
2 tahun kemudian.
Seekor kelinci sedang melompat-lompat mencari makanan di antara rumput dan akar pepohonan. Itu bukan kelinci biasa, ia memiliki ukuran sebesar anak balita. Tanduk seperti unicorn menancap di kepalanya. Itu adalah Hornet Rabbit, salah satu binatang buas yang cukup mematikan. Memiliki bulu berwarna putih, serta mata merah menyala, itu cukup untuk menakut-nakuti makhluk lemah di sekitarnya.
Tak jauh dari posisi Hornet Rabbit, ada tiga orang yang sedang mengintai kelinci itu, mereka adalah tiga serangkai.
"Naura, ini pertama kalinya bagi Hela, cukup lindungi jika terjadi sesuatu,"
"Dimengerti."
Naura dan Legarde berada sedikit jauh dari Hornet Rabbit, mereka mengamati dari balik pepohonan. Orang yang paling dekat dengan Hornet Rabbit adalah Hela. Selama 2 tahun terakhir, Hela melatih kemampuan sihirnya. Kedua temannya tak sengaja melihat bakat alami sihir yang dimiliki Hela saat sedang memancing ikan. Saat itu Hela dengan mudah mendeteksi seluruh ikan dan secara tidak sengaja mengangkat air di sungai dengan sihirnya. Legarde dan Naura langsung mengajarkan Hela semua yang mereka ketahui.
Hela bersembunyi di balik semak-semak, jarak dengan Hornet Rabbit kurang dari 3 meter. Hela menyembunyikan dirinya dengan skill Stealth. Walau kelinci itu tidak menyadarinya, namun ia sangat gugup karena ini buruan pertamanya.
Hela menarik napasnya dan membuangnya dengan penuh ketenangan. Ia sudah tidak gugup berkat ketenangan yang ia pelajari dari Naura.
Ia perlahan memotong jarak dengan Hornet Rabbit itu, menunggu kesempatan untuk mengalahkannya dalam sekali serang.
Tangan kanannya mengeluarkan sedikit energi sihir, bersiap untuk menyerang.
Sekarang!
"Fire!"
*Bush!
Kelinci itu langsung terbakar oleh api, ia menggeliat kesakitan.
"Berha--"
Sebelum Hela merayakan keberhasilannya, Hornet Rabbit melompat ke arahnya dengan gigi tajam yang sangat mengerikan.
Tidak!
*Crack!
Hela membuka matanya. Darah menyebar ke mana-mana, seorang wanita berada di depannya dengan postur yang terlihat gagah.
"N-naura ...." Air mata Hela tak terbendung, ia langsung meneluk Naura dari belakang.
Naura menghabisi Hornet Rabbit dengan kedua dagger yang terbuat dari taring monster.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Hela."
Hela mengusap-usap air matanya menggunakan baju Naura.
Naura mengelus-elus kepala Hela. "Ayo kita pulang, sepertinya koki kita tak sabar setelah melihat kelinci ini,"
"Baik!"
---------------------------
Pada malam harinya, mereka menyantap daging kelinci itu dengan nikmat. Hela sedikit kecewa karena ia tidak bisa membunuh Hornet Rabbit.
"Kau tak perlu sedih seperti itu, Hela,"
"Aku gagal ...."
"Itu bukan sebuah kegagalan, sihirmu berhasil melukainya, jika bukan karena itu, aku pasti tidak bisa membunuhnya dalam sekali serang,"
"B-benarkah itu?"
"Benar, Hela."
Perasaan Hela kembali membaik setelah mendengar perkataan Naura.
Naura berhasil meyakinkan Hela. Namun, perkataannya sama sekali bukan kebohongan. Tebasan Naura sempat gagal, akan tetapi sihir api Hela menyatu dengan daggernya, ia merasa daggernya menjadi lebih kuat dan tajam setelah menerima sihir dari Hela.
"Hela, apa kau punya keinginan pergi ke Menara Sihir?" tanya Naura.
Hela menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya ingin bersama kalian berdua,"
"Kau bisa menjadi kuat jika pergi ke sana,"
Hela mengerutkan keningnya. "Aku juga bisa menjadi kuat tanpa bantuan Menara Sihir!" Ia meninggikan suaranya pada Naura.
"Hel--"
"Hentikan, Naura." Legarde memotong perkataan Naura.
Naura melihat ke arah Legarde yang menggelengkan kepalanya.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, itu menyangkut masa depan Hela. Kemampuan Hela sangat luar biasa, Naura tahu itu, namun jika Hela terus bersama mereka, Hela tak akan berkembang.
Hela kembali sedih, ia merasa bahwa kedua temannya tak ingin bersamanya.
Melihat Hela yang sedih, Naura tersadar. Ia mengingat impian mereka 2 tahun lalu.
Aku benar-benar bodoh, bagaimana bisa aku mengatakan hal bodoh seperti itu?
Itulah yang dipikirkan Naura.
