
Heh? Apa yang orang ini pikirkan? Membungkuk seperti itu. Apa dia tidak punya malu?!
"Apa yang kau inginkan, Pahlawan?" tanyaku.
"Tolong bantu kami dalam bertempuran melawan ras Iblis,"
Perang, ya? Aku sebenarnya sangat tidak tertarik dengan perang ini.
"Kutolak,"
"Apa yang-" Sebelum Pahlawan meneruskan perkataannya, Putri sialan langsung memotongnya.
"Hei! Apa yang kau pikirkan?! Kau pikir siapa kau? Sudah membuat Pahlawan melakulan hal memalukan untuk mengajak orang sepertimu,"
"Hentikan, Putri Anna." Pahlawan mengangkat tangan untuk menyuruh Putri itu diam.
"Tapi, Pahla-"
"Tolong diam, Putri,"
Woaah, kau sangat kasar juga, ya, Pahlawan.
Kenapa anggota Party lainnya diam? Apa mereka setuju dengan tindakan yang diambil Pahlawan ini?
"Maaf, Pahlawan, aku tidak tertarik dengan perang ini,"
"Tapi, Non-"
*Swing
Akhirnya yang ditunggu telah tiba. Si Putri sialan menunjukan sifat aslinya. Dia mengarahkan pedangnya kepadaku.
"Tuan Putri! Apa yang kau lakukan?!" "Tenanglah, Tuan Putri!" teriak Party Pahlawan dan juga pelayan Putri.
"Kau! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak bersikap sok kuat! Kau dalam masalah sekarang!"
"Oh tidak! Tuan Putri marah padaku, aku harus minta maaf! Apa kau ingin aku melakukan itu, Tuan Putri?"
"Kau benar-benar ingin ma-"
*Crap
Woaaah, Pahlawan meremas pedang Putri ini sampai tangannya berdarah, aku sangat kagum! Hanya bercanda.
"Zain! Apa yang kau lakukan?!" teriak gadis Priest di belakangnya.
"Hentikan, Putri Anna, inilah sebabnya aku tidak mengizinkanmu masuk Party-ku,"
"...." Putri sangat terkejut mendengar hal itu.
Apa dia akan melampiaskannya padaku nanti? Huh ....
"Maaf, Nona. Baiklah, aku tidak akan memaksa dirimu,"
"Yah, baguslah kalau kau mengerti, silahkan pergi,"
"Sebelum aku pergi, apa aku boleh tahu siapa namamu?"
Huh?
"Ker- Alissa Hart,"
"Namaku Zain Aither, senang berkenalan denganmu, Nona Hart, kami akan pergi,"
Akhirnya mereka pergi, yah, tentu saja Putri sialan itu masih terus mengarahkan aura membunuhnya padaku. Apa yang membuatnya sangat terobsesi dengan Pahlawan?
"Nona Hart,"
Eh? Orang ini masih di sini? Dia Warrior bajingan yang menyerangku kemarin.
"Kau,"
"Maafkan aku yang telah menyerangmu kemarin,"
"Hoh, apa yang kau inginkan?"
"Tentang ajakan Zain, apa kau bisa memikirkannya lagi?"
Ternyata dia bisa berprilaku baik seperti ini, ya.
"Maaf, aku harus menolaknya,"
"Begitu, yah, baiklah, terima kasih, Nona Hart,"
"Tunggu sebentar, Warrior,"
"Iya?"
"Aku ingin membuat kesepakatan denganmu, aku mungkin bisa membantumu menjadi lebih kuat,"
"B-benarkah? Katakan apa itu?!"
"Terima ini." Aku memberikannya pedang yang kuambil dari ruang dimensiku.
"Woaah. Ini?!"
"Dan tolong makan ini,"
"Baiklah, lalu kesepakatannya?"
"Lupakan saja, aku hanya membantumu agar menjadi lebih kuat,"
"Be-begitu, ya? Terima kasih, Nona Hart, aku pergi dulu,"
Memang benar, ya, kebanyakan Warrior itu tidak bisa berpikir secara jernih. Tentu saja! Aku tidak sepenuhnya membantu dia. Aku memberinya item makanan seperti permen coklat yang bisa mengendalikan jiwa seseorang. Mungkin aku bisa mendapatkan beberapa informasi dan memata-matai Pahlawan. Tapi, pedang yang aku berikan itu asli, maksudku, itu rare item! Yah, itu sebagai ganti pedangnya yang aku hancurkan.
"Nah, sekarang apa yang harus aku lakukan?"
Baiklah, ini sudah waktunya untukku memikirkan rencana.
-----------------------
Kalian tahu? Aku menghabiskan seharian penuh di kamar semalam, jangan berpikir yang aneh-aneh! Ini menyangkut dunia di masa depan.
