The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Akademi Sihir



Chapter 35 : Akademi Sihir II


Kami membawa seorang gadis korban perundungan. Dia merupakan murid Akademi Sihir. Dilihat dari perlakuan orang-orang itu, sepertinya memang ada kesenjangan kasta di Akademi Sihir.


Huuh ... benar-benar merepotkan. Tak ada bedanya dengan para Bangsawan.


"Baringkan dia, Delila,"


"Baik, Ibu."


Saat ini kami berada di penginapan dan memesan satu kamar. Dua gadis ini melarangku menggunakan kamar sendiri, jadi kami memesan kamar yang lebih besar. Aku juga tidak menyangka ada penginapan mewah seperti ini. Ini lebih mirip seperti hotel.


Gadis ini, dia terluka parah. Erish hanya menutup luka dan menghentikan pendarahannya. Kasus perundungan ini sudah sangat ekstrem, mereka tidak segan-segan untuk membunuh.


Aku terus memperhatikan gadis itu.


Wajahnya sedikit mirip dengan tubuh versi remajaku ini. Ia juga memiliki warna rambut yang sama persis denganku. Ini hanya kebetulan, 'kan? Atau jangan-jangan ... ah! Bukan waktunya memikirkan hal konyol ini.


"Delila, lakukan penyembuhan seperti yang kau lakukan padaku waktu itu."


Delila hanya diam menatap gadis itu yang sedang terbaring lemah.


"Delila?"


"Maaf, Ibu, Saya tidak sudi menggunakannya pada makhluk rendahan seperti ini."


Kenapa seluruh NPC-ku memiliki sifat menyebalkan seperti ini?!


"Delila, dengarkan Ibumu ini baik-baik,"


Delila langsung melihatku dengan wajah serius.


"Kita membantu seseorang harus memiliki niat dan tujuan. Dan tujuanku adalah untuk membuat gadis ini berhutang budi padaku, kemudian aku bisa dengan mudah menggali informasi tentang Akademi Sihir darinya. Karena gadis ini akan merasa bersalah jika tak menjawab pertanyaan dari penolongnya,"


"Hooh ... jadi begitu. Ibu sudah memperkirakan semua ini akan terjadi. Ibu memang luar biasa,"


Heh?


"Saya tidak akan mengganggu rencana yang sudah Ibu siapkan."


Apa yang dia bicarakan?!


"Eheeem ... baiklah, lakukan sekarang."


Delila mulia memeriksa tubuh gadis itu.


Gadis ini tidak menyerang balik saat dirundung, dia terlihat putus asa waktu itu. Tunggu ... orang yang merundungnya sempat menyebutku penyihir bertongkat, apa maksudnya itu? Mungkinkah gadis ini hanya bisa menggunakan sihir dengan tongkat?


"Ibu." Delila selesai memeriksa tubuh gadis itu.


"Apa ada masalah, Delila?"


"Gadis ini, sepertinya sihirnya disegel,"


"Apa?"


"Aliran Mana gadis ini hampir sepenuhnya diblokir, dia hanya bisa menggunakan 10% kekuatannya,"


"Delila, level berapa gadis itu?"


"Nama gadis ini Livia Hart,"


Hart?


"Seorang Magic Caster level 155, usianya 17 tahun,"


"17 tahun?" Erish terkejut.


Itu reaksi yang wajar, di usianya yang masih 17 tahun, dia sudah mencapai level 155.


Apa yang terjadi sebenarnya?


"Ibu, ingatannya juga disegel. Jika aku mengambil esensi tubuhnya dari masa lalu, kemungkinan segel di tubuhnya akan terbuka."


Ini sedikit merepotkan. Gadis ini bisa saja syok karena segelnya dibuka, terutama segel ingatannya.


"Batalkan, kita masih belum tahu bagaimana sikap gadis ini."


Heal milik Erish penyembuhannya sedikit lambat. Sepertinya memang harus menggunakan itu.


"Delila, apa kau membawa potion penyembuh?"


"Ibu ingin yang mana?"


"Unique."


Delila terkejut untuk sesaat dan membuka ruang penyimpanan dimensinya.


Dengan ini harusnya dia bisa pulih dengan cepat. Sebenarnya aku tak ingin menggunakan potion selama berada di dunia ini, ada alasanku tersendiri untuk itu.


Delila menuangkan potion ke dalam mulut gadis itu.


Tubuh gadis itu diselimuti oleh sihir berwarna hijau. Itu merupakan efek potion penyembuh.


"Uhuk!"


Gadis itu langsung sadarkan diri. Ia membuka matanya secara perlahan.


"Di-di mana aku?"


Gadis itu segera bangkit dari tempat tidurnya.


*Bruk!


Tubuhnya langsung terjatuh ke lantai.


Lukanya sudah membaik, namun staminanya masih belum pulih. Tapi, aku sedikit terkejut melihatnya, dia langsung siuman dalam kondisi seperti itu. Tujuanku menyuruh Delila menggunakan sihirnya agar kondisi gadis ini cepat pulih. Dengan semangat hidup yang luar biasa, dia bisa langsung siuman.


"Hei, jangan membuat kami repot lagi, berbaringlah," tegur Erish.


"Ba-baik."


