The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Penjara Abadi



Aku menceritakan seluruh kejadian yang aku alami sejak tiba di dunia ini.


"Jadi begitu." Elina menggenggam erat tanganku. "Ibu telah melewati itu semua sendirian. Maaf, karena kami tidak bisa membantu Ibu,"


Aku hanya terdiam melihat Elina yang sedih.


"Tapi, bagaimana bisa Ibu- tidak, sosok Keres Vasilissa yang ternyata memiliki pengaruh besar di dunia ini? Ibu mengatakan bahwa Ibu tidak mengenal mereka, termasuk Dewi sialan itu,"


Dia menyebutnya Dewi sialan juga. Huh ... buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


"Ibu ...."


"Aku juga masih belum tahu hal itu,"


"Ibu memang sosok yang luar biasa! Bahkan sebelum Ibu datang ke dunia ini, nama Ibu sudah diagung-agungkan!"


Heh?


"Eheem, Saya mengerti, Ibu, saat ini Kerajaan Penyihir Maphas akan perang dengan manusia-manusia itu. Mendengar kekuatan dari para bawahan Ibu di sana, Saya yakin Kerajaan Penyihir Maphas akan menang dengan mudah,"


Aku tahu itu. Kubu manusia hanya memiliki petarung kuat dari Gereja Suci. Aku yakin senjata dari si Penguntit Glenn bisa meratakan prajurit mereka dengan mudah. Itu jika dia benar-benar mengembangkan senjata baru.


Sayang sekali, aku tidak bisa menghubungi mereka. Jika pergi ke sana akan memakan waktu yang sangat lama. Para NPC belum pernah ke tempat itu. Jika aku punya energi sihir sedikit saja, mungkin aku bisa memberi mereka titik lokasi seperti yang Ray lakukan padaku.


Masalah paling utama sekarang, bagaimana mengembalikan kekuatanku!


"Ibu, apa ada sesuatu yang mengganggu Ibu?"


Aku terhanyut dalam pikiranku.


"Elina, antar aku ke ruang penyimpanan item,"


"Baik, Ibu,"


Hanya aku dan Elina yang memiliki akses ke penyimpanan item Dungeon.


Elina memelukku.


Eh? Kau hanya perlu memegang tanganku!


"Teleportation,"


Kami pindah ke ruang penyimpanan.


Waktu itu aku hanya mengambil item berbentuk cincin emas. Karena kejadian tak terduga, aku tidak sempat menggunakannya. Aku tak bisa membuka penyimpanan dimensiku.


"Item apa yang Ibu cari?"


Item apa, ya? Aku tak bisa menggunakan sihir sama sekali, jadi item yang cocok untuk kondisiku saat ini ....


Aku mengambil sebuah tongkat sihir.


Yah, aku hanya bilang bahwa sihirku tidak bisa digunakan, tapi Mana-ku masih bisa kualirkan jika aku memiliki sebuah penghantar untuk mengubah Mana menjadi sihir. Yap, tongkat ini adalah jawabannya!


Aku mengarahkan tongkatku ke Elina.


"I-ibu ...?"


"Fire Ball!"


Ini balasan karena telah membuatku kesal!


*Bush!


Sebuah bola api keluar dari tongkatku.


"Root Wall." Elina menangkis seranganku dengan akar yang keluar dari bawah lantai.


*Duar!


Ledakannya terdengar cukup keras.


Tidak buruk.


*Deg Deg Deg


Tiba-tiba jantungku berdegup kencang.


Aku tidak bisa menahan tubuhku.


"Ibu!"


Sial! Sepertinya Mana-ku tidak cukup.


Elina membantuku berdiri.


"Apa yang terjadi, Ibu?"


Aku tidak tahu berapa MP yang kumiliki sekarang.


Tubuhku benar-benar sangat renta. Untuk berjaga-jaga, aku akan tetap membawa tongkat sihir ini.


Ah, aku hampir lupa tujuanku datang ke tempat ini.


"Elina, apa menurutmu Mana asing di tubuh Rayna bisa dihilangkan menggunakan item pendukung?"


Item pendukung yang kumaksud adalah item yang memiliki efek untuk melepas debuff dari sihir-sihir tingkat lanjut. Item pendukung dibagi menjadi dua jenis; medium dan expert. Keduanya berguna untuk melepas debuff tergantung dari tingkat sihirnya.


Kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk menggunakan item pendukung.


"Saya juga berpikir seperti itu, Ibu, hanya saja Saya tidak berani menggunakan item-item ini tanpa izin dari Ibu,"


Begitu, ya. Dia benar-benar anak yang baik.


