
"Mulai!" Salah satu guardian Vlad memberi isyarat mulai.
Eliza langsung mengendalikan empat pedang di belakangnya. Dua dari empat pedang itu menusuk lurus ke depan menuju Rayna, sementara dua pedang lainnya berputar-putar menuju ke bagian sisi kiri dan kanan Rayna.
Dia benar-benar seorang esper yang bisa mengendalikan apa pun lewat pikirannya. Tipe merepotkan bagi petarung jarak dekat.
Dinding darah muncul dari bawah kaki Rayna, keempat pedang itu terhempas ketika menyentuh dinding darah. Rayna tak bergerak sedikit pun, dia memilih bertahan untuk mengobservasi kemampuan musuh.
Eliza menarik empat pedangnya menjauh. Seluruh pedangnya mengeluarkan aura merah dan diselimuti dengan darah. Eliza melepas 12 pedang ke segala sisi. 12 pedang itu bergerak ke sana dan ke mari layaknya sedang dikendalikan dengan benang.
Enam pedang pertama mulai menebas dinding darah milik Rayna dari segala arah. Tebasannya menyebabkan ledakan kecil. Dinding darah perlahan pecah, dan Rayna masih tidak bergerak.
Enam pedang lainnya yang masih bergerak tak karuan kini mulai mengambil posisi mengitari Rayna. Cahaya merah muncul dari ujung enam pedang itu. Eliza mendorong enam pedang itu ke arah dinding darah.
Di saat yang bersamaan Rayna menghancurkan dindin darah dengan auranya. 12 pedang milik Eliza ikut terhempas ke segala arah, enam pedang yang mengeluarkan cahaya merah sebelumnya meledak sesaat setelah Rayna menghempaskannya.
Ledakan itu membuat area tempat Rayna berdiri tertutup kepulan asap hitam.
*Wush!
Tombak Rayna melesat keluar dari kepulan asap menuju ke arah Eliza.
Eliza langsung menarik 12 pedang miliknya ke bagian depan, bermaksud menjadikan pedang sebagai tameng. Pedang-pedang itu berkumpul membentuk sebuah perisai.
Ada yang aneh.
Tombak Rayna dan perisai buatan Eliza saling terbentur. Rayna melompat menuju perisai dengan tangan kanan bersiap-siap menebas menggunakan pedang.
"Aku akan mengakhiri ini." Rayna langsung menebas perisai dengan pedangnya.
Namun, bukannya hancur, pedang Rayna justru terjebak di perisai itu.
Pedang itu sebenarnya menyatu dan membentuk menjadi sebuah perisai. Pada dasarnya senjata milik Eliza terbuat dari cairan lengket berwarna abu-abu, seperti semen tapi sangat merekat.
"Kukukuku, siapa yang akan mengakhiri siapa kali ini?" Eliza tersenyum lebar melihat ke arah Rayna dengan mata yang terbuka juga terbuka lebar.
Cairan aneh itu langsung melilit tubuh Rayna, perlahan melebar, dan menelan tubuhnya.
Benda itu mirip seperti slime.
Semakin kuat, benda aneh itu menekan Rayna dengan sangat kuat. Rayna terlihat kesulitan untuk bergerak.
"Selamat tinggal, True Vampire imitasi." Eliza menarik sebagian cairan aneh itu dan membentuknya menjadi pedang.
Dia langsung menarik pedang itu, bersiap menusuk Rayna.
Aku tak tahu pedang apa itu, tapi pedang itu sepertinya bisa melukai Rayna.
*Crack!
Pedang itu menembus dada Rayna hingga bagian belakang.
"Rayna!"
Tidak mungkin! Walaupun bisa melukainya, mustahil pedang itu bisa menghancurkan zirah pertahanannya!
Aku hendak berlari ke dalam arena, namun Delila menahan tanganku.
[Ibu tak perlu cemas,] ucap Delila melalui telepati.
"Lord! Saya berhasil membunuhnya!" teriak Eliza dengan ekspresi bahagia.
"Maafkan aku, Nona Hart, terkadang sesuatu tidak sesuai dengan rencana kita." Vlad tersenyum kecil.
*Crack!
Sesuatu melubangi dada Eliza, zirah miliknya hancur seketika, tak ada sehelai pakaian pun yang menutupi tubuh Eliza sekarang.
Aku teringat sesuatu setelah melihat hal itu.
Tidak mungkin ... Rayna, kau menggunakan pedang itu?
Aku tidak menyadarinya, karena bentuk pedang itu sama seperti pedang biasa, berwarna hitam. Nama pedang itu adalah Souldrake, pedang yang bisa menyerap esensi jiwa.
