The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Pahlawan Melawan Raja Vampir



Bukankah ini terlalu cepat? Wilayah selatan sangat jauh dari sini. Apa mereka menggunakan sihir teleportasi? Jika itu benar, maka kemungkinan kejadian seperti di Kerajaan Mystick Legarde akan terulang lagi.


Raja Drac paling menonjol di antara yang lainnya, perbedaan kekuatannya terlalu besar. Namun, pasukan yang dia bawa merupakan vampir-vampir elit. Diperkirakan mereka berada di level 400 ke atas.


Pahlawan bangkit setelah terkena dorongan dari Raja Drac. Aura di tubuhnya berubah, kini lebih kuat dari sebelumnya. Dia serius dengan pertarungan kali ini.


Perhatianku tertuju pada pedang yang dipegang Raja Drac. Walau kekuatanku belum pulih, aku masih bisa membedakan material apa yang ada di dalam suatu pedang. Aku yakin pedang itu tidak dibuat dari logam, melainkan dengan tulang atau taring yang dilapisi oleh darah yang diasah hingga tajam. Aura pada pedang itu tidak terlihat cocok dengan Raja Drac, karena warna merah di pedang itu jauh lebih terang dibandingkan aura miliknya.


Dan lagi, hanya True Vampire yang bisa membuat pedang dengan mengeraskan darah mereka. Karena di sebelahku ada True Vampire, kalian boleh bertanya padanya!


Di mana True Vampire yang mengejarku sebelumnya? Aku tidak melihatnya bersama Raja Drac.


"Yang Mulia, apa Anda merasakan kehadiran True Vampire di antara mereka?" tanyaku untuk memastikan.


"Tidak ada."


Ini mencurigakan.


Raja Drac datang sendiri dengan raut wajah kesal. Seharusnya itu menandakan rencana kami berhasil, 'kan? Tapi, aku masih khawatir dengan wanita itu, pasti ada hal yang kulewatkan.


Raja Drac mendarat tepat beberapa meter dari Pahlawan. Masing-masing pasukan bersiap di belakang mereka berdua.


Syukurlah, Delila sudah memindahkan Skull Dragon.


Para Saint telah turun ke medan pertempuran kecuali Saint wanita yang menemani Uskup Agung di atas dinding pembatas kota. Karena Skull Dragon telah pergi, mereka tak punya alasan untuk menggunakan sihir suci itu.


"Aku tak mengira Gereja Suci menyadari keberadaan vampir. Kalian bermain kotor seperti ini, apa kalian tidak malu?" Raja Drac tersenyum jahat di hadapan Pahlawan dan lainnya.


Sepertinya Hela telah mengaktifkan suara di layar.


"Apa maksudmu? Kami tak pernah melakukan hal yang kau sebutkan itu!" Pahlawan membantah dengan tegas.


"Tutup mulutmu, sialan! Akan kupersembahkan darah kalian pada Tuan Satan!"


Pahlawan sedikit terkejut dengan pernyataan Raja Drac. "Ternyata begitu. Kalian penyembah makhluk terkutuk itu, ya?" Pahlawan tersenyum kecil. "Hmmm ... sekarang aku punya alasan untuk membasmi kalian."


Pahlawan dan Raja Drac mengangkat pedangnya ke depan. Mereka berseru, "Serang mereka!"


Kedua pasukan saling bertabrakan. Medan pertempuran dipenuhi oleh suara logam yang saling terbentur. Vampir yang terbang menyerang menggunakan sihir darah yang memiliki sifat asam. Zirah para ksatria langsung meleleh ketika terkena darah asam itu.


Para Magic Caster menembak para vampir dengan sihir api. Para Priest menyembuhkan prajurit yang terkena darah asam dari kejauhan.


Priest mereka bukan candaan, bisa menyembuhkan banyak orang dari jarak jauh, itu kemampuan yang hebat. Mereka langsung meningkatkan kemampuan pasca Saintess kabur dari sana.


Dan sekarang adalah bagian menariknya.


Pahlawan dan Raja Drac saling berhadapan di tengah gempuran perang antar pasukan. Dengan inisiatif para prajurit dari kedua belah pihak memberi ruang lingkaran untuk tempat pertarungan mereka.


Para prajurit itu sangat menghormati pertarungan antar pemimpin pasukan. Dengan ini Raja Drac dan Pahlawan akan bertarung di dalam lingkaran dengan luas 10 meter itu.


Keduanya bersiap dengan pedang mereka masing-masing. Raja Drac terlihat hanya memegang satu pedang, namun cairan merah mendidih yang menyelimuti tubuhnya mulai mengambil bentuk seperti tentakel.


Yah, ini memang terlihat tidak adil, sih. Tapi, jika lawannya Pahlawan, seharusnya wajar saja. Kemungkinan Raja Drac berada di level 800, itu tidak sulit bagi Pahlawan dengan Pedang Suci miliknya. Terlebih lagi dia baru saja farming exp dengan membunuh ribuan vampir sebelumnya. Pasti statnya meningkat pesat.


Pedang Suci memancarkan cahaya, pertanda sedang bersiap melepaskan kekuatannya.


Mereka berdua maju secara bersamaan sambil mengayun pedang.


*Ting Ting Ting


Raja Drac menyerang dengan cepat, sedangkan Pahlawan hanya bisa bertahan tanpa memiliki kesempatan unyuk mengeluarkan kemampuan penuhnya.


