The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Tekad Kuat Pahlawan



Chapter 15 : Keputusan Pahlawan


Dua hari sebelum Naga itu kembali ke Ibukota Rexist. Kami sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat matang. Divisi Sihir yang dipimpin Nona Licia termasuk yang paling semangat di antara divisi lainnya, mereka akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengalahkan para Demihuman itu. Nona Licia yang paling antusias di antara mereka, itu semua karena "Penghinaan" yang diterimanya. Benar, ketidakberdayaan yang dialaminya waktu itu sangat membekas di ingatannya. Kejadian itu membuatnya menjadi seorang maniak pertempuran! Aku sedikit khawatir dengan kondisinya sekarang. Semoga Nona Emina bisa menanganinya.


Nona Hart saat ini tidak berada di Kerajaan. Sebelumnya, dia datang menemuiku sehari setelah aku kembali dari Desa Sige untuk mengatakan sesuatu. Aku terkejut karena dia datang dengan teleportasi. Dia mengatakan bahwa itu bukan sihir miliknya, tapi, ada seseorang yang mengirimnya. Itu artinya ada seseorang yang lebih kuat dari Nona Hart. Kesampingkan hal itu, Nona Hart menanyakan sesuatu tentang tawaran Naga itu. Aku yakin dengan pilihanku untuk menolak penawarannya. Mendengar jawabanku, Nona Hart langsung pergi dengan beast miliknya. Hingga saat ini, dia belum kembali lagi ke sini. Aku belum memperkenalkannya kepada Raja dan Ratu, karena kupikir itu terlalu terburu-buru. Nona Hart pasti akan dipermalukan di sana. Aku berharap dia akan segera kembali ke sini.


"Huuuuh ...."


Seluruh tekanan mengarah padaku. Bangsawan yang meragukanku mulai menunjukan kepalanya. Mereka mencoba memprovokasi Raja untuk membuatku menerima tawaran Naga itu. Aku tidak bisa melakukan banyak hal dengan mereka, pilihanku sudah bulat. Mereka tidak bisa meperlakukanku dengan seenaknya, karena mereka yang telah memanggilku ke dunia ini.


Seluruh tekanan ini membuatku lelah.


Saat ini, aku terbaring seperti seorang pengangguran yang tidak melakukan apa-apa. Kerajaan dalam bahaya, hanya aku yang terbaring santai saat ini, memalukan, bukan? Anggota Party lainnya hilang kontak secara misterius, selain Yulia dan Andrew, aku tidak menemukan Makia dan Alex. Bahkan mereka tidak ada di Ibukota. Hanya Lucas yang selalu menemaniku saat ini.


Ngomong-ngomong soal Lucas, apa yang dia lakukan sekarang di Kamp. Pelatihan? Aku akan menemuinya.


 -----------------------


Aku pergi menuju Kamp. Pelatihan untuk bertemu Lucas.


Suasana kota saat ini sangat sepi. Seluruh warga Ibukota telah dievakuasi ke kota-kota terdekat. Tidak menutup kemungkinan kalau kota-kota lainnya akan diserang juga. Para Prajurit telah ditempatkan di kota-kota tersebut.


Aku telah sampai.


Suasana yang sangat ramai. Para Prajurit sedang berlatih, sungguh tekad yang luar biasa. Prajurit-prajurit ini memiliki level sekitar 170, itu sudah setingkat dengan Petualang ranking B. Itu hanya Prajurit biasa, ada Divisi Elit yang memiliki level di atas 200, tapi, aku tak melihat mereka.


"Zain." Seseorang datang dari belakang dan memanggilku.


Itu Lucas. Ini aneh, aku tidak menyadari keberadaannya.


"Apa yang kau lakukan di sini, Zain?"


"Aku hanya ingin berkunjung, kita sudah mempersiapkan segalanya, bukan?"


"Kau benar, Zain,"


Aku memperhatikan pedang yang dibawa Lucas.


Pedangnya hancur di Kekaisaran, tapi, dia mendapatkan pedang baru di Kekaisaran juga. Ada yang aneh dengan pedang itu, aku merasakan sedikit energi gelap. Aku rasa pedang itu setingkat lebih tinggi di atas pedangku, itu karena aku tidak bisa menilainya. Aku juga memiliki skill penilaian terhadap senjata, tidak semua senjata, itu berfungsi untuk pedang, panah, dan beberapa lainnya. Pedangku memiliki rank A+, itu sudah ranking paling tinggi dari rata-rata pedang di dunia ini. Aku belum pernah melihat rank S atau lainnya. Pedang milik Lucas tidak memiliki ranking, namun, di sana menunjukan bahwa ranknya adalah Rare! Aku tidak mengerti maksudnya, apa itu semacam item game? Apa dunia ini berhubungan dengan sistem game? Jika itu Rare, berarti ada Developer yang mengurusnya.


