
"A-apa Anda benar-benar True Vampire?"
Rayna hanya tersenyum melihat Cura.
Rayna bukanlah vampir biasa, melainkan True Vampire. Tingkatan tertinggi dari ras vampir. True Vampire memiliki resistensi terhadap sihir suci tergantung tingkatnya. Mereka tergolong undead, namun aku menyebutnya undead yang hampir sempurna.
"Apa kau tahu tentang True Vampire?" tanyaku.
"True Vampire, mereka dulu menguasai benua ini 3000 tahun lalu. Ketika para Dewa mulai ikut campur dengan dunia ini 1000 tahun lalu, mereka pindah ke dunia bawah. Itu cerita yang beredar di kalangan vampir."
Ini mengejutkanku. Eksistensi mereka telah ada ribuan tahun lalu, itu berarti dunia ini bukanlah ciptaan para Dewa, tidak, lebih tepatnya ciptaan Dewa yang mulai mengamati dunia ini 1000 tahun lalu.
Semakin banyak informasi yang kudapatkan, dan semakin rumit pula informasi itu. Apa sebenarnya yang terjadi pada dunia ini?
"Apa mereka masih ada saat ini?"
"Dari cerita yang beredar, Tuan kami, Tuan Drac sering ke dunia bawah untuk bertemu mereka. Namun itu hanyalah rumor."
Untuk saat ini, aku juga harus mewaspadai mereka. Semakin hari, jumlah musuh semakin bertambah, benar-benar merepotkan.
"J-jadi, siapa nama Anda, Nyonya?" tanya Cura pada Rayna.
"Rayna," jawab Rayna tanpa ragu.
Sangat jarang melihat Rayna menanggapi orang luar. Apa itu karena mereka sesama vampir?
"Nyonya Rayna, tolong terima Saya menjadi pengikut Anda!" Cura bersujud di hadapan Rayna dengan tangan dan kaki yang masih terikat. "Saya memiliki banyak bawahan setengah vampir, mereka pasti akan berguna untuk Anda!"
Hoh ... ini yang kubutuhkan.
[Rayna, terima dia.]
[Baik, Ibu.]
"Aku menerimamu."
Rayna memiliki bawahan vampir, namun jumlahnya terbatas, dan hanya memiliki level 500 untuk yang tertinggi. Ini akan jadi pasukan barunya, terlebih lagi mereka pasti akan menjadi vampir sepenuhnya jika Rayna menjadikan mereka familiarnya.
"Delila, kirim semua informasi tentang Satan pada Hela sekarang juga. Rahasiakan tentang vampir,"
"Baik, Ibu."
Hela sama sekali tidak pernah menyinggung tentang asal-usul pemberontak. Itu membuatku khawatir, entah apa yang dia pikirkan sekarang.
---------------------------------
Dua hari kemudian.
Akademi Sihir telah selesai dari liburannya. Sebagian murid yang pulang ke rumahnya kini telah kembali.
Seperti biasa, aktivitas kelas Bronze dimulai. Aku dan Delila duduk di kursi belakang.
Tiffany sedang menjelaskan di depan.
Aneh rasanya, dia sudah tahu identitasku, tapi dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Prinsip sihir terbagi menjadi ...."
Dia benar-benar sangat menikmati pekerjaannya. Aku sangat menghargai orang yang mengabdi dengan sepenuh hati pada pekerjaannya. Tapi, itu tidak berlaku pada pekerja kantoran yang dipaksa mengabdi oleh para korporat.
"Aku punya sesuatu untuk kalian." Tiffany mengeluarkan tongkat sihir dari dalam jubahnya. "Kalian tidak perlu khawatir jika kesulitan dalam mengendalikan sihir kalian."
Tongkat itu adalah prototype dari Khai Staff milikku. Sangat mirip, namun fungsinya masih berada jauh di bawah Khai Staff. Yah, ini setara item tingkat biasa. Para penyihir menara gila itu, hanya beberapa minggu mereka bisa mengembangkan tongkat itu tanpa bantuan dwarf. Akan jadi seperti apa jika para dwarf membantu mereka.
"Guru, apa bedanya tongkat itu dengan yang kami miliki?" tanya salah satu murid.
"Ini jauh lebih berkualitas." Tiffany melirikku sekilas.
Aku menganggukkan kepala.
"Kita akan mencobanya! Tirel, majulah." Tiffany menunjuk seoranh murid.
Tirel, aku tidak terlalu memperhatikannya. Dia murid terlemah, sulit untuk menggunakan sihir walau sudah menggunakan berbagai jenis tongkat.
Aku salut dengan kerja kerasnya, semoga dia mendapatkan hasil yang baik.
