
Sudah 3 hari berlalu sejak senjata dari Asosiasi Perdagangan Luxtier tiba, dan juga surat dari Kerajaan Penyihir Maphas sampai di Kerajaan. Semua berjalan dengan normal. Para prajurit terlihat bersemangat dengan senjata baru yang sangat luar biasa. Senjata rune. Aku masih tidak tahu apa itu rune, rune berbentuk seperti tulisan-tulisan sihir di senjata. Semakin banyak tulisan sihir tersebut, maka senjata akan semakin kuat.
Rune yang dikirim oleh Asosiasi Perdagangan Luxtier memiliki 4 rune, orang-orang bilang itu sebuah penemuan baru. Uskup Agung sangat penasaran dari mana mereka membuat senjata rune.
Menurut rumor, para Dwarf masih bermukim di suatu tempat dan sangat sulit menemukan mereka. Jika Asosiasi Perdagangan Luxtier menjalin kerja sama dengan para Dwarf, maka Kerajaan lain yang bermitra dengan mereka jelas tidak akan tinggal diam. Kerajaan Rexist dan Gereja Suci pasti mengirim orang untuk mengawasi Asosiasi Perdagangan Luxtier diam-diam.
*Ting Ting
Suara pedang yang saling berbenturan terdengar sangat nyaring. Suara yang sangat indah bagi para pengguna pedang.
Aku berada di kamp. pelatihan utama prajurit Kerajaan Rexist. Ribuan prajurit sedang berlatih.
"Zain, senjata rune benar-benar luar biasa,"
"Benar, dengan senjata rune ini, kemenangan kita atas ras Iblis tidak hanya sebatas omong kosong belaka,"
Lucas selalu berada di kamp. pelatihan utama sebagai instruktur pedang. Lucas hanya bisa duduk di kursi rodanya. Namun, para prajurit tidak meragukan kemampuan Lucas dari Party Pahlawan sebagai instruktur mereka.
Kami melihat para prajurit yang sedang sparing satu sama lain. Terutama pada pertarungan antara seorang prajurit wanita melawan prajurit pria.
"Aku bertaruh wanita itu akan menang,"
"Kali ini aku sependapat denganmu, Zain,"
"Dari sikap berdirinya, dia terlihat lebih berpengalaman daripada pria itu,"
Lucas mendekatiku dan berbisik. "Dia mantan pembunuh bayaran,"
"Apa?!"
Lucas hanya diam dengan senyum licik.
Mau bagaimanapun, wanita itu jauh lebih unggul dari prajurit lainnya.
Appraisal Eyes.
Nama : Eline Miore
Umur : 27
Ras : Manusia
Job : Swordmaster/Assasin
Tittle : -
Level : 397
"Heeeeh?!"
"Apa apa, Zain?!"
"Ti-tidak ada, Lucas,"
Levelnya hampir setara denganku?! Ditambah lagi dia seorang double job! Ini tidak wajar!
*Bugh!
"Agh!"
"Pemenangnya, Eline Miore!"
Dia berhasil mengalahkan prajurit itu tanpa membuka sarung pedangnya.
"Bagaimana, Zain, apa kau ingin mencobanya?" Lucas mencoba menggodaku.
Aku sedikit penasaran dengan kemampuannya.
"Aku tidak yakin, Lucas, jika kami bertarung serius, mungkin akan terjadi kerusakan besar,"
"Zain, lihatlah itu." Lucas menunjuk ke arah wanita itu.
Wanita itu mengarahkan pedangnya ke arahku.
Aku mencoba bergerak dari posisiku, namun pedang wanita itu terus mengikuti gerakanku.
"Terima saja, Zain, aku juga sangat penasaran dengan hasilnya,"
Para prajurit yang melihat itu pun mulai bersorak.
Pertarungan ini sudah tak bisa dihindari.
Aku maju ke dalam arena latihan. Para prajurit keluar dari arena latihan dan menonton dari sisi luar.
Semoga tidak terjadi hal buruk.
Aku melihat wanita itu. Tatapannya sangat dingin, tidak ada ekspresi khusus. Hembusan angin membuat wajah wanita itu tertutupi oleh rambut hitam panjangnya. Ia mengikat rambutnya ke belakang. Dengan rambut terikat ke belakang, memegang pedang dengan tangan kiri sambil memiringkan tubuhnya.
Membuatku teringat akan sesuatu.
Sebuah bayangan terlintas saat aku melihat wanita itu.
"N-nona Hart?" Nama itu terucap dari mulutku tanpa kusadari.
Wanita itu terlihat bingung dengan apa yang kuucapkan.
"Ah, maafkan aku. Kau terlihat mirip dengan seseorang yang kukenal,"
Ekspresi wanita itu kembali dingin seperti sebelumnya.
"Terima kasih, karena sudah menerima ajakanku, Tuan Pahlawan,"
"Tolong panggil aku Zain, Nona,"
"Kalau begitu, Anda boleh memanggil Saya Eline,"
"T-tolong jangan terlalu formal,"
"Baiklah, Zain,"
Dia tidak ragu-ragu menyebut namaku. Sudah kuduga, mereka benar-benar mirip.
Kami berdua mengambil jarak dan bersiap-siap untuk memulai pertarungan.
"Apa aku boleh menggunakan kekuatanku?"