"Gunakan item itu sekarang,"


Elina mengambil sebuah item pendukung yang akan digunakan untuk melenyapkan Mana asing di tubuh Rayna.


 ----------------------------


Penjara Abadi.


Kami berada di ruang hampa, dengan tampilan ruang angkasa, sesuai dengan namanya. Penjara Abadi berada di ruang hampa. Tepatnya berada di tengah-tengah ruangan.


"Release." Elina membuka penjara abadi.


Sebuah cahaya muncul. Cahaya itu memiliki bentuk kubus.


Perlahan kubus itu memudar. Terlihat Rayna yang sedang tidak sadarkan diri di dalam kubus itu.


Serangannya akan aktif jika dia bangun.


"Buka,"


"A-apa Ibu yakin? Apa Saya harus memanggil Asmodeus sekarang?"


"Tidak perlu,"


Rayna seperti ini juga karena kecerobohanku. Aku harus menyelesaikan ini sendiri dengan tanganku sendiri.


Elina membawa Rayna keluar dari Penjara Abadi.


Kondisiku memang tak memungkinkan untuk menggunakan item pendukung, tapi, aku akan berusaha menggunakannya dengan mengalirlan sihir melalui tongkatku.


Elina membaringkan Rayna.


"Mana Shield." Elina merapalkan sihir pelindung padaku.


Sebenarnya Elina bisa menggunakan item ini, namun efeknya akan turun drastis karena ini bukan item miliknya. Cara agar dia bisa meningkatkan seluruh efek item pendukung milikku adalah dengan membunuhku. Kurang lebih sama dengan PK yang dilakulan Player dan mengambil drop item dari Player yang mati. Itu hanya berlaku untuk item pendukung, sih.


Aku mengambil item berbentuk permata berwarna merah. The Good of the Earth, item rank S yang bisa mengurangi debuff secara keseluruhan.


Semoga ini berhasil.


Aku meletakan item pendukung di dada Rayna.


"The Good of the Earth : Active!"


Item itu mengeluarkan cahaya merah. Cahaya itu perlahan merambat menyelimuti tubuh Rayna.


Kepalaku sangat pusing! Jika seperti ini, aku bisa pingsan.


Elina memegang kedua pundakku.


Aku merasakan sebuah aliran Mana yang masuk ke tubuhku.


Jadi begitu, ya, Elina menggunakanku sebagai konduktor untuk penghantar Mana menuju ke tubuh Rayna.


"Bertahanlah, Ibu!"


Pandanganku perlahan kabur.


Aku terus melihat wajah Rayna yang malang. Wajahnya terlihat kesakitan menahan sesuatu.


Perlahan kelopak mata Rayna bergerak.


"Rayna!"


"Ibu! Itu bahaya!"


Tanpa sadar, aku melepas item pendukung yang kutempelkan di dada Rayna.


*Krak!


Rayna mencekik leherku.


"Agh!"


"Ibu!"


Rayna perlahan berdiri sambil mencekikku. Matanya masih dalam keadaan tertutup.


*Crack!


Rayna mengeluarkan cakarnya sehingga cakar di ibu jarinya menusuk leherku.


Aku tidak bisa bersuara karena cakar Rayna menembus kerongkonganku.


Elina mencoba menghentikan Rayna dengan akar pepohonan.


"Rayna, hentikan!"


"HUWAAAAAAAAAAA!" Rayna berteriak cukup keras.


Kesadaranku mulai menghilang. Darah hangat mengalir keluar dari leherku.


Bagaimana aku bisa melawan mereka, jika aku saja tidak bisa menyelamatkan orang-orangku.


*Crack!


Rayna menusuk perutku dengan cakar di tangan kirinya.


"R ... Ayna." Napasku semakin tak beraturan.


"Rayna! Lepaskan Ibu!"


Terdengar suara hantaman keras dari arah pintu ruangan.


"Ibunda!"


As ... modeus, dia datang.


 ------------------------


[Huuuh ... ternyata kau lebih bodoh dari yang kukira,]


Suara siapa itu?


[Suara kematianmu,]


Ah, aku benar-benar sudah mati, ya? Tidak kusangka akan berakhir sep-


[Buka matamu bodoh!]


"Ibu!"


"Haaah!" Aku terbangun.


Apa yang terjadi?


"Ibu ...." Elina memelukku sambil menangis.


Aku masih berada di ruang hampa.


Para NPC berdiri mengelilingiku.


Apa-apaan mereka?


Aku meraba-raba leher dan perutku.


Menghilang. Sepertinya Elina yang menyembuhkanku. Tapi, kenapa mereka mengelilingiku?


Aku mencoba untuk bangun.


Apa yang terjadi dengan Rayna?


Elina menahanku.