"Ada apa, Zain?" Lucas melihatku bingung.


"Tidak apa-apa, Lucas, bisa kita berjalan-jalan sebentar?"


"Baiklah, anggap ini sebagai kenangan terakhir kita,"


"Hahaha, sial,"


 -------------------------


Aku dan Lucas berjalan-jalan di sekitar Kamp. Pelatihan.


"Haaah ...." Lucas menghela napasnya. "Aku tidak menyangka akan seperti ini,"


"Maafkan aku,"


"Tidak, Zain, pilihanmu itu menunjukan bahwa kau adalah Pahlawan sejati,"


Apa dia mencoba menghiburku?


"Jika aku di posisi seperti itu, maka aku pasti akan memilih jawaban yang serupa. Jadi, jangan membebankan dirimu seolah-olah semua salahmu, kita akan menghadapinya bersama,"


"Terima kasih, Lucas,"


"Apa ada kabar dari anggota lainnya?"


"Tidak, aku sama sekali tidak bisa menemukan mereka,"


"Aku yakin Makia sekarang kembali ke Gereja,"


"Huh? Apa maksudmu?"


"Maaf tidak memberitahumu, Makia sebenarnya hanya alat yang digunakan Gereja, aku tidak tahu untuk apa,"


"Gereja sialan!"


Orang-orang di sekitar melihat kami dengan ekspresi terkejut.


Aku lupa jika Kerajaan Rexist sangat terbuka dengan Gereja Suci.


"Tenanglah, Zain,"


"Maaf,"


"Apa yang akan terjadi dengan Party ini nanti, ya?" ucap Lucas.


Kami bahkan belum melawan Iblis. Sungguh menyedihkan.


"Jangan khawatir, kita akan berkumpul lagi nanti,"


«Skill baru telah ditambahkan»


Huh?


Aku mendengar suara di kepalaku.


Sebuah skill?


Patience Skill


Kesabaran?! Apa kau bercanda?!


Mengurangi damage dari serangan sihir tipe api dan menambah damage serangan sebesar 30%.


Tidak buruk. Terima kasih, sistem!


Lucas memegang bahuku.


"Ada apa, Zain?"


Apa aku harus memeberitahu Lucas?


"Aku mendapat skill baru,"


Aku akan mempercayainya.


Aku menceritakan semua kepada Lucas.


"Jadi begitu, tapi, Kesabaran? Hahaha!"


"Diamlah,"


"Baiklah, aku turut senang atas skill barumu, sampai jumpa dua hari lagi,"


"Yah,"


Lucas pergi meninggalkanku.


Ini seperti perpisahan bagiku.


 --------------------


Beberapa saat sebelum Naga Hitam datang.


Hari ini telah tiba. Nasib Kerajaan tergantung pada pertempuran hari ini.


Semua orang telah bersiap di posisinya.


Aku bersama Lucas, Nona Licia dan Nona Emina berada di barisan tengah Ibukota. Karena sudah tidak ada warga sipil di Ibukota, Nona Licia tidak perlu membuang Mananya untuk membuat pelindung. Sekarang dia akan menggunakan sihir serangannya. Begitu juga dengan Nona Emina.


"Zain, senang mengenalmu," ucap Lucas.


"Jangan bercanda di saat seperti ini, sialan,"


"Haha, maaf, maaf,"


Kurasa itu perlu, mengingat suasana yang sedikit tegang di sini.


*Bum!


Aku merasakan tekanan aura yang mendekat.


Tekanan ini?


"Akhirnya dia datang." Lucas terlihat bersemangat.


Dia sudah siap untuk mati.


Seekor monster yang bisa menghancurkan Negara hanya dengan sekali serang. Tepat berada di atasku.


Naga itu mendarat di alun-alun kota.


"Pahlawan, sepertinya dia masih ingin mendengar jawabanmu," ucap Nona Licia.


"Berhati-hatilah, Zain,"


Aku berjalan menuju Naga itu.


Ini seperti berjalan menuju kematianku.


"PAHLAWAN. SEPERTINYA KAU SUDAH YAKIN DENGAN PILIHANMU."


"Benar sekali, kami akan melawanmu,"


"KUAHAHAHAHA!"


"Spear Thunder!"


*Duar!


