The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Perang!



Keesokan harinya.


400 ribu prajurit dari Federasi, 2 juta prajurit Kerajaan Rexist, 90 ribu prajurit dari Gereja Suci. Mereka semua berada di hadapanku. Aku berdiri di bukit batu, bersama dengan para petinggi pasukan lainnya. Tempat ini bernama Dataran Nerio. Sebuah dataran tinggi yang sangat luas, terletak di bagian timur Kerajaan Rexist. Hanya ada rumput hijau sejauh mata memandang. Para prajurit terlihat seperti kerumunan semut hitam.


Saat ini kami sedang menunggu kedatangan Uskup Agung. Karena peran Gereja Suci sangat penting dalam perang ini. Mereka juga yang mengatur teleportasi langsung menuju Kerajaan Penyihir Maphas. Sebelumnya aku tidak percaya itu, namun, mereka mencoba mengirim puluhan ribu pasukan milik Putra Mahkota ke sana, dan teleportasi berhasil.


"Uskup Agung telah datang!" teriak salah satu prajurit.


Aku melihat bayangan besar di tanah. Bayangan itu berasal dari atas.


Terlihat gerombolan monster terbang di atas kami. Salah satunya mendarat di bukit batu tempat para petinggi berada.


Tunggu ... itu bukan monster, itu ... Naga! Terlihat mirip dengan Naga Hitam Raymond yang menyerang Ibukota. Hanya saja, Naga ini berwarna putih, seputih susu, dengan bulut lebat berwarna putih di pinggiran sayap mereka.


Seorang wanita turun dari Naga itu.


Dia ... Uskup Agung? Penampilannya jauh berbeda dari biasanya.


Uskup Agung tidak mengikat rambutnya, tidak mengenakan pakaian lebar, namun sebuah zirah putih yang memenuhi seluruh tubuhnya. Dia terlihat sangat luar biasa. Dan juga, aura dominasi yang dikeluarkannya jauh berbeda dari biasanya.


Pandanganku tertuju pada wajahnya. Rambut putih yang berkibar menutupi wajahnya, membuat kesan yang sangat elegan.


Bagian paling mengejutkan. Uskup Agung tidak menutupi matanya dengan kain putih seperti biasanya. Matanya terlihat jelas, ini merupakan pemandangan yang sangat langka. Bola matanya berwarna merah, lebih pekat dari darah.


Aku pikir dia seorang Magic Caster. Kenapa mengenakan zirah?


Uskup Agung berjalan ke tepi jurang untuk melihat seluruh pasukan.


Huh?


Seseorang lagi turun dari Naga yang sama.


Seorang pria berambut biru muda. Mengenakan mantel berbulu di tempat yang sangat panas seperti ini. Aku tidak pernah melihat pria itu.


Pria itu berjalan menuju ke tempat Uskup Agung berada.


Aku tidak merasakan energi apa pun dari pria ini. Tidak mungkin Uskup Agung membawa orang seperti ini sembarangan.


Uskup Agung mengibaskan tangan kanannya.


*Bush


Sebuah pedang muncul di tangannya.


"Para pasukanku, Dewi telah memberkati kita! Kemenangan akan selalu memihak kita! Keluarkan seluruh kemampuan kalian untuk melawan orang-orang berdosa dari Kerajaan Penyihir Maphas!" Uskup Agung begitu membara saat berpidato.


"Huwaaa!" Jutaan prajurit itu berteriak secara bersamaan.


Suaranya membuatku merinding.


Lingkaran sihir raksasa berwarna biru muncul. Lingkaran sihir itu langsung menelan jutaan prajurit.


Eh? Apa yang terjadi?!


"Mereka telah ditelerpotasi," ucap Nona Licia yang daritadi berada di sebelahku.


Aku tidak menyadarinya.


"Sebesar itu?"


"Tentu saja, tapi itu memerlukan banyak pengorbanan,"


Aku hanya terdiam mendengar penjelasan Nona Licia.


