
Pertarungan mereka berdua berlangsung sangat sengit. Alison terus memberikan serangan cepatnya ke arah Penguntit itu. Penguntit itu juga sangat lihai menghindari serangannya.
"Hmmm ...." Aku melihat ke arah tiga Hart lainnya.
Aku merasakan energi sihir di antara tiga orang itu.
Hmmm ... jadi begitu, Lilian seorang Magic Caster.
*Ting!
Alison masih terus beradu pedang dengan Penguntit.
"Hah ... hanya ini kemampuan Swordmaster terkuat dari Keluarga Hart?" ucap Penguntit.
"Hoi, aku belum serius, lho." Aura membunuh Alison semakin terasa.
"Hahaha ... ini yang aku tunggu!"
Penguntit mulai menyerang duluan mengarahkan daggernya ke leher Alison.
"Flame Sword!" Alison menyerang balik dengan teknik pedang sihirnya.
Elemen api, ya?
"Shield Wall!" Si Penguntit menggunakan sihir perisai untuk menahan serangan Alison.
"Tak kusangka bajingan sepertimu memiliki Double Job. Katakan siapa kau? Buka penutup kepalamu!"
Benar, siapa si Penguntit ini sebenarnya? Dia pasti dari organisasi besar.
"Tak penting siapa aku, tugasku hanya membunuh kalian Petualang dari Keluarga Hart,"
"Baiklah, aku akan bersungguh-sungguh sekarang." Ekspresi wajah Alison mendadak tenang.
Ketenangan ... apa yang dia lakukan?
"Hoh ... marilah! Setelah membunuhmu, aku akan mengurus kalian berempat!"
Kenapa aku ikut?!
*Wush!
Alison menghilang! Tidak, gerakannya sangat cepat.
Penguntit melihat ke sisi kiri dan kanan.
"Ke mana kau melihat, dasar bajingan." Alison sudah berada di belakang si Penguntit itu.
*Crack!
Alison berhasil menghunuskan pedangnya ke Penguntit.
Tebasan Alison meleset? Sepertinya tidak, reflek si Penguntit itu juga cepat. Namun, serangan itu mengenai lengan kirinya.
"Dasar sialan!" teriak si Penguntit.
Lingkaran sihir muncul di bawah kaki si Penguntit.
"Hand of Judgment." Lilian mulai merapal sihirnya.
Itu, 'kan?
"Apa ini?!" Tubuh si Penguntit tak bisa bergerak.
Tidak salah lagi, itu sihir yang bisa menahan seluruh pergerakan target dan menghisap Mana target hingga target menyadari kesalahannya. Tangan hitam akan muncul dari bawah, kemudian mengikat target dengan sangat kuat. Ini sihir untuk mengintrogasi orang, sihir tingkat 7. Tidak buruk.
"Kerja bagus, Lilian," ucap Alison.
Lilian berjalan menuju ke arah si Penguntit itu.
Sepertinya dia ingin mengorek informasi darinya.
"Baiklah, siapa kau sebenarnya?" Lilian meraih penutup kepala si Penguntit.
Semua orang di tempat ini memperhatikan dengan serius.
Kalian penasaran? Aku juga!
[Yang Mulia,]
Suara ini? Putri Anna.
[Ada apa?]
[Penyusup itu Petualang dari Guild Ibukota, dia mendapat quest untuk membunuh Petualang dari Keluarga Hart. Kami berhasil menangkap seseorang dari Gereja Suci yang memberikan quest itu kepadanya,]
[Gereja, ya? Tapi, apa alasannya?]
[I-itu karena Anda, Yang Mulia,]
[Heh?]
Aku? Ah! Aku menghajar Saint saat turnamen waktu itu.
[A-apa Anda bisa membantuku menyelamatkan penyusup itu?]
Menyelamatkan? Apa Penguntit itu kekasihnya? Hah ... Terserahlah, semua ini karena aku.
[Baiklah,]
*Plak!
Lilian menampar wajah si Penguntit itu.
