggu." Nona Eline menahanku.
"A-apa ada yang bisa kubantu?"
Nona Eline mendekatkan dirinya padaku. "Wajahmu terlihat tidak asing."
Ini gawat! Jangan sampai dia menyadariku!
"A-ah, itu hanya imajinasimu saja. Kalau begitu aku akan pergi ke bawah, Nona." Aku langsung bergegas menuruni anak tangga.
"Imajinasi?! Hei!"
Sial, sial! Itu tadi hampir saja. Padahal aku sudah merubah penampilanku, bahkan menggelapkan warna kulitku. Tapi dia masih bisa mengenaliku walau samar-samar.
"Huuh ... ini akan merepotkan."
Aku sudah mencapai pintu keluar, berjalan melewati pintu hingga akhirnya sampai di arena. Penonton mulai bersorak kecil untuk meramaikan pertandingan yang akan segera dimulai.
Atmosfirnya jauh berbeda dari yang sebelumnya. Ini karena mata orang-orang berfokus pada kami berdua, dan ini sangat menggangguku. Aku benar-benar gugup.
Reno mengangkat pedangnya. Perhatianku langsung tertuju pada pedang itu. Aura iblis yang menyelimuti pedang itu terasa walau samar-samar, sebuah aura yang membuatku mual.
"Kau sudah memilihku untuk menjadi lawanmu, Wither. Aku harap kau tidak menyesalinya," ucap Reno.
Aku menarik pedang dari pinggangku, kemudian berkata, "Justru aku yang khawatir akan kondisimu nanti."
"Haha, menarik! Ayo mulai!"
Kami berdua berlari secara bersamaan.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!