
Chapter 6 : Pahlawan Bertemu Kaisar
Kami masih dalam kondisi tidak baik. Lucas hampir sekarat karena sihir aneh yang digunakan wanita itu. Dan Makia sangat kelelahan karena menyembuhkan lucas dan memberi Mana padanya. Ini pertama kalinya kami dalam kondisi seperti ini. Orang macam apa mereka?!
"Zain, kau pergilah dengan Yulia dan Alex, aku akan menjaga Makia dan Lucas,"
"Apa kau yakin, Andrew?"
"Serahkan padaku,"
Kami pergi ke Istana Kekaisaran untuk bertemu Kaisar yang telah mengundang kami.
Aku masih menaruh kecurigaan tentang hal ini, terutama tentang tujuan turnamen ini. Dan kenapa perwakilan Kerajaan Rexist tidak diundang? Yah, kami memang berasal dari Rexist, tapi, kami terbentuk untuk mewakili Manusia melawan Raja Iblis. Eh, aku ingat, Kerajaan Rexist mengirim 1 orang dari pihak mereka. Aku tidak tahu apa itu karena diundang, atau memata-matai Kekaisaran.
"Yulia, apa kau tidak apa-apa?"
"Aku hanya sedikit gugup, Zain,"
"Ah, tenang saja! Kami berdua akan melindungimu!" Alex mencoba menghibur Yulia.
Kami sampai di depan gerbang istana.
"Hoi! Siapa kalian?! Kami tidak menerima pemulung di sini,"
Eh, apa dia bercanda? Apa seperti ini kualitas prajurit kekaisaran? Ini mengecewakan.
"Oh, kami hanya ingin bertemu Kaisar," ucap Alex
"Bertemu Kaisar? Pergilah kalian!"
"Nona Yulia!" Suara dari kejauhan memanggil nama Yulia. Seorang wanita, mengenakan pakaian formal Bangsawan.
"Anda, 'kan?"
"Benar, aku orang yang menawari kalian untuk menginap di penginapan itu. Bagaimana? Apakah nyaman?"
"A-ah, itu, yah! Sangat nyaman, terima kasih atas bantuannya,"
"Tidak masalah. Tapi, apa yang kalian lakukan di sini?"
"Nona Jull, apa Anda mengenalinya?" tanya prajurit penjaga.
"Mereka ini Party Pahlawan! Apa yang kalian lakukan dengan membuat mereka menunggu lama di sini?!"
"T-tapi, menurut informasi, mereka berenam,"
"Ah, itu, anggota yang lainnya sedang ada urusan mendadak, jadi hanya kami bertiga yang datang menemui Kaisar," jawab Yulia.
"Hmm ...." Wanita yang bernama Jull menatap kami dengan tatapan aneh. "Hei, buka gerbangnya!" Dia langsung berteriak pada penjaga.
"B-baik!"
"Tuan Pahlawan, maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi, prajurit itu memang tidak berguna,"
"Ah, jangan dipikirkan, kami juga minta maaf karena datang tanpa anggota lengkap,"
Kau dengan mudah mengatakan prajurit tidak berguna? Wanita ini sangat frontal.
Sebuah istana yang besar dan megah berdiri dengan sangat kokoh. Ini bahkan lebih besar dari Istana Kerajaan Rexist. Kami dipandu menuju ruang takhta oleh wanita bernama Jull.
*Krek
Suara pintu terbuka dan kami masuk ke ruang takhta.
"Yang Mulia, kami membawa Party Pahlawan,"
"Woooohhh ... Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Pahlawan,"
"Senang bertemu dengan Anda, Yang Mulia, nama Saya Zain Aither, serta rekan Saya yang bernama Yulia dan Alex,"
Ini pertama kalinya aku melihat Kaisar. Dia masih terlihat cukup muda.
"Apa kalian sudah makan? Kami sudah mempersiapkan jamuan makan, ayo kita makan bersama,"
"Dengan senang hati, Yang Mulia,"
Kami berjalan menuju ruang makan.
Kelihatannya jarak ke ruang makan sedikit jauh. Apa jarak ini tidak merepotkan mereka? Aku dengar Bangsawan sangat tidak suka melakukan hal-hal seperti berjalan sendiri, apalagi jika jarak yang jauh, mereka hanya mengandalkan pelayan yang dimiliki untuk hal-hal seperti itu.
Kami akhirnya sampai. Sebuah meja makan yang panjang dengan makanan mewah menyambut kami.
