
Chapter 39 : Gadis Kecil
650 tahun lalu.
Kondisi dunia sangat kacau, setiap orang bertaruh nyawa ketika mencoba keluar dari tempat mereka, banyak monster berkeliaran yang siap membunuh siapa pun. Lautan hutan hijau masih mendominasi dataran di seluruh dunia, tempat yang ideal bagi monster tinggal.
Kondisi itu diperparah dengan konflik antara ras Manusia dan Iblis. Ras Iblis sangat mendominasi, mereka hampir menguasai seluruh wilayah di dunia. Monster-monster yang berkeliaran sebagian besar merupakan monster panggilan mereka. Pahlawan belum ada pada saat itu, ras Manusia berada di ambang kepunahan.
Wilayah Menara Sihir.
Semua kerajaan sudah hancur akibat serangan monster dan Iblis, namun ada tempat yang merupakan pusat berkumpulnya seluruh umat Manusia. Mereka menyebutnya Wilayah Menara Sihir. Ada tiga menara sihir yang memiliki warna berbeda. Putih, merah, dan biru. Diisi oleh para penyihir yang diakui.
Karena Warrior dan Swordman sangat sedikit, maka harapan satu-satunya umat Manusia adalah Magic Caster. Banyak penyihir yang tiada henti bertempur melawan ras Iblis.
Masih di sekitar Wilayah Menara Sihir, ada desa kumuh kecil yang diisi oleh orang-orang berkasta rendah. Karena belum ada pemerintahan yang mengatur sebuah wilayah, mereka hanya bisa hidup terombang-ambing. Hanya mereka yang berada di Wilayah Menara Sihir bisa hidup nyaman.
Malam hari yang mencekam. Walau berada di Wilayah Menara Sihir, bukan berarti tidak ada bahaya yang datang. Bukan bahaya yang ditimbulkan monster, melainkan bahaya antar sesama Manusia itu sendiri. Bandit, pembunuh, dan banyak lagi, mereka melakukan hal itu untuk bertahan hidup.
Ada sebuah gubuk kecil di pinggir desa. Gubuk itu memiliki tinggi 1 meter, panjang 4 meter dan luas 2 meter, terbuat dari kayu dan ranting sebagai atapnya. Seorang gadis kecil tinggal di gubuk itu, berusia 6 tahun, ia sedang tertidur lelap di gubuk kecilnya. Tubuhnya sangat kurus, rambut putihnya terlihat kusam.
Udara semakin dingin. Gadis kecil itu terbangun karena dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Matanya masih terlihat sayu karena rasa kantuk yang belum menghilang. Ia melihat ke sekelilingnya.
"Naura, Legarde ... mereka belum pulang?" Ia mengusap-usap matanya.
Gadis kecil itu tidak benar-benar sendiri di gubuk itu, ia tinggal bersama dua orang temannya. Kedua temannya sering keluar untuk menangkap ikan dan membantu orang-orang dengan imbalan makanan atau uang.
Seharusnya kedua temannya sudah kembali. Karena penasaran, gadis kecil itu keluar dari gubuk untuk mencari mereka.
Saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar ....
*Duar!
Kilatan petir mengejutkannya, gadis kecil itu langsung terdorong kembali ke dalam gubuk. Ia sangat terkejut dengan suara petir yang didengarnya.
"Naura, Legarde, cepatlah pulang." Gadis itu duduk ketakutan di sudut ruangan.
Suasana yang mencekam membuat gadis kecil itu semakin gelisah. Dia terus menggesekkan tangannya untuk menghangatkan diri, ia terus melawan rasa takutnya.
*Krek
Terdengar sebuah ranting yang diinjak tepat di luar gubuk.
Tanpa pikir panjang, gadis kecil itu langsung berlari keluar gubuk dengan wajah senang.
"Naura, Legar--" Gadis itu langsung terdiam setelah melihat apa yang ada di depannya.
Sosok hitam tinggi berdiri tepat di hadapannya. Tak terlihat jelas makhluk apa itu, bentuk tubuhnya seperti manusia, namun ukurannya tidak seperti manusia pada umumnya. Matanya bersinar kekuningan dalam kegelapan.
Gadis kecil itu hanya terdiam dengan tubuh yang gemetaran.
Makhluk itu membukukkan tubuhnya dan mendekati gadis kecil itu. Hembusan napasnya membuat gadis itu kedinginan.
Gadis itu bisa melihat rupa makhluk itu. Wajahnya tertutupi oleh bulu berwarna putih, taringnya menjulang dari bawah ke atas. Jika diperhatikan, ia terlihat seperti gorila.
Wajah mereka saling berhadapan. Tubuh gadis itu mati rasa, ia bisa saja terjatuh kapan pun, namun kegigihannya mampu melawan itu semua.
Makhluk itu perlahan menjauh darinya.
*Wush!
Ia melompat meninggalkan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu langsung terduduk lemas. Napasnya tak beraturan, kematian baru saja pergi darinya. Ia pun tergeletak di tanah dan tertidur.
---------------------------------
Pagi hari yang cerah, sinar pagi masuk melalui lubang-lubang kecil di gubuk. Cahaya pagi itu membangunkan si gadis kecil yang tertidur. Ia membuka matanya dan langsung mengangkat tangannya untuk menutupi sinar yang mengarah ke wajahnya.
