
Keesokan harinya, padang rumput di Desa Liche.
Seluruh penghuni atas telah kembali, termasuk para demihuman. Semua orang telah kembali melakukan aktivitasnya masing-masing.
Dan aku terjebak di sini menunggu Delila yang kembali ke Dungeon untuk mengambil beberapa item milikku. Delila bisa berteleportasi dengan menggunakan sihir ruang, sama seperti Gate, namun ruang portal milik Delila tak terbatas, artinya ia bisa menandai ribuan tempat dengan ribuan portal.
Aku duduk di bawah pohon sambil melihat padang rumput yang in--
*Duar!
Ledakan yang indah.
Jika kalian ingin tahu apa yang terjadi, sepertinya kita harus mundur beberapa saat.
---------------------------
"Ibu, Saya akan segera kembali." Delila membuka ruang portal.
"Delila, jangan biarkan para pria di sana mengikutimu,"
"Jangan khawatir, Selene."
Tak masalah jika beberapa dari mereka ikut. Anak-anak perempuanku terlalu posesif terhadapku.
Selene menjagaku sampai Delila kembali.
Selene merupakan High Human sama seperti Delila. Level 1000 dan memiliki job Assasin. Selene sangat ahli dalam pengintaian. Bahkan saat aku menerima perawatan pasca pertarungan melawan Satan, Selene sudah berada di kamarku. Bahkan Delila dan Elina tak menyadarinya. Ia menyatu di dalam bayangan salah satu dari mereka. Itu benar-benar mengerikan bagi mereka yang memiliki ketakutan terhadap stalker.
Dalam pertarungan, Selene juga tak kalah kuat dari Rayna. Ia menggunakan dua dagger dan senjata-senjata kecil lainnya untuk bertarung.
"Ibu, apa Anda benar-benar tak ingin membawa Saya?"
Itu tidak buruk, aku bisa menyuruhnya berdiam di dalam bayanganku. Tidak, tidak! Dia pasti akan mati karena bosan. Aku tahu pasti dia akan menerima tugas apa pun dariku.
"Tidak."
Selene langsung memasang ekspresi sedih.
Penampilannya tak cocok dengan eskpresinya saat ini. Selene memiliki wajah seperti orang-orang dari Asia. Matanya sedikit sipit, kulitnya putih, dan memiliki rambut hitam seleher. Penampilannya seperti Assasin pada umumnya. Mengenakan celana selutut dan atasan seperti mantel hitam. Wajahnya terlihat jelas, ia tak menutup wajahnya sama sekali. Dia sangat cantik, dan misterius.
Kami berjalan tanpa arah dan tak sadar telah sampai di Desa Liche, tepatnya padang rumput tempat para prajurit berlatih.
Tak ada orang yang berlatih.
Huh?
Seoertinya ada dua orang di sana.
Kami mendekati mereka.
*Dor!
Terdengar suara tembakan dari tempat mereka.
Latihan tembak, jadi itu si penguntit dan Pahlawan, ya?
Mereka berbalik ke arah kami.
"Salam, Yang Mulia."
Hanya si penguntit yang menyapaku, sepertinya Pahlawan masih enggan menyapaku. Dia masih mencari sosok Alissa Hart yang saat ini berada tepat di hadapannya.
"Sepertinya senjata bernama pistol ini telah berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya,"
"Anda benar, berkat bantuan para Dwarf, pistol ini memiliki daya tembak yang luar biasa, serta bisa menembak secara beruntun per-sekian detik,"
"Jika seperti itu, kenapa kau tidak membuat desainnya lebih besar? Rasanya tak cocok senjata kecil menembak secara beruntun seperti itu. Aku rasa pistol itu tak akan bertahan lama menahan tekanan dari setiap tembakannya,"
Maksudku, kenapa kau tidak membuat desainnya seperti senjata mesin yang besar?!
"Anda benar, Yang Mulia, Saya sedang mempersiapkan beberapa senjata sejenis dengan daya tembak yang berbeda-beda,"
"Bagus, aku akan memerintahkan Erish untuk menambah biaya produksinya,"
"Tapi, kenapa Anda enggan memasarkan senjata ini, Yang Mulia?"
"Sekarang belum waktunya, jika senjata ini dipasarkan, dunia akan gempar, kejahatan akan meningkat,"
Si penguntit terlihat terkejut dengan perkataanku. "A-anda benar."
Aku sudah bisa melihat gambaran masa depan jika senjata api dipasarkan. Bukan maksudku memonopoli senjata ini, hanya saja orang-orang di dunia ini belum siap dengan senjata api. Untuk saat ini, Kerajaan Maphas akan meningkatkan kekuatan para prajurit.
"Kalian boleh melanjutkan latihan,"
"Baik, Yan--"
*Wush!
Bayangan hitam menyerang si penguntit.
Serangan itu berhasil dihindari.
Selene menyerang dia tiba-tiba, apa yang terjadi?
"Ibu, Saya merasakan energi sihir Anda di tubuh pria itu,"
"Hmmmm ...?"
Ah, sepertinya itu item yang kutanam di tubuhnya.
Ekspresi wajah Selene tampak kesal.
Si penguntit langsung mengeluarkan dagger di tangannya.
Seingatku, dia tidak memiliki job Assasin. Namun gaya bertarung dan penampilannya seperti sudah sangat ahli.