Dia masih sangat syok karena hampir mati. Waktunya memulai pendekatan instan!


"Eheeem ... apa yang terjadi padamu sebenarnya?"


Gadis itu menundukan kepalanya.


Suasana sangat hening karena kami semua diam menunggu jawabannya.


"Hal itu sudah biasa di kalangan murid Akademi Sihir. Mereka murid tingkat Gold lebih diistimewakan daripada kami murid tingkat Perunggu,"


"Kenapa kalian hanya diam saja?"


"Apa yang bisa kami perbuat? Si kuat akan terus berdiri menginjak si lemah. Kami sudah sering melapor, namun kebanyakan guru mengabaikan kami,"


Perkataannya tak sepenuhnya salah. Di dunia mana pun, kau harus menjadi yang terkuat agar orang-orang tunduk padamu.


"Aku berterima kasih pada kalian karena telah menyelamatkanku, aku akan membalas kebaikan kalian jika aku sudah bertambah kuat sedikit." Gadis itu tersenyum manis seolah-olah perundungan itu bukan masalah baginya.


Penjahat sebenarnya adalah orang yang menyegel sihir gadis ini. Ada sesuatu di Keluarga Hart. Sepertinya aku harus menghubungi part rank S itu.


"Kami akan menunggu saat-saat itu." Aku membalas senyumannya. "Ngomong-ngomong, siapa namamu?"


"Namaku Livia,"


Dia menyembunyikan nama keluarganya.


"Namaku Alissia, mereka Erish dan Delila,"


"Kalian terlihat seumuran denganku, apa kalian seorang petualang?"


"Tidak, kami akan menjadi murid di Akademi Sihir."


Livia terkejut mendengar jawabanku. "Kalian?"


"Apa ada yang salah?"


"Aku melihat kemampuan Nona Erish yang sangat luar biasa, aku pikir dia seorang Warrior, tapi bisa menggunakan sihir,"


"Aku seorang Magic Caster, akhir-akhir ini aku memperlajari seni bela diri," potong Erish.


Mendengar itu aku tersadar akan sesuatu. Seharusnya Erish menggunakan sihir saat menyerang mereka.


"Itu benar-benar mengejutkanku, kau bertarung seperti seorang Warrior."


Aku menepuk tanganku. "Baik, sudah cukup perkenalannya. Nona Livia, bisa kau jelaskan tentang Akademi Sihir pada kami secara singkat?"


"Kalian akan menjadi murid Akademi Sihir, sepertinya aku memang harus menjelaskannya."


Akademi Sihir didirikan 300 tahun yang lalu. Pendirinya adalah Ratu Aria de Monta sekaligus Kepala Akademi Sihir hingga saat ini. Dia orang yang sangat berpengaruh di bidang sihir, merupakan Magic Caster yang sangat kuat. Namun, Ratu menerima sebuah kutukan yang membatasi kekuatannya.


Akademi Sihir dibagi menjadi 4 tingkatan yaitu, Bronze, Silver, Gold, dan Diamond. Murid yang tidak bisa menggunakan sihir diletakan di divisi Brown dan diberikan sebuah tongkat. Divisi Brown juga banyak yang tidak menggunakan tongkat, namun sihir mereka lemah. Dan divisi Diamond diisi oleh murid-murid kuat dan jarang menunjukan diri, kebanyakan dari mereka berasal dari Bangsawan atau keluarga ternama.


"Bagaimana cara mereka menentukan kelas divisi bagi murid baru?"


"Karena statistik bersifat privasi, maka akan ada pengujian nanti."


Tunggu ....


"Nona Livia, berapa levelmu?"


"Uh ... ah, aku tahu ini bersifat rahasia, tapi aku akan mengatakannya. Levelku 40."


Jadi begitu, gadis ini tak bisa melihat statistik aslinya. Kemungkinan orang yang menyegelnya punya kemampuan untuk mengubah statistik.


Jika statistik merupakan hal yang sangat rahasia, berarti kami tak perlu menyembunyikan level, 'kan? Tidak, tidak, mungkin ada seseorang yang memiliki mata penilaian di sana.


 -----------------------------


7 hari kemudian, tes Akademi Sihir.


Kami pergi ke Akademi Sihir. Livia terbaring selama 3 hari sebelum kembali ke asrma, aku harap di baik-baik saja.


Suasana sangat ramai. banyak anak-anak yang ingin belajar di Akademi Sihir. Elf dan Manusia sangat mendominasi, dan terlihat beberapa ras Iblis juga ikut serta.


Kami semua berkumpul di halaman depan Akademi Sihir yang sangat luas.


Ada sebuah podium di depan kami. Sepertinya ada beberapa kata sambutan.


Pembawa acara berdiri di panggung.


"Mari kita dengarkan kata sambutan dari Ketua Murid sekaligus murid berperestasi kita, Theresia Tilian Arakano!"


Seorang gadis maju ke podium.


Arakano?


Bersambung ....


Sekarang kalian bisa bergabung di grup chat novel ini. Kalian bisa memberi masukan untuk novel ini agar lebih baik ke depannya. Caranya, buka halaman novel ini, dan klik tombol "Ayo Chat" seperti gambar di bawah.


Terima kasih!



JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!


Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :


https://saweria.co/hzran22


Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.