"Mari kita makan, Pahlawan." Kaisar menawari kami untuk makan.
Tak banyak hal yang dibicarakan. Karena tradisi di dunia ini tak memperbolehkan bicara saat makan.
---------------------------
"Baiklah, Pahlawan, aku ingin berbicara sesuatu padamu. Apa kita bisa pindah tempat?"
Pindah tempat lagi? Apa yang mereka ingin lakukan kepada kami?!
Kami tiba di sebuah ruangan. Ini lebih seperti ruang tamu biasa pada umumnya. Namun, banyak orang di sini, sepertinya mereka orang penting.
"Pahlawan, di mana sisa anggota party-mu?" Kaisar bertanya dengan wajah serius.
Dia mungkin mencurigai sesuatu karena sisa anggota yang tidak ikut. Yulia dan Alex sepertinya paham situasinya, tapi, mereka tak bisa membantu untuk ikut berbicara. Aku tidak akan marah.
"Kondisi mereka sedang tidak baik, Yang Mulia," jawabku.
"Hooo ... Begitu, ya?"
"Tuan Pahlawan. Sebelumnya, Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama Saya Wardo Zallaya, salah satu dari 6 Ksatria Pelindung Kekaisaran,"
Aku tidak tahu pasti, sepertinya orang ini sangat kuat.
"Baik, Tuan Wardo,"
"Pagi tadi, bawahan Saya melapor bahwa ada keributan yang melibatkan Party Pahlawan,"
"Ah, i-itu-"
"Keributan?" Kaisar langsung memotong perkataanku.
"Iya, Yang Mulia, Party Pahlawan terlibat keributan dengan beberapa petualang,"
"Lalu, apa karena itu rekan Pahlawan tidak hadir?"
"Sepertinya begitu, Yang Mulia," jawab Tuan Wardo.
Aku tidak bisa menyangkal hal itu, karena itu semua benar. Aku juga merasa curiga sebelumnya, ternyata mereka memang mengawasi kami.
"Pahlawan, apa itu benar?" tanya Kaisar.
"Benar, Yang Mulia,"
"Ksatria Wardo, siapa para petualang yang bisa membuat Party Pahlawan seperti ini?" tanya Kaisar.
"Menurut informasi, mereka baru mendaftar di Guild Petualang sehari sebelumnya, dan berada di rank A, mereka sepertinya orang dari negara lain,"
"Di mana mereka sekarang?"
"Menurut laporan dari Guild Petualang, mereka sedang menjalankan quest Pemusnahan Ogre, Yang Mulia,"
"Jadi begitu, mungkin aku akan memanggil mereka nanti. Jadi, Pahlawan, aku ingin membicarakan tentang persiapan perang dengan ras Iblis, apa kau sudah mempersiapkan dirimu untuk melawan Raja Iblis?"
Perang? Benar, Raja dari Rexist juga pernah membahas ini sebelumnya. Walaupun mereka bermusuhan, tapi, mereka tetap sepemikiran untuk perang melawan ras Iblis.
"Sudah, Yang Mulia, hingga saat ini Saya terus meningkatkan level,"
Meningkatkan level, ya? Aku mengatakan sebuah omong kosong. Setelah melihat wanita itu, aku merasa ada sebuah penghalang yang tak bisa mengukur kekuatannya. Huh ....
"Zain?" Yulia memegang tanganku dengan erat.
"Wanita?" Kaisar pun langsung menunjukan ekspresi bingung.
"Ah, itu, maafkan Saya, Yang Mulia,"
"Apa kau tertarik dengan seseorang?"
*Crak
Yulia meremas tanganku dengan kuat.
"Bukan begitu, Yang Mulia, ha ha ha,"
Bahkan aku menunjukan ekpresi yang bodoh. Betapa malunya aku!
"Apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Kaisar.
Mungkin aku harus beritahu tentang wanita itu.
"Yang Mulia, ini tentang petualang yang mengalahkan anggota party kami. Mereka beranggotakan 3 orang, dan sepertinya dipimpin oleh seorang wanita,"
"Lalu, apa ini tentang wanita itu?"
"Benar. Apa Yang Mulia bisa membuat mereka di pihak kita untuk perang dengan ras Iblis?"
"Apa maksudmu? Apa mereka di pihak Iblis?"
"Bukan begitu, aku merasa mereka sepertinya tidak tertarik dengan perang ini,"
"Apa itu dapat mempengaruhi hasil perperangan?" Kaisar memandangku dengan sinis.
