The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Perjanjian



Hela teringat kejadian mengerikan yang pernah ia alami 3 tahun lalu. Hari di saat ia bertemu dengan makhluk mengerikan di gubuk kecil. Sekarang, makhluk itu berada tepat di hadapannya.


Hela mengangkat tangannya ke depan, lingkaran sihir di tangannya bersiap untuk menembak.


"B-berhenti di situ!" teriak Hela.


Kondisi Naura sangat memprihatinkan, ia masih berjuang melahirkan anak pertamanya.


Makhluk itu berjalan ke arahnya.


"Fire Ball!" Hela merapalkan sihirnya.


Namun, sihir yang ia rapal tak bekerja.


Apa yang terjadi?


Hela terus merapal sihir dan tetap tidak berhasil. Makhluk itu berjalan melewatinya menuju ke arah Naura.


Tubuhku tidak bisa bergerak?


Tubuh Hela terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahan tubuhnya. Namun, ia tetap bisa menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi pada Naura.


Makhluk itu berdiri tepat di dekat Naura yang sedang menahan sakit. Ia menjulurkan tangan kanannya ke bagian bawah Naura.


"Apa yang kau lakukan?!"


Hela hanya bisa melihat hal itu, tubuhnya tak bisa bergerak. Ia menahan tangis mendegar jeritan Naura yang semakin keras.


"Oeeeeeek!" Terdengar suara tangisan bayi.


"A-apa yang terjadi?"


Suara tangisan itu berasal dari tempat Naura.


Hela langsung berlari menuju ke tempat Naura, entah bagaimana ia bisa menggerakkan tubuhnya.


Makhluk itu menggendong bayi.


Hela hanya diam, ia begitu bahagia sampai tak bisa berkata-kata.


Sesosok bayi mungil bergerak di tangan makhluk itu. Hela ingin menyentuhnya, namun ia takut melukai bayi kecil itu.


Makhluk itu menyelimuti bayi kecil dengan kain. Kemudian meletakkannya di sebelah Naura.


Perhatian Hela tertuju pada Naura.


"Naura!"


Kondisi Naura sangat buruk. Kesadarannya mulai menghilang, ia hanya bisa melihat bayang-bayang bayi di sebelahnya.


Naura tak memiliki tenaga untuk melahirkan anak ke duanya.


Hela teru merapal sihir, "Heal" untuk membantu Naura agar tetap mendapat kesadarannya.


Naura terus berusaha untuk mempertahankan kesadarannya. Ia berusaha untuk membuka mulutnya.


"Naura, jangan banyak bergerak!" Hela sangat panik dan akhirnya menangis. "Nauraaaa ... aaaaah!"


"Tenangkan dirimu, gadis kecil," ucap makhluk di belakangnya.


Hela sontak terdiam.


Dia ... bisa bicara?


"Dia hanya kehabisan tenaga, dia bisa beristirahat, dan akan melanjutkan persalinan keduanya nanti." Suara makhluk itu sangat berat, sampai membuat Hela merinding mendengarnya.


"S-siapa kau?" tanya Hela ragu-ragu.


Ia berhati-hati agar makhluk itu tidak marah, Hela tahu bahwa makhluk itu sangat kuat.


"Ini pertemuan kita untuk yang ketiga kalinya, ya, gadis kecil. Hmm ... tidak, karena saat itu kau tidak sadarkan diri, aku anggap ini pertemuan kedua kita."


Hela sangat bingung dengan perkataan makhluk itu. Pikirannya benar-benar kacau. Ia kembali melihat bayi kecil di sebelah Naura.


"Kelihatannya kau sangat menyayanginya,"


"Itu benar, hanya merekalah keluargaku satu-satunya." Hela melihat ke arah makhluk itu, kemudian menundukkan kepala. "Tuan, terima kasih karena sudah menyelamatkan kami,"


"Tidak masalah, aku memiliki sebuah perjanjian dengan wanita itu."


Wanita ... Naura?


"Perjanjian seperti apa itu, Tuan?"


"Aku tak bisa mengatakannya, ini semacam kontrak. Setidaknya tunggu sampai dia pulih terlebih dahulu."


Naura tidak tertidur, kesadarannya masih terjaga. Ia masih dalam perjuangan untuk membuka mulutnya.


"Mandikan bayi itu dengan air hangat,"


"Baik."


Hela mengisi sebuah mangkuk dengan sihir airnya, kemudian ia memanaskannya dengan sihir api. Dengan takaran api yang sesuai, air hangat telah selesai dibuat. Ia membasuh bayi kecil itu dengan air hangat.


Wajahnya tak bisa menahan kebahagian yang dirasakan.


Jadi, bayi ini akan jadi keponakanku. Walau aku tak memiliki hubungan darah dengan Naura, namun anggapanku tak salah, 'kan?


Ia terus membasuh bayi itu dengan lembut.


"Hela ...." Naura memanggil Hela dengan suara yang sangat pelan.


Kondisi Naura perlahan mulai membaik.