Heh? Apa yang terjadi?
Dia membuka penutup kepalanya.
"Dia, 'kan?!" "Petualang rank S yang baru saja naik peringkat kemarin!" "Sialan! Apa yang sedang dia lakukan?!" Para Petualang mulai membuat suasana menadi gaduh.
Hooh ... sepertinya kau sangat terkenal, ya, Penguntit.
"Mempermalukanku seperti ini, kalian sudah melewati batas!" Aura gelap menyelimuti Penguntit itu.
Buff? Bukan, apa ini skill originalnya?
*Bum!
Tekanan aura yang dipancarkan membuat semua orang ketakutan kecuali Keluarga Hart.
Sihir milik Lilian tak mampu menahan aura dari Penguntit itu.
"Mundurlah, Lilian!" teriak Alison.
*Swing
Penguntit itu langsung mengarahkan daggernya ke Lilian.
*Ting!
Rudy dengan cepat menangkis serangan itu.
"Heh ... apa kau melupakanku, bocah?" ucap Rudy.
Jadi, dia Tank. Sungguh luar biasa.
"Huaaaaaa!" Penguntit itu melancarkan tebasan bertubi-tubi ke arah Rudy.
"Kau terlalu naif!"
*Dum!
Rudy meninju perut Penguntit itu hingga terpental menghancurkan dinding.
"Uhuuk, uhuuk! Tch. Kau benar membuatku jengkel." Penguntit itu mengganti senjatanya dengan pedang.
Pedang itu terlihat tidak asing. Ada yang tidak beres!
Alison berlari menuju si Penguntit.
"Flame Sword!" Alison menyerangnya dengan pedang sihir.
*Swing!
Penguntit itu mengayunkan pedangnya untuk menghilangkann serangan sihir Alison.
"A-apa yan-"
*Crack!
Dengan cepat si Penguntit menusuk perut Alison.
"Alison!" teriak Lilian.
Waaah ... itu sangat sadis. Alison mengalami pendarahan parah di perutnya.
"Mengecewakan."
*Swush
Rudy dengan cepat menggapai leher Penguntit itu dan mencekiknya.
"Aku akan membunuhmu, bocah ... huh?" Mulut Rudy mengeluarkan darah.
*Bruk
Rudy terduduk lemas.
"Kau memiliki otot besar, tapi tidak dengan otakmu, haha! Aku menebarkan serbuk racun saat kau memukulku,"
Dia cerdik! Tapi, bagaimana Rudy bisa lemah terhadap racun itu? Sebagai Tank, kekebalan tubuhnya sangat kuat. Kecuali, racun itu bukanlah racun biasa.
"Jadi, sekarang tersisa kalian bertiga, gadis-gadis cantik." Penguntit menatap kami dengan tatapan mengerikan.
Stephanie mengangkat tangannya.
"Huh? Apa yang kau lakukan?" tanyaku.
"Advanced Holy Magic : Blessing." Stephanie merapal sihir suci.
Ini?! Sihir suci tingkat 9! Dulu aku sangat sulit mempelajari pola sihir ini. Dia bisa menggunakannya?!
Seluruh area di aula dipenuhi cahaya terang.
Ini efek sihirnya. Semua damage yang diterima rekan akan pulih seperti semula. Kondisi mereka akan kembali seperti sedia kala. Ini berbeda dengan sihir menghidupkan orang mati. Sihir ini tidak bisa menghidupkan orang mati. Jadi, sihir menghidupkan orang mati berada di puncak teratas setelah sihir ini. Tentu saja sihir ini akan mengonsumsi banyak MP. Ini akan menjadi sihir terakhir Stephanie. Dia seorang Priest.
"Haaah ... sialan! Aku akan membunuh Priest itu!"
"Aku tidak akan membiarkanmu. Unseal!" Lilian langsung mengarahkan kedua tangannya ke depan.
Unseal? Apa dia membuka segel sihir? Tunggu .... dia berniat untuk bunuh diri!