Tirel maju ke depan, dia terlihat sangat gugup, berulang kali memegang kacamatanya.
"Tenanglah, Tirel, tidak akan ada yang menertawakanmu." Tiffany menenangkan Tirel.
Dia benar-benar lembut. Kelas ini sudah jauh berubah, para bajingan perundung sudah mulai berkurang. Tidak hanya kelas ini, hampir keseluruhan, ini semua berkat Theresia yang mulai menyadari kekolotannya.
Kembali ke Tirel.
Tirel menggenggam tongkat itu.
"Fokus, Tirel. Gunakan keahlianmu."
Tirel memejamkan matanya.
Aku bisa melihat Mana di tubuh Tirel yang perlahan mengalir ke tongkat.
Tongkat itu benar-benar berfungsi.
"Light." Tirel merapalkan sihir cahaya.
Cahaya itu semakin terang.
Dia berhasil.
Murid-murid yang sebelumnya ragu, kini mulai antusias dengan apa yang mereka lihat.
"Tirel, kau berhasil." Tiffany memegang kedua pundak Tirel dari belakang.
"Ini luar biasa, Guru!"
Tiffany kembali melirikku, kali ini dia tersenyum.
Dia berhasil menaikkan moral mereka. Sosok Guru seperti ini akan selalu diingat oleh murid-muridnya.
Tiffany mengangkat tangannya. "Mari kita coba di arena!"
"Iya, Guru!" Para murid sangat bersemangat.
Yah, begitulah seharusnya. Sampai kejadian paling menyebalkan terjadi saat kami sampai di arena bawah tanah.
"Apa yang dilakukan bronze rendahan di sini?!" Seseorang meneriaki kami di arena bawah tanah.
Para perundung belum sepenuhnya hilang dari Akademi Sihir.
Sekelompok murid berjalan mendekati kami, lambang di dada mereka berwarna silver. Ada seorang guru pria yang menemani mereka.
"Halo, Guru Tiffany, arena ini bukanlah tempat bermain bagi para bronze. Aku menyarankan kalian bermain di lapangan kecil di belakang bersama kelinci," ucap guru itu.
"Aku tidak pernah mendengar peraturan jika murid bronze dilarang menggunakan arena," tegas Tiffany.
"Yah, itu karena Guru Bronze tidak pernah ikut pertemuan para Guru Silver ke atas."
Beberapa murid kelas silver tertawa kecil.
Huuh ... ternyata orang ini otak dari perundungan di Akademi Sihir.
"Jadi begitu, ya?" Tiiffany berbalik ke arah kami. "Kita akan latihan di sana, ya." Dia menunjuk ke bagian arena yang kosong.
Arena ini memang cukup luas, tak mungkin mereka memakainya juga, 'kan?
"Kau mengabaikanku?!" Guru silver itu terlihat marah.
Yah, hal yang menyebalkan akan terjadi.
Guru silver itu berjalan bersama murid-muridnya menuju ke arah kami.
"Begini saja, kita akan bertanding," ucapnya dengan ekspresi meremehkan.
Aku bisa melihat wajah Tiffany yang mulai terlihat kesal dengan hal ini.
"Jika kami menang, maka kalian para bronze dilarang menggunakan arena ini,"
"Bagaimana jika kami menang?" tanya Tiffany.
"Kami akan pergi dari sini. Tapi itu tidak mungkin, 'kan? Karena kalian tak akan pernah bisa mengalahkan kami!"
"Hahahaha!" Para murid silver tertawa keras.
Aku merasakan sedikit aura membunuh dari barisan kami.
Bukan Tiffany, tapi ....
"Aku akan melawan kalian!" Tirel maju ke barisan depan.
Bocah kecil ini ingin membunuh orang! Siapa yang mengajarinya?!
-----------------------------------
Singkatnya, pertandangin Tirel melawan salah satu murid dimulai saat itu juga.
Lawannya seorang wanita, tapi energi sihirnya paling besar di antara para murid silver lainnya di sana, sepertinya mereka berencana menyakiti Tirel.
Sedangkan Tirel, dia yang terlemah di antara kami.
"Pertandingan dimulai!"
Tirel langsung mempersiapkan tongkatnya.
"Ice Spear!" Murid silver melancarkan sihirnya.
Beberapa tombak es berukuran kecil mengarah ke Tirel.
"Fire Wall!" Tirel merapalkan sihirnya.
Sebuah kobaran api muncul di depannya dan langsung melelehkan tombak es itu.
"M-mustahil!" Murid silver itu terlihat syok melihat sihirnya yang dengan mudah dikalahkan.
Ini mengejutkan, itu sudah setara tingkat 3. Benar-benar tongkat yang mengerikan.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE, YA :(