
"Sesuatu yang buruk telah telah terjadi di menara."
Mereka bertiga langsung bergegas keluar dari istana dan menuju ke menara, belari dengan kondisi tubuh yang masih terkena efek tekanan, mereka seperti terombang-ambing. Kondisi di luar istana lebih mengerikan, aura hitam menyebar ke seluruh tempat, banyak orang tergeletak tak sadarkan diri karena tekanan.
"Delila, apa kau tidak bisa memasang penghalang di kota ini?" tanya Daisy.
"Itu terlalu beresiko, jika aura ini menumpuk, maka seluruh penduduk akan mati."
"Aku khawatir musuh akan mengetahui lokasi tempat ini dan keberadaan Master juga."
"Kalian jangan khawatir," potong Abigail. "Ada alasan kenapa kota ini berada di dalam gua."
Delila menyadari sesuatu setelah mendengar perkataan Abigail. Ia menggunakan penglihatan magisnya untuk melihat lebih jelas struktur gua.
"Gua ini menyerap aura itu," ucap Delila.
"Kau benar. Ini alasan utama persembunyian kami tidak bisa dilacak, semua energi sihir yang berlebihan akan diserap dalam batas tertentu."
"Tapi, energi yang Ibu keluarkan sangat besar, apa kau yakin tidak terjadi kebocoran?"
"Percayalah, karena Beliau yang menciptakan gua ini."
Mereka akhirnya tiba di menara arsip Sekte Hitam. Kondisi menara terlihat berbeda, energi sihir hitam melapisi menara itu.
Delila mencoba menyentuh aura itu, namun Daisy menahan tangannya sambil menggelengkan kepala.
"Itu sangat berbahaya. Aku yang memiliki kepekaan dengan sihir hitam sama sekali tidak bisa mengukur kekuatan energi hitam ini," ucap Daisy.
"Aku juga tidak bisa masuk ke dalam menara. Sesuatu telah terjadi di dalam," lanjut Abigail.
Aura yang menekan mereka perlahan menghilang, namun menara masih diselimuti oleh aura yang sama sekali tidak menipis.
Mereka tidak bisa berbuat banyak, prioritas utama adalah menyelamatkan para pengikutn yang tidak sadarkan diri.
Daisy dan Delila masih melihat kondisi menara. Delila terlihat gelisah memikirkan Ibunya, ancaman terus berdatangan, dan dia tidak pernah menyelamatkan Ibunya di situasi seperti ini.
"Tenangkan dirimu, Delila, aku yakin Master bisa mengatasinya. Kita sebagai pengikut hanya bisa berharap pada Beliau," ucap Daisy.
"Aku harus menghubungi Kakak."
"Tidak. Melihatmu yang gelisah saja sudah membuatku repot, bagaimana jika dua belas orang dari kalian ada di sini? Mungkin kepalaku akan pecah."
"Apa maksudmu?" Delila mengerutkan keningnya.
"Tidak. Jangan panggil mereka."
Abigail yang berada tidak jauh dari tempat mereka tak sengaja mendengar percakapan itu. Ia mendapat informasi yang sangat penting.
Dua belas?
Satu minggu kemudian.
Delila dan Daisy masih menunggu di depan menara, kondisi menara masih belum menunjukkan perubahan besar. Mereka benar-benar tidak pernah pergi jauh, setidaknya dalam radius seratus meter untuk mengambil makanan. Delila masihlah manusia, walau rasnya High Human, ia masih membutuhkan makanan untuk mempertahankan HP-nya.
Dalam satu minggu tersebut, kekuatan Delila telah kembali seutuhnya, dan Rayna juga sudah sadar dari tidur panjangnya. Namun, Delila masih mengurungnya di dalam ruang dimensi karena masih kesal padanya, ia juga menggunakan Anti Magic Area agar Rayna tidak bisa menggunakan sihirnya.
Abigail datang menghampiri mereka berdua, ia sedikit sibuk dalam seminggu terakhir. Abigail tidak sendiri, Putri Sharah datang menemaninya.
"Apa kalian tidak bosan?" tanya Abigail.
Delila hanya sedikit menggelengkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaan Abigail.
"Salam, Nona Delila, Ratu Daisy." Putri Sharah menundukkan kepalanya.
"Bagaimana situasi di kerajaan, Sharah?" tanya Delila tanpa memalingkan wajahnya.
"Saya sempat berkunjung dan bertemu Nona Elina, hanya dia yang mengetahui situasi di sini."
Delila meminta Elina untuk tidak menceritakan kejadian ini pada siapa pun.
Di tengah-tengah perbincangan, aura yang menyelimuti menara perlahan memudar. Perhatian semua orang langsung tertuju pada menara.
Situasi menjadi tegang. Biasanya Delila pasti langsung berlari menghampiri Ibunya, namun instingnya kali ini berkata untuk tidak mendekat ke menara itu.
Apa ini? Kenapa aku sangat waspada?
Tanpa sadar Delila langsung membuka portal tak jauh dari lokasinya, yaitu tempat keramaian yang diisi para petarung dan penyihir.
"Masuk ke portal itu!" teriaknya.
*Bush!
Portal Delila tiba-tiba lenyap.
