The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Kadet



Chandra mulai memeriksa seluruh bagian kamar untuk memastikan tidak ada barang mencurigakan yang terpasang.


Pertama-tama, aku akan menyusun barang-barangku terlebih dahulu.


Chandra meletakkan tas punggungnya di meja. Itu adalah meja yang menghadap langsung ke jendela kaca. Ia mengeluarkan satu per satu barang bawaannya. Pertama, ia mengambil dua pedang kesayangannya, kemudian pakaian, dan terakhir buku catatan untuk Uskup Agung.


Tas punggung yang Chandra bawa merupaka item penyimpanan. Walau memiliki ruang terbatas, namun itu masih cukup untuk membawa barang-barangnya.


Chandra membersihkan pedangnya dengan kain. Ini kebiasaannya jika tidak menggunakan kedua pedang itu dalam waktu yang lama, rasa cemas jika pedangnya tumpul, atau noda yang mempengaruhi ketajamannya.


Dengan bentuk seperti taring, ini adalah tipe ideal untuk menyobek-nyobek lawannya. Dan kedua pedang itu memiliki motif retakan yang memancarkan sinar merah.


"Baiklah, sekarang waktunya menulis laporan." Chandra langsung menyiapkan bukunya.


Tangannya mulai bersiap untuk menulis, tapi ....


"Apa yang harus kutulis?" Chandra terlihat gelisah. Banyak hal yang menarik, dia tidak yakin Uskup Agung ingin mendengar kabar ini atau tidak.


Di saat itu, ia teringat dengan perkaan Uskup Agung di pertemuan terakhir mereka.


"Ingat ini baik-baik, kau hanya perlu mencatat hal yang penting," ucap Uskup Agung.


Chandra mengepalkan tangannya. "Sekarang aku sudah tahu akan menulis apa."


Tangannya sedang menari-nari di kertas. Chandra menulis seluruh percakapannya dengan Goby mulai dari saat di dalam hutan, dia berpikir bahwa hal itu sangat penting. Ia tidak banyak menulis tentang kemajuan kota.


"Cerita tentang Alissa Hart yang memerintah dari kejauhan selama 3 tahun, itu cerita yang menarik. Pasti Uskup Agung akan mencari tempat apa yang dikunjungi Alissa Hart selama 3 tahun itu."


Sudah hampir 1 jam Chandra menulis laporan. Dia telah selesai, laporan itu memiliki 4 halaman. Hal yang membuatnya lama ialah keterbatasan Chandra dalam merangkai kalimat. Ia tidak terlalu mahir dalam merangkai kata.


Jika hanya menulis sesuai perkayaan Goby, itu akan terlihat membosankan.


Begitulah pikirnya.


Tak lama setelah itu, tulisan di buku Chandra bercahaya.


"Ini, mungkinkah?"


Perlahan semua tulisannya menghilang.


"Tulisannya telah terkirim."


Setelah itu, Chandra merasakan kantuk yang sangat berat. Tubuhnya mulai susah bergerak. Ia langsung melompat ke tempat tidur.


Rasa nyaman yang dirasakannya semakin memperberat kantuknya.


"Sial. Ini sangat nyaman."


 ----------------------------------------


Pagi harinya.


Chandra mandi di kamar hotelnya. Berendam di bak mandi yang tebuat dari batu. Ia mandi dengan air hangat, dan busa. Hal yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya, mandi dengan busa.


Busa ini muncul setelah aku mencampurkan cairan kental ke dalam air di bak.


"Ini sangat menyenangkan."


Setelah persiapan selama 30 menit, akhirnya Chandra keluar dari kamar. Ia bermaksud ingin ke tempat strategis di kota untuk mencari informasi lainnya.


Chandra turun ke lantai 1. Mulutnya masih mengunyah sesuatu, itu adalah makanan siap saji yang dia beli saat di perjalanan menuju hotel. Ia memanaskannya sebelum dimakan.


Makanan di kota ini memang yang terbaik.


"Huh?" Chandra melihat Goby yang melompat-lompat di sebelah meja resepsionis.


Goby terlihat sedang berbicara dengan resepsionis.


Mereka belum menyadariku, 'kan?


Chandra masih menahan diri di ruangan teleportasi, dia bersembunyi di balik dinding.


Aku tidak mendengar percakapan mereka. Sepertinya aku harus menggunakan skill-ku.


"Hei, kau menutup jalanku." Seorang wanita berdiri di belakang Chandra.


Chandra langsung terkejut karena tak merasakan hawa keberadaan wanita itu.


Tidak, tidak, dia mungkin baru turun dengan teleportasi.


Chandra menoleh ke belakang.


Wanita ini, 'kan ...?


Dia adalah wanita yang dilihat Chandra saat sedang memesan kamar hotel.


"Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya wanita itu kesal.


"M-maaf, silahkan lewat."


Wanita itu tidak mengenakan jubah seperti sebelumnya. Ia mengenakan pakaian kasual. Baju putih dengan rompi hitam, serta celana hitam panjang dengan sepatu petualang.


"Wah, Tuan! Akhirnya kau keluar!" Goby tiba-tiba melompat di depan Chandra.


Chandra berusaha tenang. "K-kau menungguku, Goby?"


"Benar! Ini hari terakhir aku memandumu!"


"Baiklah, mohon bantuannya."