Gadis kecil itu merasakan sesuatu yang menyelimuti tubuhnya.
Selimut?
Seseorang perempuan masuk ke gubuk kecil. Perempuan itu terkejut ketika melihat gadis kecil yang terbangun dari tidurnya.
Melihat orang itu, gadis kecil itu langsung bangun dan memeluknya.
"Naura!" Ia memeluk perempuan itu dengan kuat.
Gadis kecil ini adalah Hela, penyihir terkuat di masa depan. Ini sebuah kisah tentang perjalanan Hela menjadi penyihir terkuat di masa depan.
"Aku dan Legarde terkejut saat melihatmu tergeletak di dekat pintu. Apa terjadi sesuatu tadi malam?"
Hela menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya cemas karena kalian belum pulang."
Hela tak ingin menceritakan tentang makhluk mengerikan yang mendatanginya. Ia tak ingin membuat kedua temannya semakin khawatir.
Naura mengelus kepala Hela. "Maaf, sudah membuatnu khawatir. Tadi malam kami melakukan pekerjaan tambahan dari warga desa,"
"Aku mengerti."
Perut Hela berbunyi, ia sangat lapar karena tidak makan tadi malan.
Naura tersenyum sambil menggoda Hela. "Kebetulan kami membawa banyak makanan tadi malam, apa kau mau mencobanya?"
Wajah Hela memerah karena malu.
Naura menariknya keluar dari gubuk. "Ayo kita sarapan, Hela."
Di luar, seorang anak laki-laki sedang memasak menggunakan kayu bakar. Ia terlihat merebus sesuatu.
Mencium aroma masakannya membuat Hela tergoda, ia langsung melepas genggaman tangannya dari Naura dan langsung menuju ke arah anak laki-laki yang sedang memasak itu.
Anak laki-laki itu adalah Legarde, orang yang selalu memasak untuk mereka. Legarde dan Naura berusia 14 tahun, mereka menganggap Hela seperti adik, oleh karena itu mereka tak mengizinkan Hela untuk ikut keluar mencari makanan.
"Waah ... seperti biasa, aroma ini menggugah selera," ucap Naura sambil mengendus-endus aroma masakan.
Naura tak bisa memasak, penampilannya sangat tomboy, ia juga merupakan ahli pertarungan fisik. Sedangkan Legarde seorang penyihir tingkat rendah yang selalu menyiapkan segala kebutuhan untuk mereka.
Hela mengambilkan mangkuk untuk wadah makanan. Langkah kecilnya sangat menggemaskan, dan juga dia membawa tiga mangkuk dengan tangan kecil yang tak kalah menggemaskannya.
"Ayo, Hela, kau pasti bisa!" sorak Naura.
Hela terus berusaha agar tidak menjatuhkan mangkuk kayu yang dibawanya.
Akhirnya Hela telah berhasil menaklukkan tantangan besarnya.
"Waaah ... Hela kecilku berhasil!" Naura memeluk Hela.
"Naura, hentikan itu, Hela tidak bisa bernapas!"
Walau sederhana, mereka semua dipenuhi dengan canda tawa, mereka yatim piatu, namun mereka bisa melengkapi satu sama lain sebagai keluarga kecil dan terus bertahan hidup dengan ancaman yang bisa saja mengakhiri kebahagian mereka.
Mereka menyantap sup yang dibuat Legarde. Raut wajah mereka sangat senang, menikmati masakan Legarde yang menurut mereka paling enak di dunia.
"Naura, Hela." Legarde melihat kedua perempuan itu dengan senyuman kecil. "Kita harus meningkatkan kekuatan kita hingga orang-orang menyadari keberadaan kita, dan juga kita akan mengalahkan para Iblis itu,"
"Kaw bwnar ... akwu akwan menghwajar gowblin," ucap Naura dengan makanan yang masih berada di dalam mulutnya.
"Telan makananmu, Naura." Hela memukul kecil bahu Naura.
Ada sebuah keinginan yang muncul di benak Legarde.
"Jika kita menjadi yang terkuat, mari kita bangun sebuah kerajaan!"
"Waaah ...." Mata Hela bersinar-sinar melihat Legarde yang berdiri seperti seorang Raja.
"Aku setuju! Biar aku yang menamai kerajaan kita. Namanya ... Kerajaan Mystick!" teriak Naura penuh semangat.
Hela sangat kagum dengan impian kedua temannya yang luar biasa. Ia berusaha agar bisa mewujudkan keinginan mereka dan terus mendukungnya sampai impian itu terwujud.
Kisah perjalanan Ratu Kerajaan Mystick, Hela Naura Legarde dimulai.
Bersambung ....
Maaf, karena telat update. Aku lagi menyusun cerita untuk bab ke depannya, termasuk arc masa lalu Hela. Sempat down beberapa hari karena bingung mau pakai PoV siapa untuk arc ini, dan akhirnya aku memutuskan memakai PoV dari si penulis, yaitu aku. Terima kasih buat yang masih setia mengikuti cerita ini!
Like dan komen, ya!