Aku mengira mereka akan menggunakannya secara bertahap. Ternyata mereka mengirim semuanya sekaligus.


Pengorbanan, ya, aku sedikit mengerti maksudnya. Itu memang diperlukan, dan aku tidak bisa berbuat apa pun mengenai hal itu.


Ribuan Naga mendarat di tempat para prajurit berdiri sebelumnya.


"Pahlawan." Uskup Agung menghampiriku.


"Nona Uskup Agung,"


Pria berambut biru muda berdiri di samping Uskup Agung.


"Perkenalkan, dia orang yang akan membantu kita,"


Pria itu menjulurkan tangan kanannya padaku. "Namaku Blues, salam kenal, Pahlawan,"


"Salam kenal, namaku Zain Aither, panggil saja Zain,"


"Senang bertemu denganmu, Zain." Blues tersenyum.


"Blues akan mendampingiku di barisan belakang. Aku menyerahkan bagian depan padamu, Pahlawan, Nona Licia, dan juga Nona Emina yang telah berada di sana," sambung Uskup Agung.


"Baik." Kami berdua menjawab dengan serentak.


"Hei, Christa, aku juga ingin menggunakan pedangmu itu,"


"Tch! Andai Dewi tid- Eheeem ... baiklah, kita akan segera berpindah ke Kerajaan Penyihir Maphas,"


Blues memanggil Uskup Agung dengan namanya? Seberapa dekat mereka?


Lingkaran sihir muncul di bawah kakiku.


 ----------------------------


Apa kami berhasil pindah?


Aku membuka mataku secara perlahan.


Sebuah dataran yang luas. Sama seperti Dataran Nerio. Tidak, ini bukan Dataran Nerio. Tak ada rumput satu pun di sini. Hanya dataran tandus.


Jutaan prajurit dari kubu kami telah siap di posisinya. Mereka terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok 1 bagian depan, diisi oleh para Warrior, Swrodman, dan Tanker. Kelompok 2 diisi oleh Magic Caster, dan sejenisnya. Kelompok 3 berada di bagian paling belakang yang jumlahnya lebih sedikit, diisi oleh para Archer yang memiliki kemampuan khusus.


Aku berada di bagian depan, kelompok 1.


Huh, ini terlalu terburu-buru buatku. Huh? Tunggu ....


Kabut merah menutupi area di seberang kami.


Mereka bilang Kerajaan Penyihir Maphas berada tepat di sana. Apa yang meraka lakukan? Seharusnya deklarasi perang sudah mereka terima, 'kan?


*Bush!


Ribuan anak panah ditembakan ke arah kabut tebal itu.


Anak panah itu mengeluarkan sihir angin yang membuat kabut tebal itu perlahan menghilang.


Itu mereka.


Terlihat dari kejauhan prajurit musuh yang telah bersiap-siap.


Salah satu dari mereka maju dengan mengendarai seekor kuda.


Apa yang dia lakukan?


Salah satu orang dari pasukan kami juga maju dan mengendarai seekor kuda. Mereka bertemu di tengah-tengah area.


Sepertinya mereka membicarakan sesuatu.


Kedua prajurit itu kembali ke pasukannya.


Suasana begitu hening. Semua orang sangat fokus. Jantungku berdegup kencang karena tekanan perang.


*Wooooooooooong!


Terdengar suara terompet yang sangat keras entah berasal dari mana.


"Huwaaaaaaaa!" Prajurit berteriak keras.


Kedua pasukan mulai berlari ke tengah area.


Aku berlari mendahului pasukanku.


"Fire Sword!" Aku mengayunkan pedangku yang mengeluarkan tebasan api berukuran sangat besar.


*Bush!


Sebuah perisai sihir menahan seranganku.


Aku memberi tebasan kedua untuk menghancurkan perisai sihir itu.


*Crack!


Seranganku berhasil!


Apiku berhasil membakar puluhan prajurit di depanku.


"Ayo maju!" teriakku.