"Tentu saja, Nona Eline, kau bebas melakukan apa pun,"
Sepertinya aku harus serius kali ini. Dia menggunakan pedang rune sama seperti yang lainnya. Sedangkan aku menggunakan pedang yang diberikan Lucas waktu itu.
"Apa kau yakin ingin membunuh Iblis dengan pedang Iblis?"
Apa?
*Wush!
Nona Eline melompat ke arahku dengan menusuk pedang di tangan kirinya ke arahku.
Aku menghindari setiap tusukan yang ia lancarkan.
Nona Eline berhenti.
Melihat itu, aku langsung mengarahkan pedangku ke lehernya.
*Ting!
Nona Eline menahannya dengan pedang hanya dengan satu tangan.
Aku langsung melompat ke belakang untuk memperlebar jarak.
*Wush!
Nona Eline dengan cepat berada di depanku.
Kakiku bahkan belum menyentuh tanah.
"Fire Sword!" Aku mengibaskan pedang api tepat di hadapannya.
Kena!
"Nona Eline, apa kau tid-"
Nona Eline menghilang dari hadapanku.
Di mana dia?
Bayangan hitam muncul mengitariku.
Ternyata begitu. Aku melupakan fakta bahwa dia juga seorang Assasin.
Bayangan hitam itu terus memutariku dengan sangat cepat. Aku tidak tahu di mana posisi Nona Eline saat ini.
Kilatan listrik berwarna hitam muncul dari bayangan.
*Wush!
Bayangan hitam itu menghilang.
"Di belakangmu, Zain!" teriak Lucas.
Aku langsung berputar sambil mengayunkan pedangku ke belakang.
*Crack!
Eh?
Pedangku tepat memotong leher Nona Eline.
Semua orang yang melihat itu terkejut. Sebagian dari mereka merasa mual karena melihat hal yang sadis di depan mata mereka.
"Fokus, Zain!" Lucas semakin meninggikan suaranya.
Aku merasakan sesuatu dari atas.
*Duar!
Kilatan hitam menyambar dari atas.
Aku melompat dengan sekuat tenaga untuk menghindari kilatan hitam itu.
Kilatan hitam itu terus menyambarku dan mengikuti setiap pergerakanku.
Aku terus melompat ke belakang menghindari kilatan hitam itu.
*Bum!
Skill deteksiku tiba-tiba aktif merasakan sebuah hawa membunuh dari belakang.
Nona Eline sudah menungguku di belakang dengan kedua tangan menggemgam erat pedang rune, dia bersiap untuk memotong tubuhku.
Sial! Tidak ada waktu lagi.
Patience Skill!
Aku memutar tubuhku dengan cepat. Hanya dalam satu detik, aku dan Nona Eline saling berhadapan.
"Light Sla-"
Eh?
*Wush!
Kami berdua terhempas karena serangan sihir.
Apa yang terjadi?
"Apa kalian mencoba untuk saling membunuh?!" teriak seorang wanita dari luar arena.
Dia ....
"Tuan Zain! Apa ini sikap dari seorang Pahlawan?!"
"Maafkan aku, Nona Licia,"
Sihir yang menghempaskan kami berdua, sudah pasti milik penyihir terkuat Kerajaan Rexist.
Aku melirik ke arah Nona Eline.
Dia hanya terdiam dengan wajah dinginnya.
Seharusnya aku tidak menggunakan Light Slash. Tapi, instingku bergerak dengan sendirinya. Sesaat sebelum aku menggunakan Light Slash, ekspresi wajah Nona Eline benar-benar di luar dugaanku. Itu seperti ekspresi seseorang pembunuh. Dia benar-benar serius ingin membunuhku.
"Zain." Nona Eline mengulurkan tangannya. "Maaf, aku terbawa suasana,"
Aku meraih tangannya. "Aku juga minta maaf karena sudah berlebihan,"
*Prok!
Nona Licia menepuk tangannya.
"Baiklah! Aku ke sini karena ingin menyampaikan sesuatu pada kalian!" Nona Licia menggunakan item pengeras suara. "Kita telah menerima surat balasan dari Kerajaan Penyihir Maphas, mereka sangat meremehkan kita! Oleh karena itu, Raja memutuskan untuk menyerang mereka besok!"
Besok?
"Tentu saja, Gereja Suci dan Federasi akan membantu kita untuk membumihanguskan Kerakaan Penyihir Maphas! Aku minta pada kalian untuk segera bersiap-siap!"
Itu bukanlah keputusan Raja, melainkan Uskup Agung. Sepertinya surat pertama yang mereka terima berisi sebuah negoisasi. Namun, balasan surat kedua dari mereka membuat Uskup Agung tak punya pilihan lain.
"Huh ... perang, ya? Seharusnya kita berperang melawan Iblis, 'kan?"
"Aku tidak peduli dengan perang, hanya saja aku sedikit jengkel dengan Kerajaan Penyihir Maphas," ucap Nona Eline.
Hanya karena jengkel dia ikut perang?!
"B-begitu, ya, setiap orang punya alasannya tersendiri, hehe,"
Kalian benar-benar mirip.
Aku kembali teringat dengannya.
Pada akhirnya, kita akan bertemu di medan perang, Nona Hart. Aku tidak yakin dengan kemampuanku saat ini. Semoga aku tidak bertemu dengannya di medan perang.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.