Medan yang sempit tidak menguntungkan bagi Pahlawan yang mengandalkan kecepatan dan serangan dengan jangkauan luas. Banyak ksatria dari pihak Gereja Suci yang sedang bertarung dengan vampir.


Jadi itu alasan kenapa dia bergerak sendiri. Serangannya memiliki jangkauan luas, pembantaian vampir sebelumnya hanya sedikit kekuatan dari Pedang Suci. Dia harus menggunakan kekuatan penuh untuk melawan Raja Drac.


Cairan merah yang mirip tentakel juga menyerang Pahlawan dengan cara menusuk-nusuk dari segala arah. Jumlah tentakel semakin banyak saat di potong. Cairan merah itu juga memiliki kandungan asam, Pahlawan terlihat kesulitan untuk menjaga tubuhnya agar tidak terkena cairan merah itu.


Raja Drac bukan pengguna sihir aktif. Kelihatannya dia sangat lihai dalam pertarungan jarak dekat.


Pahlawan berusaha menahan serangan pedang dari Drac yang terfokus ke bagian depan tubuhnya. Sementara tentakel-tentakel mulai menyerang dari kanan dan kiri.


*Bush!


Tentakel yang hendak menusuknya mengubah arah menuju ke prajurit yang sedang bertarung.


*Crack!


Tentakel itu menusuk kepala banyak ksatria dalam waktu bersamaan, bahkan vampir juga tak luput dari serangan.


Pada akhirnya Raja Drac juga ikut farming exp.


Pahlawan terdiam menunduk ketika para ksatrianya mati dengan mengenaskan.


Tidak, dia sedang berkomunikasi melalui telepati. Kemungkinan itu Uskup Agung. Ekspresi Pahlawan tidak jelas, tapi satu hal yang pasti ... dia tersenyum.


Waah ... kenapa jadi menegangkan seperti ini, ya?


Pahlawan mengangkat kepalanya, dia mengangkat pedang dengan kedua tangan. Posisinya bersiap-siap menarik pedangnya ke depan.


*Wush!


Pahlawan dengan cepat menebas pedangnya ke arah depan tempat Raja Drac berdiri. Bilah cahaya berukuran raksasa keluar bersamaan saat Pahlawan menebaskan pedangnya.


Raja Drac melompat ke atas dengan bantuan tentakelnya. Alhasil tentakelnya terpotong dan lenyap ketika terkena bilah cahaya.


Ribuan prajurit di belakangnya musnah terkena bilah cahaya, tak pandang bulu ... ribuan ksatria dan vampir menjadi korban pembantaian Pahlawan.


"Apa-apaan pedang itu, Ibu?!" tanya Rayna dengan ekspresi kesal.


Stat Pedang Suci sepertinya jauh melampaui ekspetasiku. Ditambah Pahlawan baru melakukan farming exp, kekuatannya akan terus meningkat. Ini bisa saja menjadi ancaman bagi kami.


"Mungkin pedang itu sekuat Durandal milikku," ucapku tanpa sadar.


"Durandal?" Hela mengintrupsi percakapanku dengan Rayna.


Ah, sial! Aku keceplosan menyebut item milikku! Hela tidak akan memintanya, 'kan?!


"Itu salah satu pedang terkuat yang dimiliki Kerajaan Penyihir Maphas, Yang Mulia,"


"Aku tertarik untuk melihatnya,"


"Kami akan menunjukkannya ketika Anda mengunjungi kerajaan kecil kami."


Benar-benar sial. Semoga dia tidak meminta item milikku sebagai bayaran atas kerjanya sebagai sales tongkat sihir.


Kembali ke pertarungan!


Pahlawan mengejar Raja Drac yang mencoba memperlebar jarak darinya. Tak ada kesempatan untuk Raja Drac membuka sayapnya, ketika kakinya menyentuh tanah, Pahlawan selalu sampai tepat di depannya dan langsung menebas Raja Drac.


Sudah banyak cairan merah di tubuhnya yang lenyap akibat serangan Pedang Suci. Perlahan cairan merah menyusut sehingga beberapa bagian tubuh Raja Drac tak terlindungi lagi.


"Vampir itu sepertinya mulai serius sekarang," ucap Rayna.


"Apa maksudmu, Rayna?"


"Ibu pasti tahu kemampuan utama para vampir, yaitu mengendalikan darah."


Semua vampir memang bisa mengendalikan darah, tapi kemampuan mereka berbeda-beda tergantung dari seberapa kuat mereka. Hanya Rayna yang bisa mengendalikan darah yang seperti laut.


"Tapi, masih ada ratusan ribu vampir dan manusia di sana, itu artinya ...," lanjut Rayna.


Aku paham. Hanya ada satu pengecualian, jika ada banyak stok darah di lapangan, bukan tidak mungkin Raja Drac bisa mengendalikan jutaan liter darah. Dengan bantuan Pahlawan, dia tak harus repot membunuh semua orang di sana. Kekuatan Raja Drac sepertinya cukup untuk melakukan hal itu.


Raja Drac terbang menjauh dari pertarungan, meninggalkan Pahlawan di bawah. Pahlawan masih terus menyerangnya dengan bilah cahaya raksasa, namun Raja Drac bisa menghindarinya dengan mudah.


Sepertinya mereka tidak mengajarkan Pahlawan mantra terbang. Namun, sepertinya dia bisa melompat dengan sangat kuat menuju ke tempat Raja Drac.


Raja Drac mengangkat tangannya ke atas.


Sepertinya sudah dimulai.


Bersambung ....


JANGAN LUPA LIKE, YA :(