Aku berhenti untuk mengecek salah satu prajurit musuh.


Mereka terlihat tidak asing.


Sebuah lambang Kerajaan terlihat dari armornya.


Lambang ini?!


"Sialan! Semuanya, berhenti!"


Ini lambang Kerajaan Rexist! Orang-orang ini dari pasukan Putra Mahkota yang berangkat terlebih dahulu.


Para prajurit telah menyebar. Mereka tidak mendengar perkataanku.


Uskup Agung pasti menyadari ini. Kenapa dia hanya diam saja?!


*Duar!


Terdengar ledakan dari tempat kedua pasukan yang saling bertarung.


Aku melihat ke arah barisan tengah dan belakang.


Mereka hanya fokus menembak anak panah dan membuat pertahanan sihir. Lalu, siapa yang meledakan sihir barusan?


*Duar!


Ledakan semakin banyak.


Baik dari pasukan kami maupun pasukan Putra Mahkota terkena ledakan itu.


Mereka mempermainkan kami. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan pada pasukan Putra Mahkota, ini jelas sebuah kecurangan.


Aku terus berlari melewati pasukan Putra Mahkota menuju bagian belakang. Mereka terus menyerangku, dan aku hanya bisa menghindarinya.


Sial!


Aku sampai di bagian belakang dan keluar dari pasukan Putra Mahkota.


Langkahku terhenti saat melihat apa yang ada di hadapanku.


"Apa-apaan ini?"


Seorang pria berdiri berjarak beberapa meter di depanku. Prajurit di belakangnya hanya mengambil sikap diam.


Mereka bahkan tidak gugup. Lupakan itu, pria ini sangat mencurigakan. Dia hanya memegang sebuah dagger di tangan kanannya. Dan juga, ada sebuah tas kecil di pinggangnya. Bentuknya terlihat tidak asing bagiku.


Appraisal Eyes!


Nama : Glenn Aleister


Umur : 25


Ras : Manusia


Job : Magic Caster/Swordmaster


Tittle : -


Level : 501


Level 501?! Siapa bajingan ini sebenarnya?! Lupakan itu, aku akan mengeluarkan seluruh kemampuanku untuk melawannya!


"Kau terkejut? Hahaha! Aku juga terkejut saat melihat stat milikku sebelumnya. Levelku naik drastis, ini semua berkat Beliau," ucap pria itu.


"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan,"


Pria itu diam memperhatikanku.


"Pahlawan, ya, sayang sekali, kau sangat lemah,"


Dia punya mata penilaian juga?


"Tutup mulutmu! Keberadaan kalian merusak keseimbangan umat Manusia!"


"Kau hanya peduli dengan Manusia, sungguh menyedihkan,"


*Bum!


Pria itu mengeluarkan aura intimidasi yang sangat besar.


Tubuhku tidak bisa bergerak.


"Hero Aura!"


Aku berhasil mengurangi tekanannya dengan aura milikku.


"Hahaha, menarik! Kau benar-benar sangat menarik!"


"Aku bilang tutup mulutmu!"


Aku melompat sambil mengayunkan pedangku ke arahnya.


*Ting!


Pria itu menangkis seranganku dengan dagger.


"Hei, aku sangat bingung, seharusnya orang dari bumi tidak naif sampai-sampai bisa dikendalilan oleh para pemuja Dewi sialan itu,"


"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu tentang bumi?"


*Bugh!


Pria itu menendangku dan menjauh dariku.


"Kukuku ... jika Pahlawan dipanggil dari dunia lain, sudah pasti itu bumi, 'kan?"


"Jawab pertanyaanku! Apa yang kau ketahui tentang bumi?!"


Pria itu menekukkan kakinya. "Hibur aku terlebih dahulu, maka aku akan menjawabnya!"


*Wush!


Dia melompat ke arahku.


"Light Slash!"


Akan kuhabisi orang ini!


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!


Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :


https://saweria.co/hzran22


Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.