Sebuah sihir petir berbentuk tombak menyambar Naga itu dari atas.


Itu sihir milik Nona Licia. Ini giliranku!


"Fire Sword!"


*Dum!


Aku menyerangnya dengan pedang api. Ledakan yang dihasilkan cukup besar.


"Apa itu berhasil?"


*Wush!


Sebuah kibasan sayap menghempaskan semua orang yang ada di sekitar Naga itu termasuk aku.


"Ugh!"


Bahkan sihir tingkat tinggi tidak melukainya?! Tidak, dia sepertinya menerima damage.


Nona Licia mendatangiku.


"Kau tidak apa-apa, Pahlawan?"


"Seranganmu tidak memberikan luka fatal,"


"Aku tahu itu." Nona Licia mengangkat tangannya ke atas. "Emina, sekarang!"


*Grrr


Suara gemuruh di atas awan terdengar sangat keras.


"Apa yang terjadi, Nona Licia?"


"Perhatikan saja,"


Awan berbentuk tombak muncul.


Tombak itu meluncur mengarah ke Naga itu.


"Cepat sekali,"


Apa itu benar-benar sihir? Dua Penyihir ini memang luar biasa.


*Duar!


Tombak mengarah tepat ke arah Naga itu. Diikuti dengan ledakan petir yang sangat dahsyat.


Itu pasti membunuhnya.


"Naga itu benar-benar kuat," ucap Nona Licia.


Huh?


Sebuah cahaya muncul di tempat Naga itu berada.


Cahaya itu tepat diarahkan kepadaku.


Tunggu ....


Asap perlahan menghilang.


Terlihat jelas bahwa cahaya itu sedang berkumpul di mulutnya.


"Apa itu?!" Semua orang panik.


"ATOMIC BREATH!" teriak Naga itu.


"High Mana Shield!" Nona Licia merapalkan sihir pelindung terkuatnya.


*Dum!


Serangan Naga itu menghantam pelindung milik Nona Licia.


Apa itu bisa menahannya?


"Pergilah, Pahlawan! Ini tidak akan bertahan lama!"


Dia mau bunuh diri?!


"Tidak, aku akan berjuang bersamamu!"


*Crak!


Sihir pelindung mulai pecah.


"Gawat!"


*Duuuaaar!


Dalam sekejap ledakan itu menghancurkan sihir pelindung milik Nona Licia.


Aku membuka mataku.


Huh? Kami tidak terluka?


"Uhuuk, uhuuk!" Nona Licia menepuk-nepuk dadanya.


Nona Licia juga selamat. Apa yang terjadi?


Aku mengalihkan pandanganku ke depan.


"Huh ... dasar kadal pengganggu," ucap seseorang di depanku.


"KAU?!"


Itu?


"N-nona Hart,"


"Apa kau baik--baik saja, Pahlawan?"


Bagaimana dia menahan serangan Naga itu?


*Ciiss


Suara melepuh terdengar.


Aku memperhatikan tangan Nona Hart.


Tangannya terluka parah. Dia menahan dengan tangannya? Tidak, pedang itu?!


"Oh, kau tidak perlu cemas, ini bukan pedang milik Raja Iblis, ini dari Ratuku,"


Ratu?


"Tapi, luka-" Aku mengurungkan niat untuk bertanya tentang kondisinya, aku merasa tak pantas.


"KHUAHAHAHA. APA WANITA ITU YANG MENGIRIMMU KE SINI?"


"Itu bukan urusanmu, ayo selesaikan ini," Nona Hart kembali dalam posisi bersiap.


*Swing


Nona Hart mengarahkan pedangnya pada Naga itu.


"SEPERTINYA MENGORBANKANMU BUKAN PILIHAN YANG BURUK. KAU HANYA ALAT YANG AKAN DIBUANG."


"Setidaknya aku berguna,"


Aku tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Ratu? Siapa Ratu yang dia maksud? Jadi benar, ada seseorang yang lebih kuat dari Nona Hart, terlebih lagi dia melayaninya. Tapi, siapa?


Bersambung ....


Hi, Gaes! Maaf atas keterlambatannya. Seperti yang kalian tahu, Saya saat ini benar-benar tidak memiliki waktu cukup untuk membuat cerita. Setiap ingin membuat cerita, Saya selalu ketiduran karena lelah, maklum, budak korporat, hehehe. Tenang aja, Saya tidak akan hiatus, kok, walau memang sering telat update aja, hehe. Terima kasih buat yang masih setia mengikuti cerita ini! Salam Cinta dari Saya ❤️