"Elina?"


Elina menggelengkan kepalanya.


Tidak, tidak, ini tidak mungkin terjadi!


Aku menarik paksa tubuhku dari pelukan Elina.


"I, ibu ...."


Aku merangkak menuju Penjara Abadi.


Crocell mengangkat tubuhku.


"Rayna ...."


Crocell membawaku mendekati Rayna.


Terlihat Asmodeus yang duduk di hadapan Rayna yang terbaring.


"Rayna!" Aku meraih tangan Rayna yang pucat.


Aku tak merasakan tanda-tanda kehidupan dari Rayna.


"Asmodeus! Apa yang terjadi?!


"Maaf, Ibunda, Rayna benar-benar kehilangan kendali, Saya terpaksa bertarung serius dengannya,"


Tidak, Rayna tidak akan mati dengan mudah.


"Delila! Tahan kondisi tubuh Rayna dengan sihir waktu!"


"B-baik, Ibu!"


Dengan sihir waktu, aliran waktu di tubuh Rayna akan berhenti. Jika mengambil esensi tubuhnya dari masa lalu, itu memerlukan banyak waktu.


"Bagi kalian yang memiliki sihir penyembuh, rapalkan pada Rayna sekarang! Gunakan potion penyembuh sebanyak-banyaknya!"


"Baik!"


Perlahan tubuhku lemas.


Aku tidak bisa mempertahankan kondisiku saat ini.


"Kuserahkan pada kalian ... Anak-anakku."


 -----------------------------


Aku membuka mataku secara perlahan.


Kamarku?


Huh ... sudah berapa kali aku pingsan? Tidak, kali ini sudah berapa lama aku pingsan?!


Tangan kiriku terasa berat.


Seorang wanita tidur di sisi kiriku.


Rambut putihnya begitu halus. Sangat nyaman.


Aku mencoba menggapai rambutnya dengan tangan kananku.


Dia bangun.


"Uh ... apa yang terj-"


"Rayna?"


Wanita itu adalah Rayna.


"I-ibu?"


Rayna memeluk sambil menangis.


"Ibuuu! Maafkan Saya!"


Aku mengelus kepala Rayna.


Benar-benar lembut. Sepertinya sekarang aku benar-benar telah menjadi orang tua dari mereka.


Hanya Rayna yang saat ini berada di kamarku. Sepertinya mereka ingin memberi Rayna kesempatan.


"Rayna, bagaimana keadaanmu?"


"Saya baik-baik saja. Tapi, bagaimana dengan Ibu?! Kak Elina bilang Ibu tak bisa menggunakan sihir!"


"Itu bukan masalah besar,"


Rayna memelukku erat. "Tentu saja itu masalah besar, Ibu!"


Syukurlah Rayna kembali seperti biasanya.


*Tok Tok Tok


Seseorang mengetuk pintu.


"Masuk,"


"Permisi, Ibu." Asmodeus masuk ke kamarku.


"Ada apa, Asmodeus?"


"Ibu, ada seekor gagak datang ke Istana Kerajaan Karibian,"


"Gagak?"


"Benar, Saya membawa gagak itu ke sini,"


Asmodeus membuka sebuah bungkusan kain.


Isinya gagak berwarna hitam yang terlihat sudah mati.


Tunggu, aku merasa familiar dengan gagak ini?


"Jika dilihat dengan seksama, gagak ini memiliki karakteristik yang sama seperti gagak di Magic Infinity, Ibu," lanjut Asmodeus.


Benar! Gagak ini ... sebuah pesan dari anggota guild yang sedang berperang kepada Ketua Guild di barisan belakang. Jika gagak yang datang berwarna hitam, maka guild itu menderita kekalahan. Jika gagak itu berwarna putih, maka itu berita kemenangan.


Namun, gagak berwarna hitam yang mati setelah sampai di tempat tujuan, itu artinya ... Seluruh pasukan habis terbantai.


Kenapa gagak itu ke sini?


Aku menyentuh gagak itu.


*Srk!


Sesuatu menyengat tanganku.


Sebuah energi hitam keluar dari gagak itu.


"...."


Terdengar suara yang samar-samar dari energi itu.


"Master ... kami ... tidak ... bisa ... mengatasi ...." Suara itu menghilang.


Suaranya seperti ... Daisy?


"Apa yang sebenarnya terjadi, Ibu?"


Tidak, tidak mungkin.


"Ibu." Rayna menatapku cemas.


"Apa kalian ingat dengan perkataanku tentang perang dengan Gereja Suci?"


Mereka berdua mengangguk.


"Kerajaanku ... dimusnahkan."


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!


Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :


https://saweria.co/hzran22


Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.