
Kami saling jual beli serangan. Dia mampu membaca serangan Light Slash milikku.
Tambah kecepatan!
*Ting Ting
Kiri, kanan!
*Clang!
Seranganku berhasil membuat daggernya lepas dari genggamannya.
Ada celah, sisi kanannya terbuka!
Aku langsung mengayunkan pedangku dengan cepat.
Kali ini pasti kena!
*Ting!
Huh?
Pria itu menangkis pedangku hanya dengan tangan kanannya.
Apa-apaan itu?!
*Bugh!
Pria itu menendang perutku hingga dan melompat ke belakang.
Tangannya bisa menahan Light Slash, terlebih lagi aku menggunakan Pedang Iblis milik Lucas. Ada sesuatu di tangan kanannya.
Aku memejamkan mataku dan berkonsentrasi merasakan energi Mana.
Ada energi aneh di tangan kanannya. Tangan kanannya sudah dimodifikasi, aku yakin itu.
"Fufufu ... jangan terlalu memaksakan dirimu, Pahlawan, ini hanya tangan biasa,"
Dia tahu kalau aku memperhatikan tangan kanannya.
Pria itu mengambil dagger yang terjatuh sebelumnya.
"Seranganmu lumayan unik, namun terlalu lambat,"
Itu kecepatan maksimal yang bisa kulakukan saat ini. Tidak, tidak, masih ada cara untuk menaikannya. Namun, itu terlalu terburu-buru. Aku masih belum mengetahui musuh yang lainnya.
"HUWAAA!" teriak para prajurit kami.
Pasukan kami berhasil mengalahkan pasukan Putra Mahkota yang telah dikendalikan.
Aku mengangkat tangan kananku ke atas untuk menghentikan pasukanku.
Jumlah pasukan kami lebih banyak dari mereka.
"Apa yang kau lakukan, Pahlawan? Kenapa kalian berhenti?"
Ini mencurigakan, pasukan mereka hanya diam, sangat tenang.
"Maju!" Seorang prajurit dari pasukanku berlari menyerang mereka.
Melihat itu, prajurit lainnya juga maju secara bersamaan.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Para prajurit menghiraukan perkataanku.
Aku menoleh ke arah pria tadi.
Menghilang?!
Pasukan kami mulai menyerang pasukan musuh.. Namun, tak ada satu pergerakan pun dari pasukan musuh.
*Crack!
Para prajurit musuh berjatuhan terkena serangan pedang dan sihir.
Kelompok 2 juga mulai bergerak dengan sihir serangan.
Aku lari keluar dari barisan depan menuju tempat yang kosong.
Ini aneh, mereka hanya diam ketika diserang. Jumlah mereka lebih dari 500 ribu, namun mereka mati sia-sia.
Pasukan kami berhasil menembus barisan depan musuh.
Aku terus berlari mengitari barisan depan musuh dan menuju barisan belakang.
*Duar!
Bola api raksasa meledakan barisan tengah pasukan musuh.
Sihir besar itu pasti milik mereka berdua. Pertahanan musuh mulai hancur.
Aku melewati mereka tanpa menyerang sama sekali. Tujuanku adalah barisan belakang musuh. Kenapa mereka mengorbankan ratusan ribu prajurit ini?
Tanah bergetar.
Aku berhenti.
Gempa bumi?
Muncul lingkaran sihir raksasa. Luasnya mencangkup barisan depan dan tengah pasukan pasukan musuh.
Cairan hitam keluar dari mayat prajurit musuh. Cairan hitam itu menyebar ke seluruh tubuh mayat-mayat itu.
"Apa itu?"
Aku langsung lari keluar dari lingkaran sihir raksasa itu.
"Huwaa! Apa ini?!" Prajurit kami panik.
Cairan hitam itu juga muncul dari tubuh prajurit-prajurit kami.
Satu-persatu pasukan dari barisan depan kami mati.
Aku paham, ini semua hanya jebakan yang telah mereka siapkan. Jika terus seperti ini, barisan depan kami akan hancur.
"Keluar dari lingkaran sihir itu sekarang!" teriakku.
Prajurit yang belum terkena cairan hitam berlari menuju garis lingkaran sihir.
*Bugh!
"Huwaa!"
Tubuh prajurit terhempas ketika hendak melewati lingkaran sihir. Sebuah penghalang transparan muncul.
Sial! Hampir setengah pasukan dari barisan depan terjebak di dalam lingkaran sihir itu.
Para Magic Caster mencoba menghancurkan penghalang itu. Namun tak membuahkan hasil. Penghalang itu memantulkan sihir yang diterima.
Formasi barisan tengah hancur akibat sihir yang dipantulkan oleh penghalang itu.
Perisai sihir raksasa muncul menahan sihir yang terpantul. Perisai sihir raksasa itu merupakan sihir tingkat tinggi. Berbeda dengan pelindung sihir, perisai sihir jauh lebih kuat.
Perhatianku tertuju pada cairan hitam di dalam
Cairan hitam itu menyatu. Ukurannya semakin membesar. Kedua sisinya memanjang.
Huh?
Aku melihat ke arah pasukan musuh yang berada cukup jauh dari tempatku berada. Pasukan itu membentang dari timur ke barat.
Dilihat dari barisan mereka, setidaknya mereka ada lebih dari 1 juta orang. Mereka mengorbankan pasukan pertama untuk mengurangi daya serang kami.
"GUWAAAAAAAAA!" Terdengar suara teriakan monster.
