
*Clap
Kepala Akademi menjentikkan jarinya.
Tak lama kemudian, tubuh Ghad yang remuk terangkat keluar dari lubang. Gemuruh terdengar keras. Sebuah gelembung raksasa turun melewati awan-awan hitam itu.
Gelembung itu memakan tubuh Ghad.
Hal mengejutkan terjadi. Tubuh Ghad langsung kembali ke bentuk semula.
Dia bahkan tidak merapalkan apa pun. Apa ini kekuatan aslimu, Hela Naura Legarde?
Hela mengalihkan pandangannya pada kami.
"Elf, ya? Sepertinya bukan sekedar Elf biasa. Ada berapa banyak orang seperti mereka yang kau sembunyikan ... Alissia? Tidak, aku tidak yakin itu identitas aslimu." Hela melihatku tajam.
Kekuatannya telah kembali, besar kemungkinan wujudku terlihat olehnya.
"Siapa kau?" tanyanya.
Syukurnya, aku tidak berpakaian layaknya Keres. Dia tidak akan mencurigaiku sebagai Keres. Beberapa waktu lalu, aku teringat dengan Putri Anna, dia memiliki mata yang merepotkan. Akan menjadi masalah jika ada anggota Sekte Hitam yang melihatku selama di luar. Aku mengubah penampilanku menjadi Alissa Hart sebelum berubah ke wujud Alissia.
Aku tersadar saat Delila dan Elina telah siap siaga di depanku.
"Ibu, tetaplah di belakang kami. Wanita ini, kami akan berusaha untuk melawannya sampai mati." Mata Elina penuh dengan amarah.
Aku melihat sedikit keraguan di wajah mereka berdua.
Jika dibiarkan, mereka benar-benar akan bertarung sampai mati.
Aku berjalan sambil memegang pundak mereka berdua, kemudian melewatinya.
Yah, dia juga tidak akan bisa menyerangku.
Tubuhku sedikit gemetar, tekanan yang dia pancarkan membuatku sesak napas.
Tidak kusangka, waktu itu, aku bisa mengancamnya, sekarang aku hanyalah semut kecil baginya.
"Yang Mulia Ratu Hela, sepertinya Anda melupakan janji Anda?"
Aura Hela perlahan menghilang.
Dia mengingat janjinya.
"Sepertinya aku tidak berterima kasih dengan baik. Sebagai permohonan maaf, izinkan aku mengundang kalian untuk bermalam di istanaku, aku akan membuat acara kecil besok."
Ini lebih dari yang kubayangkan, sial.
"Suatu kehormatan menerima undangan langsung dari Anda, Yang Mulia."
Satu hal yang pasti. Wanita ini, dia sedang merencanakan sesuatu terhadap kami.
Bagian-bagian istana yang rusak akibat pertarungan telah kembali seperti semula.
Kekuatan yang sangat mengerikan. Jika kekuatan muridnya seperti ini, bagaimana dengan kekuatan Keres sesungguhnya.
[Huuuuuh ....]
Aku mendengar seseorang menghela napas melalui transmisi pikiran.
Aku tidak bisa menggunakan transmisi pikiran saat ini. Suara siapa itu?! Tidak, ini bukan pertama kalinya, aku pernah mendengar suara ini sebelumnya, dia juga mencelaku! Apa Dewi memata-mataiku? Tidak mungkin!
Siapa orang yang berbicara di kepalaku?
"Ibu ... apa Ibu baik-baik saja?" tanya Delila cemas.
"T-tidak apa-apa, Delila."
Akan kucari tahu nanti.
Kami masuk ke istana yang megah itu. Sangat mewah, ini benar-benar istana termewah yang pernah kutemui.
Berapa banyak uang yang dia keluarkan untuk ini? Aku pikir istana ibukota Maphas bisa jadi semewah ini jika aku menaikkan harga senjata. Aku akan ajukan pada mereka, Asosiasi Perdagangan Luxtier.
"Selamat datang, Yang Mulia, serta para tamu." Puluhan pelayan menyambut kami.
Mereka seperti maid pada umumnya, tapi ... mereka bukan manusia. Seingatku, mereka telah melarikan diri waktu pertarungan tadi. Pelayan-pelayan ini, bukan undead, bulan ghoul, terlalu menyerupai manusia.
"Antarkan mereka ke kamar tamu,"
"Baik, Yang Mulia."
Singkat cerita, kami telah masuk ke kamar masing-masing. Seharusnya satu orang mendapatkan satu kamar, namun Elina dan Delila memaksa untuk satu kamar denganku. Para maid sudah melarangnya, namun mereka berdua malah membuat para maid itu takut dengan aura mereka.
Setelah diskusi dengan mereka berdua, kami menyimpulkan bahwa para pelayan itu adalah Homunculus. Hela membuat mereka seperti aku membuat para NPC.
Kamar ini juga tidak kalah mewah.
Aku langsung telungkup di tempat tidur.
Rasanya sangat nyaman, lembut. Sepertinya aku akan tertidur jika menikmati sensasi ini.
"Ibu pasti lelah. Tidurlah, biar kami yang akan menjaga Ibu.'
Ah, jika kalian berkata seperti itu, apa boleh buat. Aku jadi mengantuk.
"Kuserahkan pada kalian."
Ngomong-ngomong, ini belum 24 jam, dan kekuatan Hela telah kembali, apa efek item sangat kuat di dunia ini?
Huuh ....
------------------------------------------
Keesokan harinya.
"Ibu, sudah pagi, Anda harus bangun."
Aku membuka mataku secara perlahan.
Mereka membangunkanku?
*Srek
Delila membuka tirai kamar. Cahaya pagi yang masuk membuatku silau.
