The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Kesan Pertama



Beberapa hari kemudian. Rose telah pulih sepenuhnya dari efek perubahan vampir. Kini ia bisa bergerak bebas tanpa sakit di tubuhnya.


Hari pertama kerja, ini pertama kalinya aku menjadi maid. Usiaku sudah tidak muda lagi, mungkin aku harus menyesuaikan sikapku.


Rose melihat pantulan bayangan dirinya di cermin. Baju maid dengan rok panjang, bagian dadanya sedikit ketat, namun Rose sama sekali tak merasa sesak. Rose membuat berbagai macam ekspresi untuk melatih mimiknya.


Malu, ceria, tegas, dingin. Semuanya tak cocok sama sekali.


Di tengah kebingungannya, Rose teringat kembali dengan perkataan Rubia tentang kebebasan. Pada akhirnya, Rose memutuskan untuk menjadi orang seperti apa.


"Baiklah, aku akan mulai." Rose menepuk kedua pipinya.


Pengenalan pertama. Rose berkeliling istana sembari dipandu oleh seorang maid. Mereka berjalan di lorong istana, mata Rose tertuju pada setiap jendela yang ia lewati. Kebetulan jendela itu menunjuk ke arah kota.


Ada beberapa bangunan tinggi dan besar yang selalu membuat Rose takjub tanpa henti. Dia tak pernah melihat bangunan seperti itu, hanya beberapa menara sihir mewah yang berada di Kerajaan Mystick, namun bangunan di sini lebih elegan.


"Rose, apa kau tahu sesuatu tentang Kerajaan Penyihir Maphas?" tanya maid yang memandunya.


Nama maid itu adalah Emmu. Penampilan Emmu seperti maid pada umumnya. Namun, Emmu berbeda dengan Rose.


"Aku tak tahu banyak."


"Hmm! Aku di sini akan mengajarimu segalanya tentang Kerajaan Penyihir Maphas!" Emmu berbangga diri di hadapan Rose.


Hal yang membedakan mereka adalah sifat. Emmu sangat aktif dan banyak bicara. Berbanding terbalik dengan Rose, namun Rose rela mendengarkan segala hal yang terucap dari mulut Emmu.


"Kerajaan Penyihir Maphas adalah kerajaan yang muncul ketika keadaan dunia sedang sangat kacau. Itu terlihat seperti mereka datang untuk memulihkan dunia. Dalam sekejap mata, banyak kerajaan yang tunduk atas Kerajaan Penyihir Maphas dan mengakui kedaulatannya. Bahkan Kekaisaran sekali pun, namun ... orang-orang penyembah Dewi yang terkutuk itu tak suka dengan keberadaan kerajaan ini."


Rose menyimak perkataan Emmu dengan seksama.


"Sampai pada perang beberapa tahun lalu, Yang Mulia Ratu Daisy Maphas menunjukkan kekuatannya, bahkan Gereja Suci melakukan cara licik hanya untuk mengalahkan Ratu Daisy!" Emmu terlihat kesal di bagian ini.


"Intinya! Kita sudah mempermalukan Gereja Suci dengan kebodohan mereka!" Emmu kembali bersemangat.


"A-aku senang mendengarnya." Berat bagi Rose untuk menanggapi perkataan Emmu.


"Tapi, apa kau tahu satu hal, Rose?" tanya Emmu yang secara mendadak mengubah ekspresi wajahnya. Kini ia tersenyum lembut.


Rose diam dengan rasa penasaran di wajahnya.


"Orang paling berjasa dari semuanya adalah Nona Perdana Menteri. Beliau melakukan segalanya demi menaikkan nama kerajaan hingga ke puncak tertinggi," lanjut Emmu.


Sorot mata Rose menjadi tajam, ia tahu siapa orang yang dimaksud. Hanya ada satu nama.


"Alissa Hart." Tanpa sadar Rose mengucap nama itu.


*Clap!


Emmu langsung menutup mulut Rose dengan cepat hingga skill benang Mana Rose hampir aktif.


"Rose! Kau tak boleh sembarangan menyebut nama Perdana Menteri!" bisik Rose dengan ekspresi panik.


"B-baiklah."


Mereka melanjutkan tour istana. Dalam sekali tour, Rose sudah menghapal jalan seluruh istana, baik di luar maupun di dalam. Ini juga keahlian yang ia pelajari dari assassin, memahami lingkungan dari segala aspek.


Rose juga baru menyadari sesuatu ketika melihat maid lain saat berpapasan dengannya. Reaksi mereka berbeda-beda, namun itu bukan tindakan pengucilan atau semacamnya. Rose menyadari bahwa seluruh maid di istana ini memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni. Hanya sekali lihat, Rose menyadari senjata yang para maid sembunyikan, dan juga merasakan aura dari tubuh mereka.


Aku mungkin bisa mengalahkan sebagian besar dari mereka, namun tentu saja aku akan berakhir sekarat. Sangat sulit bagi siapa pun untuk menerobos istana ini.


Beberapa hari kemudian, suasana di istana sedikit lebih sibuk dari biasanya. Para maid bersiap menyiapkan hiasan di luar maupun di dalam istana, karpet merah digelar tepat di depan pintu masuk istana.