Cairan hitam itu menjadi seekor monster raksasa. Bentuknya seperti manusia, namun panjang lengannya tidak sama, dan kaki kanannya lebih besar dari kaki kirinya.
*Dum!
Monster itu menjatuhkan tubuhnya ke tanah karena kesulitan untuk berjalan.
Perlahan ribuan tentakel kecil keluar dari tubuhnya.
Aku punya firasat buruk soal ini. Sial! Aku harus menjauh dari sini!
*Bush!
Tentakel itu memanjang.
Menusuk prajurit yang dilewatinya.
Beberapa tentakel mengarah padaku.
Pergerakan tentakel itu sangat cepat. Memotongnya dengan teknik biasa tidak akan membantu.
"Light Slash!"
Aku memotong seluruh tentakel yang datang dari segala arah.
Tubuh utamanya harus dihancurkan!
Jumlah prajurit kami semakin berkurang karena tentakel-tentakel itu. Sialan! Apa yang ada di pikiran Uskup Agung?! Dia tak mengirim bala bantuan!
*Duar!
Kilatan petir menyambar monster hitam.
Langit mulai gelap. Kilatan petir mulai terlihat.
Ini ... sihir milik Nona Licia.
Tombak petir meluncur dengan kecepatan tinggi menuju monster hitam.
*Bush!
Sebuah tombak api raksasa melesat dari arah barisan tengah menuju monster hitam.
*Duuuuuuuaaaaaar!
Kedua tombak itu sampai di waktu yang sama, menimbulkan ledakan yang luar biasa.
Aku menutupi tubuhku dengan item pelindung agar tidak terkena efek langsung dari ledakan.
Hempasan anginnya mendorong tubuhku.
Aku mengambil kesempatan ini untuk pergi ke barisan belakang pasukan musuh.
Mereka sangat meremehkan kami. Aku akan memberi mereka pelajaran!
*Tak Tak Tak
Seseorang berlari di belakangku.
Aku menoleh ke belakang.
"Nona Eline?"
"Aku akan menemanimu, Zain,"
Aku tak merasakan kehadirannya jika dia tidak membuat suara dari kakinya. Assasin memang luar biasa.
"Zain, aku melihatmu bertarung dengan seseorang sebelumnya. Bagaimana kekuatannya?"
Dia tak bertanya soal kondisiku, justru bertanya tentang kekuatan musuhnya. Wanita ini benar-benar mengejutkan.
"Aku masih belum bisa menilai kekuatannya, karena dia hanya menggunakan teknik dagger biasa saat bertarung denganku. Pria itu jauh lebih kuat dariku,"
"Tch."
Aku mendengar suara decikan dari Nona Eline.
"Apa kau ingin melawannya?" tanyaku.
Ekspresinya terlihat kesal. Dia tak menjawab pertanyaanku.
Barisan musuh mulai terlihat.
Nona Eline semakin mempercepat larinya sambil bersiap-siap dengan pedangnya.
Pasukan musuh mulai bergerak menuju ke arah kami.
*Crack
Hentakan kaki Nona Elina membuat tanah di sekitarnya hancur.
Wanita ini benar-benar sangat kuat.
Bayangan hitam keluar dari tubuhnya.
*Wush!
Nona Elina melompat dengan sangat cepat.
*Crack!
Prajurit musuh berjatuhan dengan tubuh yang sudah terlepas.
Aku tidak bisa melihat gerakan tangannya. Tidak! Bukan waktunya untuk kagum! Nona Eline sudah membuka jalan untukku.
Ribuan prajurit menyusulku dari belakang. Monster hitam masih terus digempur oleh serangan dua penyihir terkuat.
"Maju semuanyaaaaa!"
Kami berhasil menerobos barisan depan. Nona Eline masih menggila dengan serangan cepatnya. Dia sudah membunuh lebih dari seribu prajurit dalam beberapa serangan.
Sekarang giliranku!
"Lightning Movement!" Pedangku mengeluarkan arus listrik.
*Wush!
Aku memanfaatkan arus listrik itu untuk mempercepat gerakanku.
Saatnya sentuhan terakhir!
"Light Slash!"
Gerakan tanganku semakin cepat karena arus listrik.
Aku memotong leher prajurit-prajurit musuh.
Setidaknya mereka mati tanpa rasa sakit.
Sepertinya level-ku naik.
*Duar!
Terdengar suara ledakan dari arah barisan terdalam, tempat Nona Eline berada.
Aku langsung pergi melihat situasi di sana.
"A-apa yang terjadi?" ucapku dengan nada terbata-bata.
Nona Eline berdiri sendirian dengan ratusan mayat dari prajurit musuh yang bertebaran di sekitarnya.
Ini terlihat seperti pembantaian.
Huh?
Nona Eline melihat sesuatu di depannya.
*Bum!
Aura hitam di tubuhnya semakin pekat.
Tekanan yang luar biasa.
"Eline, kau terlihat baik-baik saja ternyata,"
Suara ini?
"Glenn, aku tidak akan mengampunimu!"
Ternyata benar, dia pria yang kuhadapi sebelumnya. Mereka saling kenal?
Hawa membunuh dari Nona Eline semakin menjadi-jadi. Aku harus membantunya.
Bersambung ....
JANGAN LUPA LIKE & KOMEN, YA!
Kalian bisa support Author juga di sini biar Saya semakin semangat buat update :
https://saweria.co/hzran22
Bisa donasi dengan Gopay, OVO, dan Dana, ya.