Apa dia sengaja melakukan itu?
Aku merentangkan tubuhku untuk membunyikan sendi-sendi yang kaku.
Huwaa ... sensasi ini benar-benar memuaskan.
Aku kembali melanjutkan tidurku.
Sangat nyaman, aku ingin membawa pulang tempat tidur ini.
"Ibu sudah melewatkan makan malam, jadi, jangan sampai melewatkan sarapan juga kali ini,"
"B-baiklah, Elina."
Kenapa dia sangat menyeramkan?!
*Tok Tok
Seseorang mengetuk pintu.
"Kami maid yang akan mengurus persiapan Nona Muda Alissia,"
Persiapan?
"Tadi malam mereka ingin melayani Ibu, namun, kami melarangnya karena Ibu tertidur lelap. Kami berjanji akan membiarkan mereka untuk melayani Ibu besok."
Mereka tidak mempermasalahkan para maid ini melayaniku?
"Ibu tidak usah cemas, karena Ibu layak mendapatkan semua ini."
Haaah ... sia-sia aku mencemaskan prilaku mereka. Mereka hanya berpikir semua orang memang harus melayaniku.
Para maid masuk. Beberapa dari mereka membawa handuk serta pakaian.
"Setelah persiapan, kami akan mengantar Nona Muda dan yang lainnya ke ruang makan istana. Akan ada sarapan pagi bersama Yang Mulia Ratu."
Apa lagi yang direncanakan oleh wanita itu?
Para maid menarikku masuk ke kamar mandi.
"A-apa yang kalian lakukan?!"
"Mohon maaf, Nona Muda, kami akan membantu Anda,"
"Elina, Delila ...."
Mereka sama sekali tidak mencegah, justru tersenyum puas.
Dasar anak durhaka!
----------------------------
Kami berjalan menuju ruang makan istana.
Kejadian tadi membuatku trauma, aku tak akan pernah mengizinkan siapa pun memandikanku sekarang! Dan dua anak itu, mereka tidak merasa bersalah sama sekali.
Dua orang maid mendorong pintu besar secara bersamaan.
Terlihat sebuah ruangan yang sangat megah dan luas. Semua benda tampak berkilauan.
Aku mengalihlan perhatianku pada sebuah meja panjang di tengah ruangan. Meja itu dipenuhi oleh makanan, di bagian kanan dan kiri ada bebeberapa kursi. Dan dua kursi yang terletak dari ujung satu, dan ujung satunya lagi.
Kursi di seberang kemungkinan milik Hela, karena terlihat berbeda dengan yang lainnya.
Kami duduk di kursi masing-masing.
"Nona Muda Alissia, Anda harus duduk di kursi ini," ucap salah satu maid.
Itu adalah salah satu kursi yang berhadapan dengan kursi Hela.
Aku sendiri, tak ada orang di sampingku.
Apa yang dia rencanakan sebenarnya?
Semuanya hanya diam, saling melirik. Delila dan Elina bersiap-siap membawaku pergi jika terjadi sesuatu. Erish dan Theresia saling berbisik.
30 menit kemudian.
Hela datang dengan pakaian Kepala Akademi. Mengenakan jubah, tanpa embel-embel mahkota atau pakaian seorang Ratu.
"Maaf, membuat kalian menunggu, huh?" Hela melihat kami dengan ekspresi bingung. "Kenapa kalian tidak makan?"
Justru kami menunggumu untuk makan, sialan!
"Itu sangat tidak sopan bagi kami, Yang Mulia. Anda harus memulainya terlebih dahulu," ucap Theresia.
Theresia seorang bangsawan, tata krama manusia dan elf kelihatannya tidak jauh berbeda.
"Begitu, ya? Baiklah, silahkan nikmati makanannya." Hela memakan makanannya.
Aku melihat makanan di depanku.
Makanan di sini terlihat enak, tapi ini bukan makanan yang sesuai untuk sarapan. Terlalu berat, sudah berapa kali aku sarapan di tempat lain, kebanyakan dari mereka menyajikan makanan berat.
Yah, terserahlah, aku sangat lapar sekarang.
Sarapan pagi berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan. Para maid mengambil piring-piring di meja.
Huh?
Meja perlahan menyusut, kursi kami bergeser mengikuti meja yang menyusut.
Posisi kami berubah. Meja berubah menjadi bundaran, aku duduk di sebelah Hela, sisanya mengelilingi meja.
Aku gugup berada di sebelahnya. Auranya begitu kuat, walau aku yakin dia sama sekali tidak memancarkan apa pun. Jika kekuatanku kembali, aku tak yakin bisa mengalahkannya.
"Sekarang, aku akan mendengarkan permintaan kalian. Masih banyak waktu sampai pesta nanti malam."
Ini saatnya, meminta menggunakan item itu. Tunggu, tiba-tiba aku ragu menanyakannya. Jika aku salah berbicara, identitasku sebagai Keres akan terbongkar.
Aku semakin ragu. Jika dia bertanya, "Untuk siapa?" Aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku berkata untuk diriku, 'kan?
Hela terus melihatku, kami duduk bersebalahan, hal itu semakin menekanku.
"Saya ing--"
Hela menyela perkataanku dengan mengangkat tangannya.
"Sepertinya kita kedatangan tamu,"
Siapa?
"Maaf, Alissia, sepertinya aku harus menyambut para tamu yang dipenuhi energi suci itu terlebih dahulu," lanjut Hela.
"Tidak masalah, Yang Mulia."
Energi suci, jangan bilang mereka dari Gereja Suci? Apa mereka ingin menarik Hela sebagai sekutu?
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!