Posisi pedang itu masih tertahan oleh cairan aneh milik Eliza, namun esensi pedang itu telah munusuk dada Eliza. Terdengar aneh, tapi pedang itu punya jiwa.
Lupakan soal itu, bagaimana dengan Rayna?!
Seseorang keluar dari kepulan asap, orang itu adalah Rayna. Kepulan asap sebelumnya belum sepenuhnya menghilang. Rayna keluar mengenakan Bloody Armor.
Rayna dalam sekejap sampai di hadapan Eliza. Gerakannya sangat cepat karena dia mengenakan Bloody Armor.
Tubuh palsu Rayna yang terjebak di cairan aneh meleleh menjadi darah.
Jadi begitu, dia menggunakan klon yang terbuat dari darah. Dia benar-benar membuatku khawatir.
"Tidak semudah itu!" Eliza menarik cairan aneh dari tubuh palsu Rayna dan mengubahnya menjadi pedang besar.
Pedang besar itu langsung melesat dengan cepat pada jarak yang sangat dekat.
Rayna menangkap ujung pedang itu hanya dengan dua jari tangan kanannya, tanpa melihatnya sama sekali.
"Hidupmu cukup sampai di sini." Rayna mengangkat tangan kirinya, meluruskan jarinya seperti pedang.
Dia hendak memotong kapala Eliza.
"Lord, tolong!" Eliza berteriak hingga menangis.
"Hentikan!" teriak Lord dengan sangat kuat menggunakan suara beratnya.
Kelima guardian langsung mengepung Rayna.
Ini gawat! Rayna bilang dia tidak bisa melawan mereka sekaligus.
[Delila.]
[Saya sudah menyiapkannya, Ibu.]
Heh? Menyiapkan apa?
"Turunkan tanganmu!" teriak salah satu guardian.
*Crack!
Rayna langsung memotong kepala Eliza tanpa mendengarkan perkataan guardian.
Tiga dari lima guardian menggunakan pedang, dua sisanya adalah seorang wanita dan pria warrior yang menekanku sebelumnya.
Ketiga guardian menebaskan pedang mereka, bilah pedang sihir secara bersamaan mengarah ke arah Rayna. Dengan cepat Rayna menghindari serangan itu, tubuhnya tidak terlihat karena sangat cepat.
Rayna muncul di belakang Lilith, ia langsung menendang Lilith hingga tubuh Lilith menekuk ke belakang. Lilith terhempas hingga ke luar arena.
Rayna kembali muncul di hadapan kedua guardian yang menggunakan pedang tadi secara bersamaan. Salah satu tubuhnya merupalan klon darah. Rayna dengan mudah mengalahkan salah satu guardian yang hendak menyerangnya, ia langsung memotong tangan guardian itu. Sedangkan klon darah pecah dan mengurung salah satu guardian lainnya.
Kini hanya tersisa True Vampire warrior dan seorang True Vampire wanita.
"Kukukuku, kau mengandalkan kecepatanmu untuk mengalahkan mereka, sungguh wanita yang licik," ucap Blad, si True Vampire Warrior.
Perkataannya memang benar, jika mereka menggunakan kekuatan penuh sejak awal, Rayna akan kesulitan menghadapi mereka. Pengalaman bertarung Rayna membuatnya bisa membaca ritme pergerakan musuh, termasuk mengetahui timing yang pas untuk mematahkan skill musuh sebelum digunakan.
Blad membuka jubahnya, terlihat jelas armor warrior yang ia kenakan, hampir mirip dengan Bloody Armor, memiliki banyak bagian terbuka untuk mempermudah pergerakan.
Perhatianku tertuju pada guardian yang satu lagi. Seorang wanita yang mengenakan jubah penyihir, dia terlihat cemas melihat rekannya tak berdaya.
Tunggu!
[Delila, tangkap wanita itu!]
[Baik!]
Portal dimensi muncul di bawah kaki wanita itu, dia langsung terjatuh ke dalam portal. Tak selang beberapa lama, arena berubah menjadi ruangan kecil.
Sudah kuduga, wanita itu yang menggunakan sihir ruang. Ini adalah bentuk asli dari isi dalam bangunan.
*Srigh!
Sesuatu menggores leherku dari belakang, secara bersamaan satu tangan besar memelukku dari belakang. Sebuah pisau yang dialiri aura berada di leherku.
"Jika kalian bertindak lebih jauh lagi, aku akan membunuh wanita ini." Vlad adalah orang yang mendekapku.
"Ibu!"
Sialan.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!