"Naura!" Hela sontak mendekati Naura.


Naura menggelengkan kepalanya agar Hela tenang. Mengingat Hela sedang menggendong bayinya. Naura melirik ke arah makhluk yang menyelamatkan mereka.


"Terima ... kasih ... Tuan Joah."


Naura tersenyum kecil. "Maafkan ... aku, Tuan Joah,"


"Untuk apa?"


"Perjanjian ... kita."


Hela hanya menyimak percakapan mereka berdua. Ia juga penasaran perjanjian seperti apa yang telah dibuat di antara mereka.


Makhluk itu seekor Beastman yang bernama Joah, ia memiliki wujud Gorila putih. Karena peningkatan kekuatan, fisiknya berbeda dengan yang lainnya.


Hela selalu takut dengan taring di mulutnya yang menjulang ke atas. Ini salah satu trauma terbesarnya.


"Perjanjian hampir berakhir, aku telah mendapatkan apa yang kucari,"


"Jadi ... apa yang ingin kau ambil ... Tuan?"


Banyak pertanyaan muncul di benak Hela, perjanjian antara mereka berdua membuat Hela curiga.


"Naura, apa maksudmu?!"


Tuan Joah tidak bereaksi apa pun, atau karena aku yang berpikir terlalu jauh?


"Agh!" Naura merasakan sakit yang luar biasa.


"Naura!" teriak Hela keras.


"Sepertinya kita sudah tidak bisa menunda proses kelahiran bayi ke duanya," sambung Joah.


"Apa kau bisa membantunya lagi, Tuan?"


"Dia masih sangat lemah akibat kelahiran pertama, aku akan berjuang semampuku,"


"Terima kasih, Tuan!"


Hela lanjut membersihkan bayi pertama dengan air hangat. Sedangkan Joah mencoba melakukan persalinan kedua untuk Naura.


"Bertahanlah, Naura."


Naura berteriak histeris, sakit yang ia rasakan jauh berbeda dari kelahiran pertama. Perutnya seperti akan robek hingga ke bagian bawah.


*Bum!


Sebuah tekanan aura yang sangat besar terdeteksi oleh mereka.


"Energi mengerikan apa ini?" Hela langsung berkeringat dingin setelah merasakan energi kuat itu.


"T-tidak mungkin ...." Joah panik sambil meneruskan pekerjaannya.


"A-apa kau juga merasakannya, Tuan?"


"Gadis kecil, rapalkan sihir pelindung terkuatmu sekarang!" teriak Joah keras.


Hela langsung panik setelah mendengar teriakan Joah yang mengejutkannya. Ia sempat bingung ingin melakukan apa karena suara keras itu.


"Shie--"


"Sudah terlambat!" Joah menarik pedang besarnya dan langsung menebas ke belakang.


*Ting!


Dentuman senjata terdengar sangat nyaring sampai menimbulkan gelombang kejut.


Joah menahan serangan yang diarahkan oleh seseorang dari belakang. Pedang besar dan cakar hitam saling bergesekan.


Mata Hela terbuka lebar saat melihat sosok yang menyerang Joah. Orang itu memiliki sepasang tanduk hitam mengkilap di kepalanya. Ini pertama kali Hela melihat sosok itu.


Makhluk apa itu?


Hela bersiap melindungi Naura dan bayinya.


Makhluk itu berdecis, "Aku tak menyangka bisa menemukan Beastman di sini,"


"Aku juga tak meyangka bisa melihat Iblis yang memiliki kedudukan tinggi ada di sini."


Joah mendorong Iblis itu untuk memperlebar jarak mereka.


Iblis?


Hela hanya diam dan tertekan dengan aura di dalam akibat Iblis itu.


"Oho ... kau tahu kalau aku memiliki kedudukan tinggi?"


"Tentu saja, penampilanmu, energi yang kau sembunyikan tak akan lepas dari inderaku,"


"Beastman memang luar biasa. Aku sedikit terkejut karena kau bisa menangkis seranganku, ternyata mayat-mayat di luar itu ulahmu, ya?"


Joah bersiap dalam posisi siap menyerang. "Kau akan mengetahuinya saat pedang ini memenggal kepalamu,"


"Hahahaha! Akhirnya aku mendapat hiburan yang menarik! Eheem ... aku harusnya bisa sedikit bersenang-senang dengan penyihir itu, namun dia terluka, aku terpaksa harus membunuhnya. Sayang sekali,"


*Wush!


Joah dengan cepat berlari ke arah Iblis itu. Ia berada tepat di depannya.


"Perhatikan lawanmu, dan jangan banyak mengoceh." Joah mengayunkan pedang besarnya tepat ke arah leher Iblis itu.


*Ting!


Pedang besar Joah mengenai lehernya, namun sebuah armor logam melindungi si Iblis.


Joah terkejut dengan apa yang dilihatnya. "Armor ...? Hei, jangan bilang, kau ...."


"Benar. Aku adalah Panglima Iblis, namaku Coros!"


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!