"Tampaknya ini akan sulit. Zain, kita harus bekerja sama melawannya,"
"Baik, Guru."
Bayangan hitam melilit kakiku.
Huh?!
*Wush!
Bayangan itu membawaku menjauh dari tempat mereka.
Apa yang Selene pikirkan?! Mereka berdua akan mati.
----------------------
Begitulah awal mula keributan tanpa alasan ini terjadi.
Pertarungan berjalan tak seimbang. Kedua orang itu tak banyak memberi serangan berarti, bahkan dengan bantuan pistol pun mereka masih kesulitan.
Tapi, kenapa Selene semarah itu?
Aku tak bisa mengenghentikan mereka. Sepertinya aku harus menunggu sampai kedua orang itu mati kelelahan.
Padang rumput yang indah ini hancur seketika.
Sebuah portal dimensi muncul di sebelahku. Delila keluar dari portal dimensi itu.
Delila bisa muncul di dekatku karena ia telah menandaiku, dia bisa muncul di mana pun aku berada.
"Hentikan mereka, Delila,"
"Baik, Ibu."
Delila memasang sihir pelindung padaku.
"Death Scream."
Sebuah bola hitam kecil muncul di atas tempat mereka bertarung.
Ketiga orang itu menghentikan pertarungan sambil menutup telinga mereka.
Ini sihir tingkat 15, Death Scream. Bola hitam itu sebenarnya adalah sebuah portal dimensi berukuran kecil. Delila membuka ruang dimensi tempat di mana suara itu berasal.
Aku tak mendengar apa pun dari sini.
Selene terkena efek sihir Delila. Kemungkinan besar resistensi Selene terhadap sihir jenis itu sangat rendah. Aku tak tahu soal itu, sepertinya aku harus membaca ulang seluruh deskripsi dari 12 NPC.
Kedua orang itu akan mati jika Delila memperbesar bola hitam miliknya.
Delila membatalkan sihirnya.
"Ibu, Saya telah membawa item-item yang Anda minta di ruang dimensi,"
"Bagus, sekarang kita bisa segera pergi ke sana. Ngomong-ngomong, di mana Erish?"
Delila membuka portal sihir. Seseorang keluar dari portal sihir itu.
"Huh? Di mana aku?"
Ternyata Delila langsung memindahkan Erish ke sini.
"Y-yang Mulia?"
Untungnya Erish tidak sedang melakukan hal aneh. Aku harus waspada terhadap Delila.
"Ibu, sebelum itu kita harus merubah penampilan,"
"Kau benar, gunakan item Embodiment sekarang,"
Delila mengambil item dari ruang dimensinya.
Embodiment merupakan item penyamaran yang sangat langka. Memiliki bentuk beragam, namun lebih banyak menyerupai perhiasan. Pengguna bisa merubah wujud dari remaja hingga tua, bahkan gender. Ini hanya penyamaran, gender asli di data informasi tak akan berubah.
Delila mengenakan anting, Erish mengenakan kalung, dan aku mengenakan cincin.
Sebuah layar muncul di depan kami.
"A-apa ini?" Erish terlihat kebingungan.
Sepertinya ini pertama kalinya dia melihat item yang memunculkan layat status.
"Erish, berapa rata-rata usia murid di akademi itu?"
"Sekitar 16-19 tahun,"
Aku mencoba untuk mengganti gender.
*Jlib!
Tubuhku perlahan membesar. Otot-otot tanganku juga semakin besar.
Aku menjadi pria tulen! Ini sudah seharusnya, 'kan?!
"Aku merindukan ini ...." ucapku.
"I-ibu?" Delila terkejut.
Celaka! Apa yang sudah kukatakan?!
"Eheeem ... aku hanya ingin memastikan item ini berfungsi,"
Suaraku sangat berat dan besar. Aku harus kembali ke wujudku semula.
Delila dan Erish telah memilih penyamaran mereka.
Penampilan Erish sangat berbeda, tubuh Erish memendek mengikuti usia yang dipilihnya. Sedangkan Delila tak berubah banyak karena desain tubuhnya memang terlihat seperti anak remaja.
Sekarang giliranku.
Aku pilih 16 tahun. Lakukan!
Tubuhku perlahan menyusut, otot-otot di tanganku mengecil.
Wujud remaja Keres, aku sedikit penasaran.
Aku membuka mataku secara perlahan.
Kedua gadis di depanku terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka. Mereka terlihat syok melihatku.
Apa ada yang salah di tubuhku?
Seseorang baru saja mendarat di tempat kami.
"Delila, apa kau melihat Ibu?"
Itu Rayna. Apa dia tak melihatku?!
"Siapa gadis kecil ini? Hei, apa kau tersesat?"
Rayna mencubit pipi sebelah kiriku.
"Aw!"
Cubitan NPC level 1000 sangat menyakitkan!
"Rayna! G-gadis itu Ibu!" teriak Delila.
"Hah?"
Rayna memalingkan wajahnya dariku secara perlahan.
"Rayna ...." Aku tersenyum sambil menatap Rayna.
"I-ibu ... apa yang Anda lakukan dengan wujud itu?"
"Ini pertama kalinya seorang anak mencubit pipi Ibunya, benar, 'kan ... R.a.y.n.a?"
"M-maaaf!"
Aku harus memberi Vampir kecil ini sedikit pelajaran.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.