"Apa?!" Delila sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Pintu menara perlahan terbuka.
Aura mengerikan langsung keluar dari dalam menara.
Semua orang menjadi tertekan, tak bisa bernapas, tubuh mereka gemetaran.
"Tenangkan diri kalian!" Abigail mengepakkan sayapnya untuk menghilangkan efek buruk yang diterima orang-orang.
Terlihat siluet seseorang dari dalam menara yang sedang berjalan keluar. Dua cahaya merah bersinar terang dari balik kegelapan.
Delila langsung membuka matanya lebar-lebar setelah mengetahui siapa sosok dari dalam kegelapan tersebut. Namun sekali lagi kakinya sangat berat untuk berlari menuju orang itu.
"Bersiap untuk bertarung," ucap Abigail yang sudah menyiapkan pedang di tangannya. "Para penyihir! Mundur dan bentuk formasi serang! Para petarung majulah bersamaku!"
"Apa maksudmu?!" tanya Delila yang panik melihat Abigail.
"Dia bukan Yang Mulia ataupun Ibumu. Sepertinya Beliau melakukan sesuatu saat sendirian di menara."
Delila bimbang, ia tak tahu harus melakukan apa. Sangat berat untuk menyerang Ibunya sendiri.
Akhirnya sosok itu keluar dari menara, dia adalah Keres. Namun, penampilannya sedikit berbeda dari biasanya. Gaun hitam yang sebelumnya menutupi tubuhnya kini berubah menjadi armor hitam, sangat mengkilap. Armor yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, kecuali kepala. Tidak besar seperti mode full armor pada umumnya, armor ini terlihat mengikuti bentuk tubuh Keres. Rambutnya dibiarkan terurai dengan mahkota hitam di atasnya.
Delila tidak pernah melihat penampilan Keres yang mengenakan armor seperti ini.
Hanya ada satu armor yang Ibu miliki, tapi bukan armor ini.
Di beberapa bagian armornya mengeluarkan asap putih, armor yang terlihat seperti robot.
"I-itu, 'kan ...?" Tubuh Abigail gemetar ketika melihat armor yang dikenakan Keres. "M-01."
"Apa kau bilang?" tanya Delila dengan ekspresi kebingungan.
"Perlengkapan terkuat yang Beliau miliki. Armor itu pernah Beliau gunakan saat membunuh lima Dewa tertinggi di masa lalu."
Delila semakin bingung dengan perkataan Abigail.
Keres melihat orang-orang di depannya dengan tatapan tajam, tak ada ekspresi lain yang ditunjukkan. Warna merah memenuhi matanya, seperti lautan darah.
"Seharusnya ada senjata di tangannya, ke mana senjata itu?" Abigail memperhatikan tangan Keres.
*Dum!
Tanah langsung retak menjalar ke seluruh tempat, cahaya merah muncul dari lubang retakan. Semua orang bergegas menjauh dari retakan.
Delila memikirkan cara agar bisa menyadarkan Ibunya.
Biasanya Ibu membutuhkan beberapa spell sihir untuk membatalkan portal milikku, tapi kali ini aku tak melihat sihir apa pun darinya.
"Tidak ada senjata di tangannya, serang dengan serangan jarak jauh kalian!" teriak Abigail.
Para penyihir menembakkan sihir tingkat tinggi ke arah Keres, termasuk Putri Sharah. Sedangkan Abigail terbang melebar sambil mencari celah untuk menyerang Keres.
*Duar!
Ledakan besar terjadi. Beberapa detik kemudian Abigail langsung terbang mengarahkan pedangnya ke tempat Keres berdiri, ia masuk ke dalam kepulan asap, ia menyerang dari sisi kiri.
"Ibu?!" Delila sangat panik.
Putri Sharah menghilangkan kepulan asap dengan sihirnya. Pemandangan yang mengejutkan terjadi.
Pedang malaikat Abigail yang berada satu tingkat di atas pedang suci berhasil mengenai Keres, lebih tepatnya Keres tak melakukan pergerakan apa pun untuk menghentikan pedang itu, ia membarkan pedang Abigail menusuk lehernya, hanya saja pedang itu bahkan tidak berhasil membuat luka kecil di lehernya. Ini terlihat seperti ujung pedang yang menyentuh kulit.
Abigail tertawa kecil. "Sudah kuduga, kekuatannya masih tetap sama seperti sebelumnya. Yang Mulia memang luar biasa."
Daisy yang melihat Abigail dari kejauhan sedikit terkejut.
Apa yang terjadi jika Abigail menggunakan pedang itu saat melawanku waktu itu?
Pedang Abigail memancarkan cahaya biru yang merambat menuju ujung pedang.
"Bagaimana dengan ini?!"
*Duar!
Ledakan besar terjadi, kali ini jauh lebih besar sampai menghancurkan seluruh bangunan di dalam gua kecuali menara.
Dan lagi, Keres sama sekali tidak menerima luka sedikit pun.
Ah, sial.
Tubuh Abigail bergetar lagi, itu karena Keres saat ini melihat ke arahnya. Mata merahnya begitu menyeramkan hingga membuat Abigail takut.
"A-ard ... cepat d-datanglah."
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!