Chandra ingin menyapa wanita tadi, tapi wanita itu menghilang. Dia masih teringat dengan rupa wanita itu. Rambut hitam panjang, sorot mata tajam, sesuai dengan seleranya.


Mau dilihat dari mana pun, dia sangat profesional. Aku merasakan sedikit aura kuat pada wanita itu.


Begitulah yang dipikirkannya saat ini.


Mereka keluar dari hotel. Berjalan menuju pinggiran kota.


"Goby, tempat seperti apa yang akan kau tunjukkan kali ini?"


"Tempat militer!"


"Aku akan membawamu ke tempat latihan para prajurit!"


"Bukannya latihan setiap prajurit di kerajaan mana pun dirahasiakan?"


"Hmmmm ... di sini beda! Aku membawa orang yang sesuai dengan penampilan mereka, Tuan! Dan kau mungkin akan menikmati ini!"


Penampilanku tidak terlihat seperti petarung. Dari mana Goby tahu aku ahli dalam hal seperti ini?


Chandra mengingat-ingat kejadian selama dia di Kerajaan Penyihir Maphas.


Ah, para penjaga memeriksa kartu guild petualangku, 'kan? Mungkin dia mendapat informasi dari kartu itu.


Setelah berjalan hampir setengah jam, mereka sampai di area lapang. Lapangan rumput hijau yang luas. Ada barisan kelompok yang terlihat seperti prajurit kerajaan. Seseorang berdiri di depan prajurit itu.


"Goby, mereka prajurit kerajaan?"


"Benar! Namun, sepertinya hari ini adalah hari latihan para kadet!"


Para kadet, ya? Jika bisa, aku ingin melihat latihan dari prajurit utama.


Mereka langsung pergi mendekati kelompok prajurit. Tampak jelas bahwa para prajurit juga terdiri dari bermacam ras.


"Kita beruntung, Tuan! Hari ini Tuan Arsitek menjadi pelatih mereka!"


"Hah? Tunggu, maksudmu arsitek yang merancang kota ini?"


"Benar! Dia di sana!" Goby menunjuk ke arah pria yang berdiri di hadapan prajurit.


Chandra terlihat tidak percaya walau sudah melihatnya.


Arsitek juga orang dari militer? Apa yang sebenarnya terjadi?


"Hari ini kalian akan melakukan latih tanding." Arsitek menberikan pengumuman dengan wajah tak bersemangat. "Kebetulan ada beberapa tamu yang bisa menjadi lawan tanding kalian." Dia menunjuk ke arah Chandra.


Apa-apaan dia?!


"Goby, apa maksudnya ini?!"


"Aku sudah mengatakannya tadi, Tuan! Aku membawa turis ke tempat yang cocok untuk mereka!"


"Tapi ini ...."


"Tenang saja, Tuan! Walaupun kau terluka, kami akan menyembuhkannya dalam sekejap!"


Chandra tak punya kata-kata lagi untuk protes.


Pria itu terlihat tidak bersemangat, namun Chandra yakin tidak menemukan celah apa pun darinya.


Sama sekali tidak ada celah, bahkan jika aku menyerangnya secara mendadak.


"Aku akan maju." Seorang wanita mengangkat tangannya.


Chandra langsung terkejut setelah melihat siapa wanita tersebut.


Nona yang tadi!


"Aku akan menghabisimu, Glenn!" Wanita itu menarik pedangnya.


Apa yang terjadi sebenarnya?!


"Wah, ternyata itu kau, Eline." Arsitek menepuk tangannya. "Tepat sekali, para cadet, jika kalian bisa mengalahkan wanita itu, aku akan memberi kalian hadiah!"


"Siaaap!" Seluruh prajurit terlihat bersemangat.


Chandra tak tahu harus berbuat apa, namun dia berpikir untuk menyelamatkan wanita itu.


Aura hitam menyelimuti tubuh wanita itu. Dia membungkukkan tubuhnya, pandangannya tajam kedepan.


*Wush!


Dengan cepat wanita itu langsung melesat ke arah prajurit.


"Huwaaaah!" teriak prajurit.


Wanita itu menghempaskan para prajurit itu dengan auranya. Sangat cepat, mirip anak panah yang melesat memecah udara.


"Goby! Apa yang terjadi?!"


"Aku tidak tahu, Tuan!"


*Dum!


Wanita itu menghancurkan tempat di mana arsitek berdiri sebelumnya. Hentakan itu menyebabkan getaran yang sangat kuat, tanah tempatnya mendarat juga hancur.


Apa itu mengenainya?


Chandra hanya bisa diam melihat hal itu. Bahkan tak sadar jika ada batu besar yang terbang ke arahnya akibat serangan wanita itu.


"Tuan!"


*Brak!


Goby menendang batu itu hingga hancur berkeping-keping.


Chandra tersadar ketika hal itu terjadi di depannya.


"Tuan! Jangan melamun! Ayo hentikan mereka!"


"Ah, maafkan aku."


Chandra terpikirkan sesuatu.


Gerakan Goby sangat cepat, dan kekuatan itu bukanlah kekuatan monster biasa. Sepertinya dugaanku benar, monster kecil ini-- tidak, monster besar ini adalah level bencana. Akan kulaporkan hal ini.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE, YA! TONTON IKLAN JUGA DI HADIAH :(