
Chapter 40 : Permulaan
1 bulan kemudian.
Kondisi desa semakin memburuk, banyak warga desa yang terpaksa harus berburu walau mereka tahu harus mempertaruhkan nyawa di tengah hutan. Naura dan Legarde terpaksa membantu mereka berburu, itu bayaran karena tinggal di wilayah desa, mereka tak punya pilihan lain.
Sementara itu di gubuk kecil. Panas terik membuat Hela bosan. Ia hanya bisa mengisi waktu dengan mengalirkan sihir pendingin ke tubuhnya sendiri. Naura melarangnya untuk masuk ke hutan karena para bandit yang masih berkeliaran.
Hela sudah tidak bisa menahan diri, ia keluar dari gubuk kecil untuk mencari Hornet Rabbit. Hela menggunakan kelinci itu untuk melatih sihirnya. Ia berlari melewati pepohonan dan melompat di antara bebatuan dengan kaki kecilnya. Kekuatan fisik Hela meningkat pesat sejak menerima latihan dari Naura, tubuh kecilnya sama sekali bukan halangan untuk saat ini.
Hela perlahan melambat.
Ada energi, ada seseorang di sini.
"Stealth." Hela menggunakan sihir yang bisa membuat ia tak terlihat dan menghilangkan hawa keberadaannya.
Ia mengendap-endap dari satu pohon ke pohon yang lain, jaraknya semakin dekat.
Itu mereka!
Ada 3 orang laki-laki dewasa dengan pedang besar di punggung mereka. Tubuh mereka sangat kekar, mereka terlihat seperti bandit.
Hela terus mendekat untuk mendengar percakapan mereka.
"Penyerangan akan segera dilakukan,"
"Berapa lama lagi tepatnya?"
"Aku kurang tahu, namun, 'dia' akan segera memberikan sinyal."
Apa yang mereka bicarakan? Penyerangan?
Hela semakin penasaran dan terus mendekati mereka.
"Ngomong-ngomong, 'dia' yang kalian maksud itu si pembunuh berantai itu, 'kan?"
"Kau benar, aku tak habis pikir bos menggunakan jasa pembunuh mengerikan itu, dia sama sekali tidak memandang teman atau musuh,"
"Berhenti membuang waktu! Kita kuburkan benda itu sekarang dan pergi dari sini!"
Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah kantung kecil seukuran kepalan tangan orang dewasa. Kantung kecil itu terbuat dari kain, diikat dengan tali.
"Cepat kubur."
Mereka telah mengubur kantung kecil itu. Sebelum pergi, para bandit itu memeriksa situasi.
"Aman."
Salah satu dari mereka merobek sebuah kertas kecil. Lingkaran sihir muncul di bawah kaki mereka.
*Clink!
Mereka menghilang bersamaan dengan lingkaran sihir itu.
Hela sangat terkejut melihat sihir itu.
Ini pertama kalinya Hela melihat sihir teleportasi, ia berencana ingin bertanya pada Legarde tentang sihir yang dilihatnya itu.
Hela langsung menuju ke tempat kantung kecil itu dikubur. Tangan kecilnya mulai menggali tanah dengan cepat.
"Benda apa ini?" Hela menggoyang-goyangkan kantung kecil itu di depan wajahnya.
Benda itu menandung energi sihir, Hela merasakan energi sihir tersebut. Ia sangat penasaran dengan isi kantung kecil itu, namun instingnya berkata untuk tidak membuka kantung itu.
Hela benar-benar bimbang, dia sangat penasaran dengan isi kantung kecil tersebut.
"Ah, akan kubuka!"
Tangan Hela sudah bersiap menarik tali, namun ....
*Bush!
Hembusan angin kuat mendorongnya. Hembusan itu berasal dari wilayah luar perbatasan.
*Bum!
Hela merasakan aura yang mengerikan setelah hembusan angin itu.
Tubuhnya gemetar, ia tak pernah merasakan aura mengerikan seperti itu.
Hela mengurungkan niatnya dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Ia terus berlari walau lututnya masih gemetar karena aura mengerikan itu.
"Naura, Legarde!" Ia terus memanggil nama mereka berdua untuk melawan rasa takutnya.
Hela tak sadar bahwa sebelumnya ia sudah sangat jauh meninggalkan gubuk kecil dan masuk melewati bagian tengah hutan. Rasanya seperti ingin menangis kencang, namun Hela tak bisa melakukan itu dan terus berteriak memanggil kedua temannya.
Aura mengerikan itu terus mengejarnya.