Rose sudah mulai terbiasa di istana, ia semakin dekat dengan Emmu dan beberapa maid lainnya.


Alasan kesibukan hari ini adalah karena penyambutan seseorang yang akan pulang. Rose mengetahuinya ketika Elina secara pribadi ingin berbicara padanya.


Beberapa waktu lalu, Rose bertemu Elina.


"Rose, pekerjaanmu akan segera dimulai. Ibu akan segera pulang," ucap Elina.


Rose sangat penasaran dengan sosok Ibu yang dimaksud. Instingnya mengatakan bahwa sosok inilah penguasa Kerajaan Penyihir Maphas yang sebenarnya.


"Nona Muda, saya belum memiliki pengalaman tentang ini." Rose mengatakan kekurangannya tanpa menutup-nutupi sedikit pun.


"Tidak malasah, lakukan yang menurutmu benar. Asal Ibu tak keberatan, aku menyerahkannya padamu, Rose."


"Baik, Nona Muda."


Kembali ke saat ini.


Persiapan telah selesai, para maid masih sibuk untuk kembali ke posisi masing-masing, termasuk Rose. Sampai pada satu momen yang membuat mereka diam. Elina berjalan menuju lorong, matanya melihat ke arah pintu istana dengan ekspresi tegang.


Ini pertama kalinya Rose melihat Elina berekspresi seperti itu. Dia tidak terlihat seperti biasanya.


"Bersiaplah!" teriak Elina dengan lantang.


Para maid yang berada di dekat pintu masuk bersiap dalam posisi mereka.


Rose benar-benar tak tahu apa yang mereka lakukan, ia hanya berdiri di barisan yang terletak di sudut, keberadaannya benar-benar tak dihiraukan.


"Huh?" Rose terkejut melihat sesuatu muncul dari sisi Elina.


Secara mengejutkan, tiga orang wanita muncul dari dalam bayangan. Rose sama sekali belum pernah bertemu dengan ketiganya.


Mereka berdiri sejajar dengan Nona Elina, apa mungkin posisi mereka sama?


"Akhirnya, Ibu pulang!" Salah satu dari mereka terlihat kegirangan.


"Jaga sikapmu, Irene, Ibu sudah sampai." Elina mengangkat tangannya ke depan. "Lakukan tugas kalian."


Mereka berempat, bersaudari?


Para maid membuka pintu dan secara teratur keluar.


Rose tak bisa melihat apa yang ada di luar karena cahaya menyilaukan. Namun, perlahan ia melihat pada maid yang sudah berdiri di sisi jalan sembari membungkukkan badan.


Para maid di dalam istana juga menunduk, termasuk Emmu. Menyadari hal itu, Rose langsung menundukkan kepalanya sembari mencuri pandang ke tempat para bersaudari. Jangkauan penglihatannya tak sampai untuk melihat siapa yang berjalan masuk ke dalam.


Aku penasaran!


"Selamat datang kembali, Ibu," ucap keempatnya secara kompak.


Mata Rose langsung tertuju pada sosok misterius itu. Hanya ada punggung empat bersaudari yang menghalangi.


"Sepertinya aku merepotkan kalian." Seorang wanita membalas salam mereka.


Itu suaranya. Sangat nyaman didengar.


"Itu tidak benar, justru kami yang seharusnya bersyukur karena bisa melakukan pekerjaan yang Ibu berikan tanpa kendala sedikit pun."


Mereka benar-benar menghormati sosok itu.


Rose perlahan melihat sedikit penampakan berupa rambut berwarna kuning keemasan yang terlihat muncul dari balik salah satu dari empat bersaudari.


Mereka berbincang-bincang. Tak ada hal yang dibicarakan selain pembicaraan antara ibu dan anak. Rose sedikit mengerti kebahagian keempat saudari ketika bertemu orang itu. Sampai pada momen di mana empat bersaudari membuka jalan untuk Ibu mereka.


Cahaya tiba-tiba muncul, bersamaan dengan rambut emas yang tergerai. Sosok itu seperti keluar dari dalam cahaya. Mata merah yang berkilauan, sorot matanya tajam seperti elang, dan kulit putih yang cerah tanpa satu pun goresan. Rose tak bisa berkata apa-apa dengan kecantikan orang itu.


Itu ... orang yang akan kulayani.


Jantungnya berdegup kencang, bahkan ia hampir lupa bagaimana cara bernapas yang benar. Perasaannya kini campur aduk, Rose bingung harus menunjukkan ekspresi seperti apa pada wanita sempurna seperti itu.


Wanita itu berjalan melewati Rose di bagian akhir. Rasa kagum terus terlihat dari mata Rose, ia tak melepaskan pandangannya dari wanita itu. Namun, hingga wanita itu masuk ke bagian dalam ruangan, Rose gagal mendapat perhatian darinya, wanita itu sama sekali tak melihatnya.


Sebuah tantangan baru yang lebih besar daripada membunuh, menjalin hubungan khusus dengan wanita itu.


Aku akan berusaha semaksimal mungkin!


Bersambung ....