The Queen of Death Return

The Queen of Death Return
Pengabdian



Lebih tepatnya, aku terlalu gugup melihat para pria aneh ini di depanku. Tak ada yang aneh kecuali raut wajah mereka yang terlihat sedih.


Pandanganku masih tertuju pada Asmodeus.


Sebagai yang terkuat di antara mereka, seharusnya Asmodeus memberikan contoh bagaimana bersikap layaknya seorang pria, tapi, dia benar-benar terlihat memalukan.


"Ibunda ... tolong jangan tinggalkan kami di sini. Kami ingin terus bersama Anda, Ibunda," ucapnya dengan wajah menyedihkan.


Bukan iba, aku jadi risih. Sebenarnya aku lebih nyaman bersama para saudari mereka, mungkin naluriku sebagai seorang pria belum menghilang.


"Tegakkan badanmu, Asmodeus."


Mereka semua hanya menunduk sembari mengintip ke arahku.


Sungguh kekanak-kanakan.


"Berhentilah bersikap seperti anak kecil!" teriak Delila.


Delila ....


"Kalian itu pria! Apa kalian tidak malu merengek pada Ibu?!"


"Apa maksudmu, Delila?!" bentak Crocell melihat Delila dengan wajah mengerikan.


Asmodeus mengangkat tangannya ke samping. "Hentikan, Crocell, Ibunda ada di sini,"


Aku ada di sini, lalu kenapa? Sepertinya ada sesuatu dari NPC yang tidak kuketahui.


"Bukannya Ibu sudah memberi kalian tugas besar?! Kalian hanya bermain-main, tidak serius menjalankan tugas yang diberikan Ibu!"


Delila semakin berani mencurahkan isi pikirannya sekarang.


*Bum!


Aura besar keluar dari tubuh Asmodeus.


Tanpa sadar, tubuhku sudah diselimuti oleh sihir pelindung. Mungkin salah satu dari mereka yang merapalnya.


"Delila ... tugas yang diberikan Ibunda adalah mutlak bagi kami, kau sama sekali tidak boleh meragukan cara kerja kami," ucap Asmodeus dengan urat di dahi yang terlihat jelas.


Delila juga membalas tekanan aura dari Asmodeus.


"Jadi, kau ingin melakukan itu, Asmodeus? Sepertinya aku harus menghubungi Kak Elina sekarang."


Wajah Asmodeus terlihat panik.


Sudah kuduga, ada sesuatu di antara NPC.


"Hentikan!" Aku berteriak sekuat-kuatnya.


Suaraku berbeda dalam wujud remaja, jadi suaraku sedikit melengking.


Aku terduduk lemas di lantai.


"Ibunda!"


"Apa yang Ibu lakukan?!"


Terserahlah, mood-ku benar-benar rusak karena kalian semua.


"Lanjutkan pertengkaran kalian, anggap aku tak ada di sini, tidak, anggap kebaraanku tidak pernah ada."


Mendengar hal itu, para NPC langsung berlutut di hadapanku, termasuk Delila.


"Maafkan kami, Ibu!"


"Ibunda, tolong jangan berbicara seperti itu!"


Jika aku tidak melakukan ini, mereka pasti akan megulanginya. Sejak kekuatanku menghilang, mereka semua mulai kehilangan arah. Itu wajar karena aku sebagai puncak tertinggi, kekuatan terkuat yang mengendalikan mereka menghilang.


Aku menghela napasku.


"Ibu ...." Delila mengenggam tanganku.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku?"


Mereka semua hanya diam tertunduk mendengar pertanyaanku.


"Kenapa kalian diam? Di mana keberanian kalian tadi?"


Aku harus menegaskan mereka.


"Jawab aku, anak-anakku."


Rasanya aku ingin memeriksa informasi NPC sekarang, kemungkinan besar aku melakukan tindakan ceroboh saat itu. Tapi, keterbatasan ini menyulitkanku.


"Ibunda ... hanya Kak Elina yang tahu alasannya, kami hanya harus melaporkan padanya jika ingin melakukan pertandingan,"


"Pertandingan?"


Pertandingan apa yang mereka maksud? Pertandingan menentukan peringkat atau sejenisnya? Elina, dia harus menjelaskan ini semua!


Aku berdiri kembali.


"I-ibu?"


Tak ada gunanya memperpanjang masalah ini, dan aku sudah tak punya banyak waktu lagi, mereka sudah lama menunggu.


"Kalian semua, berdirilah."


Dengarkan kata-kata terakhirku! Huh ... bercanda.


"Asmodeus, apa kau sudah menemukan jejak organisasi Satan yang tersisa?"


"Kami sudah menandai sisa-sisa organisasi Satan di Kerajaan Karibian. Namun, kami belum menangkap mereka,"


"Kenapa?"


"Untuk saat ini, kami masih terus mengawasi mereka. Pergerakan mereka semakin menjauh dari Kerajaan Karibian, kemungkinan mereka akan menuju ke pusat organisasi Satan berada,"


"Ke arah mana mereka pergi?"


"Utara."