Huh ... Erish belum menghubungiku hingga saat ini. Aku ingin menghubunginya, tapi, sepertinya dia sedang sibuk di desa. Hari ini adalah hari pendaftaran terakhir turnamen, besok turnamen akan dimulai. Ini semua karena Guildmaster itu! Tapi, aku memang sedang membutuhkan uang sekarang. Akan kumaafkan dia.
Aku menuju tempat pendaftaran yang berada di arena pertarungan.
Hmmm ... Aku berencana bertarung dengan job Warrior-ku, karena sepertinya sangat sedikit Magic Caster di sana. Ini memang murni kesalahanku yang mengatur stat job-ku menjadi dua, aku kira double job sangat normal di sini, ternyata hanya orang-orang Desa Liche yang memilikinya. Mungkin peserta lain akan mewaspadaiku. Guildmaster menyuruhku mendaftar di hari terakhir, karena banyak orang di hari terakhir pendaftaran. Itu sempurna, mungkin ada banyak orang yang kuat di sana.
Aku sampai di tempat tujuan.
Ternyata tempatnya seperti Colosseum pada umumnya, jadi ini tak jauh berbeda dari peninggalan kuno di duniaku dulu.
Waaah ... Bagian dalamnya sangat luas. Pasti akan banyak penonton yang hadir.
"Di mana pendaftarannya, ya?"
Terlalu luas! Aku tersesat!
Ini sangat menjengkelkan! Jika ini di game, akan ada tanda yang mengarahkan jalan untukmu. Bertanya adalah jalan satu-satunya!
Ini dia! Setelah sekian lama aku akhirnya mengajak orang asing berbicara. Aku melihat seorang Warrior memegang pedang besar, penampilannya memang sangat menakutkan. Baiklah.
"Permisi, Tuan Warrior, apa kau tahu di mana tempat pendaftaran turnamen?"
Seperti ini, 'kan?
"Di sana, aku akan mengantarmu, Nona,"
"Baik, terima kasih, Tuan Warrior,"
"Panggil saja aku Rony,"
"Baik, Rony,"
Waah ... Ini sangat mudah. Penampilannya menakutkan, tapi, dia tak seperti penampilannya! Aku harap kalian tidak memandang orang dari penampilannya.
"Ini tempatnya, Nona,"
"Terima kasih, Rony,"
"Bolehkah kau memberitahu namamu, Nona?"
"Oh, iya, namaku Alissa Hart,"
"Salam kenal, Nona Hart, semoga kita bertemu lagi." Warrior itu pergi.
Aku menghampiri petugas di meja pendaftaran.
*Bum
Heh? Apa-apaan aura intimidasi ini? Apa yang dia inginkan?
"Hoh, wanita yang menarik, kau sama sekali tidak terpengaruh dengan aura intimidasiku ini,"
Ternyata itu dari petugas sialan ini. Dia memasang senyuman aneh.
"Aku ingin mendaftar, tolong periksa kartu ini,"
"Alissa Hart, Rank A, woah?! Double job, ya? Dan lagi, kau mewakili Guild Petualang milik Pak Tua Carl,"
"Hmmm?"
"Selesai! Ini kartumu. Kau sudah terdaftar, semoga beruntung besok,"
Tempat ini terlalu banyak orang aneh.
"Hmm ...."
Perasaan ini? Apa yang terjadi?
Aku merasakan aura aneh di sekitar arena. Mencari sumber aura tersebut, kemudian ....
Nama : Maryna Larafala Ruine
Umur : 112
Ras : Iblis
Job : Magic Caster/Warrior
Tittle : Dragon Slayer
Level : 698
Eh? Siapa itu?! Gadis itu Iblis?! Apa Iblis juga ikut serta dalam turnamen ini? Itu tidak mungkin. Ras Iblis adalah musuh utama semua ras. Ini pasti penyusupan! Levelnya lebih tinggi dari Ray, dan gelar yang dimilikinya itu?! Ray dalam bahaya jika bertemu dia. Apa aku laporkan saja ini ke Kekaisaran? Hmm ... Tunggu dulu. Ini adalah tontonan menarik! Ini tidak akan menarik jika aku laporkan! Aku harus membuatnya bertemu dengan Pahlawan.
Aku menghampiri Wanita Iblis itu.
Dia cantik! Tidak ada bedanya dengan manusia. Hanya saja mereka memiliki telinga sedikit runcing ke atas. Tapi, dia menyembunyikan telinganya dengan ilusi, dia hebat.
"Halo, Nona, namaku Alissa, apa kau juga peserta turnamen ini?"
"Hmm? Apa kau barusan berbicara denganku?"
"I-iya, benar,"
"Siapa kau?"
Heh?
"Apa maksudmu?"
"Aku sedang menggunakan sihir tak terlihat tingkat tinggi! Kau bukan orang biasa! Siapa kau?!"
"Heh?"
Heeeeeeeeeeh?!
Bersambung ....