Hela terus berlari sekuat tenaga, rasa takut yang dialami membuat Hela lupa dengan rapalan sihirnya, Hela hanya bisa mengandalkan fisik dan mentalnya untuk saat ini.
*Bruk!
Hela terjatuh karena tak sanggup menahan tekanan yang sangat kuat.
Tangan kecilnya masih menggenggam kantung kecil, ia hanya bisa melihat ke arah kantung itu. Kesadarannya mulai menghilang, Dan akhirnya Hela pingsan dengan energi sihir yang menyelimuti tubuhnya.
Kantung kecil di tangannya tiba-tiba terbuka, kerikil batu keluar dari kantung kecil itu. Kerikil itu melayang tepat di depan wajah Hela yang tak sadarkan diri.
Kerikil itu perlahan memuai menjadi energi sihir. Energi sihir Hela merespon dan menyerap energi sihir dari kerikil. Tubuh Hela mengeluarkan uap panas, keringat bercucuran, wajahnya memerah.
------------------------------
Jauh di luar perbatasan wilayah manusia, markas kecil Red Heart. Ketiga bandit sebelumnya telah sampai di markas ini, namun ....
*Brak!
Hentakan menghancurkan sebuah meja kayu.
"Dasar bodoh! Bagaimana kalian bisa ceroboh seperti itu?! Benda itu hilang sesaat setelah kalian pergi!"
Bos yang memimpin markas kecil itu memarahi mereka habis-habisan.
"M-maafkan kami, Bos! Kami sudah yakin bahwa tidak ada orang di sana!"
"Beraninya sampah seperti kalian berteriak padaku!"
*Bugh!
Sebuah pukulan keras dilayangkan tepat ke wajah mereka bertiga.
Sang bos sangat gelisah karena kehilangan benda yang begitu penting.
Sialan! Benda itu milik si Cakar Kegelapan! Kami pasti akan mati! Semoga Pemimpin mau melindungi kami.
*Tak Tak Tak
Terdengar suara langkah kaki dari kegelapan.
Orang-orang di tempat itu sudah tahu siapa yang akan datang dari balik kegelapan itu.
Si bos langsung berlutut menghadap bayangan tersebut.
"Kudengar barang milikku hilang," ucap suara dari dalam bayangan.
Suara orang itu bergema, samar-samar, tak ada yang tahu apa jenis kelamin dari pemilik suara itu.
Cakar Kegelapan, dia ada di sini.
Si bos sangat ketakutan, kematian berada di hadapannya saat ini.
"Itu barang penting dari kampung halamanku, bahkan aku rela mengorbankan nyawaku untuk mendapatkannya. Tapi, kalian dengan mudah menghilangkan benda itu,"
Tekanan aura yang dipancarkan begitu kuat, sampai membuat beberapa orang pingsan seketika.
"M-maafkan kecerobohan kami, tolong beri kami waktu untuk mencarinya kembali, Tuan,"
"Percuma, benda itu sudah menghilang,"
"A-apa maksud Anda, Tuan?"
"Seseorang telah menyerapnya. Sepertinya rencana kali ini akan dimundurkan sampai aku bisa menemukan benda itu lagi."
Para bandit sangat lega karena orang itu tidak memarahi mereka, itu yang mereka rasakan sebelum ....
*Crack!
"Huwaa!"
Tubuh semua orang di dalam ruangan terpotong menjadi bagian kecil dalam sekejap mata.
"Dasar manusia rendahan! Tidak ada lagi benda seperti itu di dunia ini!"
Perlahan wujud misterius itu keluar dari kegelapan. Cakar besi muncul diikuti dengan tangan dan tubuhnya. Sepasang tanduk menghiasi kepalanya. Ia tak memakai atasan yang menutupi tubuhnya, sehingga kulitnya yang putih terang terlihat bersinar, dan tubuh yang kekar terihat gagah. Tubuhnya memiliki hanyak tato yang terbuat dari darah, menambah kesan menyeramkan padanya.
"Aku lelah melakukan sandiwara ini. Namun, ini merupakan rencana dari Raja Iblis, dan juga satu-satunya rencana yang bisa dilakukan tanpa mengorbankan para Iblis."
Orang itu menghela napas.
"Benda itu ... aku terkejut ada orang yang bisa menyerapnya, orang seperti apa dia? Raja Iblis berkata ingin mengumpulkan Mana manusia dengan benda itu. Yah, pada akhirnya pasti aku akan bertemu dengan orang yang menyerap benda itu."
Dia adalah Coros, salah satu dari 12 Panglima Iblis di masa ini.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN, YA!