Utara? Kemungkinan ke arah Wilayah Iblis. Tunggu ... tidak hanya Wilayah Iblis, ada beberapa Kerajaan termask Kerajaan Mystick di wilayah utara. Aku akan mengawasi mereka jika muncul di antara Kerajaan itu.


"Terus awasi mereka,"


"Baik, Ibunda."


"Semua berjalan sesuai rencana Anda. Beberapa Kerajaan Demihuman berhasil menjadi bawahan Kerajaan Karibian,"


"Kerja bagus."


Aku meminta Crocell untuk membuat beberapa Kerajaan Demihuman di sekitar tunduk pada Kerajaan Karibian. Melihat Crocell yang begitu senang saat mengatakan laporannya, kemungkinan dia menggunakan dominasi untuk menakuti mereka.


"Dengarkan aku, anak-anakku!"


"Ya!"


"Seluruh perintahku adalah mutlak, kalian harus menjalaninya walau harus mengorbankan nyawa kalian. Sebuah rumah tidak akan bisa berdirih kokoh tanpa adanya pondasi yang menopangnya. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa menjadi Ratu Kematian. Jadi, abdikan diri kalian sepenuhnya padaku, bersumpahlah!"


"Kami bersumpah!"


Yah, dengan ini mereka tidak akan menganggap enteng tugas yang kuberikan.


"Sebelum tugas kalian selesai, jangan kunjungi Kerajaan Maphas, kalian bisa hubungi Elina jika terjadi sesuatu,"


"Baik!"


Aku dan Delila masuk ke portal sihir.


 ------------------------


Kami kembali ke ruang Kepala Akademi.


Huh?


Aku melihat sekelilingku.


Ada dua orang yang hadir di ruangan ini. Seorang pria dan wanita, mereka mengenakan pin berwarna silver. Mereka berdiri di belakang Kepala Akademi, termasuk Tiffany.


"Kepala Akademi, apa maksudnya ini?"


"Maafkan aku, mereka bertiga adalah Guru Elite sekaligus penyihir istana."


Penyihir istana? Dua orang itu Guru Elite, namun Tiffany yang juga merupakan salah satu dari mereka sungguh mengejutkanku.


"Baiklah, aku tidak terlalu peduli dengan mereka. Kami sudah mempersiapkannya,"


Kedua orang itu menatap kami dengan tatapan permusuhan.


Aku mengeluarkan item untuk membuka efek Restrictions.


Mereka terlihat bingung dengan item yang kubawa. Reaksi yang wajar melihat item berbentuk pil, bisa saja mereka menganggap ini sebuah racun.


"Alissia apa itu?" tanya Tiffany.


"Ini item yang bisa menghapus kutukan Kepala Akademi,"


"Jangan bercanda!" bentak seorang Guru Elite pria di belakang Kepala Akademi.


"Tenanglah, Omos," potong Kepala Akademi.


"Tapi--"


Kepala Akademi mengangkat tangannya.


Dia cukup tegas.


"Aku menyerahkan urusan ini pada kalian berdua, Alissia, Delila,"


"Serahkan pada kami."


Kepala Akademi mendatangi kami yang duduk di depannya. Dia berlutut di hadapan kami yang masih duduk.


Apa yang dia lakukan?


"Lakukanlah,"


Huh?


"Maaf, pil ini harus dimakan, tidak ada ritual khusus."


Dia terlihat kebingungan dan kembali berdiri.


Aku hendak memberinya satu item berbentuk pil padanya. Namun, Delila menahan tanganku.


"Ada apa, Delila?"


"Kepala Akademi, apa yang akan kau lakukan ketika kekuatanmu kembali?" tanya Delila.


Kepala Akademi terdiam beberapa saat.


"Aku ... --tidak, sepertinya aku harus menceritakan awal mula aku terkena kutukan ini terlebih dahulu pada kalian,"


"Nyonya Kepala, apa itu tidak masalah jika pihak luar mengetahui ini?"


Kepala Akademi tersenyum. "Ini cerita yang lebih kompleks, kalian juga belum mengetahui cerita yang ini. Dan mereka bukan orang luar, aku merasakan sesuatu yang pernah kurasakan dulu pada diri Alissia."


Aku?


"Apa maksud Anda, Nyonya Kepala?"


"Tenanglah, Tiffany, beberapa cerita yang kusembunyikan dari kalian ini akan menjawab semuanya,"


"Cerita apa maksud Anda, Kepala Akademi?"


"Perjalananku bersama Keres."


Keres?


"Agh!"


Ketiga Guru Elite mendadak kesakitan memegang kepala mereka.


"Melihat kalian berdua tidak terpengaruh dengan segel ingatan yang dibuat oleh Dewi semakin meyakinkanku, kalian pasti memiliki hubungan dengannya,"


"Tolong ceritakan pada kami, Kepala Akademi."


Ini bisa jadi informasi yang berharga, cerita tentang Keres, bagaimana kehidupannya, siapa dia sebenarnya, dan banyak lagi hal dari Keres yang harus kuketahui.


Bersambung ....


LIKE DAN KOMEN, YA!