Ia langsung memeluk Hela dengan penuh penyesalan.
"Hela, maafkan aku, lupakan perkataan bodohku barusan." Air mata Naura perlahan menetes membasahi rambut Hela.
Hela tak memberi tanggapan.
Naura segera memeriksa Hela.
Hela tertidur pulas di pelukan Naura.
"Dia sudah tidur."
"Naura, apa kau sudah mendengar tentang kelompok Red Heart yang menjarah desa?"
"Aku sudah mendengar tentang mereka dari para pemburu,"
Red Heart, sebuah kelompok kriminal yang suka menjarah desa atau karavan yang lewat. Anggotanya merupakan petarung dan penyihir yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Desa tempat tinggal Naura dan Legarde hancur dalam semalam karena ulah Red Heart. Orang tua mereka meninggal, hanya mereka berdua yang berhasil lolos dari kejadian itu.
"Kau benar. Kita tak bisa berbuat banyak, kita masih lemah." Naura terus memandangi Hela yang terlelap dalam tidurnya.
Hela, dia jauh lebih menderita daripada kami. Dia bahkan tidak tahu siapa orang tuanya, kami menemukannya tergeletak di hutan sendirian 4 tahun lalu. Kami tak ingin Hela terluka karena masalah ini.
Naura semakin sedih mengingat hal itu, ia sangat menyayangi Hela. Walau penampilannya tomboy, fakta bahwa ia juga seorang gadis yang rapuh tak bisa menutupinya.
Mereka kembali ke gubuk kecil dan beristirahat.
-------------------------------
Di perbatasan Wilayah Menara Sihir.
Sebuah karavan sedang membawa persediaan pangan untuk desa-desa kecil di sekitar perbatasan. Karavan itu dijaga oleh 6 pengawal dari Tiga Menara Sihir, masing-masing diisi 2 dari setiap perwakilan. Ini kegiatan rutin yang dilakukan setiap bulannya di Wilayah Menara.
Karavan itu berlajan melalui jalan setapak di tengah hutan. Hanya ini jalan tercepat daripada harus mengelilingi hutan, jalan ini juga dulunya digunakan sebagai rute perdagangan sebelum kerajaan hancur.
Mereka memasang pelindung berbentuk perisai yang menutupi area-area vital seperti bagian atas dan sudut karavan.
"Kita akan sampai di desa selanjutnya," ucap pemimpin karavan.
Mereka berada 2 kilometer dari desa, itu bisa dilihat dari tanda garis merah di setiap kilometernya.
*Srrkk
Terdengar suara dari dalamnya rimbun pepohonan.
Para pengawal berhenti dan mulai bersiap.
*Crack!
Muncul sebuah kayu runcing dari bawah tanah dan menusuk perut salah satu pengawal.
"Agh!"
Seluruh pengawal mulai panik sehingga perisai sihir goyah dan menghilang.
"Tenangkan diri kalia--"
*Crack!
Kepala pengawal itu terlepas dari tubuhnya dengan anak panah dialiri oleh sihir yang menancap.
Puluhan anak panah lainnya datang dari segala arah.
"Aktifkan kembali perisainya!"
"Shield!"
Puluhan anak panah itu berhasil dihalau.
Jumlah pengawal yang tersisa tinggal 4, ditambah 1 pemimpin karavan.
"Para penjarah itu sepertinya telah menunggu kita, tembakan suar!"
"Siap!"
*Dor!
Salah satu pengawal menembakan sebuah suar api ke atas untuk meminta bantuan.
Sesuatu muncul dari arah berlawanan.
"Ada seseorang di sana!"
Orang itu masih berada di dalam kegelapan, namun hawa keberadaannya dapat dirasakan dengan jelas oleh para pengawal.
Dua pengawal di depan menembakan sihir bola api ke arah orang misterius tersebut.
Bola api itu langsung menghilang ditelan kegelapan. Itu terlihat tidak masuk akal bagi mereka yang menyaksikannya. Memang seperti itulah kenyataannya.
"T-tidak mungkin ...." Salah satu pengawal terlihat ketakutan.
"Ada apa?!"
"Aura kegelapan ini, serta hawa membunuhnya yang sangat mengerikan ...."
"Katakan siapa?!"
*Crack!
Dua dari empat pengawal yang tersisa telah mati terpotong oleh sesuatu.
Kedua pengawal tersisa hanya terduduk lemas melihat seseorang yang berada di hadapan mereka.
Sebuah besi menyerupai cakar muncul keluar dari kegelapan.
"Dia ... Cakar Kegelapan," ucap salah satu pengawal dengan nada pelan.
*Crack!
Seluruh pengawal mati dan hanya menyisahkan pemimpin karavan.
Pemimpin karavan sangat ketakutan melihat cakar besi yang berada tepat di depan matanya.
"Aaaaaaaaaaaagh!"
Malam itu dipenuhi dengan lautan darah.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!