"Hentikan!" Aku menurunkan tangannya.
"Nona Alissa, ada apa?" tanya Lilian.
"Jangan libatkan orang lain untuk pertempuran konyol ini, ruangan ini akan hancur nanti,"
*Wush!
Si Penguntit bergerak menuju ke arahku.
{Medium Intimidation Aura:ON}
*Bum!
Tubuh si Penguntit perlahan membeku.
"Aku bilang berhenti, sialan,"
"A-apa ini?"
*Dum!
Aku mendaratkan pukulan ke wajahnya.
"Mana Absorption." Aku langsung menggunakan sihirku.
Aku harus membawa si Penguntit ini. Dia mungkin akan berguna di masa depan. Sebelum itu, aku ingin mengetahui alasan Putri Anna melindunginya.
"Ray, ayo pergi,"
"Baik, Nyonyaku,"
"T-tunggu," Lilian menarik tanganku. "A-apakah kau Ra-"
"Sleep Soundly." Aku merapalkan sihir sambil menyentuh keningnya.
*Bruk
Lilin dan yang lainnya langsug tertidur.
"Apa itu tidak berlebihan, Nyonyaku?"
"Aku hanya membuat mereka tertidur, dan sedikit merubah ingatan mereka tentangku,"
"Be-begitu, ya,"
"Bawa pria ini ke Desa Liche, Ray,"
"Baik."
A. Tak Berdaya
"Huuh ...."
Di mana aku?
Napasku masih terengah-engah. Apa yang terjadi?
Aku terbaring di tempat tidur.
Kamar siapa ini?
"Uhk!" Tubuhku tidak bisa bergerak.
Manaku sepertinya hampir habis. Apa yang terjadi?
Sialan. Aku baru ingat.
"Wanita itu." Aku menghela napasku secara perlahan.
Dia mengalahkanku dengan mudahnya. Tubuhku tidak bisa bergerak. Apa ini karena sihir wanita itu?
*Kreek
Seorang anak kecil masuk ke kamar.
Siapa anak kecil ini?
"K-kau sudah bangun?" tanya anak kecil itu.
"Tempat apa ini?"
"Kau sekarang berada di Desa Liche,"
Desa Liche? Desa yang penduduknya bisa membangkitkan Double Job di usia tertentu itu? Bagaimana aku bisa di sini?
"Yang Mulia Ratu dan Tuan Raymond membawamu ke sini, dan aku merawatmu yang sudah tertidur lebih dari tiga hari,"
Yang Mulia Ratu? Siapa yang gadis ini mak- Wanita itu! Sudah kuduga, dia memang bukan orang biasa. Tapi, kenapa dia menyelamatkanku?
Apa yang terjadi dengan orang dari Gereja Suci itu? Aku ingin melaporkan kegagalan misiku. Ini ke dua kalinya aku gagal dalam misi.
Tapi, apa-apaan aura mengerikan milik wanita itu. Sangat menakutkan.
"Hey, Nak, siapa namamu?"
"Lucy,"
"Terima kasih sudah merawatku, Lucy,"
"Ti-tidak perlu berterima kasih, ini semua perintah Yang Mulia Ratu,"
"Be-begitu, ya? Baiklah,"
*Kreek
Seorang wanita masuk ke kamar.
"Lucy, apa kau sudah membawa tanamannya?" tanya wanita itu pada Lucy.
Wanita itu sangat cantik dan menawan. Mata biru, rambut hitam yang mengkilap.
"Sudah, Kak,"
Dia ternyata Kakak dari Lucy.
"Hoh ... dia sudah bangun?"
*Bum!
Wanita itu langsung menyerangku dengan auranya.
Aura membunuh? Tapi, kenapa?!
"Ka-kakak,"
"Berani-beraninya kau menyerang Yang Mulia!"
"Te-tenanglah, Nona, aku sudah kalah,"
Level wanita ini?
Appraisal Eyes.
Heh? Ini bercanda, 'kan?
Bersambung ....