Itu wajar, pasti dia berpikir bagaimana 3 orang bisa merubah situasi saat perang.
"Yang Mulia, aku memiliki firasat jika wanita itu lebih kuat daripada Raja Iblis,"
"Hmmm ...." Sontak seluruh ruangan terkejut dengan apa yang aku katakan.
*Brak!
Pintu yang dibuka dengan cara kasar mengejutkan seisi ruangan. Seorang pria masuk.
Apa-apaan ini?! Apa dia benar-benar melakukan itu di depan Kaisar?
"Hoh, apa ini Pahlawan yang dibicarakan itu?" Pria ini melirikku dengan tatapan yang meremehkan.
"Matthew! Apa yang kau lakukan?!"
Kaisar sepertinya mengenal orang ini.
"Ayahanda, aku hanya ingin melihat langsung wajah Pahlawan itu," ucap pria itu.
Ayah?!
"Kau sudah melihatnya, 'kan? Sekarang kau bisa pergi,"
"Izinkan aku untuk ikut dalam pembicaraan ini, Ayahanda,"
Orang ini seperti memiliki niat jahat.
"Aku hanya ingin tahu kenapa Party Pahlawan bisa dikalahkan dengan muda oleh kelompok petualang baru." Pangeran masih melanjutkan perkataannya.
Aku merasakan hawa yang mengancam dari Yulia dan Alex. Mereka mungkin sangat marah karena sikap Pangeran ini.
"Cukup hentikan, Matthew!"
"Hmm ... Baiklah, Ayahanda, aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi, Pahlawan." Dia tersenyum bengis.
Aku sedikit khawatir tentang itu.
"Maaf, Pahlawan, pertemuan kita sudahi sampai di sini, aku akan menunggu kehadiranmu di turnamen 3 hari lagi,"
Karena keributan yang dilakukan Pangeran, pertemuan kami pun diakhiri tanpa menemui titik terang tentang apa yang kami bahas. Untuk pembahasan tentang wanita itu, aku sedikit ragu apakah mereka ikut andil dalam perang atau tidak.
"Maaf, Zain, aku tak bisa ikut dalam pembicaraanmu dengan Kaisar,"
"Jangan khawatir, Alex, aku paham kondisimu,"
Walaupun Alex selalu terlihat senang dan bicara lepas, tapi dia sangat gugup untuk berbicara dengan orang yang tak dikenalinya. Namun, jika itu musuh, dia tak akan segan menghabisinya.
"Tuan Pahlawan!"
Di saat kami akan keluar dari gerbang istana, seorang wanita memanggilku sambil berlari. Dia mengenakan pakaian seperti petualang.
Apa dia seorang petualang? Di pinggangnya terdapat sebuah pedang. Aku merasakan aura kuat dari pedang yang dibawanya.
"Tuan Putri! Jangan berlari seperti itu!" Seorang pelayan berlari mengikutinya.
Heh? Tuan Putri?!
"Huh ... Salam, Tuan Pahlawan, namaku Annatasya El-Zalbary,"
"Sa-salam, Tuan Putri,"
"Panggil saja Anna,"
"B-baik, panggil saja aku Zain,"
Dia sangat cantik, aku bahkan kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kecantikannya. Huh? Aku merasakan hawa dingin di dekatku.
"Maaf, karena aku tidak menyambut kalian tadi, apa kalian akan kembali ke penginapan?"
"Benar,"
"Tuan Zain? Apa aku boleh bergabung dengan Party-mu?"
Eh?
"Eeeeeeeeeh?!" Kami bertiga terkejut dengan perkataannya.
A. Persiapan
"Yang Mulia Kaisar, kami sudah mengumpulkan data dari mata-mata kami,"
"Kerja bagus, kapan pasukan Elf sampai?"
"Mereka masih dalam perjalanan, sekitar 2 hari lagi akan sampai,"
"Lanjutkan tugasmu,"
"Baik!"
-----------------------
Pangeran duduk di ruangan pribadinya. Di sebelahnya ada seorang wanita yang selalu menemaninya.
"Apa kau sudah bertemu Pahlawan?" tanya wanita itu.
"Sudah, dia terlihat lemah,"
"Kau harus segera menyingkirkannya,"
"Itu sudah pasti. Jika aku naik takhta, aku akan memberikan tanganku untuk ras Iblis!"
"Fufufu ... Luar biasa, Pangeran."
Bersambung ....